Don'T Forget Me

Don'T Forget Me
Keegoisan



"Seriusan gak mau pulang sama aku Rine"tawa Naila ke Arine yang lebih memeilih menaiki sepedanya itu.


"Aku mau gerakin badan aku yang pegal-pegal Nai. Sumpah tadi pagi pas aku bangun pagi, badanku sakit semua. Siapa tahu dengan nyepedah otot-otot ini gak kaku lagi. Jugaan tempat tinggalku gak jauh dari sini"ucap Arine sambil menggerakkan tangan dan kakinya yang memang pegal-pegal.


"Ya udah deh, isterahat makannya. Kalau gitu aku pulang duluan ya, bye Rine, hati-hati naik sepedanya jangan sampai jatuh"ejek Naila yang langsung pergi menuju mobilnya. Sedangkan Arine menuju kearah parkiran sepeda untuk mengambil sepedanya itu.


***


*Apakah ini yang dinamakan mencintai diwaktu yang tidak tepat?


Arine kembali tidak bisa berkutik ketika Ardi sudah membawanya pergi bersama motor yang mereka tumpangi.


Hal ini terjadi ketika, Arine akan pulang dengan sepedanya itu dan Ardi tiba-tiba datang dan memaksanya ikut bersamanya.


Tangan Arine digengam erat oleh Ardi, seperti tidak rela jika Arine pergi darinya. Padahal mereka masih berboncengan dengan motor yang selalu Ardi bawa.


"Kamu tahu, Anisa tidak menyukai aku mengendarai motor. Kata dia dari pada aku mengendarai motor lebih baik aku naik angkot. Karena aku adalah ketua dari geng motor yang tidak dia suka, karena menurutnya sebutan geng motor itu untuk para..."ucap Ardi disela motor itu yang melaju sedang. Sedangkan Arine tetap mencoba melepaskan genggaman tangan Ardi pada tangan Arine yang melingkar di pinggangnya itu.


Sebelum Ardi melanjutkan ucapannya itu, Arine pun langsung menyelanya.


"Sepertinya semalam kamu tidak paham dengan apa yang saya ucapkan. Aku sudah bilang padamu untuk tidak menjauh dariku. Kamu itu begitu menyeramkan"kesal Arine dan motor itu berhenti di sebuah cafe yang bertema out door. Dan karena ini sore menjelang maghrib sudah banyak anak muda memenuhi cafe itu, walaupun menurut Arine belum banyak, tapi tidak tahu kalau malam.


Ardi pun turun dari motor itu dan memandang Arine.


"Anisa tidak menyukai jika aku nongkrong bareng teman-teman geng motorku. Karena dia takut aku salah dalam pergaulan. Karena saat itu dia tahu aku dikroyok oleh geng sekolah lain dan Anisa menolongku waktu itu"ucap Ardi menatap Arine yang merasa aneh dengan tatapan Ardi yang tidak sedingin tadi.


"Kamu masih berharap kalau aku adalah Anisa bukan?. Lu memang perlu cek ke dokter psiskis"ucap Arine menatap Ardi.


"Dan kalau lu pingin tahu, aku itu capek butuh isterahat dan pulang tidur buat menghadapi hari esok yang mungkin lebih menguras tenaga. Jadi kalau kamu mau ajak aku Nongki disini bersama teman-teman kamu. Maaf aku menolak, tapi kalau besok, lusa atau kapan pun aku sudah merasa baikan, maka ayo. Aku bisa jadi teman Nongki yang asik. Walaupun aku mengalami lupa ingatan akan diriku sendiri, tapi jiwa kebebasanku tidak akan pernah aku lupa. Baik bukan aku, walaupun aku memintamu menjauh, tapi masih beri kesempatan buat jadi teman Nongki, aku garis bawahi lagi cuma teman buat nongkrong sambil minum kopi"ucap santai Arine yang masih setia duduk diatas motor Ardi.


"Kamu semalam tidak kerasukan kan?"ucap Ardi yang membuat Arine mengerutkan dahinya.


"Kamu tanya aku, atau kamu menanyakan diri sendiri sih"kesal Arine yang langsung turun dari motor Ardi.


"Tapi aku yakin semalam memang bukan dia. Dan aku berharap jika bersamanya aku bisa mendengar Anisa lagi. Kenapa aku menjadi laki-laki jahat sih. Atau itu hanya imajinasi ku saja"ucap Ardi sendiri sambil menatap lekat Arine yang merasa risih ditatap seperti itu oleh Ardi.


Arine melihat Ardi meninggalkannya disana tanpa merasa berdosa. Ardi tahu jika dia salah, karena dia tahu perempuan yang bersamanya bukanlah kekasihnya melainkan hanya adik kembaran dari kekasihnya itu. Tapi fikirnya teringat semalam dan membuatnya berandai-andai.


"Cowok sialan, sudah bawa aku jauh-jauh kesini, terus ninggalin gitu saja. Gak mau antarin pulang lagi"kesal Arine yangasih berdiri disamping motor Ardi.


Sedangkan Ardi sudah bergabung dengan teman-temannya dicafe itu.


