Black Buster

Black Buster
Episode 36 "Courage of Village Chief"



Setelah menurunkan senjata mereka masing masing, Azka dan Gracia bersamaan menatap kakek kepala desa yang menengahi pertarungan mereka. Keduanya sampai tidak sadar dengan tatapan penduduk yang sejak tadi begitu khawatir dengan pertarungan mereka.


“Kakek tua desa!” Seru Levin.


Tentu saja Levin terkejut ketika Hardy berani menengahi pertarungan mereka. Dia sempat panik kalau Hardy akan terluka tapi untungnya Azka dan Gracia menurut dengan perkataan kakek tua itu.


“Aku mohon jangan bertarung lagi”


Raut wajah Hardy tampak memohon sambil merentangkan kedua tangannya kearah Azka dan Gracia.


“Apa kalian tidak sadar dengan apa yang kalian lakukan?” Hardy menatap keduanya secara bergantian. “Penduduk kami begitu ketakutan karena tak ingin desa kami yang baru saja pulih kembali menjadi medan pertempuran.”


Sebagai kepala desa, Hardy tidak ingin ada lagi kekacauan yang membuat penduduknya ketakutan. Keadaan desa yang belum pulih akibat pertarungan dengan Clint Buster tentu membuat penduduk Corael merasa khawatir dengan pertarungan Azka dan Gracia.


Kedua mata Gracia sempat melihat sekeliling sambil meletakkan katananya kedalam sarung pedang dan menyadari tatapan warga padanya.


“Maaf atas keributan yang telah terjadi, kepala desa Corael.” Gracia menatap Hardy dengan tatapan ramah. “Aku benar benar meminta maaf.” Gracia sampai menunduk karena memang kesalahannya yang menyerang Azka duluan.


“Tidak apa apa. Aku mohon angkatlah wajahmu.” Hardy merasa tak enak oleh pemintaan maaf tulusnya dengan kedua tangan yang seperti menyuruh Gracia untuk berhenti menunduk padanya.


Gracia mengangkat wajahnya ketika Hardy memintanya berhenti, “Baiklah. Kalau begitu saya permisi.”


Setelah mengucapkan itu, Gracia lalu berbalik mendekati Vitto dan anak buahnya yang sejak tadi terkapar pingsan.


Melihat Gracia yang berhenti menyerangnya, Azka menaruh kedua belatinya dan berjalan mendekati Hardy di ikuti oleh Tricia dan Levin.


“Maaf aku membuat penduduk desa ketakutan, kakek kepala desa.” Azka merasa bersalah karena ia sempat mengeluarkan tebasan yang hampir menghancurkan rumah penduduk.


Selain geram, Azka terpaksa mengeluarkan tebasannya agar bisa lepas dari desakan serangan beruntun Gracia.


“Tidak apa apa. Aku mengerti kenapa kau melakukan itu.”


Hardy sebenarnya memaklumi pertarungan mereka. Karena pada dasarnya Lancer memang bertugas untuk mengalahkan Buster meskipun Azka dan Tricia adalah Buster yang baik.


Selagi tidak menimbulkan kerusakan di desanya, Hardy sudah sangat senang termasuk para penduduk Corael.


“Oi Azka, kau benar benar hebat bisa menahan serangannya!” Seru Levin. “Padahal aku sendiri tidak bisa melihat kemana arah serangan itu!”


Tatapan Levin terlihat begitu kagum ketika mengingat pertarungan Azka yang berhasil menahan kecepatan serangan katana dari Gracia.


“Apa aku bisa bergerak secepat itu ya?” Levin melanjutkan dengan polos sambil meletakkan beberapa jarinya di dagu.


Mendengar perkataaan itu, Azka terdiam sejenak sambil menatapnya dengan datar seakan memikirkan sesuatu.


“Aku hanya mengandalkan instingku, itu saja.”


“Benarkah?”


Mungkin itu benar, lagipula Azka berjarak sangat dekat dengan Gracia dan tentu saja membuatnya bisa mendengar pergerakannya yang begitu cepat.


Sementara itu, Vitto hanya bisa tercengang ketika melihat kecepatan kaptennya. Itu memang bukan pertama kali ia melihatnya, tapi tetap saja itu membuat Vitto terkagum.


