
"Sialan ...." Azka hanya memasang wajah kesakitan kearah Izami.
Izami dengan cepat menyerang kearah Azka, Tapi dengan sisa kekuatannya ia berhasil menghindar.
"Sepertinya seekor tikus sudah tidak sanggup melawan ya." Izami tersenyum kecil.
Ia lalu kembali menyerang Azka secara bertubi tubi. Azka yang sambil kesakitan terus menahan serangan beruntun tersebut dengan Daggernya.
Karena serangan dari Izami yang begitu kuat, ia lalu menendang Azka ketika sedang kewalahan.
Azka yang terlempar masih bisa bangkit dari serangan tersebut.
"Azka! Hentikan saja! Kau tak perlu memikirkan diriku!" Tricia terus berteriak dengan mata menggenang.
Tricia berharap agar Azka menghentikan pertarungan mereka. Meskipun akan menjadi budak dari Raja Edric, Tricia tidak ingin lebih jauh merepotkan Azka sampai mempertaruhkan nyawanya.
"Gadis itu berisik sekali ya. Apa aku harus mendiamkannya terlebih dahulu?!"
"Jangan coba coba untuk menyentuhnya!" Azka menatap Izami dengan tatapan tajam.
"Kenapa? Apa karena dia adalah temanmu sampai kau begitu mengkhawatirkannya? Apa karena sudah tidak ada lagi yang mau disampingmu kecuali gadis itu?"
"Black Slash! Twin Slash!"
Tebasan bertubi tubi dikeluarkan oleh Azka. Tapi, Izami dengan mudah dapat menghalau semua serangan darinya.
"Azka yang sungguh malang ... Anak yang bahkan kehadirannya sangat dibenci oleh penduduk Oleander." Izami menghalau serangan dengan senyuman kecil.
Azka terus meyerangnya tapi seluruh serangan itu dapat ditangkis olehnya.
"Menjadi pasukan Lancer untuk mendapatkan pengakuan dan hidup layak?! Hahahaha ... bahkan sudah menjadi Lancer pun orang orang disekitarmu semakin membencimu!"
"Diam!" Azka berlari dan menyerang secara bertubi tubi ke Izami.
Izami hanya bisa tersenyum sambil menangkis seluruh serangannya.
"Dan ketika kau menjadi Wakil dari pasukan Lancer, semua anggota Lancer lainnya menjadi sangat membencimu. Meskipun kau mengetahui itu, kau mencoba melindungi mereka dan apa hasilnya? Mereka malah mengkhianatimu dan berniat untuk membunuhmu!"
Azka memasang wajah kemarahan karena terpancing dengan omongannya.
"Twin Slash!"
Izami masih dengan mudah dapat menghalau seluruh serangan dari Azka.
"Dibalik sifatmu yang dingin dan tidak peduli itu, kau masih saja mementingkan orang lain! Kau menganggap gadis itu temanmu? Bahkan gara gara dia, kau hampir terbunuh bukan?!"
"Tidak ...." Azka terdiam sambil menunduk.
"Aku juga mengetahui tentang asal usulmu sebelum datang ke kerajaan ini. Kau adalah anak yang berhasil selamat dari hancurnya desa kecil bernama Masaya 12 tahun yang lalu bukan? Aku juga dengar kalau kau kehilangan satu satunya orang yang menyayangimu. Biar ku ingat ... siapa ya namanya ... ah ... nama dari orang itu adalah Mia kan?!"
"Tutup mulutmu!" Azka kembali menyerang dengan wajah kemarahan.
"Teruslah seperti itu sampah!"
Mereka terus beradu serangan satu sama lain. Lalu, Izami yang menyadari sebuah celah langsung menendang kearah luka tusuk yang ada diperut Azka.
Azka kembali mengeluarkan darah dan terlempar karena tendangan darinya. Azka begitu kesakitan karena luka tusuk yang ada diperutnya semakin terbuka.
"Azka ... hentikan ...." Tricia hanya bisa menangis karena menyaksikan Azka yang sedang kesakitan.
"Pasti menyakitkan bukan?!" Izami menatap dengan tatapan puas.
Seluruh anggota Lancer yang mengelilingi pertarungan mereka terlihat begitu senang melihat Azka begitu kesakitan.
