
Matahari sudah meninggi saat Azka meninggalkan penginapan.
Ia selesai mengemas barang barangnya dan berniat melanjutkan perjalanan.
Tidak lama kemudian, Yasue dengan rokok yang ada di mulutnya menatap tajam ke arah Azka. Yasue mengetahui kalau Azka berniat untuk pergi meninggalkan kota.
"Oi, Nak! Apa yang sedang kau lakukan itu?!"
Azka lalu menatap Yasue dengan tatapan datar, "Aku sedang berjalan, apa kau tidak bisa melihat pak tua?"
Yasue lalu berjalan mendekatinya, "Kau ini ... apa yang sebenarnya kau lakukan?!"
"Apa maksudmu pak tua?!" Azka menjawab dengan kesal.
"Aku sudah mendengarnya ... kalau nak Tricia menghilang."
"Lalu?"
"Lalu kenapa kau berjalan menuju gerbang kota?! Kau tau kan kalau saat ini dia berada dimana?!"
"Itu bukan urusanmu." Azka terus menatapnya dengan datar.
"Dia diculik oleh pasukannya Izami! Apa kau sama sekali tidak berniat menyelamatkannya?!"
"Itu bukan urusanku, pak tua." Azka sangat yakin kalau Tricia akan baik baik saja.
Ia tau kalau Izami bukanlah orang yang tertarik terhadap perdangan budak. Ia malah yakin kalau Tricia mungkin akan dibebaskan olehnya.
"Kenapa kau berbicara seperti itu?!" Yasue meneriakinya dengan kesal.
Lalu Yasue dengan kesal menarik kerah jubahnya. "Oi, apa yang kau sebenarnya pikirkan, Azka?! Dia adalah temanmu kan?!"
Azka yang jubahnya ditarik hanya memasang tatapan datar kearahnya.
"Dia bukan temanku."
Yasue terdiam ketika Azka sama sekali tidak menganggapnya seorang teman. Yasue sangat yakin kalau selama ini Tricia begitu percaya padanya.
"Kenapa ... kau berbicara seperti itu?"
"Karena itulah kenyataannya." Azka melepas genggaman dari Yasue.
"Kau ... bukannya dia selama ini selalu bersamamu?"
Azka terdiam dengan tatapan datar.
"Lalu kau anggap apa dia selama ini? Sifatmu benar benar buruk, Azka!"
"Kenapa kau ...."
"Harusnya kau bisa mempercayai temanmu!" Yasue terus memasang wajah kemarahan kearahnya.
"Kau pikir sudah berapa banyak yang terus menyiksaku pak tua?! Kau tidak pernah tau penderitaanku selama ini!"
"Ya, aku memang tidak tau karena aku belum pernah merasakan penderitaanmu! Aku juga tidak tau apa yang kau alami sebelum kau datang ke kerajaan ini! Tapi asal kau tahu saja nak ... aku selalu memperhatikanmu!"
Yasue selalu memperhatikan Azka saat pertama kali bertemu dengannya. Meskipun Azka selalu menjauh darinya, Yasue selalu memperhatikannya dari jauh karena hanya itu yang bisa dia lakukan.
"Amarah, kebencian dan juga siksaan dari semua orang terhadapmu. Aku selalu mengetahui itu!"
Azka terdiam karena terkejut mengetahui hal itu, ia selama ini tidak tau kalau Yasue selalu memperhatikannya. Ia sebenarnya sengaja menjauh dari Yasue karena ia tidak ingin pria tua itu ikut di benci oleh para penduduk karena sempat menolongnya dari amukan penduduk.
"Kenapa ... kau melakukan hal itu?!"
Yasue berusaha tenang sambil menghisap rokoknya, "Itu karena ... aku peduli padamu."
"Peduli?" Azka menatap Yasue dengan mata membesar.
"Aku sebenarnya tau kalau kau sengaja menjauh dariku. Kau sebenarnya tidak ingin kalau aku ikut dibenci oleh orang orang kerajaan ini kan?" Yasue memasang wajah serius.
"Tidak ...."
"Aku bisa tau dari tatapanmu pada saat itu ... aku merasa kalau waktu itu kau berusaha menjauh dariku." Yasue teringat dengan kejadian saat ia menghentikan amukan warga yang menghajar Azka hingga babak belur.
Azka yang terdiam hanya bisa menundukkan kepalanya dengan memasang wajah kaget.
"Kau tidak tau apa apa tentangku ... gara gara akulah ... aku sampai kehilangan satu satunya orang yang berharga bagiku!"
Yasue hanya terdiam sambil menghisap rokoknya, ia sudah menduga kalau Azka mengalami trauma yang kelam sebelum ia datang ke kerajaan Oleander.
Dia lalu mendekat kearah Azka dan memegang kepalanya.
