
Hari sudah mulai malam, Melody turun dari taxi lalu memberikan sejumlah uang pada sang supir, setelah itu dia langsung masuk kerumah besar Aldrich. Tumben sekali pria itu tidak usil hari ini, mungkin sedang sibuk.
Namun begitu ia membuka pintu, Diruang tamu ada beberapa orang yang sepertinya sedang membicarakan hal penting. Terlihat dari wajah Tuan Gilang dan Nyonya Anjani yang tampak serius memperhatikan pembicaraan dua orang pria dihadapannya sambil menunjukan beberapa dokumen.
"Melody?!" panggil Tuan Gilang spontan membuat mereka juga melirik kearah pintu.
DEGH!
betapa terkejutnya saat dia melihat salah satu diantara dua pria itu yang pernah dia layani dihotel. Diapun cepat cepat menunduk berharap pria itu tak mengenalinya.
"maaf saya sudah mengganggu!" diapun sedikit membungkuk dan kembali menutup pintunya.
"ya tuhan, jangan sampai mereka bertanya siapa aku!" gumamnya langsung saja berjalan menuju pintu belakang.
"ibu sedang apa?" tanyanya begitu tiba didapur dan menghampiri bu Dina.
"didepan ada tamu non, bibi sedang menyiapkan kopi!"
"ah biar aku saja!"
"tidak perlu non"
"tidak apa apa, biar aku saja!" senyumnya lalu melanjutkan pekerjaan Bu Dina. Setelah siap diapun membawanya ke ruang tamu.
"siapa gadis yang tadi pak?" tanyanya begitu mereka selesai membicarakan bisnis mereka.
Baru saja Tuan Gilang akan bicara, Melody segera mempercepat langkahnya. Sebelum pria itu berbicara banyak tentang dirinya.
"silahkan diminum Tuan tuan!" senyumnya sambil menyuguhkan kopi itu.
"kau jadi pelayan disini?" tanyanya begitu menyadari gadis itu adalah Melody.
"iya pak!" jawabnya cepat.
"bagaimana kalau kau bekerja dirumah saya?, saya akan memberikan dua kali lipat dari gaji yang kau dapat disini!" ucapnya dengan seringai nakal yang diperlihatkannya.
"terima kasih tapi saya sangat senang bisa bekerja disini, silahkan diminum kopinya Tuan!" ucapnya diiringi dengan senyuman sinis. Lalu segera beranjak pergi.
"hish menyebalkan sekali orang itu!" ocehnya begitu ia tiba dikamarnya dan segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah itu dia pergi ke kamar Aldrich. Namun saat tiba didepan pintu ia mematung. "apa dia sudah pulang? aku belum melihatnya sejak pagi tadi!" gumamnya merasa ragu saat sudah memegang daun pintu.
Aldrich yang baru saja tiba itu tersenyum jahil, dia berjalan perlahan agar langkah kakinya tak terdengar.
HAP!
Diapun segera membopong Melody sampai gadis itu berteriak karna terkejut.
"Toloong!!!" teriaknya sambil mencakar cakar wajah pria itu.
"hey jangan berisik nanti ayah dengar!" ucapnya langsung saja menurunkan Melody dan mengelus pipinya yang terasa perih karna cakaran gadis itu.
"kau harus bertanggung jawab!" tegasnya.
"kenapa? itukan salahmu tiba tiba menggendongku begitu" balas Melody tak mau kalah.
"setidaknya potong dulu kukumu yang panjang itu, sudah jelas kelakuan seperti kucing liar tapi masih memanjangkan kuku!" dengusnya
"daripada kucing garong!" ucapnya dengan suara pelan hampir tak terdengar
"APA?" serunya mulai meninggikan suara.
"aku bilang kucing garong, bukan dirimu!"
PELETAK!
Aldrich menjitak kepalanya sampai gadis itu meringis kesakitan.
"beginilah kelakuan pria kalau sudah kalah debat!"
"Aldrich tidak mau, lepaskan aku!" rengeknya begitu Aldrich menciumi seluruh wajahnya dengan gemas.
"baiklah baiklah,aku minta maaf, kau yang menang!" ucapnya lagi.
"sudah terlambat nona! waktumu sudah habis!" seringainya mulai memainkan tangan nakalnya, menelisik masuk ke balik bajunya dan berhenti tepat pada gundukan kenyal dibalik bra yang dipakai Melody. Ukuran buah dada yang pas dalam genggamannya.
"julurkan lidahmu!"
"aku tidak mau, kumohon maafkan aku!" pintanya dengan mata yang sudah berkaca kaca.
Melihat hal itu, Aldrich segera mengubah posisinya dan mereka duduk daling berhadapan. Dengan wajah yang tertunduk, Gadis itu tak mau mengangkat kepalanya
"apa yang bisa kau lakukan untuk menidurkan kembali benda tak bertulang ini?" tanyanya.
Melody langsung saja melihat kearah Resleting Aldrich yang sudah terbuka itu. Membuat wajahnya semakin memerah dan semakin menundukan kepala. Untuk apa juga matanya langsung tetuju kearah celananya, mungkinkah dia sudah menjafi gadis yang mesum? Tidak tidak tidak
Bahunya mulai bergetar dan itu membuat Aldrich langsung merasa bersalah karna mengira dia menangis.
"maafkan aku!" ucapnya sambil memgang bahu Melody.
Namun bahunya semakin bergetar dan tiba tiba saja dia mengangkat kepalanya dan tertawa.
"Buahahaha....."
-_-
"apa yang lucu?"
"tidak ada" senyumnya masih menahan tawa, tiba tiba saja dia langsung duduk di pangkuannya, membenamkan wajah didada bidang pria itu dan sesekali mengendusnya seperti anak anjing.
"ada apa?"
"aku suka aroma tubuhmu"
Aldrich terkekeh. "aku belum mandi"
"hem!" sahutnya sama sekali tak mengendurkan pelukannya.
"sudah lepaskan, aku mau mandi!"
"tidak mau!"
"tadi siapa yang merengek ingin dilepaskan?"
"hemm..." dia semakin merengek dan enggan melepasnya.
Perlahan lahan, ketegangan dihatinya terasa lebih tenang berkat pelukannya.
"Melody!" Aldrich menarik dagunya dan tersenyum menatap mata indahnya.
"apa?"
"apa kau menemui pria itu lagi?"
Gadis itu menggelang dan kembali membenamkan wajahnya.
"hm?" tanyanya kembali membuat gadis itu menatap padanya.
"Tidak"
"bohong! jelaskan padaku setelah aku selesai mandi!"
Kini sorot matanya menjadi tajam, lalu dia menjauhkan dirinya dari Melody dan mengambil handuknya menuju kamar mandi.
Itu gays devinisi kucing garong๐๐๐๐๐๐