Black Buster

Black Buster
Chapter 71 "Similarity"



Dalam perjalanan menuju desa Kitara, Filia terus berlari dengan kaki-kaki mungilnya di bawah sinar rembulan yang menerangi seisi hutan. Setelah mendengar ledakan beberapa waktu yang lalu dari tempat Tricia, FIlia semakin mempercepat larinya menuju Alice berada.


Entah apa yang terjadi dengan Tricia maupun Azka, Filia terus memikirkan kedaaan mereka.


Harusnya tidak lama lagi Filia sudah keluar dari dalam hutan dan sampai di desa Kitara. Tapi entah kenapa, Filia merasa kalau perjalanannya masih jauh. Bahkan Filia sudah berlari sangat cepat dengan bantuan Linknya.


“Kenapa rasanya jauh sekali ke tempat mama ….” Sambil menggumam, FIlia semakin mempercepat langkah kakinya.


Meski belum ada tanda-tanda seseorang yang mengejarnya, Filia masih cemas dengan Alice saat ini.


Filia juga sudah memutuskan untuk segera membantu yang lain setelah memberitahu nenek Alice untuk melarikan diri.


Dengan kecepatannya sekarang, Filia hampir sampai di jalan masuk desa dan bergegas ke panti asuhan.


Tidak lama kemudian, Filia berlari sambil membuka pintu tua panti asuhan. Terlihat Alice sedang berbaring di atas kasur sambil sesekali terbatuk.


“Mama!”


Mendengar teriakan yang tiba-tiba, Alice sangat terkejut sekaligus kebingungan dengan kehadiran Filia.


“Filia?! Ada apa nak?”


“Ayo cepat Mama, kita harus pergi dari tempat ini!” Dengan panik, Filia menarik tangan Alice untuk berdiri.


“Apa yang terjadi Filia? Apa ada sesuatu? Di mana kakak-kakak itu?!” Jelas Alice semakin kebingungan melihat Filia yang bertingkah aneh.


Tapi Filia seakan tak peduli dan terus memaksa Alice untuk pergi.


“Kita harus cepat sebelum orang itu menemukan Mama!”


Mulai panik dengan sikap Filia, Alice memegang wajah Filia dengan lembut untuk menenangkannya.


“Filia, tenangkan dirimu. Apa yang sebenarnya terjadi? Mama pikir kamu masih ada di sana bersama mereka.”


Mengambil nafas pelan, Filia mulai merasa tenang setelah Alice membelai rambutnya.


“… Kakak-kakak itu … mereka sedang bertarung dan membiarkanku pergi lebih dulu menemui Mama ….”


“Lalu salah satu dari Buster itu berniat untuk kemari?”


Filia mengangguk, “Un, oleh karena itu, Yyo kita harus pergi mencari tempat yang aman.”


Setelah mengetahui alasan yang sebenarnya, Alice hanya tersenyum lembut.


“Begitu ya. Sebenarnya Mama lebih mengkhawatirkan dirimu—uhuk, uhuk ….” Alice terbatuk menutupi mulutnya dengan tangan.


Dengan perasaan khawatir, Filia kemudian membaringkan Alice berbaring di tempat tidur.


“Apa … penyakit Mama semakin parah?”


“… ini hanya batuk kecil, uhuk … uhuk ….”


“Tu-tunggu sebentar.”


Filia kemudian mencari obat-obatan di dalam laci samping tempat tidur Alice. Setelah membukanya, Filia mengambil beberapa obat dari tanaman herbal dan di berikan ke nenek Alice.


“Sebaiknya Mama meminum obat terlebih dulu ….”


“… tak apa Filia, Mama sudah meminumnya.”


“Ta-tapi ….”


“… sudah mama bilang ini hanyalah batuk kecil. Lebih baik kamu pergilah dari sini sebelum mereka menemukanmu.”


Filia seketika mengernyit mendengar kata-kata itu. “Apa yang Mama katakan?”


Dari tempat tidurnya, Alice hanya memasang senyuman dengan tatapan lembut.


“Filia, tidak usah khawatir—uhuk, uhuk. Cepat, kamu harus pergi dari sini ….”


“Tidak … aku tidak mau meninggalkan Mama di sini. Mereka … mereka pasti akan melukai Mama!”


Ketakutan Filia terus bertambah, apalagi dengan kata-kata Chyntia sebelumnya yang cukup menggoyahkan perasaan Filia.


“Mama akan baik-baik saja ….” Alice mengelus kepala Filia dengan lembut.


Filia terdiam, entah kenapa elusan dari tangan Alice terasa sangat lembut sampai menghilangkan rasa ketakutannya.


Kemudian, Alice melanjutkan. “Lagipula … dengan kondisi seperti ini, Mama pasti akan menghambatmu—uhuk ….”


“Ka-kalau begitu, aku akan tetap di sini bersama Mama. Ya, Filia akan melindungi Mama di tempat ini.” Filia tersenyum lebar seakan di paksakan.


“Jangan begitu nak. Kakak-kakak itu sudah bertarung agar kamu tidak tertangkap. Kalau kamu masih di sini, usaha mereka akan sia-sia ….”


“Tapi … aku tidak mau. Aku takut Mama akan terluka ….”


