
Keesokan paginya setelah kepergian Levin dan rombongan, seluruh penduduk desa Corael masih terlihat sibuk untuk memulihkan kembali desa mereka.
Walaupun kali ini tidak ada Levin yang biasanya menganggu, tapi tetap saja ada yang aneh karena tidak ada lagi yang biasanya membuat keributan.
“Selamat pagi, kepala desa!”
Beberapa dari mereka menyapa ke seorang kakek tua yang berjalan menghampiri mereka.
“Selamat pagi.”
Hardy, seorang kakek tua yang sudah menjabat menjadi kepala desa Corael sejak 40 tahun yang lalu. Sosoknya memang selalu dihormati dan dicintai oleh penduduk desa karena kebaikan hatinya sekaligus salah satu orang yang menyaksikan bagaimana desa itu terbentuk.
Tampak wajahnya juga berseri seri ketika menyapa orang orang disekitar. Setelah kehancuran akibat Clint Buster beberapa hari yang lalu, membuat semua orang desa bekerja keras untuk memulihkan kembali desa mereka.
“Kakek kepala desa!” Seru gadis kecil yang tiba tiba menghampiri Hardy.
“Oh, Vina ada apa?”
Vina, gadis kecil berusia 8 tahun yang kini sedang menatap Hardy dengan mata dan rambut yang sama sama berwarna coklat.
Dibandingkan dengan yang dulu, Vina sekarang jauh lebih dewasa setelah kehilangan satu satunya kedai peninggalan kakeknya. Dia menjadi dewasa berkat nasehat dari Azka saat penyerangan yang dilakukan Fidel.
Senyumannya pun sekarang lebih berseri seri karena apa yang dikatakan Azka padanya memang benar. Karena bagaimanapun juga ia masih memiliki desa yang dipenuhi kenangan bersama kakeknya dan seluruh penduduk desa.
“Entah ini perasaanku saja tapi … desa ini jauh lebih sepi setelah perginya Levin.” Wajahnya tampak murung dengan menundukkan kepalanya.
“Kau benar … sudah lama aku tidak merasakan ketenangan desa seperti ini.”
Tatapan Hardy tampak kosong ketika melihat seisi desa yang biasanya terngiang oleh teriakan Levin. Dia masih ingat betul bagaimana Levin datang dan juga dianggap sebagai berandalan oleh para penduduk.
***
Desa Corael 8 tahun yang lalu.
Seorang laki laki berumur 10 tahun dengan penampilan berantakan dan tubuh yang dipenuhi luka tiba tiba datang ketengah desa yang sedang ramai oleh para penduduk.
Namanya adalah Levin Fullbright, bocah laki laki berambut pirang pendek dengan sebuah plester yang menempel di pipi kirinya dan dua gelang kain di lengannya.
Itu adalah pertama kali dia datang kedesa Corael. Dari mana ‘asal’ dan juga ‘identitasnya’ tidak ada yang pernah tau. Tapi yang pasti raut wajahnya begitu antusias ketika menginjakkan kakinya di desa itu.
Dia tiba tiba tersenyum kecil dengan tatapan percaya diri, “Oi!!! Ada yang mau bertarung denganku?! Hahahaha!”
Karena dianggap tidak waras, para penduduk yang sempat melihatnya pun melanjutkan aktivitas masing masing.
Masih dengan wajah yang bersemangat, Levin hanya terdiam seolah olah para penduduk tidak melihat keberadaannya.
“Oi! Aku berbicara dengan kalian!”
“Apa apaan kau ini berisik sekali!”
“Siapa kau bocah?!”
Teriakan warga pun berdatangan karena mulai terganggu dengan teriakan Levin. Padahal mereka sudah berniat untuk menghiraukannya.
“Aku bukan bocah! Namaku Levin Fullbright! Aku akan menjadi petarung dan membuktikan bahwa dengan tangan kosong bisa menjadi yang terkuat!”
Kedua mata Levin terlihat berapi api saat menyerukan impiannya pada orang orang.
“Kau ini bodoh ya?”
“Siang siang begini sudah bermimpi yang aneh aneh.”
Tatapan beberapa orang yang tampak masam pun terasa oleh Levin.
“Siapa yang kau bilang bodoh?! Dan aku tidak bermimpi!” Seru Levin dengan wajah kesal ketika warga menatapnya seperti orang bodoh.
