Don'T Forget Me

Don'T Forget Me
43. Berakhir dengan ketidakpastian



Hingga sampai kini, saat Glan hendak pergi ke bandara. Melody semakin merasa sangat takut. Takut akan kehilangannya. Bahkan Aldrich sama sekali tak peduli lagi akan permohonannya, Yah, walaupun Glan sudah merasa kecewa dua kali karna Aldrich bilang dia akan menikah, walau Gray sudah tak mempercayainya lagi, walau Resya selalu memakinya. Tapi dia tetap berusaha untuk menghentikannya pergi . Namun usahanya sia sia belaka,


DIA TETAP AKAN PERGI!


sambil memasukan koper kedalam bagasi mobil. Melody tak melepas pandangannya dari sosok pria itu. Dia pasti akan selalu mengingat berbagai ekspresi wajahnya. Senyumnya, tawanya, tangisnya, marahnya, dan ekspresi datar setiap harinya.


Dihari kepergiannya, seharusnya dia ikut serta mengantarkannya sampai Bandara. Namun kini, dia hanya berdiri dikejauhan sambil melihat mobil yang siap melaju.


Walau dadanya terasa sakit, dia tetap tersenyum Dengan senyuman yang lebar sambil melambaikan tangannya. Dan hanya bisa mengiringi kepergiannya dengan do'a


SEMOGA DIA BAIK BAIK SAJA!


Tunggu dulu kak!" sahut Glan begitu kakaknya sudah melajukan mobilnya jauh beberapa meter dari arah Melody.


"ada apa?" tanyanya namun tetap menghentikan mobilnya.


Pria itu tak menjawab dan buru buru turun dari mobil, Lalu berlari menghampiri Melody dengan mata yang sudah basah oleh air mata.


BRUK!


Dia memeluknya dengan sangat erat, seolah tak mau melepasnya.


"Aku akan memberimu satu kesempatan! kalau kau benar benar tidak mencintai pria manapun dan menungguku pulang, aku Berjanji akan menerimamu dan melupakan segalanya. Lalu kita akan memulai hidup baru, apa kau siap?"


Seharusnya Melody mengangguk dan mengatakan "iya" tapi dia malah asyik dengan memikirkan hal apa yang akan terjadi kedepannya. Dia tidak mau mengambil langkah yang salah lagi. Kali ini harus benar benar membuat keputusan dalam hidupnya. Tapi, mengingat Glan yang setia menunggunya selama 10 tahun ini, dia dapat memastikan kalau cintanya benar benar tulus dan hanya untuk dirinya. Bahkan saat sudah mengetahui segalanya. Dia tetap masih mencintainya.


Lalu bagaimana dengan Resya dan Gray? ah dia kembali menarik fikiran positifnya setelah mengingat kekecewaan mereka. Dia tak ingin semua berakhir dengan kebencian. Dan Aldrich? Pria itu, berapa lama kah dia akan menguncinya? sanggupkah jika selamanya? besar kemungkinan, dia juga pria yang setia.


Mana yang akan dia pilih? menunggunya atau melepasnya?


"Aku mencintaimu..."akhirnya dia mampu mengucapkan kalimat itu dengan lancar. Sama sekali tidak gugup ataupun malu, ada keyakinan dimatanya. "aku akan menunggumu, kali ini aku benar benar berjanji! tak akan pernah aku nodai lagi!" ucapnya lagi, membuat Glan tersenyum senang.


CUP!


Satu ciuman singkat mendarat dibibirnya. "aku senang mendengarnya, Selamat tinggal!" ucapnya segera beranjak pergi. Namun Melody cepat cepat menariknya kembali.


Untuk yang terakhir kalinya, dia menatap wajah tampan itu dan akan menghafalnya sampai kapanpun. Senyuman terukir dibibirnya dan jemarinya bergetar saat memegang tangan itu. Seharusnya tangan pria itu selalu dingin, tapi kali ini, kehangatannya merambat keseluruh tubuh Melody seperti memberinya kekuatan untuk bertahan.


"Bukan selamat tinggal, tapi sampai jumpa lagi!"


"hem...sampai jumpa lagi!" senyumnya langsung saja pergi. Masuk kedalan mobil, dan hilang dari pandangan.


entah kenapa, hatinya begitu sakit, Dia masih merasa tidak yakin jika semua akan baik baik saja.


-


-


-


Karna sudah pergi diam diam, diapun tidak segera pulang dan memutuskan untuk kembali kerumah pamannya. Rumah itu sudah tak terurus, bahkan tembokannya sudah berlumut dan dipenuhi rumput liar yang menjalar dipekarangan rumahnya.


Sandy benar benar pergi dan menikah, apakah dia sekarang sedang bahagia bersama istri dan seorang anak tirinya?


SEMOGA SAJA!


Didalam rumah kecil itu sudah kosong, hanya tersisa beberapa botol minuman dan berserakan puluhan bekas Roko. Andai saja pamannya tidak menikah, pasti sekarang ini Dia masih punya tempat yang bisa dikatakan tempat untuk pulang.


Tapi tidak!


sekarang dia bukan pamannya lagi dan menjadi orang asing. Meski waktu itu dia tidak menyuruhnya pergi dan tetap akan mengunjunginya, namun Melody terlanjur memutuskan hal itu. Sekarang dia benar benar merasa sebatang kara. Bahkan merasa sendiri berada didunia yang luas ini.


"Heh!" sahut seseorang berpakaian ala preman diiringi dengan dua orang lainnya. Yah, dia memang preman yang sempat mengejarnya waktu pertama kali dia pindah kesini.


"apa paman?" tanyanya berusaha menyembunyikan rasa takutnya.


"sudah berapa lama kabur dirumah hah? dimana pamanmu? dia belum membayar hutang!" tegas pria itu terdengar begitu menakutkan.


"hutang? bukannya dia sudah melunasi semua hutangnya?" tanyanya begitu mengingat kalau Sandy pernah bilang dia sudah melunasi semua hutangnya.


"Cih, dia tidak pernah membayarnya sepeserpun, sebagai jaminan, kau ikut bersama kami untuk menemui bos kami!"


Sial!


ini benar benar hari yang sial.


"nah itu dia pamanku!" ucapnya sambil tersenyum kearah belakang seolah memastikan keberadaan Sandy disana.


saat mereka refleks menoleh, Melody menggunakan kesempatan itu untuk menendang sesuatu yang menonjol dibalik resletingnya dan berhasil membuat mereka meringis kesakitan.


"maaf paman!" ucapnya langsung saja berlari dan menghindari para preman itu.