Black Buster

Black Buster
Chapter 23 "Something Precious"



“Kepala desa?” Azka terdiam melihat kedatangan Hardy.


Hardy memiliki penampilan seperti kakek 60 tahun pada umumnya. Tapi ukuran badannya bisa dibilang cukup pendek dan mempunyai kumis berwarna putih.


“Ya itu benar. Kau sebenarnya siapa nak? Aku tau kalau kau bukan warga dari desa ini.”


“Namaku Azka. Aku hanya mampir di desa ini.”


“Begitu ya. Kalau boleh tau, kenapa kau bisa terlempar kemari?” Kakek Hardy seakan masih tak percaya kalau Azka masih bisa hidup dari lemparan itu.


“Salah satu anggota Clint yang melakukannya. Memang agak sulit untuk dijelaskan.” Azka menggaruk kepalanya.


“Tu-tunggu, maksudmu Clint si manusia proyektil itu?!” Hardy begitu kaget ktika mendengar nama Clint


“Proyektil?”


“Kenapa kau bisa terlibat dengan mereka?!”


“Entahlah … aku hanya ingin berterima kasih kepada berandalan dan gadis kecil yang ada dikedai.”


Azka sejak awal ingin membantu mereka sebagai ucapan terima kasih telah memberinya makanan.


“Apa orang yang kau maksud itu, Levin dan Vina?”


“Ya. tapi kalau boleh jujur aku juga tertarik dengan orang yang bernama Clint itu.”


Hardy kebingungan ketika melihat Azka yang seakan tertarik melawan Clint. Ia benar benar yakin kalau Azka bukan lah manusia


biasa.


Azka lalu berdiri seakan bersiap untuk pergi.


“Tunggu, anak muda! Apa gadis yang bernama Vina itu masih berada dikedai tua itu?”


“Ya.”


“Anak itu masih saja melindungi kedai itu.”


Hardy terdiam, ia seakan sudah mengenal baik Vina si gadis kecil yang ada di kedai.


Azka lalu berbalik melihat wajah Hardy yang seakan khawatir.


“Dia sempat mengatakan kalau ia harus melindungi kedai itu ….”


Azka teringat dengan ucapan Vina, ia memang sempat bersikeras untuk melindungi kedai itu. Karena merasa tidak enak, Azka hanya terdiam menuruti kemauannya. Meskipun ia tidak tau apa alasan dari gadis kecil itu.


“Sejak Clint datang menguasai desa ini. Vina selalu bersikeras tidak mau pergi dari tempat itu. Padahal beberapa dari kami sudah memaksanya untuk pergi ke pengungsian.”


Azka terdiam karena teringat dengan perkataan Vina sebelumnya.


“Kenapa … kenapa Buster itu harus ada?!


Aku sangat membenci mereka! Mereka hanya bisa membunuh dan menghancurkan


semuanya! apa bagi mereka sesuatu yang berharga itu tidak ada artinya?!”


Itulah yang dikatakan Vina padanya. Sepertinya ia sangat membenci orang orang Buster. Azka berpikir kalau Vina telah kehilanagan


sesuatu yang berharga baginya.


“Apa kau tau kenapa dia bersikeras melindungi kedai itu?” Tanya Azka.


Azka awalnya tidak terlalu peduli dengan apa yang dimaksud oleh Vina sebelumnya. Tapi, ia sedikit penasaran karena Levin sampai repot repot bertarung dengan Clint hanya karena gadis kecil itu.


Hardy menghembus nafas berat, “Kedai itu adalah peninggalan dari kakeknya. Dulu saat kakeknya masih hidup dia adalah teman baikku. Sekitar seminggu yang lalu kakeknya sudah mengalami sakit yang cukup parah dan akhirnya meninggal beberapa hari yang lalu.”


“Jadi kedai itu?”


“Ya, itu adalah peninggalan dari kakeknya. Semua warga didesa ini tau kalau kakeknya sangat menyayangi Vina. Vina yang ditinggal oleh


kedua orang tuanya juga sangat menyayangi kakeknya. Kedai itu adalah satu


satunya kenangan yang masih tersisa saat bersama kakeknya.”


Hardy bercerita tentang kakeknya Vina kepada Azka. Ia bahkan sampai teringat dengan kakeknya Vina saat sebelum meninggal.


“Aku titip kedai ini padamu ya, Vina.”


Hardy mengingat perkataan kakek Vina dulu. Vina saat itu sangat sedih karena ia telah kehilangan satu satunya orang yang paling berharga. Dan itulah yang membuat Vina tetap bersikeras untuk menjaga kedai


itu.


“Sesuatu yang berharga ya ….” Azka terdiam.