“Lu-luar biasa kapten Gracia!”


Gracia menhembus nafas pelan, “Berhenti memasang wajah seperti itu. Dan juga cepat kau bangunkan mereka.” Tatapan Gracia mengarah ke pasukan Lancer yang terkapar tak sadarkan diri.


“Baik.”


Tanpa memprotes apapun, Vitto langsung mendekati anak buahnya yang sebelumnya mendapat serangan dari Azka.


Menuruti segala perintah darinya, Vitto berubah dari yang awalnya sangat sombong berubah menjadi laki laki yang tak berdaya dihadapan Gracia. Mungkin lebih tepatnya, Vitto lebih kearah kagum entah dari segi kekuatan atau keanggunan kapten Lancer wanita itu.


Setelah Vitto mengggoyangkan tubuh mereka satu persatu, akhirnya seluruh Lancer yang sebelumnya tak sadarkan diri terbangun dengan beberapa luka beset ditubuh mereka.


Wajah mereka begitu terkejut ketika melihat Kapten Gracia yang berada dihadapan mereka. Sebelumnya Gracia sempat memerintahkan mereka untuk mengejar sisa sisa Clint Buster sejak tertangkapnya Fidel semalam.


“Ka-kapten Gracia!”


“Sampai kapan kalian mau tidur?”


“Ma-maafkan kami, Kapten Gracia.”


Mereka kompak memasang wajah bersalah karena sempat lengah oleh serangan Azka sebelumnya.


“Lupakan saja. Ayo kita pergi dari sini.”


“Benarkah Kapten? Tapi … bukankah dia adalah Clint yang selama ini kita cari?”


“Apa yang kalian katakan? Dia bukanlah Clint. Sepertinya sifat bodoh yang dimiliki Vitto sudah menyebar ke kalian.”


Merasa sedang dibicarakan, Vitto hanya tertawa ngeles ke sambil menggaruk kepalanya. Pasukan yang dipimpin Vitto kompak memasang wajah masam ketika melihatnya. Meskipun begitu mereka tetap menghormati wakil kaptennya walau memang Vitto mempunyai sifat yang sangat ceroboh.


Dekat dari tempat mereka berkumpul, Fidel yang sejak tadi dalam keadaan terikat hanya bisa menangis dalam hati karena tau dia akan tetap tertangkap.


“Vitto, jangan lupa bawa orang itu.” Gracia menoleh kearah Fidel dengan tatapan ragu.


“Aku menyuruhmu bodoh!” Gracia menatapnya dengan kesal.


“Ma-maaf!”


Tanpa pikir panjang, Vitto berlari dengan panik dan membawa Fidel yang dalam keadaan terikat lalu berkumpul bersama Gracia dan yang lainnya.


Pasukan yang dipimpin oleh Vitto dan Gracia hanya memasang tatapan masam. Permandangan seperti itu memang menjadi hal yang biasa terjadi selama melakukan tugas bersama.


Sambil di tuntun oleh Vitto, Fidel hanya memasang tatapan memohon kepada Azka dan yang lain.


Rencana yang sebelumnya dikira berhasil malah berakhir diluar ekpetasinya, bahkan Fidel pesimis apakah Bos dan yang lainnya bisa menyelamatkannya. Sedangkan Clint Buster sendiri terus melarikan diri dari kejaran Gracia dan pasukannya.


“Tolong aku ….” Fidel menangis meskipun wajahnya tidak terlihat seperti itu.


Azka dan rombongan yang menatap Fidel memohon hanya memasang tatapan masam.


“Apa yang sebenarnya dia lakukan?” Tanya Azka dengan wajah malas.


“Aku tidak mengerti dengan pikiran orang itu. Ya meskipun aku pernah bertemu dengan orang seperti itu sih.” Maksud Tricia disini adalah ia menyindir Levin yang memang sulit ditebak pikirannya.


Entah kenapa Levin merasa dibicarakan, “Siapa orang yang kau maksud Tricia?” Tanya Levin polos.


“Tidak apa apa.” Tricia memalingkan pandangannya dari Levin.


