
Suasana tegang tanpa pengunjung menyelimuti seluruh toko obat milik sang nenek.
Mereka berdua yang terus menatap satu sama lain seketika membuat nenek itu terdiam. Ia melihat mereka berdua seakan khawatir kalau mereka akan membuat keributan di toko miliknya.
"Anu ... sebaiknya sesama teman itu tidak boleh bertengkar." Nenek itu berusaha menenangkan suasana dengan memasang wajah melas.
Mereka yang awalnya saling bertatapan itu tersadar dengan kehadiran dan perkataan dari nenek itu.
Azka lalu menatap pelan sambil berusaha memasang wajah ramah ke nenek itu.
"Maaf nek sudah membuatmu tidak nyaman." Azka memberikan sejumlah uang dan mengambil obat obatan yang ada di meja.
"Tak apa apa ... ada kalanya sesama teman itu pasti pernah bertengkar."
Yuga yang masih berdiri di depan pintu itu berusaha untuk tidak membantah pernyataan dari nenek itu. Dengan mata biru mudanya Yuga lalu menatap nenek itu dengan wajah ramah.
"Terima kasih banyak nek sudah mengingatkan kami. Aku hanya terkejut karena sudah lama tidak bertemu dengan orang yang di hadapan anda."
"Begitu ya rupanya."
Nenek itu terlihat lega hingga menyipitkan matanya. Ia merasa bersyukur karena berhasil melerai mereka.
Azka terdiam mendengar ucapan dari Yuga, dia mengerti dengan sifat Yuga yang sangat menghormati orang yang jauh lebih tua darinya. Wajah tenangnya memang dapat membuatnya mudah untuk di sukai oleh orang orang di sekitarnya.
Walaupun begitu Azka tidak terlalu menyukainya karena alasan tertentu saat masih menjadi bagian dari Lancer.
***
Setelah Azka selesai mencari obat yang dia perlukan untuk Tricia, ia dan Yuga sampai di sebuah kedai kecil yang tidak jauh dari tempat nenek penjual obat tadi.
Sebelum ke tempat itu Yuga sempat memaksanya untuk berbicara di tempat lain. Azka yang sejak awal merasa risih dengan kehadiran Yuga terpaksa untuk pergi dengannya.
Mereka berdua yang duduk saling berhadapan itu menjadi pusat perhatian sebagian orang di kedai itu.
Orang orang yang ada di tempat itu seakan kebingungan dengan kedatangan Yuga bersama Azka yang sekarang menjadi pengkhianat Lancer.
Azka yang tidak peduli dengan tatapan orang orang terhadapnya hanya menatap Yuga dengan tatapan datar.
"Lalu ... apa yang ingin kau bicarakan padaku?"
"Entah kenapa aku merasa tatapanmu sedikit lebih menyeramkan."
"Aku hanya menyesuaikan panggilan mereka terhadapku."
Yuga tersenyum kecil mendengarnya, "Kau sepertinya sudah nyaman di sebut anak iblis."
"Jika bukan sesuatu yang penting sebaiknya aku pergi."
"Lalu ... apa yang ingin kau lakukan sekarang?"
Azka berdiri dari kursinya dan bersiap pergi dari tempat itu. Azka merasa kesal karena dia hanya membicarakan sesuatu yang tidak penting.
"Tidak usah terburu buru, Azka." Yuga berusaha menahannya untuk tidak pergi dengan tatapan tajam.
"Aku tidak ingin membuang waktuku disini."
"Begitu juga denganku. Aku akan langsung ke intinya."
Azka kembali duduk untuk mendengar penjelasan darinya.
"Aku ingin kau membantuku, Azka."
"Apa yang kau bicarakan?"
"Timur dari Olasia terdapat sebuah desa kecil di luar wilayah Oleander. Desa kecil yang ku maskud itu bernama desa Torbe. Aku mendengar dari beberapa orang bahwa akhir akhir ini desa itu telah di serang oleh sekumpulan hewan buas misterius. Saat ini penduduk yang ada di desa itu sedang di landa ketakutan karena beberapa dari mereka telah terbunuh oleh hewan itu."
