
“Ternyata mereka belum kalah ….” Kedua mata Tricia melebar dengan kedatangan Kazel dan Chyntia yang tiba-tiba. Dia juga semakin tertekan ketika Chyntia menatapnya dengan penuh dendam.
Mirio yang melihat kedua temannya ada di sini hanya memasang ekspresi datar. “Kalian berdua benar-benar memalukan.”
Mendengar perkataan itu, Kazel merasa tersinggung dan mulai berteriak. “Ha?! apa yang kau katakan itu gorilla sialan?!”
“Melihatmu yang mudah sekali tersulut emosi sudah memberiku jawaban kenapa kau bisa di kalahkan.” Mirio meresponnya dengan datar seakan tak peduli.
“Sialan, kalau begitu kita buktikan siapa yang lebih kuat di sini sekarang juga!” Kazel yang merasa emosi mulai mengendalikan rantai-rantainya seakan bersiap untuk menyerang Mirio.
Chyntia yang menyadari itu memukul kepala Kazel untuk menghentikan niatnya. “Sudah cukup bodoh, kendalikan dirimu.”
Sejak bergabung ke Crimson Buster, Kazel dan Mirio sudah dari awal selalu bertengkar. Akar permasalahan mereka sebenarnya sangat kecil, karena Kazel adalah tipe orang yang gampang naik darah. Mirio yang orangnya jauh lebih tenang terkadang mengeluarkan kata-kata yang membuat Kazel menjadi gampang emosi.
Tricia yang melihat itu hanya bisa memasang tatapan masam. Entah kenapa perilaku pria berambut coklat itu sangat mirip dengan Levin.
Sambil mengelus kepalanya, Kazel menatap Chyntia seakan tak terima. “Kenapa kau memukulku sialan?!”
“Berhentilah bermain-main!” Chyntia menatapnya dengan geram.
Kazel yang melihat itu akhirnya menyerah dengan tatapan Chyntia yang menakutkan. Dia harusnya tahu kalau dia tidak boleh macam-macam dengan wanita berambut hitam itu.
“Baiklah ….” Setelah menghembus nafasnya, Kazel akhirnya kembali tenang lalu menatap ke Levin yang sejak tadi berdiri kebingungan.
“Yo, bocah petarung. Sepertinya kau baik-baik saja di sana.” Kazel mengatakan itu sambil tersenyum senang.
Levin ikut membalasnya dengan senyuman lebar. “Yo, sepertinya kau juga baik-baik saja.”
Chyntia yang mendengar percakapan mereka memasang tatapan kecut. “Kenapa mereka berdua menjadi akrab?”
Seperti tak peduli dengan sapaan Levin, Kazel mengangkat semua rantainya dan mulai mengarahkannya ke Levin. “Mari kita lanjutkan pertarungan sebelumnya!”
Beberapa rantai yang di selimuti darah itu menyerang ke arah Levin dengan cepat. Levin yang awalnya tersenyum dengan polos berubah menjadi terkejut sambil menghindar dari rantai-rantai itu.
Akibat pukulan Mirio yang sangat kuat sebelumnya, Levin menjadi kesulitan untuk menghindar karena tubuhnya sudah terluka cukup parah.
“Tidak akan kubiarkan kau lolos bocah! Scorpio Dance: Bloody Chain!” Kazel mengendalikan seluruh rantainya yang di penuhi darah dengan cepat. Rantai-rantai itu terus bergerak kemana Levin pergi.
Dengan nafas yang terengah-engah, Levin terus menghindari rantai-rantai itu agar tidak mengenainya. Meski begitu, karena gerakannya yang mulai melambat dia masih terkena beberapa sayatan dari rantai itu.
“Sialan … aku sudah tidak punya banyak tenaga ….” Levin menggumam sambil menghindar dari rantai-rantai yang mengejarnya.