Tiba tiba tangannya pun menunjuk ke salah satu pria di desa Corael, tatapan Levin masih saja sangat percaya diri dengan apa yang dikatakannya barusan.
“Oi kau yang disana! Ayo bertarung denganku!”
“Aku?” Orang itu tampak kebingungan sambil menunjuk dirinya sendiri.
“Ya! Aku akan mengalahkanmu dan terus menjadi kuat!”
Kebingungan semakin terlihat jelas di raut wajah para penduduk. Karena berpikir bocah itu sedang berbicara konyol, orang yang ditunjuk tersebut berniat menuruti perkataannya agar Levin berhenti menganggu para warga.
“Baiklah nak. Kau mau bertarung seperti apa? Suit? Atau kejar kejaran?” Raut wajah orang terlihat mepermainkannya.
“Berhenti mempermainkanku! Tentu saja kita akan bertarung dengan tangan kosong!”
“Jangan sampai menangis ya bocah!”
Keduanya pun mulai mengambil ancang ancang.
Tidak memakan waktu lama, Levin dapat mengalahkan pria dewasa itu hingga terkapar. Pria itu bahkan belum sempat terkejut karena telah dikalahkan bocah berusia 10 tahun. Padahal ia sengaja menahan diri agar tidak melukainya, tapi dia malah berakhir dengan kekalahan.
Bahkan warga yang menonton pertarungan mereka hanya bisa terdiam menatap bocah berambut pirang itu. Mereka mulai mengira kalau bocah itu bukanlah manusia biasa.
“Hahaha aku menang!” Seru Levin dengan antusias ketika menatap orang orang.
Tatapan orang orang disekitarpun berubah menjadi kemarahan karena Levin terlihat bersenang senang saat mengalahkan pria itu.
“Dasar bocah berandalan!”
“Pergi kau dari sini!”
Rasa kebingungan langsung terlintas dibenak Levin, “Eh?! Kenapa?”
“Berani beraninya kau melukai warga kami!”
“Kami tidak akan memaafkan perbuatanmu bocah!”
Kebencian para penduduk pun mulai tercipta saat itu juga ketika Levin kecil mengalahkan salah satu dari mereka.
Levin hanya terdiam ketika orang orang terus meneriakinya. Tapi, teriakan mereka tiba tiba terhenti saat kepala desa datang ketempat itu.
Saat itu rambut Hardy masih belum seluruhnya memutih. Ia bahkan masih tampak muda seperti kakek 50 tahun pada umumnya.
“Keributan apa yang sebenarnya terjadi disini?” Tatapan Hardy terfokus ke salah satu warganya yang terkapar babak belur.
“Kepala desa! Bocah berandalan itu pelakunya!” Seru salah warga dengan kemarahan sambil menunjuk kearah Levin.
Levin seketika kaget saat ditunjuk oleh orang itu. Ia merasa sama sekali tak bersalah karena orang itu sendiri yang menyetujui untuk bertarung dengannya.
“Siapa kau nak? Aku belum pernah melihatmu sebelumnya.” Hardy berusaha menenangkan amarah warga dengan memasang tatapan ramah ke Levin.
“Namaku Levin Fullbright! Aku adalah seorang petarung hehehe!” Tingkah Levin seakan mengakrabkan diri dengan kakek tua itu.
“Lalu kenapa kau menghajar salah satu wargaku?”
“Tentu saja kami bertarung, lagipula dia sendiri yang menyetujuinya.” Levin menjelaskan dengan wajah polos.
Tapi teriakan warga pun kembali terngiang ditelinganya, mereka merasa anak itu sengaja mengajak orang orang bertarung untuk kepuasan dirinya.
“Tenanglah kalian semua.”
Setelah menenangkan warganya, Hardy pun mendekat ke pria yang sedang terkapar itu. Dia menyentuh tubuhnya dan tidak lama orang itu terbangun.
“O-oh, kepala desa.”
“Kau tidak apa apa?”
“Ya.”
Tatapan warga merasa lega karena orang itu tampak baik baik saja meskipun sempat dipukul oleh Levin. Karena tidak ingin kejadian itu terulang mereka kembali menatap Levin dengan wajah kemarahan sambil menyuruhnya untuk pergi.
“Kau disini rupanya kepala desa!” Seru orang itu sambil mengatur nafasnya.
