
Clive terkapar tak sadarkan diri oleh pukulan telak dari Levin. Levin yang tadi mengeluh kelaparan malah tertidur di tempat itu.
“Wa-wakil Clive dikalahkan …,” lirih salah satu Clint Buster.
Anggota Clint Buster yang bersembunyi terdiam mematung. Tatapan mereka seakan tak menyangka Clive bisa dikalahkan dengan mudah oleh Levin.
Kakek Hardy dan Vina berhasil menyelematkan diri ke reruntuhan yang tidak jauh dari tempat Azka dan yang lainnya bertarung. Hardy merasa lega saat Levin berhasil mengalahkan Clive dengan sekali pukul.
“Anak itu memang kuat,” ucap Hardy sambil tersenyum kecil.
Vina yang ikut senang hanya terdiam dengan mata berbinar. Dengan cepat, Hardy mengangkat dan membawa Vina pergi ke tempat pengungsian warga desa Corael.
Tricia memasang wajah malas saat melihat Levin sedang tertidur. Ia tertidur karena mengeluh kelaparan.
Clint masih menatap mereka dengan wajah kemarahan. Ia sangat jengkel karena sebelumnya mengalahkan Fidel dan sekarang Clive yang merupakan wakilnya juga ikut terkalahkan.
“Kau masih belum menjawab pertanyaanku. Apa sebenarnya tujuanmu kemari?” tanya Clint.
Azka sebelumnya hanya menjawab entahlah saat Clint pertama kali menanyakan itu. Clint berpikir kalau Azka akan merebut desa ini darinya.
Buster pada dasarnya hanya bertarung saat memperebutkan suatu wilayah atau tujuan lain.
Azka terdiam dengan datar, “Aku hanya ingin menolong desa ini.”
“Menolong katamu?! Hahahahaaha baru kali ini aku mendengar itu dari seorang Buster!”
Clint tertawa terbahak bahak saat mendengar alasan yang begitu konyol. Ia tidak menyangka akan mendengar hal itu dari seorang Buster.
“Lalu jika berhasil mengalahkanku, apa yang akan kau lakukan? Dianggap seperti pahlawan?”
Azka dan Tricia hanya terdiam mendengar pertanyaan itu. Sejak awal mereka memang berniat menyelamatkan desa Corael demi Vina dan kepala desa.
“Tapi apapun alasanmu, aku akan membuatmu menyesal telah berurusan denganku!”
Clint lalu membidik Azka dengan jari telunjuk.
“Index Finger!” beberapa peluru sihir melesat kearah Azka dengan cepat.
Dengan mudah Azka dapat menebas seluruh peluru itu.
“Kau lengah!” Dengan cepat Clint tiba tiba berada dihadapannya.
Ia memukul Azka dengan tangannya yang cukup besar di banding tangan manusia normal pada umumnya. Meskipun terlempar karena pukulan tersebut, Azka berhasil menahan dengan kedua daggernya.
Clint melompat dan kembali menyerang Azka disaat lengah. Ia tidak ingin memberi celah untuknya menyerang.
Karena tidak mendapatkan kesempatan menyerang, Azka kembali terkena pukulan dan terlempar sekitar 2 meter. Meskipun begitu ia tetap berhasil menahannya dengan dagger.
“Heh, dagger hitammu menarik juga ya,” ucap Clint dengan tatapan merendahkan.
Azka lalu bangkit kewalahan karena serangan cepat dari Clint. Ia begitu lengah saat Clint menghajarnya dengan cepat.
“Finger Barrage!” Seluruh jari Clint mengeluarkan peluru sihir secara beruntun.
Sfx: Cring! Cring! Cring!
Dengan tenang, Azka menangkis semua tembakan itu. Ia sedikit kewalahan dengan tembakan dari Clint yang tak terbatas.
Beberapa peluru dari Clint memang berhasil melukai tubuhnya. Azka yang sedikit kewalahan lalu berlari untuk menghindar.
Clint tertawa merendahkan sambil terus menembak Azka yang sedang berlari menghindar.