Tricia yang melihat itu dari kejauhan mulai mengeluarkan beberapa anak panah dari tangannya. Dengan posisi siap memanah, Tricia melesatkan beberapa tembakan ke Kazel.
Tapi serangan itu tangkis oleh sebuah rambut panjang yang begitu keras. Chyntia yang sudah menyadari itu hanya tersenyum seakan merendahkan ke Tricia.
“Aku tidak akan membiarkanmu kali ini nona ….” Setelah menggumamkan itu, Chyntia mulai menyerang dengan rambut panjangnya ke Tricia.
Karena kedatangannya yang tiba-tiba, Tricia sedikit terkejut lalu melompat untuk menghindar dari rambut yang mematikan itu.
Sementara itu, Levin melirik ke Tricia dan menyadari kalau dia sedang di serang. Karena situasi sekarang sudah tidak memungkinkan, Levin berteriak ke arahnya.
“Tricia! larilah dari kota ini!” Setelah berteriak, Levin masih terus menghindar dari kejaran rantai Kazel.
Tricia yang mendengar itu juga masih menghindar dari rambut Chyntia. “Apa yang kau katakan?”
“Cepatlah! aku akan menahan mereka semua!” Levin mulai kelelahan untuk meyakinkan Tricia agar mau melarikan diri.
“Kenapa kau bisa berbicara seperti itu?!” Tricia masih kokoh dengan ucapannya karena dia tidak mau meninggalkan Levin sendirian. Dia juga khawatir karena kondisi Levin jauh lebih terluka darinya.
Mirio yang sejak tadi mendengar teriakan mereka menoleh ke Tricia dengan tatapan yang mencurigakan. “Oh, kalian mau melarikan diri rupanya.” Suara Mirio begitu dingin ketika mengatakan itu.
Sambil mengepalkan tangannya, Mirio bergerak dengan cepat dan menahan lengan Tricia dengan kuat. Kedua mata Tricia mulai bergetar ketika Mirio berada di hadapannya.
Chyntia juga menghentikan serangannya karena Mirio tiba-tiba menganggu pertarungannya dengan Tricia.
“Apa yang kau lakukan Mirio? aku mempunyai urusan pribadi dengan gadis ini.”
“Aku tidak punya waktu untuk itu. Berhentilah bersifat kekanak-kanakan!”
Perkataan Mirio yang begitu dingin membuat Chyntia mengurungkan niatnya. Entah kenapa, Chyntia merasa ketakutan ketika melihat Mirio sedang serius. Dia sebenarnya cukup jarang melihat Mirio yang seperti ini.
Sementara itu, Tricia dengan gemetar berusaha melepaskan diri dari genggaman Mirio. Tapi usahanya sia-sia, karena genggaman tangannya begitu kuat.
“Sudah kubilang dari awal kalau kalian berdua tidak akan bisa kabur dari sini.” Mirio memasang tatapan tajam hingga membuat Tricia semakin ketakutan.
Levin yang masih menghindar dari rantai-rantai Kazel mengernyit ketika melihat Tricia yang dalam bahaya.
“Tricia!” Sambil berteriak, Levin yang mulai kesal menarik rantai-rantai itu sekaligus menarik Kazel dan mendaratkan pukulan hingga membuatnya terlempar.
Kazel sempat tertawa sebelum terlempar cukup jauh menabrak beberapa bangunan tua yang ada di kota.
Mirio yang sudah mengepalkan tangannya mulai mendaratkan pukulannya ke Tricia. Tapi Levin dengan cepat menyadari itu dan langsung menahannya dengan pukulan yang begitu kuat.
“Oi … dia itu seorang perempuan ….” Levin mengeluarkan suara yang begitu tajam sambil menatap Mirio dengan kemarahan.
“Levin ….” Tricia seperti kehilangan kata-kata akibat tekanan dari Mirio. Bahkan kedua mata dan bibirnya masih bergetar melihat Levin yang datang menolongnya.
