Black Buster

Black Buster
Chapter 40 "Rumors in Hayate Town"



“Terima kasih banyak.” Ucap pedagang tua dengan tatapan ramah sambil mengambil beberapa monster Wobbit dari tangan Azka.


“Sekarang berapa uang yang kita miliki Azka?!” Tanya Levin dengan antusias.


“Sekitar 10000 Nam.”


Azka, Tricia dan Levin sebelumnya sempat berburu beberapa Monster liar agar bisa mendapatkan uang. Karena sejak awal mereka sama sekali tidak memiliki uang untuk bertahan hidup.


Kota Hayate atau begitulah yang dikatakan pedagang tua itu sebelumnya, adalah kota paling timur dari kerajaan Hawthorn. Meskipun sebuah kota tapi suasananya lebih mirip seperti desa bahkan desa Corael masih jauh lebih ramai dari kota Hayate.


Di samping jalan utama, banyak sekali bangunan yang sudah sangat tua dan juga berdebu. Terlihat juga beberapa pengembara dan Buster biasa yang berlalu lalang di jalan utama kota Hayate.


Menyadari reaksi mereka bertiga, pedagang tua itu hanya bisa tersenyum.


“Apa kalian seorang Buster?”


“Kami adalah Buster!” Seru Levin seakan membanggakan diri.


“Buster ya? seperti yang kalian lihat memang banyak sekali Buster atau pengembara yang datang ketempat ini dan itulah kenapa kota ini tidak terawat.”


“Aku baru pertama kali melihat keadaan kota seperti ini.” Azka menambahkan dengan tatapan datar.


“Begitulah … kerajaan Hawthorn sendiri tidak semakmur seperti kerajaan kerajaan lain. Lancer juga sangat jarang datang kemari bahkan jika kalian melihat banyak keributan itu sudah menjadi hal yang biasa.”


Penjelasan pedagang itu memang benar, karena sejauh mata memandang banyak sekali bekas keributan di beberapa bangunan kota. Padahal menurut perkataan pedagang itu sebelumnya, Hayate adalah salah satu kota terbesar dikerajaan Hawthorn.


Tapi julukan seperti itu sangat berbanding terbalik saat Azka dan rombongan datang ke kota Hayate.


“Jadi begitu ya … terima kasih banyak kek.” Tricia tersenyum lembut ke pedagang itu.


“Sama sama.”


Setelah meninggalkan lapak pedagang tua tadi, mereka bertiga berjalan di jalan utama sambil memikirkan apa yang akan dilakukan selanjutnya.


“Lalu kemana kita sekarang?” Tanya Tricia yang sejak tadi kebingungan.


“Tentu saja kita harus mencari makanan!”


“Apa isi pikiranmu itu hanya makanan?”


“Mungkin itu ide yang bagus.” Azka mengangguk menyetujui saran Levin.


“Oke berarti sudah diputuskan!” Levin semakin bersemangat.


Dengan perasaan bimbang, Tricia hanya bisa pasrah mengikuti mereka dari belakang.


Tidak memakan waktu lama, Azka dan rombongan pun masuk kedalam sebuah bar. Suasana bar tersebut sangat ramai oleh kelompok Buster dan para bandit yang sedang minum minum.


Mereka bertiga lalu duduk dan tidak lama seorang pelayan datang menghampiri meja mereka. Setelah memesan makanan, pelayan itu pun pergi dengan tatapan ramah.


Tatapan dari Buster dan para bandit memang sempat mengarh ke arah Azka dan rombongan. Mungkin lebih tepatnya tatapan mereka lebih tertuju ke arah Tricia.


Tapi tatapan itu bagaikan angin lewat dan mereka pun kembali melanjutkan aktivitasnya.


“Sepertinya mereka tadi sempat melihatmu Tricia.” Sahut Levin dengan tatapan polos.


“Tentu saja karena dia satu satunya wanita disini.” Jawab Azka dengan santai.


Mendengar jawaban Azka, Tricia hanya menghela nafas karena apa yang dikatakannya benar.


Masih menunggu makanan yang tak kunjung datang, mereka pun sempat mendengar percakapan beberapa Buster yang sedang mabuk.


“Kau dengar kan kalau monster kecil itu kembali?”


“Ya aku dengar itu!” Seru salah seorang Buster sambil menaruh gelasnya dengan kasar.


“Katanya monster itu lagi lagi mengambil uang dari beberapa Buster tadi malam.”