Merasa menghindar itu sia sia, Azka lalu mengeluarkan beberapa tebasan untuk menghancurkan peluru peluru tersebut. Meskipun berhasil, tapi hujan peluru masih terus bermunculan kearahnya.
Karena tidak ada pilihan lain, Azka hanya bisa menangkis dan menghindar dari serangan itu.
“Hahahahaha, teruslah berlari seperti seekor tikus!” Clint tertawa seakan menikmati pertarungan tersebut. Pertarungan tersebut memang mirip seperti seekor pemburu yang ingin menembak buruannya.
Tricia yang menarik Levin untuk menjauh dari pertarungan mereka merasa khawatir. Sepertinya Azka benar benar kesulitan menemukan celah untuk melawannya. Meskipun ingin membantu, tapi ia tidak ingin menganggu pertarungan Azka.
“Sampai kapan kau mau berlari, bocah Dagger Hitam?!”
Clint terlihat menikmati melihat Azka kewalahan, ia semakin penasaran sampai kapan Azka akan terus berlarian seperti itu.
Sambil terus berlari menghindar, pelan pelan Azka menatap mata hitamnya Clint. Ia sedang berpikir bagaimana ia bisa menyerang Clint dengan peluru yang terus menghujaninya.
“Black Slash!” Beberapa tebasan hitam muncul menghancurkan hujan peluru Clint.
Menyadari celah tersebut, Azka kembali menebas Clint yang sedang lengah. Tapi tak disangka Clint berhasil menghindar dari serangannya.
Clint tampak santai saat Azka menyerangnya.
“Kau memilih menghentikan tembakan dari jari jariku ya?”
Meskipun tebasan Azka dapat menghancurkan tembakan beruntun tersebut, tapi itu tidak membuat Clint dapat diserang dengan mudah. Dengan cepat Clint kembali menghajar Azka disaat lengah.
Ia terlempar hingga menghancurkan rumah warga. Azka lalu bangkit menatap Clint sambil terengah engah.
Selain bisa menembakkan sesuatu dari tangannya, ia juga memiliki pukulan yang cukup menyakitkan. Sepertinya Azka memang terlalu meremehkannya.
Tanpa memberi ampun, Clint kembali menembaknya secara beruntun. Lagi lagi Azka berhasil menghindarinya tapi, ia merasa kalau pergerakannya semakin melambat.
“Hahahaha menyerah saja! Setelah menerima pukulanku, gerakanmu semakin melambat.”
Terus berlari menuju reruntuhan, kedua tangan Azka mulai mengeluarkan aura hitam persis seperti melawan Izami di kerajaan Oleander. Dengan cepat, Azka menancapkan kedua daggernya ketanah.
“Nightfall Slash!” Tebasan hitam yang cukup besar keluar dari bawah tanah.
Clint lalu melompat ke udara karena serangan mendadak tersebut.
“Hebat ju—” Clint terkejut saat Azka menghilang.
“Black Slash!”
Tebasan dari arah belakang mengenainya hingga terjatuh. Ternyata Azka dengan cepat telah berpindah di belakangnya.
Gumpalan asap dari tanah mengiringi Clint saat terjatuh. Meskipun serangan Azka berhasil melukainya, Clint kembali berdiri dengan santai.
Azka membalas tatapannya dengan tajam. Ia tau kalau serangan seperti itu tidak cukup untuk mengalahkannya.
“Tebasan yang menyakitkan. Apa itu kekuatan Linkmu?” tanya Clint santai.
Azka terdiam dengan pertanyaannya.
Clint menatapnya tajam, “Aku masih tidak mengerti denganmu, kenapa kau bersikeras menolong desa ini? Menjadi pahlawan? Atau mereka telah membayarmu?”
“Karena tempat ini sangat berharga bagi seseorang,” ucap Azka datar.
“Berharga katamu?!”
Clint terlihat begitu kesal mendengar jawaban konyol dari Azka. Alisnya menaik dengan urat dikepala yang menandakan sangat kesal.