Mirio membalas tatapan Levin dengan dingin. “Aku juga tahu.”
Tanpa berkata apa-apa Levin kembali mendaratkan pukulan yang di tahan oleh Mirio dengan mudah. Bahkan Mirio sampai terseret mundur beberapa senti karena menahan pukulan itu.
“Menarik juga.” Mirio mengatakan itu dengan datar karena pukulan Levin bisa membuatnya sedikit kesulitan.
“Tricia, cepatlah lari dari sini.” Levin mengatakan itu tanpa menoleh ke Tricia.
“Tapi ….” Tricia masih terdiam melihat Levin yang menahan pukulan Mirio.
“Tenang saja, aku akan melindungimu dari belakang.” Levin tersenyum kecil seperti berusaha menyakinkan Tricia.
“Shining Arrow!” Beberapa panah bercahaya yang di lesatkan dapat di tangkis dengan mudah oleh Chyntia. Tapi berkat serangan itu gumpalan asap dari serangan itu menutupi penglihatan Chyntia.
Sesuai dengan perkiraannya, Tricia lalu berlari untuk meninggalkan kota Hawlic dengan wajah yang masih di penuhi keraguan. Dia sebenarnya masih berat hati untuk meninggalkan Levin di belakang.
“Kau juga harus melarikan diri Levin ….” Tricia menggumamkan itu sambil menoleh ke belakang.
Karena serangan Tricia tadi, Mirio melepaskan pukulannya dari Levin dan berniat untuk mengejar Tricia.
“Tidak akan kubiarkan kau mengejarnya pria besar!” Levin melompat dan menendang ke wajah Mirio. Tapi tendangannya kembali di tahan dengan mudah.
“Kau benar-benar keras kepala ya ….” Mirio lalu mengenggam tendangan dari Levin dan melemparnya dengan kuat.
Lemparannya itu membuat Levin terlempar cukup jauh. Tapi ia kembali berdiri karena tidak ada luka serius akibat lemparan itu.
“Orang itu seperti tidak bisa di hajar saja ….” Setelah mengatakan itu, Levin mulai mencari Tricia dengan ekspresi khawatir.
Terlihat Tricia masih melarikan diri, tapi Levin kebingungan karena tidak melihat Mirio di tempat semula. Menyadari hal itu, Levin bergerak cepat untuk menyusul Tricia dari belakang karena dia takut kalau Mirio akan melukai Tricia.
Ketika masih terus berlari, tiba-tiba Mirio sudah menghadang Tricia dengan tatapan tajam. Dia juga sudah mengepalkan tangannya seakan bersiap untuk mendaratkan pukulan kepadanya.
“Shining Arrow!” Sambil berlari, Tricia melesatkan beberapa tembakan panah ke Mirio. Tapi ekspresi Tricia seakan terkejut melihat Mirio yang masih baik-baik saja setelah menerima serangannya. Tricia berpikir kalau orang ini bukanlah manusia biasa.
“Serangan lemah seperti itu tidak akan cukup melukaiku.” Mirio mengatakan itu hingga membuat Tricia sedikit gemetaran.
Tricia tidak mau menyia-nyiakan usaha Levin yang berusaha melindunginya dengan mencoba berlari ke jalan lain untuk menghindar dari hadangan Mirio.
Meski begitu, sebuah rambut yang begitu panjang tiba-tiba sudah ada di belakang Tricia. Rambut itu bergerak seperti ular dengan Chyntia yang sejak tadi sudah mengejarnya dari belakang.
“Jangan coba melarikan diri dariku nona! Soft Bang Crusher!” Serangan dari rambut Chyntia itu menghantam ke tanah dengan keras ketika Tricia berhasil menghindar.
Dengan nafas yang sudah terengah-engah, Tricia melihat ke belakang dan menyadari kalau serangan dari rambut wanita itu benar-benar berbahaya.
