Don'T Forget Me

Don'T Forget Me
48. Berkat dirimu Alice



Melody segera datang ke ruang tamu dan mendapati Nyonya Vera yang sudah berpakaian Rapi dengan rambut yang digelung rapi dan menyisakan beberapa helai poninya.


"Anda memanggil saya Nyonya?" tanyanya sopan. Baru kali ini dia berbicara dengan Nyonya Vera yang ia segani karna ketegasannya dalam menghadapi situasi.


"silahkan duduk!" titahnya langsung saja dipatuhi Melody. Dengan jantung yang berdebar dia berusaha mengontrol wajahnya agar selalu memperlihatkan sebuah senyuman.


Nyonya Vera menyeruput tehnya terlebih dahulu sebelum dia mulai berbicara, setelah itu dia berdehem pelan seperti sedang menyiapkan kalimat yang akan diucapkannya. Membuat Melody mempersiapkan jiwa dan raganya untuk menerima apa yang akan diucapkan Wanita cantik itu.


"Saya tau kamu tidak bersalah, anak sayalah yang tidak tahu diri dengan mencintai gadis sepertimu!"


Melody menunduk, mempersiapkan balasan dari perkataannya.


"karna itu saya menjodohkan anak saya dengan Alice, selain cantik, dia juga berpendidikan tinggi dan bisa menjaga harga dirinya"


Tunggu, apakah dia sedang menyindirnya? ah tapi tidak masalah, semua ucapannya memang benar.


"saya mengerti nyonya" ucapnya.


"bagaimanapun caranya, kau harus pergi secepatnya dari rumah ini. Kalau bisa, pergi sejauh mungkin sampai bayangmu tak bisa menyentuhnya" ucapnya mengakhiri pembicaraan.


"saya akan pergi sekarang juga, terima kasih atas kebaikan yang selama ini Nyonya berikan pada saya!" Melody tertunduk sopan dan segera beranjak. Namun sebelum itu, Nyonya Vera mengeluarkan sejumlah uang dan diberikan padanya.


"Mungkin kau akan membutuhkannya"


"terima kasih, tapi itu tidak perlu Nyonya, saya permisi!" senyumnya langsung saja pergi setelah menolak uang pemberiannya.


Diapun segera berlari menuju kamarnya dan segera mengemasi barang barangnya dan dimasukan kedalam koper. Entah kenapa, dadanya terasa panas, seakan ingin memaki seseorang dengan habis habisan. Tapi tidak tahu siapa yang harus dia salahkan, dan pada akhirnya dia hanya menyalahkan dirinya sendiri.


Dengan langkah cepat, dia menyeret kopernya dan buru buru menuruni anak tangga. Tak peduli dia masih memakai piyama dan belum mandi, intinya dia sudah punya tujuan selanjutnya.


"Melody!" teriak Aldrich saat dia hendak melangkah melwati pintu utama.


Spontan Melody berhenti dan membalikan tubuhnya, mendongakan wajahnya dan melihat Aldrich yang kini berlari untuk menghampirinya. Tentu semua itu menarik perhatian orang orang yang baru saja berkumpul dimeja makan untuk sarapan. Tak terkecuali beberapa pelayan yang tengah menyajikan sarapan mereka.


"siapa yang menyuruhmu pergi?" tanyanya terdengar begitu marah.


Baru saja Melody hendak menjawab, Nyonya Vera angkat bicara terlebih dahulu.


"mama?" tanyanya tidak percaya.


"yah, mama tidak merestui hubunganmu dengan Melody, karna itu mama menjodohkanmu dengan Alice" ucapnya sambil melirik pada Alice yang kini tengah berjalan menghampiri mereka


"ma, sudah berapa kali kubilang, aku hanya mencintai Melody!"


"hanya karna dia mirip Moon Suki kau langsung tergila gila padanya"


"tapi ma-"


"tidak ada penolakan, mulai saat ini kau harus patuhi perintah mama!"


Bagus, Melody semakin bersorak dalam hatinya. Lagipula dia tidak bisa tinggal jika masalah mulai terjadi diantara mereka.


"kalau begitu aku akan pergi juga!" ancamnya lalu menggenggam kuat tangan Melody.


"kau mau melawan mama mu sendiri demi jalang itu?" tanya Nyonya Vera kali ini dengan kemarahan yang memuncak.


"yah!" jawabnya tak kalah emosi.


"tidak tidak, jangan lakukan itu Aldrich, kumohon mengertilah!" sahut Melody tak ingin masalah ini semakin besar.


"biarkan saja, aku lebih baik kehilangan keluargaku daripada dirimu!"


"Apa kau sadar dengan apa yang kau ucapkan itu?" tanyanya begitu terkejut saat Aldrich mengucapkan kalimat yang sama sekali sangat dia benci.


keluarga yang lainpun terdiam dengan keterkejutan mereka, tak terkecuali Nyonya Vera yang masih menatap Aldrich dengan air mata yang sudah terbendung.


"Kau orang yang sangat buruk, bahkan semua orang menginginkan sebuah keluarga yang damai dan harmonis seperti keluargamu, Tapi kau sama sekali tidak mensyukurinya. Aku sangat membenci orang orang sepertimu!" tegasnya langsung saja pergi.


Kali ini Aldrich tak mencegahnya, dia hanya diam termenung. Bahkan baru kali ini Melody terlihat bersungguh sungguh dengan ucapannya. Dan dia juga menyesali ucapannya beberapa menit yang lalu, dia sudah menyakiti keluarganya. Yang merawatnya, yang menyayanginya sepenuh hati sampai dia bisa menjadi seperti ini.


"maafkan aku ma!" Aldrich menghapus air mata Nyonya Vera dengan lembut dan memeluknya penuh penyesalan.


"mama hanya tidak ingin punya menantu dengan silsilah keluarga yang tidak jelas sayang, karna kaulah satu satunya anakku, dan tentu saja setiap ibu selalu ingin memberi yang terbaik untuk anaknya!" balas Nyonya Vera sambil mengelus ngelus punggung putranya.