Kedua tangan Clint tiba tiba mengarah ke sekitar.
“Kalau begitu … lindungilah desa ini,” lirih Clint tersenyum kecil sekaligus jahat. “Double Cannon!”
Sfx: Boom! Boom!
Meriam yang muncul dari kedua tangannya tiba tiba menghancurkan hampir seluruh bagian dari desa. Karena ledakan itu kobaran api terlihat di beberapa rumah yang baru saja hancur.
Azka terdiam dengan perbuatan Clint yang kurang ajar.
“Hahahaha! Melindungi desa yang berharga? Omong kosong!” Teriak Clint sambil menembakkan meriamnya untuk menghancurkan desa.
“Apa kau pikir dunia ini akan damai oleh orang orang sepertimu?! Jangan bercanda!”
Azka tertunduk geram mendengar ocehan dari Clint.
Beberapa ledakan terus terdengar dari beberapa bangunan yang telah hancur. Bahkan sebagian desa sudah rata tak bersisa oleh serangannya.
Tricia yang menarik Levin ke salah satu bangunan merasakan getaran yang cukup besar dari tempatnya. Ia melihat keluar dan menyadari sebagian desa Corael telah hancur dan terbakar.
“Apa yang sebenarnya terjadi …,” lirih Tricia pelan.
Tricia kebingungan apa yang sebenarnya terjadi oleh pertarungan Azka dan Clint.
Bangunan desa Corael yang terbakar membuatnya teringat dengan desa tempat tinggalnya dulu. Meskipun desanya hancur karena perang, ia tau persis bagaimana rasanya kehilangan desa yang ia cintai.
Tricia merasa khawatir dengan orang orang desa Corael saat tau desanya sedang dihancurkan. Tricia bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana sedihnya mereka saat melihatnya.
“Hahahaha!” Clint tampak menikmati saat menghancurkan desa dengan meriamnya.
Sebagian besar desa Corael sudah sangat hancur oleh serangan tersebut. Kobaran api juga menyelimuti di beberapa bagian lain.
“Biar kutanyakan padamu. Apa melindungi sesuatu yang berharga bisa membuatmu dihargai?!” tanya Clint.
Clint menatap mata hijau tua Azka dengan serius. Dari tatapan Azka, Clint bisa menebak kalau dia telah mengalami masa masa sulit. Clint sangat yakin saat pertama kali melihat tatapan dan ekspresinya yang begitu datar.
Azka terdiam dengan pertanyaan Clint. Ia tau kalau selama ini tidak pernah dihargai oleh siapapun. Bahkan saat menjadi Lancer hujatan dan cacian sudah menjadi makanan sehari hari.
“Kau tidak bisa menjawabnya kan?” tanya Clint dengan wajah serius.
Azka lalu terdiam saat teringat perjuangan Vina yang melindungi kedai kakeknya. Padahal ia telah berjanji untuk melindungi desa ini demi Vina. Karena dia tau bagaimana rasanya kehilangan sesuatu yang berharga.
“Tidak,” jawab Azka dengan tatapan tajam. “Aku tidak perlu dihargai oleh siapapun. Selama aku masih bernafas, aku hanya perlu melindungi seseorang yang berharga bagiku.”
Azka masih punya orang orang yang berharga seperti Yasue dan Tricia. Memang kehilangan Mia membuatnya hancur tapi, Azka tidak ingin kejadian yang sama terulang lagi padanya. Azka tidak peduli soal dihargai siapapun, karena yang terpenting baginya hanya melindungi mereka semua
Clint tersenyum kecil sekaligus puas, “Jadi itu jawabanmu.”
Clint sejujurnya tak mengerti dengan maksud Azka. Tapi dari gerak geriknya, Azka bermaksud untuk mengalahkannya.
To be Continued…
**Note Author: **
Index Bullet \= Peluru Jari Telunjuk
Finger Barrage \= Rentetan Peluru Jari
Black Slash \= Tebasan Hitam
Nightfall Slash \= Tebasan Matahari Terbenam
Double Cannon \= Meriam Ganda