“Menjengkelkan! Aku juga kehilangan banyak uangku gara gara Monster sialan itu!” Salah Buster itu tampak kesal sambil meminum anggurnya. “Jika dia sampai muncul kembali aku akan menggantung kepalanya!” Lanjut Buster itu dengan tetesan anggur di mulutnya.


Dari kejauhan, Azka dan Tricia sejak tadi mengamati percakapan para Buster itu.


“Monster kecil?” Tanya Azka dengan sorot mata dingin.


Dia tiba tiba teringat dengan sosok misterius saat perjalanan mereka menuju kerajaan Hawthorn. Sosok itu begitu misterius dan menghilang dengan sangat cepat.


“Apa mungkin yang mereka bicarakan itu monster yang tadi melewati kita?” Tricia menatap Azka dengan kebingungan.


“Entahlah ….”


Masih dengan perasaan bingung, tiba tiba pelayan datang membawakan pesanan ke meja mereka.


“Akhirnya yang ditunggu tunggu datang juga!” Seru Levin dengan mata berbinar saat menatap seluruh makanan dihadapannya.


Pelayan itu tersenyum ramah dan lalu memalingkan pandangannya untuk pergi.


“Tunggu dulu.”


Pelayan itu kembali menatap Azka saat memanggilnya, “Ada apa?”


“Apa kau mengetahui tentang monster yang sedang di bicarakan mereka?” Tatapan mata hijau tuanya begitu penasaran ketika menatap pelayan itu.


Pelayan itu sempat terdiam sejenak lalu menjawab, “Sebenarnya aku tidak terlalu mengerti dengan monster itu. Karena saya sendiri belum pernah melihatnya secara langsung.”


“Begitu ya ….” Rasa tidak puas terlihat dari wajah Azka karena tak mendapat informasi apapun darinya.


“Tapi yang pasti … Monster itu memang sering mencuri barang barang berharga milik beberapa Buster di kota ini. Sebaiknya kalian berhati hati.” Lanjut pelayan itu lalu pergi meninggalkan mereka.


Mendengar perkataan pelayan itu, Azka dan yang lainnya hanya terdiam menatap pelayan itu pergi. Azka awalnya tidak terlalu percaya dengan adanya monster pencuri tapi, karena perkataan pelayan tadi ia mulai sedikit percaya.


“Ada apa Azka?” Tanya Levin sambil mengunyah makanannya.


Azka lalu menoleh dan mulai memasang wajah kesal padanya, “Brengsek jangan menghabiskan semua makanannya!”


***


Suasana hampir memasuki waktu malam di kota Hayate yang sangat sepi.


Setelah cukup lama berdiam di dalam bar dan berkeliling kota Hayate tanpa tujuan. Azka, Tricia, dan Levin sepakat untuk bermalam dikota Hayate.


Dan sekarang mereka sedang menuju kesalah satu penginapan.


“Benarkah? Kenapa kita bisa menghabiskan uang sebanyak itu?” Tanya Levin polos.


“Kau pikir ini salahnya siapa brengsek?!” Tegas Azka ketika menatap Levin.


Dari raut wajahnya, Levin terlihat seperti tidak apa apa. Padahal sebelumnya dia memesan banyak sekali makanan hingga membuat tagihan yang cukup besar.


“Kira kira penginapan di sini murah tidak ya?” Tanya Tricia dengan raut wajah khawatir.


Setelah menahan kesalnya pada Levin, Azka hanya menghembus nafas berat.


“Entahlah ….”


Sebenarnya sejauh mata memandang, hampir semua bangunan di kota Hayate begitu berantakan. Jadi seharusnya mereka bisa mendapatkan harga yang murah.


Tapi, Azka sedikit ragu karena bisa saja menaikkan harga sewanya mengingat kota Hayate sering menjadi pesinggahan beberapa Buster.


“Kita bisa tidur dihutan kalau mau.”


“Aku tak mau lagi begadang malam ini sialan.”


“Tenang, biar aku saja yang berjaga malam ini.”


Tatapan Levin yang begitu meyakinkan hanya membuat Azka terdiam sekaligus kesal. Padahal ia telah mengatakan itu tadi malam tapi akhirnya ia malah ketiduran.


Disaat mereka menuju penginapan, tiba tiba sosok misterius datang dengan cepat mengambil uang dari tangan Tricia.


“Uangnya!” Tricia menaikkan alisnya mengamati yang telah pergi menjauh.