"Di, cewek yang disamping motor lu itu, gue gak lagi lihat hantu kan?. Dia pacar lu, kok dia masih hi..."ucap Dion teman Ardi.


"Dia bukan Anisa, di saudara kembarnya"jawab Ardi yang langsung duduk sambil memejamkan matanya itu.


"Saudara kembar?. Jangan bilang lu..."ucap Dion yang langsung ditatap Ardi tajam.


"Gimana gak treveling fikiran gue, lu bawa cewek yang mirip sama cewek lu yang sudah mati. Tapi lihat deh, sifat mereka berbanding terbalik yeah, dari auranya saja sudah kelihatan jelas. Kalau cewek lu itu kan gak suka hal yang bar-bar kayak kita orang. Tapi lihat itu, perempuan itu menendang-nendang motor lu"ucap Dion sambil ketawa melihat tingkah Arine. Ardi pun menoleh kearah apa yang dimaksud oleh Dion. Betapa terkejutnya dia melihat Arine seperti ingin menghancurkan motornya.


Ardi pun langsung menghampiri Arine.


Arine terkejut karena ada tangan yang menariknya dari motor yang dia tendangi kesal itu.


"Kami ingin membuat motorku hancur atau kakimu yang hancur"ucap Ardi dengan senyum mengejeknya.


Sebelum Arine menjawab pertanyaan dari Ardi, dia sudah terlebih dahulu dibawa Ardi untuk bergabung dengan teman-teman Ardi yang baru sebagian sudah kumpul.


"Kenalin dia Arine"ucap Ardi yang langsung duduk ditempat duduknya semula. Sedangkan Arine menatap horor Ardi.


"Dia mirip sama seseorang deh. Gue ingat, dia cewek lu kan, di. Yang waktu itu marah-marah di pesta gue. Karena gue adakah di club"ucap Brandon yang baru saja bergabung. Dion yang mendengar hal itu langsung ketawa. Sedangkan Arine tidak suka mereka membicarakan kakaknya.


"Dia adiknya cuy, jangan buka lukanya Ardi lu. Ardi mah lukanya sudah sembuh karena adik pacarnya. Mirip ya gak sih, mukanya tapi"ucap Dio asal nyeblak dan Ardi langsung menatap horor temannya itu. Sedangkan Brandon hanya menyengir dan menghindari situasi yang tidak mengenakan disana. dan Arine hanya tersenyum sinis.


"Menyembuhkan lukanya. Gue gak lagi salah denger sama apa yang lu ucapkan, bukan?"ucap Arine yang langsung ditatap terkejut oleh Dion dan Ardi hanya menghela napasnya berat. dan tiba-tiba handphone dari Arine berdering.


Arine pun menatap nama dilayar itu dan menggeram kesal.


"Bi Asih pasti ini"kesal Arine yang berjalan sedikit menjauh untuk mengangkat telphone itu.


"Auranya mirip kekasihmu itu ya, tapi lebih ngeri yang ini"ucap Dion yang langsung ditatap tajam oleh Ardi.


"Gue gabung ke anak-anak disana deh"ucap Dion langsung kabur sebelum terjadi hal yang tidak-tidak pada dirinya.


Ardi menatap kearah Arine yang sedang menjawab telphon itu. Ardi tanpa sadar mendekat dan Arine mengetahui hal itu dan membiarkan Ardi yang berdiri disampingnya.


"Iya sayang, please aku mohon jangan begitu. Kalau bi Asih masih suka melaporkan hal seperti itu lagi, aku akan mengusirnya langsung. Aku gak peduli. Aku tahu Daddy dan kamu khawatir akan keadaanku, tapi aku mohon mengertilah akan privasiku. Kamu tahu sendiri kan aku gak suka dikekang atau diatur seperti ini"kesal Arine ke Devan dan didengar oleh Ardi yang masih diam merenungkan sesuatu.


"Kami itu khawatir Rine. Seharusnya kamu kasih tahu bi Asih jika pulang telat, bukan gak ada kabar kayak gini. Dan aku tidak akan membiarkan kamu memecat bi Asih segampang itu. Jika kamu masih ingin tinggal mandiri disana, kamu ikuti apa yang kami beri kepadamu. Kamu tahu bukan Daddy sangat tidak membolehkan kamu untuk tinggal di negara itu sendiri. Jadi pahamilah Arine"ucap Devan yang merasa frustasi menghadapi kekasihnya ini.


"Dan kalian juga harusnya pahami aku Dev"kesal Arine yang langsung memutuskan sambungan itu sepihak.


"Mau dimengerti tapi gak mau ngertiin orang lain. Egois!"kesal Arine yang didengar oleh Ardi yang masih berdiam diri disana.


"Aku akan pulang dan terima kasih telah membawaku jauh-jauh kesini"kesal Arine berjalan pergi dan tiba-tiba Ardi menahannya.


"Aku akan mengantarkanmu pulang, tapi sebelum itu kamu pesan makan dulu"ucap Ardi yang membawa Arine kembali ke cafe itu. Ternyata teman-teman Ardi sudah kumpul semua disana. Karena sudah hampir jam 7 malam. Suasana cafe pun semakin rame.


.


.


.


.


.


Next on...