"Lalu kau datang kesini untuk menyuruhku membereskannya?"
"Kurang lebih seperti itu."
Azka berdiri dari tempatnya dengan cepat lalu menarik jubah Lancer dari Yuga dengan tatapan tajam.
"Kau sebut dirimu adalah Kapten Lancer?!"
Yuga yang jubahnya ditarik oleh Azka hanya menatapnya dengan tenang.
"Sayang sekali aku tidak bisa membantu desa kecil itu karena aku harus bertugas ke Kerajaan Petrea malam nanti."
[Note Author: Kerajaan Petrea adalah salah satu kerajaan terdekat dari kerajaan Oleander.]
"Lalu kenapa kau menyuruhku untuk membantumu?!"
"Secara kebetulan aku sedang berada di kota ini sejak kemarin dan aku mendengar kalau kau juga berada di sini."
"Kenapa kau tidak menyuruh anak buahmu sendiri?! Apa kau masih menganggap aku akan mengikuti apa yang kau perintahkan padaku?!"
Azka melepas genggamannya dengan kasar dan kembali duduk di hadapannya. Sambil memasang wajah tenang Yuga merapikan jubahnya.
"Seperti yang kau tau aku tidak berharap banyak kepada Izami yang akan menolong sebuah desa miskin apalagi desa itu di luar wilayah Oleander. Anak itu hanya mengandalkan kekuatannya agar di akui oleh banyak orang dan berniat menjadi Kapten selanjutnya."
"Aku tidak peduli dengan orang itu."
"Jika kau bisa membantuku aku akan memberi imbalan. Kau sedang membutuhkan uang bukan?"
Azka hanya terdiam dengan tatapan datar. Ia tidak bergitu mengerti dengan isi pikiran Yuga.
"Jadi kau berniat menyewaku?"
"Aku hanya melakukan apapun untuk menyelematkan desa itu."
"Harusnya kau tau kalau aku bukan lah seorang Lancer. Jika kau memang terpaksa seharusnya kau memperkerjakan kelompok Buster yang ada di daerah ini untuk membantumu."
"Bukannya aku sekarang sedang berbicara dengan seorang Buster? Bagiku Buster yang ada di wilayah ini hanyalah orang orang bodoh yang tidak beda jauh dengan berandalan."
Azka kembali terdiam karena Yuga mengetahui dirinya adalah seorang Buster. Ia tidak menyangka kalau kabar dirinya yang telah menjadi Buster telah sampai di telinga Yuga.
"Aku sebenarnya tidak terkejut kalau kau menjadi Buster meskipun sekarang kau tidak memiliki pengikut di dalam kelompokmu. Tapi apa sebenarnya tujuanmu menjadi Buster, Azka?"
"Jika aku mengatakannya, apa kau akan menangkapku?"
"Aku tidak terlalu tertarik untuk menangkapmu. Aku menemuimu hanya ingin memberi penawaran."
"Aku menolak permintaanmu."
Azka berdiri dari tempatnya dan berniat pergi dari hadapan Yuga.
"Biar ku tebak kau menjadi Buster hanya ingin mencari Final Valley bukan?"
Azka seketika menghentikan langkah kakinya ketika ia mengatakan tujuannya menjadi Buster. Ia memang berniat mencari Buster karena itu adalah impiannya sejak kecil.
"Final Valley? Aku sudah sering mendengar tujuan itu dari Buster yang ku temui. Tapi harus ku akui banyak sekali orang orang bodoh yang menjadi Buster hanya untuk menemukan dongeng anak anak seperti itu. Harusnya itu menjadi masuk akal benar begitu kan, Azka?"
Azka menoleh ke arahnya dengan tatapan mengintimidasi. Yuga duduk santai dengan memasang wajah tenang menatap ke arah Azka.
Ia menahan kesal sambil melanjutkan langkah kakinya untuk pergi dari kedai itu meninggalkan Yuga.
