
Beberapa guru dan kepala sekolah bersiap untuk mengeluarkan Melody secara tidak hormat karna dia sudah mencemarkan nama baik sekolah. Namun dia dengan sangat memohon ingin menyelesaikan sekolah disini sampai lulus ujian nanti. Awalnya, para guru tetap menolak permohoonannya itu. Namun dengan terpaksa Melody menceritakan paksaan pamannya, dan hal itu sukses membuat keajaiban yang langsung disetujui para guru.
Akhirnya dia dapat bernafas lega dan kembali ke kelasnya, tak peduli berapa banyak malu yang harus ditanggungnya. Ia hanya perlu bertahan 3 bulan lagi sebelum ujian dan kelulusan. Untuk sekarang dan seterusnya dia hanya perlu membutakan mata dan telinganya dari cacian, dan hanya fokus untuk belajar. Itulah hal utama bagi seorang pelajar.
"Permisi!" ucap Melody saat dia tiba didepan pintu kelas. Pelajaran sudah dimulai dari tadi dan seorang guru cantik sedang menjelaskan materinya.
"Alexa? silahkan masuk!" sapa hanga Bu SIlvi sambil merangkul Melody dan mengelus pundaknya berusaha untuk menyemangati gadis itu.
"loh kok dia tidak pulang?"
"kenapa tidak dikeluarkan bu?"
"dia itu seorang jalang!"
"iya betul, wajah saja polos, tapi kelakuannya menjijikan!"
cacian pedas kembali terdengar ditelinganya, namun Melody hanya tersenyum tipis dan mengiyakan ucapan mereka yang memang benar adanya.
"sudah sudah, silahkan duduk Alexa!" Lerai bu Silvi mempersilahkan Melody duduk
"bagaimana?" tanya Aril sambil berbisik. Pria itu sama sekali tidak terganggu dengan keadaannya saat ini.
Melody tersenyum dan mendaratkan bokongnya dikursi. "aku tidak dikeluarkan, aku akan sekolah sampai ujian dan lulus nanti"
"syukurlah !" Aril menghembuskan nafasnya dan tersenyum lega. Membuat Melody merasa heran dengan sikapnya. Ingin sekali menyerang pria itu dengan seribu pertanyaan. Tapi dia mengurungkan niatnya karna sedang dalam waktu pembelajaran.
Setelah beberapa jam berlalu akhirnya bel tanda istirahat berbunyi. Semua murid langsung berhamburan keluar kelas.
"Alga tunggu dulu!" cegahnya saat Glan hendak pergi meninggalkan kelas. Kebetulan hanya tersisa mereka ber 4 dikelas.
"sudahlah, kurang puas kau membuat Glan menderita?" tanya Resya langsung menarik tangan Glan.
"kumohon, beri aku kesempatan!" pintanya sambil menangkupkan kedua tangan didepan dada.
"kesempatan untuk apa?"
Mampus!
"Bubur sudah tidak bisa menjadi nasi!" tegasnya kali ini dia yang menarik tangan Resya dan meninggalkannya.
"kau tahu?" tanya Aril berjalan mendekatinya dan memegang pundak gadis itu. "orang yang mencintaimu apa adanya tidak mungkin meninggalkanmu"
"lalu kenapa kau masih berdiri disini?"
"sudah kubilang, aku akan selalu bersamamu dan melindungimu"
"bukannya kau juga sama seperti mereka? merasa dibohongi oleh orang bodoh sepertiku?"
Aril menggelang kuat kuat, dia menggesekan hidungnya ke hidung mungil Melody. "kau masih belum mengerti rupanya" senyumnya.
"apa? karna kau tidak meninggalkanku dan artinya kau mencintaiku apa adanya?" tanyanya
"iya"
jawaban singkatnya itu membuat Melody terpana dan hampir menangis. Namun dengan cepat dia dapat menguasai dirinya.
"sudah kubilang kau adalah teman!"
"kalau kau berusaha mencintaiku, maka definisnya akan berbeda Alexa!"
Melody menghembuskan nafasnya kasar, dia sudah malas mendengar cinta, yang terasa memuakan dan jemu di lidah.
"masih ada orang yang pantas mendapatkan cintamu Aril, maka dari itu, berusahalah untuk mencintai Angelica!" senyumnya lalu beranjak pergi setelah memberi kecupan singkat di hidungnya.
Entah kenapa, dia benar benar tak ingin membahas apapun lagi tentang hal ini
......................
...----------------...
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...