"Sepertinya sebentar lagi akan selesai ...." Raja Edric yang sejak tadi menonton pertarungan mereka dari lantai dua terlihat begitu puas.
Izami mendekat secara perlahan kearah Azka.
"Biar ku beritau kau satu hal, Azka. Kau harusnya sadar kenapa orang orang yang terus bersamamu juga ikut menderita ... jawabannya adalah karena itu adalah kesalahanmu! Kita lupakan tentang wanita yang bernama Mia. Bahkan gadis yang disana saja ikut menderita bukan? Kau pikir itu kesalahan siapa, hah?!" Izami menendang Azka yang sedang terkapar berulang kali.
"Kau itu tidak pantas memiliki siapapun! Teman?! Keluarga?! Jangan bercanda! Kau bahkan tidak bisa melindungi siapapun!"
Izami terus mempengaruhinya sambil terus menendangi Azka dengan kuat.
Azka terdiam sambil menahan semua rasa sakit dari Izami. Apa yang dikatakan oleh Izami itu benar, gara gara dialah semua orang didekatnya begitu menderita. Tricia, Yasue bahkan Mia, semua adalah kesalahan dirinya.
Apa ... aku memang tidak boleh dilahirkan? Azka berpikir dengan tatapan lemah.
"Hentikan itu ... aku mohon ...." Tricia menangis memohon kepada Izami untuk menghentikan serangannya.
"Ada apa Azka?! Apa kau sudah mengakui kekalahanmu? Atau ... semua yang aku katakan itu benar?!"
"Semua itu tidak benar!" Tricia berteriak kearah Izami.
Izami menghentikan tendangannya dan berbalik kearah Tricia.
"Itu semua bukan kesalahannya! Kau hanyalah orang yang iri dengan pencapaiannya sebagai Wakil Lancer!"
"Dasar budak sialan ... aku benar benar muak melihat wajahmu!" Izami lalu berjalan kearah Tricia.
"Kalau kau bilang Azka tidak pantas memiliki siapapun. Akan aku ubah takdir itu dan aku akan terus menjadi temannya!" Tricia memasang wajah tanpa keraguan.
"Sebaiknya kau tidak usah bicara lagi, budak sialan! Aku akan menyiksamu dan menyeretmu ke tempat penjualan budak yang paling mengerikan."
"Oi, Izami! Jangan sampai kau melukai budak itu. Aku tertarik untuk menjadikannya sebagai budak pribadiku!" Raja Edric berusaha mengingatkan Izami.
"Diam saja kau brengsek!"
Raja Edric terdiam ketika Izami memarahinya.
"Aku sudah muak dengan wajah budak ini! Selagi tujuanku yang ingin membunuh sampah itu aku tidak peduli dengan keinginanmu!"
Izami terus mendekat kearah Tricia.
"Kau seharusnya diam saja dan menyaksikan kematiannya!"
"Aku tidak akan membiarkanmu membunuh temanku!"
"Aku akan membereskanmu terlebih dulu!" Izami mulai mengayunkan pedangnya.
Tiba tiba sebuah akar pohon muncul dari bawah tanah dan mengikat Izami beserta anak buahnya. Semua orang beserta Izami begitu kaget dengan akar yang menjalar keluar dan mengikat mereka.
"Akar ini ... jangan jangan!" Izami berusaha lepas dari ikatan dari akar pohon tersebut.
"Cukup sampai disitu, Izami! Teriak seorang pria dengan seragam Lancer dari kejauhan.
"Tidak mungkin ... padahal aku sudah menyuruhnya pergi ke kerajaan Petrea!" Raja Edric kaget ketika orang yang sudah tidak asing berhasil datang keruangan itu.
"Apa yang kau lakukan, Yuga!" Izami berteriak dengan wajah kemarahan.
Yuga dan pasukannya memasuki ruangan itu dengan tatapan tajam. Akar rambat pepohonan itu mengiringi langkah kakinya menuju ketempat Izami.
Yuga memiliki kekuatan Link Growth atau akar penumbuh. Ia bisa menumbuhkan akar pohon dengan cepat dan kuat sesuka hatinya. Walaupun kemampuannya tidak cocok dengan gaya menyerang tapi dia salah satu kapten yang begitu ditakuti dikalangan Buster.