"Kau tidak boleh menyalahkan dirimu nak. Jangan terus terusan merenungi apa yang sudah hilang darimu. Yang harus kau lakukan adalah lindungilah orang orang yang sudah mempercayaimu!"
Azka masih terdiam karena tersentuh oleh ucapan dari Yasue.
"Pak tua ...." Azka lalu menatap ke arah Yasue secara perlahan.
"Tricia selalu percaya padamu kan?" Yasue tersenyum padanya.
"Percaya ..?"
"Pergilah nak, dia pasti sedang menunggumu sekarang. Buatlah dia semakin percaya padamu."
Azka terus terdiam dan mengingat tentang Tricia. Ia ingat kalau Tricia benar benar ingin menemani perjalanannya mencari Final Valley. Apakah Tricia benar benar temannya? Apakah Tricia tidak akan mengkhianatinya?
***
Matahari sudah terbenam dari ufuk barat.
Di tempat tersembunyi dari Markas Lancer kerajaan Oleander, terlihat Izami sedang berjalan di kegelapan. Terlihat juga Tricia yang dalam keadaan terikat memasang tatapan kesal padanya.
"Aku benar benar tidak percaya kalau ada gadis cantik yang bergabung dengannya." Izami memasang tatapan sinis ke Tricia.
Terlihat juga 3 anggota Lancer yang berjaga mengelilingi Tricia yang dalam keadaam terikat.
"Apa yang sebenarnya kau rencanakan?!" Tricia dengan kesal berusaha melepas ikatannya.
"Yang aku rencanakan? Yang aku incar itu bukanlah dirimu, dasar pelarian budak! Yang aku incar itu hanyalah temanmu!" Izami menatapnya dengan tatapan jahat.
"Azka? Apa maksudmu?!"
"Kau harusnya senang karena Wakil Lancer yang terhormat sepertiku bisa menyelamatkanmu kan?!"
"Benar benar sampah!"
"Berani juga kau ya ... mungkin kau sudah tau kalau sebelumnya temanmu lah yang mengisi jabatan Wakil Lancer. Tapi, apa kau tau alasan sebenarnya ia dikeluarkan?"
"Dia tidak mengatakan apapun ya? Alasan dia dikeluarkan oleh Lancer memang tidak berjalan sesuai rencanaku."
Tricia terdiam karena tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Izami.
"Aku waktu itu telah menyuruh anggota Lancer untuk membunuhnya tapi, karena mayatnya tidak ditemukan aku sangat yakin kalau ia masih hidup. Jadi karena itulah aku membuat fitnah kalau Azka lah yang berusaha membunuh anggota Lancer." Izami menatap Tricia dengan senyuman kecil.
Tricia benar benar terkejut ketika mengetahui kejadian yang sebenarnya.
"Jadi selama ini ...."
Dia bingung kenapa Azka malah mengatakan kalau ia sendiri yang mengkhianati pasukan Lancer.
"Kau sepertinya sangat terkejut ketika aku mengatakan yang sebenarnya. Tapi yang sebenarnya aku incar itu menjadi Kapten di pasukan Lancer. Jadi untuk mencapai itu aku harus mengincar posisi Wakil."
"Kenapa kau melakukan hal sekejam itu?!"
"Tentu saja! Aku tidak terima ketika anak buangan seperti dia bisa terpilih menjadi Wakil Lancer. Aku adalah keturunan dari keluarga Glind yang terhormat! Kemampuan berpedang keluarga kami sudah sangat terkenal akan kekuatannya. Tapi, kenapa malah anak itu yang terpilih?!"
"Bagiku memang Azka pantas mendapatkannya."
"Budak sepertimu tidak pantas mengucapkan hal itu!"
Izami lalu menyuruh anak buahnya untuk menutup mulut Tricia yang sejak tadi memasang wajah kesal. Tricia mencoba untuk berteriak tapi hal itu sia sia karena perban yang menutupi mulutnya.
Tiba tiba Raja Edric datang keruangan itu dengan senyuman kecil di bibirnya.
"Oh ... ternyata selama ini, gadis yang bersama anak menjijikkan itu memiliki paras yang cantik." Edric memasang tatapan mencurigakan pada Tricia.
"Ya ... tak kusangka kalau ternyata gadis yang dbicarakan oleh orang orang ini adalah salah satu pelarian budak."
Edric memegang dagunya sambil berpikir, "Hmm ... dia hebat juga bisa bertahan sejauh ini."
"Apa kau sudah mengurus si Yuga sialan itu?"
Edric tersenyum kecil ke Izami, "Tenang saja, bisa ku pastikan dia tidak akan menganggu rencanamu."
"Akan sangat merepotkan jika orang itu mengetahuinya."
"Aku benar benar ingin melihat anak menjijikkan itu bisa terbunuh ...."