Yuga terus memperhatikan Azka yang telah pergi dari hadapannya. Ia sedikit terkejut
Entah kenapa aku sangat yakin kalau dia sama sekali tidak mengkhianati Lancer saat 3 minggu yang lalu, benak Yuga.
Dia begitu kebingungan karena merasa tatapan Azka jauh lebih menyeramkan di bandingkan saat masih menjadi pasukan Lancer.
***
Sesampainya di penginapan, Azka lalu masuk ke kamar Tricia untuk memberikannya obat.
Tricia telah terbangun sejak tadi karena merasa sudah lebih baikan. Ia begitu kebingungan ketika Azka menghampirinya dengan raut wajah yang terlihat kesal.
"Apa ada masalah Azka?"
"Maksudnya?"
"Entahlah, aku merasa wajahmu terlihat seperti ada masalah."
Azka menghela nafasnya dan berusaha menunjukkan ekspresi datar, "Benarkah?"
"Lupakan saja, ngomong ngomong aku sangat berterima kasih karena telah merawatku."
"Tak masalah."
Azka merasa bertanggung jawab karena sering membuat Tricia tidur di hutan dengan perlengkapan seadanya. Azka berpikir kalau itulah yang membuatnya sampai demam karena cuaca yang begitu dingin saat malam hari.
"Tapi aku sudah merasa baikan, mungkin kita bisa pergi dari penginapan ini."
"Apa kau yakin?"
"Ya."
"Baiklah kalau begitu."
"Lalu kita akan pergi kemana sekarang?"
"Yang jelas kita harus menuju ke Mid Land."
"Mid Land?"
"Ya, Yang aku tau semua Buster yang ada di North Land ini selalu berniat untuk pergi ke Mid Land untuk mencari Final Valley. Meskipun begitu aku tidak mengetahui apa apa tentang daratan itu."
"Aku juga mendengar kalau di wilayah itu banyak sekali berisi orang orang kuat. Bahkan beberapa Buster yang berbahaya berada di daratan itu."
"Itu adalah hal yang wajar bukan? Lagipula daratan itu bisa di sebut sebagai pintu masuk menuju Final Valley."
"Saat aku terus melarikan diri dari kejaran pemburu budak aku mendengar sedikit informasi dari orang orang. Begitu mereka sampai di Mid Land mereka tidak akan pernah kembali."
"Yang aku tau di daratan itu juga terdapat Markas Pusat dari Pasukan Lancer. Mungkin itu salah satu sebabnya."
"Kau cukup mengetahui soal Lancer yang ada di Mid Land ya?"
"Kalau soal Markas Pusat seharusnya banyak yang mengetahuinya. Selain itu, aku tidak tau apa apa. Hanya posisi Kapten lah yang biasa pergi ke Markas Pusat."
"Begitu ya ...."
Azka menyadari kalau Tricia sejak tadi terlihat ketakutan hingga menundukkan kepalanya.
"Ada apa Tricia? Kau terlihat cemas."
"Tak apa, aku hanya merasa kalau aku tidak cukup kuat untuk bertarung." Tricia mengeluarkan senyum paksa.
Azka hanya menatapnya datar karena sejak awal tidak berniat untuk membawa Tricia pergi dengannya. Tapi untuk sekarang ini ia tidak terlalu memikirkan hal itu karena sejauh ini Tricia belum mengkhianatinya.
***
Mereka berdua telah mengemas barang barang mereka dan bersiap pergi dari penginapan itu. Sesampainya di lantai 1 Azka dan Tricia menghampiri meja resepsionis itu untuk membayar kamar mereka.
Liana si gadis penginapan itu berjaga di meja itu sambil memasang wajah ramah ke arah Azka. Azka sedikit risih karena yang menjaga tempat itu adalah gadis yang menganggunya saat makan malam kemarin.
"Jadi kau sudah mau pergi kak Azka?"
"Ya, aku tidak ingin berlama lama di sini."
"Yah ... padahal aku ingin kakak terus berlama lama disini."