“Ayo Levin!” Tanpa pikir panjang Azka langsung berlari mengejarnya.


“Ya!”


“Apa yang kalian lakukan?!”


Dengan perasaan campur aduk, Tricia hanya terdiam melihat Azka dan Levin yang berlari meninggalkannya. Ia menduga kalau sosok yang mencuri uang mereka adalah monster yang dimaksud oleh para Buster tadi siang.


Sementara itu, Azka dan Levin terus berlari mengejar sosok yang bentuknya cukup kecil dan memakai sebuah jubah menutupi seluruh tubuhnya.


“Kembalikan uang kami oi!” Teriak Levin dengan niatan monster itu mau menuruti kata katanya.


“Mana mungkin dia akan berhenti!”


“Kalau begitu ….”


“Jangan bertindak bodoh Levin!”


Sambil terus berlari, tiba tiba Levin mengepal tangan kanannya dengan kuat. Dengan cepat ia melompat dan berniat memukul sosok itu agar berhenti.


Karena sosok itu begitu cepat, ia berhasil menghindar dari serangan Levin. Tapi karena pukulannya yang begitu kuat, sosok itu terlihat sangat panik.


“A-ah ….”


“Suara anak kecil?!”


Terus berlari dari kejauhan, Azka menaikkan alisnya saat ia mendengar suara gadis kecil dari sosok itu. Dia pun mempercepat larinya karena semakin penasaran sosok dibalik jubah itu.


Lalu Levin yang sempat terhenti karena pukulannya meleset, kembali mengejar sosok itu bersama Azka.


“Oi Levin, apa kau dengar suara tadi?”


“Suara apa?” Levin terlihat bingung oleh pertanyaan Azka.


“Entah aku salah dengar atau tidak tapi … aku mendengar suara gadis kecil dari sosok itu.”


“Benarkah?”


Mungkin karena pukulannya menimbulkan suara dentuman yang cukup keras, Levin tidak sempat mendengar apa apa dari sosok itu.


Disaat mereka terus berlari, sosok itu terlihat semakin panik dan mempercepat langkahnya ketika beberapa Buster mulai menyadari kedatangan sosok itu.


“Itu dia!”


“Tangkap monster sialan itu!”


Dengan wajah kemarahan, beberapa Buster pun ikut memburu makhluk misterius itu. Bahkan beberapa dari mereka membawa senjata dan pisau untuk menangkapnya.


Azka dan Levin yang berlari jauh dibelakang mereka hanya terdiam kebingungan. Terlihat dari kemarahan mereka, sepertinya beberapa Buster itu memiliki dendam tersendiri ke makhluk itu.


Mungkin juga mereka resah karena monster itu sering mencuri beberapa barang berharga dan juga uang beberapa Buster.


“Berhenti disana monster sialan!”


Teriakan kemarahan Buster semakin menggema di seisi jalan utama kota Hayate. Makhluk berjubah yang dipanggil Monster itu seperti ketakutan dan mempercepat larinya.


Karena makhluk itu semakin cepat, beberapa Buster pun semakin mempercepat larinya hingga meninggalkan Azka dan Levin jauh dibelakang.


Salah satu Buster yang mengejarnya bahkan mencoba menodongkan pistol ke makhluk misterius itu.


“Rasakan ini monster sialan!”


Sfx: Dor!


Tembakan dari orang itu berhasil melukai lengan kirinya hingga terjatuh di depan sebuah bar.


“Kerja bagus!”


Sekumpulan Buster yang sempat mengejarnya pun berhenti dan mulai mendekat kearahnya dengan beberapa senjata di tangan mereka.


Sementara itu, Azka dan Levin yang akhirnya sampai di kerumuanan Buster sedikit terkejut karena mereka sempat mendengar sebuah tembakan.


Dan dari kejauhan, jubah yang menutupi makhluk itu terbuka karena terjatuh oleh tembakan. Azka dan Levin yang melihat sosok asli itu hanya bisa terdiam dengan menaikkan alisnya.


‘Monster’ itu memiliki rupa seperti gadis kecil berambut putih perak dengan mata yang berwarna biru langit. Tapi penampilannya lebih mirip disebut manusia setengah hewan dengan tubuh yang dipenuh bulu tipis berwarna putih bermotif tutul dan ekor putih yang tidak terlalu panjang.


‘Gadis kecil’ itu begitu ketakutan dengan mata menggenang saat melihat kerumunan Buster yang menatapnya dengan kemarahan.


To be Continued ….