Ia sekarang mengerti kenapa Vina bersikeras untuk melindungi kedai itu. Azka juga berpikir kalau sebenarnya Levin itu sedang membantunya dari serangan Clint.


Semua itu membuat Azka kembali mengingat masa lalunya bersama Mia.


Hardy tertunduk sedih karena mengingat kegigihan Vina selama ini, “Salah satu alasanku masih berada di desa ini juga karena anak itu. Aku sendiri takut kalau gadis kecil sepertinya sampai terluka.”


“Kau tak perlu khawatir kek. Ada seorang berandalan yang ikut melindunginya.”


“Berandalan? Apa maksudmu itu Levin?”


Hardy seakan mengenal baik tentang Levin.


“Ya.”


“Berandalan itu ….” Hardy tiba tiba memasang wajah kesal.


Azka terdiam melihat Hardy, ia tau kalau Levin adalah berandalan yang dibenci oleh desa itu.


Tiba tiba sebuah ledakan api terdengar tidak jauh dari mereka. Azka dan Hardy dengan panik menoleh ke arah ledakan itu berasal.


Mereka sangat kaget ketika melihat ledakan itu berasal dari kedai milik Vina.


“Vina ….” Hardy terdiam dengan mata membesar.


Azka yang panik pun pergi secara cepat menuju kedai Vina.


***


Ledakan yang terdengar oleh Azka dan Hardy sebenarnya


adalah bangunan yang berada disamping kedai Vina.


Fidel sejak tadi berdiri dengan tatapan kesal di depan kedai Vina.


Terlihat Vina sedang menghadang Fidel dengan tatapan tajam. Tubuhnya pun banyak dipenuhi oleh luka gores. Tapi tatapannya sama sekali tidak gentar oleh kehadiran pria berbaju merah itu.


“Sampai kapan kau mau berdiri disitu gadis kecil?!” Bentak Fidel.


“Aku tidak akan membiarkanmu menghancurkan kedai ini!”


“Menyedihkan sekali. Apa kedai tua itu begitu berharga bagimu?”


Vina hanya terdiam dengan tatapan marah.


“Kenapa tatapanmu seperti itu bocah? Apa kau tidak pernah diajari sopan santun kepada yang lebih tua?!” Fidel mendekat kearah kedai secara perlahan.


“Aku tidak akan membiarkanmu lebih dekat!” Vina lalu berlari dan mengigit kaki dari Fidel.


“Sakit! Dasar bocah sialan!”


Sambil kesakitan, Fidel mengangkat Vina dan melemparnya cukup jauh. Ia lalu kembali mendekat dan masuk kedalam kedai itu.


“Cih, menganggu saja.”


“Jangan … kumohon.” Vina menangis sambil memohon kepada Fidel.


Ia hanya bisa terkapar tak berdaya ketika melihat Fidel sedang menghancurkan semua benda yang ada didalam kedai.


Fidel terus menghancurkan seisi kedai untuk mencari minuman ke Clint.


“Akhirnya aku dapat juga.”


Sebuah kotak berisi Wine dan beberapa makanan terlihat oleh Fidel. Ia lalu menaruhnya dalam kantung kertas dan pergi dari tempat itu.


Fidel lalu berbalik menatap kedai tua itu dengan tatapan jahat.


“Karena kedai ini sangat tua, aku akan membantumu membereskannya.”


Cambuknya mengeluarkan sebuah api.


“Fire Whip!”


Tanpa ragu Fidel mencambuk secara berkali kali hingga membuat kedai itu hancur terbakar.


“Hentikannn!!!” Vina terus menangis dengan keras.


Fidel hanya bisa tertawa ketika mendengar tangisan dari gadis kecil itu. Terdengar juga suara ledakan dari dalam kedai yang sudah


hancur itu.


Sepertinya ada bahan bahan yang mudah meledak didalam kedai itu. Karena kedai itu sudah hancur, Fidel pun menghentikan cambukannya dan berjalan pergi.


Ia hanya memasang senyuman puas kepada Vina yang sejak tadi terdiam.


Air mata dari Vina terus berlinang ketika melihat kedai yang diberikan oleh kakeknya telah hancur.


“Kakek ….”


Vina menangis mengingat semua kenangan bersama kakeknya dikedai itu. Kakeknya adalah satu satunya keluarga yang masih tersisa dan sangat menyayangi Vina. Ia merasa sangat sedih karena kedai yang menjadi tempat berharganya telah hancur terbakar.


Karena tidak kuat menahan luka, ia pun terjatuh pingsan.


“Vina!!”


Terlihat kakek Hardy berlari kearah Vina yang sedang pingsan. Hardy ikut menangis ketika melihat kegigihan Vina yang terus menjaga kedai itu. Ia pun menggendong Vina ke tempat yang agak jauh untuk menghindari api dari kedai yang sudah terbakar.


