
Setelah mengunjungi beberapa stan makanan, Azka dan yang lainnya menempati sebuah meja yang telah disiapkan sejak awal perayaaan. Suasana desa Corael masih saja ramai dengan penduduk yang berlalu lalang ditengah festival.
“Benar benar kenyang. Makanan desa ini memang terbaik!” Levin tertawa sambil menepuk perutnya yang buncit sehabis makan.
“Sialan Levin! Kenapa kau menghabiskan semuanya?!” Bentak Azka dengan wajah kesal saat melihat makanan diatas meja telah habis dimakan Levin.
“Sudah kubilang kalau itu kurang.” Jawab Levin dengan ekspresi polos.
“Oi!” Azka memegang kerah baju Levin agar mengancamnya meminta maaf.
“Maaf ….” Levin memalingkan pandangannya dengan perasaan bersalah.
Azka melepas kerah baju Levin dengan perasaan campur aduk. Azka berpikir kalau ia harus terbiasa dengan sifat bodoh Levin jika dia ikut dalam perjalanannya.
Tricia tertawa kecil melihat Azka dan Levin bertengkar seperti seorang teman hanya karena memperebutkan makanan. Tricia merasa lega karena Azka bisa mengakrabkan diri dengan Levin.
“Tak perlu bertengkar, aku akan membawakan makanan lagi untuk kalian.” Tambah Vina dengan wajah ceria sambil berlari menuju lapak makanan festival.
“Ya, kau memang bisa diandalkan!” Seru Levin sambil melambai kearah Vina yang sudah pergi.
“Levin, dipertarunganmu sebelumnya aku sempat melihat kalau kau menggunakan sesuatu dipukulanmu. Apa itu kekuatan Link?” Tanya Azka saat mengingat pertarungan Levin dan Clive.
“Ya, Physical Link!” Seru Levin dengan bangga.
“Physical Link?” Azka dan Tricia terlihat bingung.
“Aku tidak terlalu mengerti tapi, Link itu bisa menambah kekuatan fisikku.” Levin menggaruk kepala karena tak yakin dengan jawabannya.
Levin kembali menjelaskan jika Physical Link atau Link Fisik adalah kekuatan Link yang bisa meningkatkan kekuatan fisik seseorang entah dari otot dan kecepatan dengan mempercepat aliran darah yang diproses menjadi tenaga ekstra.
Kedua tangan Levin yang sebelumnya mengeluarkan kilatan cahaya melawan Clive disebabkan oleh efek Physical saat aliran darahnya semakin cepat yang akhirnya menambah daya pukulan Levin semakin kuat.
“Intinya sih dengan kekuatan Physical Link pukulanku akan jauh lebih kuat hahahaha!” Levin tertawa seakan menyombongkan diri.
“Begitu ya. Harus kuakui kalau pukulan waktu itu benar benar kuat.” Azka memasang ekpresi tak peduli.
“Sudah kubilangkan kalau aku kuat. Lalu bagaimana apa aku boleh ikut dengan kalian?!” Tanya Levin dengan antusias menatap Azka dan Tricia berulang ulang.
Levin sangat berharap kalau Azka dan Tricia mengizinkannya untuk bergabung. Pada pertarungan sebelumnya mereka berdua terasa cocok saat bertarung bersama.
Tapi, Azka dan Tricia hanya diam saat Levin menatap mereka berulang kali.
“Oi! Jawab aku dong!” Seru Levin sambil menunggu jawaban dari Azka dan Tricia.
Azka hanya diam saat Levin terus memaksanya untuk mengajak Levin. Azka masih belum menganggapnya sebagai teman karena dia masih kesulitan untuk percaya pada Levin walaupun penampilannya yang seperti berandalan dia adalah orang yang baik.
Perkataan Hardy dan perlakuan penduduk desa terhadap Levin masih teringat jelas di pikiran Azka.
“Kau mengatakan kalau kau ingin menjadi petarung terkuat.” Ucap Azka.
“Aku sudah bilang kan.”
“Kenapa?” Tanya Azka memastikan.
Levin kembali duduk dengan tenang, “Selain membuktikan kalau tangan kosong bisa menjadi yang terkuat. Aku ingin menjadi petarung terkuat untuk membuat adik perempuanku bangga.”
“Adik perempuan?” Tanya Azka dan Tricia bersamaan.
Mereka berdua tidak tau kalau Levin mempunyai adik perempuan. Mereka berdua baru ingat kalau sampai sekarang mereka tidak melihat keluarganya Levin.
Azka baru ingat kalau Levin datang kedesa ini seorang diri saat masih kecil.
“Adikku meninggal karena sakit sebelum aku bisa mewujudkan impianku padanya.” Levin tersenyum membayangkan masa lalunya sebelum datang ke desa Corael.
Azka menatap Levin yang tampak ceria saat menceritakan adiknya. Ternyata dibalik tingkahnya yang konyol dan ceria dia mempunyai masa lalu yang tidak ingin diceritakan Levin.
“Tapi aku tetap akan mewujudkan impianku! Lihat saja nanti! Jadi bolehkan aku bergabu—” Belum selesai bicara, Levin sedikit terkejut melihat Azka yang pergi meninggalkannya dan Tricia.
