Don'T Forget Me

Don'T Forget Me
25.. Semakin rumit!



jam dinding terus berdetak menunjukan detik, Namun wanita itu masih belum singgah dari duduknya. Dia terlihat masih ingin bermanja manja dengan Sandy.


"ini sudah larut sore bibi, apa bibi tidak ingin pulang? bagaimana kalau anak bibi khawatir?" tanya Melody dengan senyum yang agak dipaksakan. Dia yakin betul kalau wanita itu pernah menikah sebelumnya, terlihat dari wajahnya yang keibuan.


"saya tidak perlu khawatir, karna anak saya seumuran denganmu, nanti kapan kapan saya ajak dia kesini!" senyumnya


"tidak perlu ma!" sahut seseorang dari ambang pintu, Membuat ketiga orang didalam itu langsung melirik kearahnya.


"Angelica? sedang apa kau disini?" tanya Diandra terlihat terkejut.


"oh, jadi mama jarang pulang gara gara laki laki ini?" tanyanya membuat Melody mengerutkan alisnya tak mengerti.


Mama? jangan jangan mereka adalah...


IBU DAN ANAK!


"maaf sayang, mama tidak bilang soal ini padamu, dalam waktu dekat ini, kau akan segera mendapat ayah baru"


bukannya senang, Angelica menatap Diandra dengan tatapan membunuhnya. Lalu dia melirik pada Melody yang hanya diam memperhatikan mereka.


"dasar sama sama jalang!" makinya langsung saja pergi.


"Angel! tunggu dulu!" teriak Diandra pergi mengejarnya sampai dia lupa berpamitan.


"Angelica tunggu dulu sayang!" Diandra berhasil meraih pergelangan tangannya, namun langsung saja dihempaskan oleh Angelica.


"aku tidak mau mendengar mama lagi, mama sudah berjanji padaku tidak akan menikah lagi. Lagipula aku tidak setuju kalau mama menikah dengan pria yang anaknya seorang jal-"


PLAK!!


tamparan keras melayang dipipinya. Membuat Angelica langsung diam terpaku. Tatapannya masih terlihat membunuh.


"saat mama ingin memperbaiki diri, apa sikapmu pantas nak? mama berjanji, setelah menikah nanti, mama akan berhenti menjadi seorang kupu kupu malam!" tegasnya kali ini dengan secepat kilat mengubah ekspresi wajahnya menjadi dingin.


"terserah mama, tapi sampai kapanpun aku tak sudi memiliki ayah baru dan harus bersaudara dengan jalang itu!" tegasnya langsung saja pergi


"Angel!" teriak Diandra sambil menggelangkan kepalanya tak habis fikir.


-


-


-


"paman, kumohon batalkan saja rencana pernikahan kalian!" Melody tak henti hentinya memohon sambil menarik narik tangan Sandy. Dia tak bisa membayangkan saat mereka hidup bersama nanti. Betapa buruknya hidup yang akan dijalaninya nanti.


"tidak bisa, cepat kau bersiap, sebentar lagi ada yang datang, kau tidak perlu ke hotel, dia yang akan menjemputmu' titahnya.


Melody memutar bola matanya malas. Lalu segera pergi menuju kamarnya.


...****************...


Waktu sudah menunjukan pukul 11 malam, Glan yang merasa kebosanan itu berulang kali menghubungi ponsel Melody yang tak kunjung aktif. Dia menyimpan ponselnya, lalu berbaring, bangun lagi, mengecek ponselnya lagi dan akhirnya ponselnya berbunyi


suara panggilan masuk dari ponselnya membuat dia langsung bangun dan secepat kilat mengangkat sambungan telpon tersebut.


"aku menunggumu dari tadi!" ucapnya teramat senang.


"ooh kau merindukanku yah!" sahut suara bariton lelaki itu, membuat Glan langsung melihat layar ponselnya dan tertera nama kakaknya disana.


Cih, sialan!


