Don'T Forget Me

Don'T Forget Me
63. Karna dirimu



Melody berjalan gontai menuruni tangga, pupus sudah kesempatannya untuk mengetahui kebingungannya selama ini. Dan dia memutuskan untuk duduk sebentar di kursi panjang yang tersimpan disana.


"ahh pegal sekali" keluhnya sambil memijat kakinya.


TAP TAP TAP!


Terdengar suara derap langkah beberapa orang yang lewat dihadapannya. Melody mendongak dan mendapati orang yang sedari tadi ia ikuti.


"Kakak!!!" panggilnya tiba tiba saja langsung bangkit dari duduknya dan berdiri tepat dihadapannya.


Pria itu mengerutkan alisnya mengingat Siapa gadis cantik dihadapannya itu. Namun tiba tiba saja tatapannya berubah jadi tajam, Sangat tajam bahkan mampu membuat bulu kuduk meremang karnanya.


Dia langsung saja putar balik dengan perasaan yang teramat sangat marah. Membuat rekan kerjanya saling menatap keheranan.


"Kakak tunggu dulu!" Teriak Melody langsung berlari mengejarnya.


"jangan panggil aku kakak!" tegasnya.


"tapi aku ingin bertanya sesuatu tentang adikmu!"


Tap!


Seketika Gray menghentikan langkahnya dan langsung menatap Melody seolah menunggu penjelasan darinya.


"Alga bilang dia tidak bisa menemukanmu, dan kebetulan saja kita bertemu, aku rasa dia akan senang kalau Alga tau kau ada disini" jelasnya.


"lelucon apa lagi ini Melody? berhenti mempermainkan perasaan adikku!" sentaknya menarik perhatian sebagian orang yang lalu lalang.


"apa maksudmu? " tanyanya tidak mengerti.


"baik itu kau, aku atau siapapun itu, tidak akan pernah bisa bertemu lagi dengannya didunia ini, dan semua ini terjadi karna dirimu!"


Bagai mendengar petir disiang bolong, Melody merasa sangat kaget dan langsung saja memegang dadanya yang terasa sakit.


Itu bohong kan? tidak mungkin, tidak mungkin Glan pergi dari dunia ini, Mereka baru saja bertemu dan itu hal yang nyata.


"tapi kami baru saja bertemu dan menghabiskan waktu bersama, Alga ada bersamaku!" Elaknya lalu merogoh ponselnya bermaksud untuk menghubungi nomor Glan, namun keburu di tepis oleh Gray.


"jangan bodoh! Dia sudah meninggal karna kecelakaan pesawat" sentaknya lagi lagi menarik perhatian banyak orang.


Namun Gray tak lagi merespon, dia hanya menggelang gelang kepala dengan air mata yang tak bisa ia bendung. Lalu dia memutuskan untuk pergi meninggalkannya, diikuti dengan dua rekan kerjanya.


"kalau kau tidak percaya, aku akan membawa Alga padamu malam ini juga!!!" teriaknya dengan suara serak. Tapi pria itu tidak menoleh dan tetap melanjutkan langkahnya.


"ada apa Melody?" sahut Aldrich sambil berlari kearahnya karna tadi dia mendengar keributan.


"a apa pria itu bekerja dikantormu?" tanyanya dengan mata yang masih tertuju pada pria berjas hitam yang kini sudah hilang dari pandangan.


"siapa? Gray? dia baru saja menawarkan kerja sama pada perusahaan kami" jelasnya.


"dimana alamat kantornya?"


Aldrich langsung saja memberi tahu alamatnya.


"terima kasih" senyumnya dengan wajah yang sudah pucat pasi.


"apa kau sakit?" tanya Aldrich begitu khawatir.


Melody menggelang lemah, tiba tiba pandangannya menjadi gelap dan hilang kesadaran.


...****************...


"Melody...banguun" Melody merasa badannya seperti di guncang guncang dengan kuat dan pipinya terasa perih ditampar tampar walau pelan sekalipun.


"emmh..." dia melenguh dan dengan perlahan membuka matanya. Lalu matanya menatap wajah Aldrich yang tengah menatapnya dengan tatapan khawatir. dan sudah ada Alisya juga ibunya yang berada disampingnya. Sekarang dia sudah berada di kamarnya.


"Aldrich..." ucapnya lirih. lalu dia memaksakan diri untuk bangun dan duduk.


"aku disini Melody, apa yang kau butuhkan?" tanyanya sigap dan langsung meraih tangan Melody.


Tapi sepertinya kondisi Melody benar benar sangat lemah bahkan enggan untuk bicara. Dia hanya menggenggam erat tangan itu seraya menangis.


"ada apa?" tanyanya lalu menarik Melody kedalam pelukannya.


"hiks...hiks...." hanya terdengar suara tangis Melody yang memecah keheningan. Sementara ketiga orang lainnya hanya diam saling pandang dalam ketidaktahuan mereka.