“Aku ingin menemui kepala desa.” Ucap Azka sambil pergi meninggalkan mereka.
"Oi, dengarkan aku dulu!" Seru Levin sambil melihat Azka pergi.
“Oke.” Jawab Tricia santai.
Levin bersandar diatas meja dengan perasaan kecewa.
“Oi, Tricia, jangan diam saja. Bantu aku agar dia mengajakku.” Levin memohon dengan wajah melas.
Tricia menghela nafas, “Meskipun kau bilang begitu aku juga tidak tau harus melakukan apa.”
“Azka bukan seperti orang yang kau pikirkan.” Tricia tampak malas saat berbicara dengan Levin.
“Kenapa? Dia orang baik kan? Kenapa dia masih saja menolakku.” Levin terus mengeluh dengan wajah polos.
“Azka memiliki masa lalu yang membuatnya sulit percaya pada siapapun.”
“Ha? Lalu kenapa kau bisa terus bersamanya? Apa kalian ada hubungan saudara? Apa jangan jangan ….” Levin mulai berpikir yang aneh aneh tentang mereka berdua.
“Bukan itu! Aku adalah temannya, mungkin bisa dibilang aku adalah teman pertamanya.”
“Teman pertama?” Tanya Levin dengan polos.
“Ceritanya cukup panjang.”
Tricia lalu menceritakan masa lalu Azka saat di kerajaan Oleander dan bagaimana ia bisa bertemu dengan Azka pada Levin.
Setelah mendengar penjelasan dari Tricia, Levin hanya terdiam memasang tatapan kosong. Levin terdiam karena tidak menyangka Azka yang sifatnya dingin memiliki masa lalu yang kelam.
“Wajar saja kan kalau dia sulit untuk mengajakmu.” Lanjut Tricia menambahkan.
Levin lalu berdiri dengan wajah yang terlihat kesal.
“Apa apaan itu?! Jadi selama ini dia tidak menganggapku teman?!” Seru Levin.
“Kan aku sudah menceritakannya padamu.” Jawab Tricia.
“Cih, aku tidak peduli! Padahal kita sudah bertarung bersama melawan Buster itu!” Levin semakin berapi api saat mendengar penjelasan dari Tricia.
Tricia hanya diam dengan wajah malas saat melihat Levin yang bersemangat. Tricia seperti menyesal menceritakannya pada Levin kalau ujung ujungnya dia tidak mengerti dengan apa yang dimaksud.
“Enak saja! Padahal aku sudah menganggapnya teman! Baiklah, kalau begitu aku akan terus memaksanya untuk mengajakku!” Seru Levin dengan tekad yang besar.
“Kau ini ngerti gak sih?!” Teriak Tricia karena Levin sama sekali tak peduli dengan situasi Azka sekarang.
Tricia sebenarya tidak ada masalah kalau Levin menjadi teman mereka. Tapi Tricia tidak inign membuat Azka merasa tidak nyaman jika Levin bergabung. Apalagi mereka berdua belum mengajak Levin secara langsung.
Tidak lama kemudian, Vina datang menghampiri meja dengan membawa makanan yang cukup banyak.
Mata Levin berbinar saat memandangi meja yang dipenuhi makanan.
“Terima kasih Vina! Kau memang seorang penyelamat makanan!” Levin langsung memakan makanannya tanpa ragu.
Vina sedikit kebingungan ketika tidak melihat Azka bersama mereka, “Eh, Azka pergi kemana?”
“Dia bilang ingin menemui kepala desa.” Jawab Tricia.
“Benarkah? Padahal aku baru saja bertemu dengan kakek saat menuju kesini.” Vina menjelaskan dengan yakin.
“Sudah sudah, dia pasti tersesat tak kusangka kalau dia itu bodoh, hahahaha!” Levin tertawa dengan santai sambil memakan makanan dari Vina.
Tricia dan Vina sedikit bingung dengan sikap Levin yang begitu tenang. Karena sedikit melamun, Tricia terkejut saat menyadari makanan yang dibawa Vina sudah setengah habis dimakan Levin.
“Kau melakukannya lagi Levin!” Omel Tricia.
“Hahaha maaf ….” Levin tertawa sambil menggaruk kepalanya.
“Teman ya?” Azka bergumam dari kejauhan.
Azka sejak tadi mendengar semua pembicaraan Levin dan Tricia dari balik pohon dekat lapak makanan. Azka sedikit terkejut ketika Levin telah menganggapnya sebagai teman.
Azka lalu tersenyum kecil karena tidak menyangka Levin sekeras itu untuk diajak bersamanya.
Tidak lama mendengar semua itu, tatapan Azka tertuju ke arah seseorang yang sedang berjalan ditengah kerumunan warga dengan jubah yang menutupi seluruh tubuhnya.
“Orang itu ….” Azka begumam ketika melihat seseorang yang sudah tidak asing dengan cambuk yang mengantung dipinggangnya.
Orang misterius itu berjalan sambil menutupi dirinya. Dia juga terlihat panik saat memperhatikan kerumunan orang agar tidak dikenali.
Azka yang mengenali orang itu lalu mendekatinya dengan tatapan curiga.
To be Continued…
Note Author:
Physical Link: Link Fisik