"ada apa?" tanyanya langsung bersikap dingin


"bisakah kau menjemputku dihotel X? aku baru saja selesai meeting dan mobilku dipinjam rekan kerja!"


"hem, tunggu didepan!"


Tuut! .


tanpa menunggu lagi, Glan mengambil jaketnya dan segera bergegas.


30 menit kemudian akhirnya dia sampai, Dan sudah ada Gray yang menunggu didepan.


"hem!" Glan memutar bola matanya malas dan bersiap melajukan mobilnya, namun sebelum itu. Sudut matanya menangkap seorang wanita yang berjalan sambil menggandeng tangan prianya dengan romantis. Mereka berjalan menuju mobil yang terparkir disana.


"Melody?!" teriak mereka bersamaan. Hampir tak percaya jika wanita cantik itu adalah Melody. Dia berpenampilan seperti orang dewasa, wajahnya yang dipoles make up, pakaian yang sexy, dan sepatu hak tinggi.


Cekrek!


Glan memotretnya untuk memastikan kalau itu bukanlah Melody. Tapi tak bisa dipungkiri, dia benar benar sahabatnya.


"jadi karna itu dia tidak membalas pesanku!" geramnya dengan urat leher yang sudah mengeras dan wajah memerah karna menahan amarah.


"sungguh diluar dugaan!" sahut Gray masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


BRUUMMMM!


Glan langsung tancap Gas dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, bahkan dia tak mendengarkan Gray yang terus mengoceh agar dia memelankan laju kecepatannya.


"Glan apa kau mau membunuhku? cepat berhenti!!!" teriak Gray yang jantungnya sudah siap meloncat keluar. Dia benar benar takut terjadi hal buruk yang menimpa mereka.


setibanya dirumah, Gray masih memegangi dadanya yang terasa sesak. Kemarahan adiknya kali ini tak bisa dikendalikan.


"tenangkan dirimu! mungkin kau salah lihat!" ucapnya berusaha menenangkan adik kecilnya.


Glan sama sekali tak mendengarkan, lalu dia mengambil ponselnya dan menghubungi Melody yang kali ini langsung mengangkat sambungan telponnya.


"ada apa Alga?" tanya suara lembut itu.


"aku ingin bertemu, dibukit, sekarang juga!"


"tapi aku sedang tidak dirumah!"


"aku tidak peduli, aku akan menunggumu disana!"


Tuut!


belum sempat Melody berbicara lagi, Glan menutup sambungan telponnya terlebih dahulu. Lalu dia kembali beranjak.


"adik, tunggu dulu!" cegah Gray berhasil meraih tangannya.


"Lepaskan kak!"


"dengarkan aku dulu!" tegasnya kali ini terlihat emosi, membuat Glan terdiam dan menatapnya.


Gray menarik nafas kasar, lalu dia menempelkan dahinya ke dahi Glan. Sambil mengulurkan tangannya mengelus rambut bagian belakang adiknya itu.


"kendalikan dirimu, kumohon!" pintanya sambil memejamkan mata. Tak terbayang jika dia mengendarai mobil seperti tadi, dia tak ingin kehilangan satu satunya orang yang dia miliki. Sungguh dia tak sanggup hidup tanpanya.


Glan tak menjawab, dia hanya melihat raut kekhawatiran dari wajah kakaknya yang berlebihan itu.


"aku tidak akan membiarkanmu pergi kalau kau tidak berjanji akan mengendarai mobil dengan pelan!" ucapnya lagi.


"aku berjanji!"


Setelah itu, Glan segera pergi menggunakan mobil sport merahnya.


......................


...----------------...


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


***Haduuuh semakin gimana gays? semakin lebay dan ga jelas ya😭....hehe😅


jangan lupa saran dan kritik yang membangun ya😢dukung trus author😊


terimakasih buat kalian yang mampir kenovelku😊💕


jangan lupa likenya ya😂 dan list favorit😊***