"Percuma saja, kau tidak akan bisa lepas dari Growth Root milikku tanpa pedangmu."
Tricia kebingungan dengan datangnya seorang Lancer yang memakai lencana sebagai Kapten.
"Brengsek kau, Yuga!"
Azka yang masih dalam keadaaan lemah melihat kekuatan Link akar yang tidak asing baginya.
"Yuga ...." Azka memasang tatapan lemah ke arah Yuga.
"Bisa kau lepaskan ikatan gadis itu?" Yuga memanggil salah satu anak buahnya.
"Baik, Kapten Yuga!"
Para anak buah itu dengan cepat melepaskan ikatan besi dari Tricia. Tricia hanya bisa terdiam ketika melihat Yuga menyelamatkannya.
"Tidak kusangka ternyata Raja dari kerajaan Oleander bekerja sama untuk membunuh seseorang dengan seorang Wakil Lancer yang harusnya menjaga kedamaian dunia."
"Apa yang kau katakan itu Yuga?! Justru aku sedang menjalankan tugasku sebagai wakil untuk melindungi kerajaan ini dari Buster seperti dia!"
"Benarkah? Tapi dimataku, Azka bahkan belum melakukan apapun sejak menjadi Buster."
"Apa kau mau membela seorang Buster, Yuga?! Apa kau mau mengkhianati pasukan Lancer?!"
"Aku tidak membela siapapun. Dan juga sebagai wakil kapten kau tidak punya wewenang untuk membunuh seorang Buster tanpa instruksi dariku kan?"
Izami hanya diam menahan kesal karena yang dikatakan oleh Yuga memang benar.
"Walapun kau mengatakannya padaku, aku tetap tidak akan membiarkanmu seenaknya. Seharusnya untuk Buster biasa bisa dengan cara ditangkap dan dibawa kepenjara."
"Berisik sekali kau, Yuga. Ini tidak semua tidak ada hubungannya denganmu!"
"Pada awalnya iya tapi, ada seorang Raja yang sebelumnya memerintahku untuk pergi ke kerajaan Petrea dengan alasan yang tidak jelas."
"Yuga! Berani sekali kau menentang perintahku!" Raja Edric berteriak kearah Yuga dalam keadaan terikat oleh Link akarnya.
"Kau pikir sejak kapan aku menuruti perintahmu, Raja Oleander ke-8? Aku hanya ditugaskan disini atas dasar perintah dari Markas Pusat."
Yuga lalu menoleh kearah Azka yang sedang terluka.
"Jangan salah sangka, Azka. Aku datang kesini bukan untuk menolongmu. Aku hanya tidak ingin Izami berbuat seenaknya. Dan juga aku ingin mengucapkan terima kasih karena sudah menyelamatkan desa Torbe."
"Kau ...." Azka menahan kesalnya sambil kesakitan.
"Azka!" Tricia berlari kearah Azka dengan mata menggenang.
Tricia lalu mendekatinya dan berusaha membantu Azka untuk bangun.
"Menjauhlah dariku ... Tricia."
Tricia terdiam, "Apa yang kau katakan, Azka?"
"Aku bukanlah temanmu! Kenapa ... kenapa kau terus menganggapku kalau aku adalah temanmu?!"
"Azka ...." Tricia hanya terdiam dengan mata menggenang.
"Semua itu benar! Selama ini aku terus sendirian. Aku kehilangan orang yang berharga bagiku karena kesalahanku sendiri! Aku ... memang tidak pantas memiliki siapapun. Tidak, mungkin akan lebih baik jika aku terbunuh disini!"
Tricia langsung memeluk Azka dengan erat, "Hentikan itu ... hentikan ucapanmu, Azka! Semua itu tidak benar! Kau tidak pernah melukai siapapun. Kau telah menyelamatkanku, kau juga memberiku makan. Kau bahkan merawatku ketika aku sakit. Dan kau sampai rela terluka saat kau berusaha melindungiku!"
"Tidak ... tidak ... tidak!" Azka berusaha melepaskan pelukannya.
Tapi, Tricia terus memeluknya dengan erat, "Aku tau kalau kau mempunyai masa lalu yang berat. Aku bahkan tidak bisa membayangkan seluruh siksaan itu padamu! Tapi, kumohon jangan pernah menyalahkan dirimu, Azka!"