Liana berusaha merayu Azka sambil memasang wajah murung.
Tricia begitu kebingungan melihat tingkah dari Liana. Ia bersikap seolah olah sudah mengenal Azka sejak lama.
"Kau mengenal gadis ini?"
"Tidak."
"Jahat, padahal aku menyukai kak Azka."
"Hah?!" Tricia merasa kesal ketika Liana mengatakan ia menyukai Azka.
"Hentikan itu. Aku kesini hanya ingin membayar penginapan kamar."
"Tapi sebelum itu apa kau tau kak? Kalau desa kecil yang bernama Torbe sedang di serang makhluk buas misterius saat malam hari."
"Aku tidak mengetahui hal itu."
Azka sudah mengetahui hal itu dari Yuga. Ia menolak permintaan itu karena ia hanya tidak ingin di perintah olehnya.
"Rumor itu sudah beredar di kota ini. Bahkan ada beberapa orang yang melarikan diri di kota ini."
Tricia yang mendengar itu begitu penasaran dengan maksud ucapan dari gadis resepsionis itu.
"Kira kira makhluk seperti apa yang menyerang desa itu?"
"Saat itu orang yang ada di kota ini mengatakannya, tapi aku sedikit lupa ia hanya mengatakan makhluk itu seperti serigala hitam yang berukuran besar."
"Apa kau tau keadaan mereka sekarang?"
"Entahlah, mereka sedang meminta bantuan ke pasukan Lancer tapi yang ku dengar tidak ada satupun orang yang pergi kesana."
Wajah Liana terlihat begitu khawatir karena memikirkan nasib dari desa Torbe.
Tricia menundukkan kepalanya karena teringat kejadian desanya yang telah di hancurkan. Ia terlihat begitu ketakutan hingga mengeluarkan keringat dingin.
Azka sedikit kebingungan melihat tingkah Tricia yang begitu panik. Ia lalu menyentuh pundaknya agar Tricia kembali tersadar.
"Oi, kau tak apa?"
"I-iya ...."
Tricia berusaha menenangkan diri sambil mengatur nafasnya. Ia begitu shock karena trauma yang di alami oleh desanya sebelum hidup melarikan diri dari kejaran para pemburu budak.
"Kau yakin tak apa, Tricia?"
"Tak apa ... Azka, kita harus menolong mereka!" seru Tricia dengan tatapan meyakinkan.
"Kenapa?"
"Aku mohon Azka, kita harus menolong mereka."
Azka hanya terdiam melihat Tricia yang begitu panik. Ia kebingungan kenapa Tricia begitu ingin menyelamatkan desa kecil itu.
"Aku mohon, Azka!"
Azka menghela nafasnya berat mengiyakan permintaan dari Tricia.
"Baiklah, kita akan mengecek desa itu."
Tricia tersenyum karena senang Azka mau membantu desa Torbe yang sedang di serang makhluk misterius itu.
"Wah benarkah? Aku tau kalau kak Azka itu benar benar orang yang baik," ucap Liana yang ikut senang.
"Lalu dimana desa itu?"
"Kau hanya perlu ketimur dari sini, letaknya sedikit jauh tapi kalau kakak berangkat sekarang mungkin kau bisa sampai saat sore."
"Berarti kita berangkat sekarang, Azka?"
Azka hanya melihat Tricia dengan tatapan datar. Ia merasa terpaksa karena Tricia dan Liana mendesaknya untuk membantu desa itu. Ia hanya merasa desa yang sedang terpuruk bukan lagi tanggung jawabnya mengingat dirinya sudah bukan bagian dari pasukan Lancer.
Mereka lalu pergi dari penginapan itu untuk pergi menuju desa Torbe sesuai dengan arah yang di berikan oleh Liana.
Tricia sejak tadi terlihat begitu khawatir dengan keadaan desa itu. Ia berpikir begitu karena ia tidak ingin kejadian yang sama terulang pada desa tempat tinggalnya dulu.
To be Continued...