“Tenang saja Filia. Setelah ini, Mama akan bersembunyi setelah kamu pergi.”


“Kamu tak perlu khawatir. Mama juga yakin kalau mereka bisa menyelamatkan Alan dan Cornelia.”


“Apa Mama janji akan baik-baik saja?”


Alice tersenyum dengan tatapan lembut sambil berkata, “Ya. Cepatlah, sebelum orang itu melihatmu.”


Kemudian Filia mendekat dan memeluk Alice sambil menitihkan air mata. “Kalau begitu aku pergi dulu ….”


“Kenapa kamu menangis Filia? Mama pernah bilang, kan? Mau sesedih apapun, kita harus tersenyum agar orang lain bisa bahagia.”


Alice melepas pelukannya, lalu mengelus rambut perak Filia dengan lembut. “Kamu anak yang sangat cantik, jadi tersenyumlah.”


Mendengar kata-kata itu, Filia perlahan mulai tersenyum.


“Aku janji, kita berempat pasti akan bersama-sama lagi!” seru Filia dengan senyuman lebar.


“Mama sudah tidak sabar menunggunya.”


“Ya!” Kemudian, Filia pergi meninggalkan Alice dengan senyuman lebar. Setelah apa yang di katakan Alice, Filia cukup yakin kalau Mamanya akan baik-baik saja.


Sementara itu, Alice hanya diam di atas tempat tidurnya melihat Filia pergi dengan tatapan hangat.


“Semoga kamu akan baik-baik saja bersama mereka, Filia ….”


***


Markas Crimson Buster | Kota Hawlic, Bagian Utara.


Keadaan Mansion tua yang di jadikan Markas Crimson Buster, sudah hampir tak bisa di sebut Markas kembali. Itu karena semua ruangan dan juga atap dari bangunan tersebut sudah hancur akibat serangan Levin maupun Mirio.


Alan dan Cornelia baik-baik saja dengan beberapa luka kecil. Dua bocah itu sejak tadi sudah mencari tempat yang aman sebelum Markas Crimson Buster hancur. Sekarang, Alan dan Cornelia hanya duduk di dekat reruntuhan, menonton pertarungan Levin dan Mirio.


Sebenarnya, Alan dan Cornelia masih sedikit kebingungan dengan kedatangan Levin. Tetapi mereka hanya bisa menunggu sekaligus berharap Levin mengalahkan Mirio.


Sementara itu…


Setelah menerima banyak pukulan yang membuat keduanya sama-sama babak belur, Levin dan Mirio masih bisa berdiri dengan tegap.


Berbeda dengan kondisi Mirio, Levin jauh lebih menerima luka parah. Bahkan untuk berdiri saja Levin merasa kesakitan.


“… sepertinya pukulanku masih belum bisa menumbangkanmu ya?” tanya Levin pelan dengan nafas terengah-engah.


“Kau juga begitu bukan? Setelah menerima semua pukulan itu, kau masih saja berdiri.”


Levin tersenyum kecil, “Aku tidak akan kalah di tempat seperti ini.”


“Aku punya pertanyaan untukmu. Kenapa kau menjadi Buster?”


“Sudah kubilang bukan? Aku akan menjadi petarung terkuat.”


“Oh, impian yang menarik. Tapi … dengan kekuatan seperti itu kau tidak akan bisa mengalahkanku.”


“Selama aku masih bisa berdiri, aku pasti akan mengalahkanmu.”


Berdiri dengan ekspresi tenang, Mirio memandangi tatapan mata Levin yang entah kenapa membuatnya tersenyum.


“Kau orang yang menarik. Ternyata tidak salah aku bertarung denganmu secara serius.”


“Ha? Memang harusnya begitu kan?! Aku juga sudah bertarung dengan serius melawanmu pria gorilla!” Levin menggerutu dengan ekspresi aneh.


Mendengar itu, Mirio hanya tertawa kecil. “Ternyata kau sangat berisik ya, kau benar-benar mirip dengannya ….”


Levin yang sejak tadi menggerutu tiba-tiba terdiam.


“Mirip?” tanya Levin. “Apa maksudmu … pengguna rantai gila itu?”


“Ya, dan setiap kali dia memanggilku gorilla, aku sangat ingin menghajarnya!” Tiba-tiba saja, Mirio bergerak dengan cepat ke hadapan Levin.


Bahkan Levin belum sempat terkejut, tapi pukulan dari Mirio sudah membuatnya terlempar beberapa meter sebelum menabrak reruntuhan.


“Kakak!” teriak Alan dan Cornelia bersamaan. Spontan mereka mulai khawatir dengan Levin yang tiba-tiba terlempar dari pukulan Mirio.


Tampak Mirio menurunkan wajahnya. Dia seakan menahan kekesalan sambil mengepalkan tangannya dengan kuat.


“Kazel … kenapa kau sampai sekarang masih membuatku kesal?!” gumam mirio dengan suara menahan rasa kesal.


Kemudian, Mirio menatap ke Levin yang sudah berdiri memegangi luka di perutnya.


“Oi, sebaiknya kau bersiaplah. Kali ini aku akan mengeluarkan semua kekuatanku.”


Levin menatapnya balik dengan tatapan setengah terbuka. “… ada apa denganmu?”


To be Continued …