Azka yang juga datang pun hanya terdiam melihat kedai yang sudah terbakar. Ia memasang tatapan kesal sambil mengenggam tangannya dengan kuat.


Ia tau kalau Fidel adalah pelaku dari hancurnya kedai itu. Dia ingat kalau orang itu pernah mengeluarkan cambuk api saat menyerang Tricia.


Azka lalu pergi tanpa berkata apapun.


“Apa yang mau kau lakukan?”


Hardy terdiam ketika melihat Azka yang tiba tiba pergi.


***


“Sialan! Gigitan gadis kecil itu benar benar


menyakitkan!”


Fidel berjalan dengan membawa kantung berisi Wine dan beberapa makanan. Ia mengeluh kesakitan dikakinya oleh gigitan Vina.


Langkah kakinya tiba tiba terhenti karena Fidel menyadari ada seseorang dibelakangnya. Ia lalu berbalik dan terkejut ketika melihat Azka yang masih hidup.


“Kau? Bukannya aku sudah membunuhmu?!”


Ia sangat yakin kalau lemparan dari cambuknya sudah membuat Azka terbunuh. Apalagi lemparannya membuat ia menabrak beberapa rumah yang terbuat dari beton.


Azka hanya menatap Fidel dengan tatapan tajam. tanpa berkata apapun, ia mengeluarkan salah dagger dan mengarahkannya ke Fidel.


Fidel yang sedikit ketakutan pun mengeluarkan senyuman kecil.


“Percuma saja bertarung denganku! Tebasanmu itu tidak akan berpengaruh padaku!”


Azka terus terdiam dengan tatapan tajam.


“Kali ini akan kupastikan kematianmu!”


Cambuk dari Fidel pun memanjang dan menyerang ke arah Azka. Tapi, Fidel terkejut ketika Azka menangkap cambuknya dengan mudah. Ia panik sambil berusaha menarik cambuknya dari genggaman Azka.


Azka lalu menarik cambuk itu dan memukul wajah Fidel sangat keras hingga terjatuh.


Wajah fidel berdarah ketakutan ketika melihat tatapan Azka yang sangat marah.


Tanpa berkata apapun, Azka kembali memukulnya hingga terlempar sekitar 5 meter.


Fidel bangkit sambil mengeluarkan banyak darah. Ia sangat ketakutan saat Azka perlahan mendekatinya.


“Tu-tunggu dulu! A-aku akan memberimu apapun yang kau minta! Jadi maafkan lah diriku!” Fidel memohon sambil mundur ketakutan.


“Mengampunimu? Apa kau pikir dengan memaafkanmu kedai itu bisa kembali?!” Azka menatap Fidel dengan tatapan tajam.


“Ke-kedai?!” Fidel kebingungan dengan maksud Azka


Apakah yang dia maksud adalah kedai yang


dilindungi oleh gadis kecil itu? Pikir Fidel.


“Black Slash!” Azka mengeluarkan tebasan hitam.


“Tu-tung—"


Belum selesai bicara, Fidel langsung terkena tebasan dan membuatnya terlempar tak sadarkan diri.


Ia terlempar sangat jauh hingga tak terlihat oleh Azka.


***


Crash!


Tubuh dari Fidel terlempar hingga menabrak tenda milik Clint dan anggota Busternya. Seluruh orang yang ada disana begitu panik ketika ada seseorang yang menabrak tenda mereka.


“A-apa itu?!”


Anggota Buster lalu mendekati seseorang yang menghancurkan


tenda mereka.


“Se-senior Fidel!”


Mereka begitu terkejut saat melihat Fidel dalamkeadaan terluka dan tidak sadarkan diri. Mereka juga tidak menyangka kalau anggota terkuat Buster Clint bisa dikalahkan separah itu.


“Fidel?!” tanya Clint dengan mata membesar.


Ia juga tidak menyangka kalau Fidel bisa terkalahkan.


“Si bodoh itu terlalu mengandalkan kekuatan cambuknya.” Suara pria dari kejauhan terdengar oleh mereka.


Terlihat seorang pria aneh dengan wajah yang berwarna setengah biru dan putih sambil memakai topi biru panjang.


“Oh, dari mana saja kau?” Clint lalu menatap pria aneh itu.


Anggota Buster lainnya terdiam ketika melihat kehadiran orang yang sudah tidak asing bagi mereka.


“Wa-wakil Clive sang penampil telah datang!” Teriak mereka semua dengan senang.


Pria berusia 34 tahun itu hanya terdiam dengan senyuman kecil.


To be Continued…


Note Author:


Fire Whip \= Cambuk Api


Black Slash \= Tebasan Hitam