"Kenapa ... kau sampai sejauh ini, Tricia?!"
"Aku adalah temanmu! Apa harus aku katakan sekali lagi?!"
Azka terdiam dengan mata menggenang. Ia kaget ketika Tricia bersikeras untuk berteman dengannya. Selama ini dia tidak pernah mendapatkan seseorang yang begitu percaya padanya.
"Tricia ...." Mata Azka menggenang ketika menatap mata coklat Tricia.
"Tidak ada satupun orang yang sanggup hidup sendirian, Azka. Jadi aku katakan sekali lagi ... izinkan aku untuk menjadi temanmu dan menemani perjalananmu."
Secara tidak sadar, air matanya pun akhirnya terjatuh. Ia terdiam ketika Tricia mengatakan hal yang ingin dia dengar selama ini. Ia merasa sangat bersalah karena sempat meragukan Tricia akan mengkhianatinya.
Tapi, dia tersadar kalau selama ini Tricia selalu berada disampingnya. Azka mengingat semua kenangan yang dilewati olehnya bersama Tricia.
Apa yang selama ini dikatakan oleh Mia selalu dipercaya oleh Azka, dan selama ini ia telah mendapatkannya saat bertemu dengan Tricia.
"Walaupun seluruh dunia tidak menginginkanmu percayalah suatu saat nanti kau akan menemukan teman teman yang mempercayaimu."
Kata kata dari Mia masih teringat jelas di pikiran Azka. Ia telah dibutakan oleh seluruh hinaan masyarakat. Hingga ia tak sadar kalau ia masih mempunyai seseorang yang begitu peduli dengannya.
"Maafkan ... aku, Tricia."
"Kenapa kau meminta maaf? Sudah kubilangkan kalau kau tak perlu menyalahkan dirimu."
Azka hanya bisa terdiam, "Apa ... aku ... bisa mempunyai seorang teman?"
"Tentu saja. Kita itu sudah berteman sejak lama bukan?" Tricia memasang senyuman hangat kearah Azka.
Air mata Azka yang sudah tidak terbendung lagi pun akhirnya memecah menjadi tangisan. Dia mengeluarkan isak tangis sambil menurunkan wajahnya.
Sejak dulu ia sudah tidak pernah menangis karena baginya tangisan itu tidak akan merubah apapun. Dan akhirnya Azka terbiasa menerima semua penderitaan itu dengan wajah datar.
"Kau bisa menangis sepuasnya ... Azka. Jika memang berat ... aku mohon bagilah beban itu padaku." Tricia mengatakan itu dengan senyuman lembut.
Suasana mengharukan itu mampu membuat suasana hening diseluruh ruangan itu. Bahkan semua orang yang ada disana hanya bisa terdiam ketika menyaksikan mereka berdua.
Yuga yang melihat itu memalingkan pandangannya sambil memasang senyuman kecil.
"Huu ... huu ...." Salah satu anak buah Yuga menangis melihat mereka berdua.
"Kenapa kau menangis?" tanya salah satu anak buah dari Yuga dengan heran.
"Ti-tidak apa." Ia berusaha menghentikan tangisan sambil menarik ingusnya.
"Cih, lepaskan aku Yuga!"
"Tapi sebelum itu, kau harus ikut denganku terlebih dahulu."
Lalu, Yuga menatap kepada seluruh anggota Lancer diruangan itu.
"Kalian semua bubar dan lupakan kejadian ini!"
"Baik!" Serentak seluruh pasukan itu.
Mereka yang ketakutan sejak kedatangan Yuga, membubarkan diri dari ruangan itu. Raja Edric yang sangat kesal juga pun pergi meninggalkan ruangan itu bersama para pengawalnya.
Lalu, Yuga bersama anak buahnya pun pergi dengan membawa Izami dalam keadaan terikat.
"Tunggu saja kau, Azka! Aku tidak akan membiarkanmu lolos!" Izami yang berteriak pun akhirnya pergi.
Suasana menjadi hening dengan menyisakan Azka dan Tricia diruangan itu. Azka yang sejak tadi menangis pun akhirnya terdiam dan mencoba untuk berdiri. Tapi, dia tiba tiba terjatuh dan tidak sadarkan diri.
To be Continued...