Don'T Forget Me

Don'T Forget Me
60. Bersamamu



Setiap hari setelah melepas penat mereka selalu bertemu.


"hem...sepertinya bunga bunga bermekaran dihatimu" goda Alisya sambil mengenggol sikut Melody.


Gadis itu terkekeh. "tapi aku masih meragukannya"


"ragu kenapa?"


"seperti ada yang aneh!" ungkapnya mulai membuat Alisya penasaran.


"mungkin karna kalian lama tak bertemu"


"bukan itu maksudku, Alga sepertinya mengalami banyak sekali perubahan. Kau tahu? biasanya dia selalu berpenampilan rapih dan licin karna bajunya selalu disetrika, tapi beberapa hari ini dia terlihat kusut. dan sikapnya sekarang benar benar aneh, tatapannya kosong dan dia selalu tersenyum simpul. Seperti orang yang hilang ingatan!"


Bugh!


Alisya langsung saja melempar bantal sofa itu tepat mengenai wajahnya.


"hey apa masalahmu?" tanyanya merasa terkejut.


"kau ini bodoh ya, lalu kalian membicarakan apa saat bertemu kalau kau masih bertanya tanya dalam hatimu?"


Melody mengerucutkan bibirnya kesal dan memeluk bantal sofa yang dilempar Alisya barusan. "dia tidak mau mengatakan apapun"


"emm kalau begitu, bolehkan kau memperkenalkanku padanya?" godanya sambil mengangkat ngangkat alisnya


"tidak mau, sekarang aku hanya ingin menghabiskan waktu berdua saja bersamanya. Kau tahu? kami sudah membuat jadwal kencan!" senyumnya sambil menunjukan selembar kertas berwarna merah muda itu.


Alisya langsung saja melihatnya dan setelah itu dia terkekeh.


"jadwal kencan apanya? setiap hari kau bertemu dibukit, disungai, dijembatan, astagaa bahkan dihutan...ahahahah yang benar saja, aku curiga kalau sahabatmu itu Raja hutan" tawanya begitu membahana, membuat Melody hanya diam sambil mengembungkan pipinya karna kesal.


"ish, kau hanya tidak tahu saja betapa damainya saat berada di alam" decaknya langsung saja mengambil selembar kertas ditangan Alisya.


"hemm...apa kau akan pergi sekarang?" tanyanya.


"iya, aku pergi dulu" pamitnya segera beranjak setelah mengambil kotak kayu itu.


...****************...


Dibawah pohon yang berdiri kokoh, dedaunan gugur dan berjatuhan ke bumi, lalu terbang karna tertiup angin sore yang sangat menenangkan.


Glan duduk dibangku putih yang ada disamping pohon tersebut. Dia membiarkan dirinya dihujani dedaunan kering. Sambil menatap kelangit yang cerah, hatinya mulai bertanya tanya. Fikirannya mulai mengingat sesuatu, Namun momen itu terhenti saat Melody datang sambil menyodorkan sebuah ponsel hitam padanya.


"aku sudah menyimpan nomorku, supaya kita tidak hilang kontak lagi!"


Dia tersenyum dan menerimanya. "terima kasih"


Nah kan! dia sudah aneh lagi. Melody duduk disampingnya dan terus menperhatikan wajah tampannya dari samping.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi tolong katakan padaku, apa kau mengalami hal yang buruk disana? sampai kau tidak bisa menemukan kakakmu sendiri" tanyanya setelah cukup lama mengumpulkan keberaniannya untuk bertanya.


Glan menoleh dan menghela nafas berat. "aku tidak bisa mengingat apapun. Yang aku ingat hanyalah menepati janjiku padamu Melody!"


"tapi itu tidak mungkin, lalu bagaimana kau bisa tahu dimana aku tinggal?"


"ah sudahlah, aku tidak mengerti" keluhnya tak ingin menambah pusing kepalanya. Tapi dia ingin menanyakan satu hal lagi. mungkin yang terakhir.


"Resya, apa kau masih berhubungan dengannya?"


Glan menggelang pelan. "Sejak keberangkatanku, aku sama sekali tidak pernah mengabarinya"


Kalau begitu, dia mengingatnya. Tapi mengapa hanya sebagian ingatan? apa dia mengalami...


KECELAKAAN?


Tidak mungkin!


dengan cepat Melody menepis fikiran buruknya, lalu dia membuka kotak kayu yang ada dipangkuannya.


"darimana kau dapat itu?" tanya Glan begitu terkejut saat melihat benda miliknya ada ditangan Melody.


"dirumahmu yang lama"


Glan langsung memalingkan wajahnya saat mengingat masa masa kecil mereka. Tentu saja dia sangat malu karna ketahuan kalau dialah pencuri kecil.


"jadi...siapa yang mencuri boneka beruang kecilku Alga?" tanya Melody mencoba merayunya dan berhasil membuat wajah pria itu memerah.


"ahaha...aku tidak mengerti kenapa kau mengambil semua ini" ucapnya terus memandangi boneka itu.


"itu karna..." Glan menggantung kalimatnya dan menatap wajah Melody.


"karna apa? karna kau ingin aku selalu menghabiskan waktu bersamamu tanpa mainan-mainan favoritku?" tebak Melody kembali membuatnya tersipu.


"hem" jawabnya singkat.


Melody terkekeh lalu menyandarkan kepalanya dibahu Glan. "ayo kita habiskan waktu bersama lagi seperti dulu"


Hening!


pria itu hanya diam, dan dengan perlahan dia mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Melody. Hangat!, rasanya tak mau melepaskan tangan itu lagi.


"Alga!"


Lagi lagi dia tak merespon.


Melody berdecak kesal lalu menarik pipinya. "kenapa kau tidak bisa mengubah sikapmu yang dingin dan menyebalkan itu? apa sepanjang hidupmu kau hanya bisa mengatakan "hem" lalu diam membatu? seharusnya Emp--"


Glan langsung saja mendaratkan bibirnya diatas bibir Melody dengan tiba tiba, sampai membuat gadis itu langsung terdiam dan merapatkan bibirnya.


"berisik!" ucapnya dengan wajah datar


-


-


"akan ku bunuh orang ini..." batinnya tak bisa menahan kesal dan malu.