“Ada apa?”
“Ga-gawat! Ada sekumpulan bandit yang mengacau di salah satu kedai!”
“Apa?!” Hardy menaikkan alisnya saat mendengar perkataan orang itu.
“Bandit?” Tanya Levin yang sejak tadi menerima teriakan orang orang padanya.
Hardy beserta kerumunan warga kompak memasang wajah kemarahan. Selama ini mereka memang selalu kedatangan orang orang jahat mengingat wilayah mereka sendiri ada di Free Zone.
Meskipun begitu, kejadian bandit seperti itu sudah menjadi hal yang biasa. Mereka selalu kompak bekerja sama untuk melawan orang orang jahat yang berusaha menguasai desa.
Disaat mereka ingin mendatangi tempat yang dikatakan orang itu, tiba tiba Levin berlari menuju suatu tempat dengan wajah mencurigakan.
“Mau kemana anak itu?”
“Biarkan saja. Mungkin dia ingin pergi dari tempat ini.”
Setelah Levin mulai hilang dari pandangan mereka, kerumunan warga bersama Hardy pun berniat untuk melawan bandit yang dimaksud oleh orang itu.
***
Setelah cukup lama berjalan menuju kedai yang dimaksud, para penduduk beserta Hardy sangat terkejut ketika melihat beberapa bandit yang telah tergeletak tak berdaya.
Dengan raut wajah kebingungan, mereka menatap Levin yang sejak tadi ditempat itu dan telah mengalahkan bandit bandit itu seorang diri.
Bahkan mereka tak menyangka kalau Levin bisa mengalahkan mereka secepat itu.
“Ah mereka bahkan tidak layak disebut bandit.” Ucap Levin santai sambil membersihkan tangannya yang kotor akibat bertarung melawan bandit bandit itu.
“Ka-kau mengalahkan mereka sendirian?!” Hardy menaikkan alisnya sekaligus memastikan.
“Ya, mereka bukanlah apa apa bagiku.” Levin tersenyum lebar sambil menatap Hardy dan kerumunan warga yang masih kebingungan.
Mereka masih berusaha mencerna apa yang sebenarnya mereka lihat. Bahkan masih bertanya tanya bagaimana anak itu bisa mengalahkan gerombolan sendirian.
Tanpa mengucapkan apa apa lagi, kerumunan warga pun mulai meninggalkan Levin dan Hardy di tempat itu. Mereka memang ingin berterima kasih tapi mengingat perilakunya yang terbilang liar, mereka masih tidak rela melakukan itu.
“Apa tujuanmu sebenarnya datang ke desa ini?”
“Tentu saja ingin menjadi yang terkuat!” Seru Levin dengan kepercayaan diri yang tinggi.
Hardy terdiam sejenak mengamati penampilan bocah itu. Ia menduga kalau Levin adalah anak terlantar yang secara tidak sengaja datang kedesanya. Meskipun penampilannya terlihat berantakan, dia sama sekali tidak menunjukkan kesedihannya.
Memikirkan semua itu, Hardy hanya bisa menghembuskan nafas berat sambil menatap Levin yang sejak tadi menatapnya dengan senyuman lebar.
***
Setelah cukup lama Hardy membiarkannya tinggal didesa, Levin kecil masih saja menantang orang orang untuk bertarung.
Para penduduk desa yang sudah terbiasa oleh teriakannya berusaha untuk menghiraukan permintaan konyolnya.
Memang para penduduk desa sedikit kurang setuju dengan keputusan Hardy saat mengizinkannya tinggal di desa. Tapi mereka sebenarnya peduli karena sejak Levin tinggal di desa itu, dia selalu berhasil mengalahkan bandit ataupun penjahat yang mengacau didesa mereka.
Setelah bertahun tahun Levin terus melindungi desa, mereka mulai peduli dan memikirkan nasib Levin kedepannya. Bahkan kegiatan Levin yang selalu meneriaki impiannya dengan keras, sudah menjadi rutinitas yang dialami mereka sehari hari.
Oleh karena itu, mereka terus membohongi Levin dengan pura pura membencinya agar dia benar benar pergi dan mengejar impiannya. Mereka melakukan itu bukan berarti benar benar membencinya tapi, mereka sangat menyayangi Levin seperti anak mereka sendiri.