Raja Edric memang membenci Azka karena baginya anak tu selalu memasang tatapan menyeramkan kearahnya. Dia juga tidak suka saat anak yang di benci oleh kerajaannya malah terpilih menjadi Wakil Lancer Oleander.
"Ngomong ngomong tentang hal itu. Kemana sebenarnya dia?!" Izami memasang wajah kesal.
"Apa dia tidak tau kalau kau yang menculiknya, Izami?"
"Sepertinya itu tidak mungkin. Aku sangat yakin kalau dia pasti mengetahuinya." Izami mendekat kearah Tricia lalu melepas perban yang ada dimulutnya.
Izami menarik rambut Tricia dengan keras, "Oi budak! Dimana temanmu itu?!"
Tricia yang kesakitan hanya memasang wajah marah kearah Izami.
"Kau adalah gadis yang selalu bersamanya bukan?! Kenapa sampai sekarang dia tidak datang kemari?! Apa jangan jangan dia dari awal tidak pernah menganggapmu?" Izami semakin menarik rambut dengan erat.
Tricia terdiam karena mungkin yang dikatakan Izami itu benar. Ia sampai sekarang tidak tau apakah Azka benar benar menganggapnya seorang teman?
"Padahal kukira anak itu selalu menyelamatkan orang orang yang kesusahan. Tapi ternyata dia bahkan tidak datang untuk mencarimu."
"Itu tidak benar ...."
"Biar kuberi tau sedikit tentangnya, sejak kedatangannya di kerajaan ini dia hanya dipandang sebagai sampah dikerajaan ini. Bahkan saat ia menjadi wakil Lancer, seluruh anggota Lancer malah mengkhianatinya. Mungkin itu alasan yang cukup masuk akal, kenapa dia sampai sekarang tidak datang menyelamatkanmu."
Izami melepaskan tarikannya dan memasang senyuman kecil di wajahnya.
Ucapan Izami memang benar, mungkin Azka mengira kalau Tricia suatu saat nanti akan mengkhianatinya.
Tricia memasang wajah penuh keyakinan karena ia benar benar menganggap Azka adalah temannya. Ia sejak awal sudah berniat untuk bergabung dengan Azka mencari Final Valley karena Tricia tau kalau Azka adalah orang yang benar benar baik.
"Meskipun aku membenci anak itu, ternyata aku jauh lebih mengenal anak itu dibandingkan dirimu."
Tricia memang tidak tau apa apa tentang masa lalu Azka, meskipun ia mengetahui sebagian dari cerita Yasue. Walaupun Azka tidak pernah terbuka padanya, Tricia sama sekali tidak pernah meragukannya.
"Aku ... percaya padanya!" Tricia menatap Izami dengan tatapan tajam.
"Jangan menatapku seperti itu budak sialan!" Izami lalu menampar Tricia dengan keras.
Pipi dari Tricia sedikit terluka dengan tamparan tadi.
Ia kembali menatap Izami dengan tajam, "Dibandingkan dirimu ... aku lah yang paling memahami Azka!"
"Kau benar benar membuatku kesal ... oi kalian!" Izami memanggil ketiga anak buahnya.
"Ya!" Secara serentak ketiga orang itu datang kesamping Tricia.
"Bawa dia ke tempat perdagangan budak ... aku sudah muak melihat wajahnya! Oh iya, kalian juga bisa memiliki uang hasil penjualan gadis itu."
"Baik, Wakil Izami!" salah satu orang itu terlihat bersemangat.
"Ayo ikut kami dasar budak sialan!"
Tricia memasang wajah panik ketika ia di bawa paksa oleh ketiga orang itu. Ia ketakutan karena ia akan dikirim ke perjualan budak. Selama ini dia terus hidup sebagai pelarian dari para pemburu budak.
Tapi, Tricia juga tidak ingin Azka sampai menyelamatkannya. Ia tidak mau kalau Azka sampai terbunuh oleh rencana Izami.
"Maaf ... Azka ...." Tricia ketakutan dengan mata menggenang.
"Lepaskan dia!" Terdengar suara teriakan dari kejauhan yang sudah tidak asing oleh orang orang di ruangan itu.
Izami lalu berbalik ke arah orang yang sudah ia tunggu sejak lama.
"Akhirnya kau datang juga ... Azka!" Izami memasang senyuman kecil di wajahnya.
Tricia terdiam ketika melihat kedatangan Azka.
"Azka ...."
"Cih, datang juga kau rupanya dasar anak menjijikkan!" Raja Edric memasang wajah kemarahan ketika Azka berjalan mendekati mereka.
Dengan tatapan datar, Azka berjalan mendekati Izami.
"Kau mengincarku kan Izami?" Azka berhenti tepat dihadapan Izami.
To be Continued ...