Setelah melepaskan ikatan ditubuh Fidel, beberapa Lancer memborgol kedua tangannya dengan borgol anti Link yang khusus diciptakan oleh pengguna kekuatan Link seperti Fidel. Mereka memborgolnya dengan itu karena Fidel sendiri cukup kuat meskipun Threat Powernya tidak setinggi Clint dan Clive.


“Kapten Gracia … lalu bagaimana dengan mereka?” Tanya Vitto sambil mengarahkan pandangannya kearah Azka dan yang lain.


Vitto tampak bingung karena Gracia tidak terlihat ingin menangkap Azka. Padahal Azka seorang Buster yang berarti adalah musuh mereka apapun itu alasannya.


Terdiam sejenak, Gracia lalu menatap Azka dan yang lainnya dengan tatapan mencurigakan.


“Fokus kita sekarang adalah menangkap kedua temannya yang masih lolos.”


“Tapi … mereka adalah Buster.”


Sebenarnya selain Azka yang merupakan Buster, Vitto masih sedikit dendam dengannya karena Azka sudah berani meremehkannya.


Dia tak terima karena menurutnya gara gara Azka, ia tak sengaja menembak ke arah penduduk Corael yang dapat merusak reputasinya sebagai wakil kapten.


“Jika kau mau menangkapnya tangkap saja sendiri.”


“Ta-tapi ….”


Dengan menghiraukan perkataan Vitto, Gracia lalu berjalan pergi bersama pasukannya yang sedang membawa Fidel. Kedua tangannya yang sudah di borgol, Fidel hanya bisa pasrah saat dibawa oleh pasukan Lancer.


“Tunggu dulu.”


Langkah kaki Gracia terhenti saat Azka memanggilnya, bahkan pasukan Lancer yang membawa Fidel ikut berhenti mengikuti kaptennya.


“Ada apa?” Gracia bertanya dengan membelakanginya.


“Kau tidak akan menangkapmu?”


Tatapan Azka begitu tajam melihat Gracia yang membelakanginya. Sangat aneh rasanya jika Gracia pergi begitu saja setelah menyerangnya. Padahal Gracia tampak serius ingin menangkapnya ketika mengetahui dirinya seorang Buster.


Gracia tersenyum kecil, “Jujur saja aku tidak mempunyai alasan untuk menangkapmu.”


“Lalu kenapa kau menyerangku?”


“Tidak apa apa.”


Meninggalkan Azka yang tampak kebingungan, Gracia melanjutkan langkah kakinya menuju gerbang desa Corael, di ikuti oleh Vitto beserta anak buahnya.


Sebenarnya salah satu alasan utama dia menyerang Azka karena ia sedikit tertarik dengan kemampuannya sejak pertama kali bertemu di kerajaan Oleander.


“Apa kau yakin kapten?” Tanya Vitto memastikan sambil berjalan pergi.


“Apa aku harus mengulangi perkataanku?” Tatapan kesal Gracia membuat Vitto berhenti menanyakan kebingungan yang ada di kepalanya.


Vitto sebenarnya bingung karena kaptennya memiliki alasan tertentu saat menyerangnya. Padahal dia yakin kalau kapten bisa saja menangkapnya di tambah Azka bukanlah Buster yang berbahaya terbukti dengan tidak adanya nama Azka dalam daftar buronan.


Setelah menyerangnya, rasa penasaran Gracia akhirnya terpenuhi. Sejak awal memang ia sengaja menyerang Azka karena penasaran dengan kemampuannya.


Dia begitu penasaran karena Yuga secara tidak langsung mengakui kemampuannya dengan diangkatnya menjadi Wakil Lancer 2 tahun yang lalu. Gracia sangat mengenal bagaimana sifat Yuga sebenarnya apalagi mereka berdua memiliki jabatan yang sama yaitu Kapten.


Untuk sekarang Gracia belum berpikir untuk mewaspadai pergerakan Azka. Meskipun ia tau kalau Azka dulunya adalah Lancer yang baik tapi entah kenapa firasatnya berpikir sebaliknya.


Pikiran Gracia sedikit terbesit kalau suatu saat nanti Azka akan menjadi salah satu Buster yang harus di waspadai.


“Aku akhirnya mengerti kenapa kau mengangkatnya sebagai wakilmu … Yuga.”


To be Continued …