Karena bagi penduduk Corael, Levin adalah penyemangat mereka ketika desa sedang di serang oleh Buster ataupun para bandit.
***
Para penduduk yang sedang bekerja pun langsung menghentikan aktivitas mereka dan mendekati Hardy yang sejak tadi melamun menatap alun alun desa.
Mengingat semua kenangan Levin ketika berada di desa, Hardy tiba tiba menitihkan air matanya
“Aku benar benar tidak menyangka kita telah kehilangan salah satu orang yang berharga bagi desa ini.” Ucap Hardy pelan membiarkan air matanya mengalir.
“Kepala desa ….”
Beberapa warga pun mulai bersedih karena apa yang dikatakan Hardy benar. Selama ini mereka selalu bersikap kasar padanya dan sampai lupa bahwa mereka tak pernah menunjukkan perasaan yang sebenarnya ke Levin.
Teriakan Levin kecil yang selalu menggema di seluruh desa Corael masih membekas dalam ingatan mereka.
Karena mengingat itu, mereka pun juga ikut menitihkan air mata sama seperti Hardy.
“Sialan! Aku benar benar merindukan anak itu!”
“Aku juga sempat menyesal karena terlalu kasar padanya!”
“Levin … sialan kau awas saja kau tidak kembali ke desa ini!”
Mereka semua berusaha mengusap air mata yang tak kunjung berhenti. Orang orang itu sama sekali tak menyangka jika kepergian Levin membuat mereka sangat sedih.
Vina yang sejak tadi berdiri di antara mereka hanya bisa terdiam menatap orang orang yang menangis. Dia sangat terharu sekaligus bangga pada Levin yang ternyata meninggalkan kenangan yang begitu berharga bagi penduduk desa.
“Aku yakin Levin pasti akan baik baik saja, apalagi dia sekarang bersama orang orang yang baik.” Vina berusaha meyakinkan penduduk desa kalau keputusan mereka sudah tepat.
Penduduk yang sejak tadi bersedih pun tersadar oleh perkataan Vina. Mereka sadar kalau Levin sedang berjuang demi impiannya dan hal yang harus dilakukan sekarang adalah mendukungnya.
“Kau benar Vina.” Ucap Hardy yang telah berhenti menangis. “Kita hanya perlu menyambutnya saat dia kembali nanti.”
“Itu benar kepala desa!”
“Ya! aku akan membuat makanan yang enak untuknya saat dia kembali!”
Raut wajah orang orang pun kembali tersenyum lebar oleh ucapan Hardy dan Vina. Mereka kembali bersemangat seperti yang Levin biasanya tunjukkan.
***
Setelah meninggalkan desa Corael, Azka, Tricia dan Levin melanjutkan perjalanan ke kota selanjutnya.
Disaat berjalan, entah kenapa Levin merasakan sesuatu yang aneh dipikirannya.
“Ada apa?” Tanya Azka yang menatapnya dengan datar.
“O-oh, tak apa. Entah kenapa aku memikirkan para penduduk desa.”
Azka dan Tricia terdiam sejenak dengan saling menatap. Dari tatapan Levin, sepertinya dia merindukan suasana penduduk desa Corael.
“Kalian tak perlu khawatir.” Levin tersenyum untuk mencairkan suasana. “Mereka pasti sangat sedih karena tidak ada lagi yang menganggu mereka hahaha!”
“Kau percaya diri sekali.” Sambung Tricia.
Azka dan Tricia hanya menatapnya dengan lembut. Memang seperti itulah Levin yang mereka kenal, pria yang selalu bertingkah konyol dan juga bodoh.
Sambil tersenyum ke Azka dan Tricia, Levin berusaha untuk menghilangkan rasa khawatirnya oleh penduduk desa.
Karena sekarang ia telah menjadi Buster bersama Azka dan Tricia. Apapun yang terjadi, dia akan bertarung berusaha semaksimal mungkin tentu saja bersama kedua temannya sekarang.
"Kenapa kita berhenti? Ayo kita harus pergi sebelum malam!”
Dengan penuh semangat, Levin tiba tiba menarik Azka dan Tricia hingga membuat mereka sedikit kesal. Levin hanya tertawa kegirangan sambil berlari menarik mereka berdua.
Perjalanan Azka dan Tricia bersama Levin pun akhirnya dimulai.
Arc 2 Corael Village Selesai.
To be Continued…