Don'T Forget Me

Don'T Forget Me
23. Haruskah?



"Glaan!" teriak Resya sambil mengejar Glan yang jauh dari arahnya.


Pria itu berhenti dan menatap Resya, menunggu apa yang ingin dikatakannya.


"aku mau pulang bersamamu!" ucapnya dengan nafas tersengal sengal karna berlari.


"kau kan bawa mobil sendiri" jawabnya malas.


"aku bisa menelpon orang dirumah untuk membawa mobilku!"


"tidak bisa, aku sudah menghabiskan waktu bersamamu semalam, biarkan aku menghabiskan waktu bersama Melody hari ini" kalimat terpanjang yang pernah Glan ucapkan itu membuat Resya terdiam.


"eh?!" Melody yang melihat mereka dari kejauhan segera putar balik. Dia tak ingin mengganggu mereka berdua.


"Melody!" panggil Angelica yang melihatnya jalan tergesa gesa.


"hai Angelica, lama tidak jumpa! kalau Glan mencariku, katakan aku tidak lewat sini!" sahutnya tak memelankan langkah kakinya.


Gadis aneh, Angelica hanya mengangkat bahunya seakan tak peduli. Namun saat dia kembali melangkahkan kaki, Glan berjalan kearahnya.


"Melody lari kesana! sepertinya ke toilet!" tunjuk Resya sambil mengarahkan jari telunjuknya kearah Melody lewat tadi.


"terima kasih" ucap Glan lalu berlari.


"seru sekali mempermainkan gadis polos itu" senyum Angelica merasa senang. Dia mengangkat sudut bibirnya dan tersenyum sinis.


"fiuh, semoga saja dia tidak melihatku!" gumamnya begitu ia tiba ditoilet dan mengunci pintunya.


Setelah membasuh wajah dan merapikan seragamnya, Melody membuka pintu untuk segera pergi. Namun betapa terkejutnya saat Glan sudah mematung didepan pintu.


BRAK!


Melody kembali menutup pintunya dengan keras.


"Melody apa kau sedang menghindariku?"


"tidak, cepat keluar dari situ! sedang apa kau berada di toilet wanita!"


"apa yang sedang kau sembunyikan dariku!"


"nanti kau akan tahu, cepat sana pergi!" Melody memegang dadanya yang terasa sesak itu. Rasanya aneh, dia belum siap menerima kenyataannya. Apa yang harus dia katakan sementara Gray sangat mempercayainya untuk menjaga hati adik tercintanya itu.


HENING!


Glan tak bicara lagi, sepertinya dia sudah pergi. Perlahan Melodypun membuka pintunya.


CEKLEK!


dan tak ada siapapun disana. Melody menghembuskan nafasnya lega dan buru buru pergi.


"Alga? apa yang kau lakukan? ini disekolah, cepat turunkan aku!" teriaknya berusaha memberontak.


Glan tak mendengarkannya dan terus berjalan. Tak peduli dengan teriakan para siswa yang iri melihat perempuan yang digendongnya itu.


Memalukan!


Melody membenamkan wajahnya dileher jenjang Glan, semoga orang orang tidak mengenalinya.


...****************...


BRUK!


Saat tiba dikamarnya, Glan memojokan Melody kedinding. Menatap tajam matanya dan semakin mendekatkan wajahnya.


"katakan! apa yang kau sembunyikan dariku?" tanyanya penuh penekanan.


Melody menelan salivanya dengan susah payah. bola mata birunya bergerak gerak menatap setiap inci wajah Glan yang urat lehernya sudah mengeras, dia terlihat begitu menahan emosi.


"katakan!" Glan mengguncang bahunya pelan. Semakin membuat gadis itu memekik ketakutan. Otaknya masih berfikir keras untuk menyusun kalimat yang ingin diucapkannya.


"aku...aku tidak menyembunyikan apapun!" jawabnya dengan wajah tertunduk.


"benarkah?"


"aku benar benar tidak menyembunyikan apapun!" Melody semakin tertunduk dalam.


"bohong!"


"aku tidak bohong" jawabnya dengan suara pelan hampir tak terdengar.


"aku akan percaya kalau kau mengulangi kata katamu dengan melihat mataku!"


apa? jangan bercanda? apa dia akan menelaah kebohongan itu dari matanya?


Melody menggelang kuat kuat. Air matanya mulai jatuh, haruskah dia mengatakan yang sebenarnya? haruskah dia menjatuhkan harga dirinya saat ini juga? haruskah dia katakan berapa banyak lelaki yang menjamahnya? haruskah?...


Tidak, masih ada waktu sebelum semuanya terbongkar. walau hanya tinggal menunggu sedikit lebih lama lagi.


BRUK!


Melody memeluknya dan menyembunyikan wajahnya didada bidang Glan, ia tak ingin menangis dihadapan pria yang dicintainya itu.


"maafkan aku..., maafkan aku, maafkan aku" ucapnya terus mengulangi kata yang sama.


"Melody!" Kali ini Glan merendah, merengkuh tubuh mungilnya dan membiarkan gadis itu larut dalam kenyamanannya. Dia bisa merasakan hangatnya tetesan air mata yang membasahi dadanya.


Meski tidak mengerti apa masalahnya, dia merasa yakin kalau apapun yang disembunyikan gadis itu, tidak akan membuat keyakinannya goyah. Dia tidak akan membiarkan gadis itu lepas lagi dari pelukannya. tidak akan pernah.