
DUAAAR!!!!
DUAR!!!!
Duar!!!!
ledakan kembang api yang melesat jauh diangkasa memperlihatkan taburan warna warni indah yang menghiasi langit. Yah, malam ini adalah perayaan festival kembang api yang diadakan setiap satu tahun sekali didesa ini.
Glan dan Melody menikmatinya diatas bukit sambil merekam ledakan kembang api itu dengan ponselnya. Lalu mereka mengambil beberapa gambar untuk dijadikan kenangan.
CEKREK!
"Matamu berkilau!" puji Glan begitu melihat hasil gambar mereka.
Melody tersenyum lalu menatapnya. "tapi aku menyukai matamu, sangat hitam dan tajam"
Seketika senyumnya terhenti saat Glan mulai mendekatkan wajahnya.
DRRT
DRRT
Tiba tiba getaran ponsel menghentikan momen mereka.
"huuh pria menyebalkan itu selalu saja mengganggu!" dengus Melody namun tetap mengangkat sambungan telponya.
"Kemana kau seharian ini? jangan mentang mentang aku tidak menyelidikimu lagi kau bisa berbuat seenaknya, ayo pulang! ini sud-"
TUUT!
Melody langsung saja menutup sambungan telponnya sebelum dia selesai berbicara.
TIDAK SOPAN SEKALI!
"nyenyenye-" Melody mencibir memperegakan ucapan Aldrich barusan, membuat Glan terkekeh melihat tingkahnya yang menggemaskan.
"kau masih berhubungan dengan pria itu?" tanya Glan akhirnya.
"tidak, dia sudah punya tunangan dan sebentar lagi mereka akan menikah"
"syukurlah" senyumnya.
Lalu mereka kembali menikmati letusan kembang api sambil bergandengan tangan.
"bukannya seharusnya tangannya dingin? tapi malam ini, tangannya begitu hangat dan menenangkan. Dan aku...bisa merasakan getaran....entah milik siapa...getaran tangan ini?" batin Melody terus menatap wajah pria itu dari samping
WUSH!
tiba tiba saja angin berhembus pelan menerpa wajah mulusnya, Glan memejamkan mata dan semakin erat menggenggam tangan itu.
"Sampai saat ini, hanya kaulah satu satunya wanita dalam hidupku, semua yang kuingat..hanya tentangmu dan selalu tentangmu...."
Coba dengar! suaranya begitu rendah dan...
"Lalu, kita akan menikah, melakukan malam pengantin, dan punya dua anak?" tanya Melody tembak langsung.
"hem...bukankah kita sudah melakukan malam pengantin?" seringainya nakal.
Ah! Benar juga!
Tapi,
jangan bilang mereka menikah tanpa ritual ( 😅)
"emmm.....kita bisa melakukannya lagi dengan bebas setelah menikah"
"hem...."
Malam ini benar benar konyol, mereka membicarakan pernikahan dan anak tanpa memikirkan hal lainnya. Hanya cinta, cinta dan cinta. ( muak sih aku juga😂😂😂)
...****************...
Hari semakin larut, Melody segera pulang kerumah, namun didepan pintu malah ada Aldrich yang sudah berkacak pinggang. Pria itu sudah punya kesibukan saja masih sempat mengusik hidupnya. Benar benar menyebalkan.
"Bagus ya, pulang larut malam begini? habis darimana?" tanyanya terlihat seperti seorang ayah yang sedang memarahi anaknya.
"Jadi kau tidak tahu ya?" kata Melody balik bertanya.
"tahu soal apa?"
Melody tersenyum penuh rahasia. Dia benar benar senang kalau pria itu tak lagi menguntitnya.
"hemm" ucapnya sambil mengedikkan bahunya dan beranjak masuk. Namun tangannya segera dicekal oleh Aldrich.
"aku sudah mendengarnya dari Alisya!" ucapnya tiba tiba saja membuat Melody langsung terdiam.
"bagus kalau begitu"
Raut wajahnya seketika berubah, dia menjadi terlihat murung dan sedih.
"kenapa?"
Dia hanya menatap Melody dengan wajah memelas, lalu membawanya ke taman belakang rumah.
"kenapa Aldrich?" tanyanya tidak mengerti dengan sikap aneh Aldrich malam ini.
Dia mulai mengangkat tangannya, dan mengusap bibir Melody dengan ibu jarinya. "bolehkah?" tanyanya seolah minta izin untuk menciumnya.
CUP!
Melody sedikit berjinjit untuk menempelkan bibirnya ke bibir Aldrich. Membuat pria itu begitu terkejut karna tak menyangka dia akan memulainya duluan.
"kau benar benar seperti kakakku, aku menyayangimu Aldrich" Senyumnya sambil memeluk Aldrich dan melingkarkan tangan dipinggangnya.
Pria itu masih terdiam, haruskah dia mengatakan perasaannya saat ini juga?....