Jauh di belakang, Levin kembali berdiri dan kali ini tubuhnya sudah mencapai batasnya. Lengan dan wajahnya juga sudah di penuhi oleh banyak darah. Dengan tatapan yang lemah, Levin melihat ke Tricia yang sudah berlari jauh di depannya.
“Aku lupa dengan wanita dengan rambut aneh itu ….” Levin menggumamkan itu ketika matanya terfokus ke Chyntia yang sekarang mulai mengejar Tricia. Dengan kekuatan yang masih tersisa, Levin bergerak dengan cepat untuk menyusulnya.
Mirio yang melihat itu tidak akan membiarkan kesempatan itu begitu saja. Dia sudah mengepalkan tangannya dan bersiap untuk mendaratkan pukulan ketika Levin bergerak di hadapannya.
“Ternyata kau keras kepala juga ya ….” Mirio mengatakan itu sambil melayangkan sebuah pukulan.
Levin yang tahu akan hal itu, berhasil untuk menghindar dan bergerak menuju Tricia. “Aku sudah tidak punya tenaga untuk melawan mereka ….” Levin menggumamkan itu karena fokusnya sekarang adalah melarikan diri.
Sementara itu, Kazel yang sejak tadi terkapar akibat pukulan Levin mulai berdiri dengan tubuh yang penuh luka.
“Bocah itu … benar-benar membuatku muak ….” Tatapan Kazel tiba-tiba terlihat berbeda sebelum dia hilang kendali akibat nafsu bertarungnya. Tatapannya sekarang lebih di selimuti oleh kemarahan yang luar biasa dengan rantai-rantai yang terus bermunculan dari punggungnya.
“Sudah lama sekali … aku tidak menggunakannya ….” Kazel menunduk dengan tatapan yang jauh lebih gelap.
Bahkan seluruh rantainya tiba-tiba berubah seperti sabit yang berukuran besar dan berwarna hitam. Kazel juga seperti di selimuti oleh aura yang berwarna merah dengan pupil matanya yang ikut memerah.
Dia mulai berjalan tapi kali ini dia menggunakan rantai-rantainya sebagai kaki seperti laba-laba berjalan.
Mirio yang merasakan aura yang tidak asing lalu menoleh ke belakang untuk mencari orang yang mengeluarkan aura semacam itu. Kedua matanya melebar ketika melihat Kazel yang sudah berbeda yang dia kenal sebelumnya.
“Kazel … jangan-jangan ….” Mirio kehilangan kata-kata melihat Kazel yang mengeluarkan kekuatan rantai kematiannya. Sebelumnya Kazel juga sempat mengeluarkan kekuatan itu beberapa tahun yang lalu, tapi dia benar-benar hilang kendali waktu itu.
Bahkan gara-gara kejadian itu, Mirio dan Parviz harus turun tangan untuk menghentikan Kazel yang mengamuk sampai menghancurkan sebuah kota dan membunuh puluhan anggota Crimson Buster.
Kedua mata Kazel yang berwarna merah gelap itu terlihat kosong sambil terus berjalan dengan kaki-kaki rantainya. Dia terus berjalan dengan pelan melewati Mirio seperti tahu kalau Mirio bukanlah musuhnya.
Sementara itu, Chyntia yang terus mengejar Tricia kembali memanjangkan rambutnya untuk menyerang Tricia. Meski begitu, Tricia mampu menghindar dari serangan beruntun dari Chyntia. Tapi kecepatan larinya semakin melambat karena terus menghindar dari serangan itu.
Chyntia yang menyadari kalau Tricia mulai melambat, kembali memanjangkan rambutnya dan melayangkan sebuah serangan ke Tricia. Tapi Levin datang tepat waktu dengan menahan rambut Chyntia. Dia lalu menarik rambut itu dan melemparnya dengan kuat hingga terlempar menabrak bangunan kota.
“Levin ….” Tricia menatap Levin dengan perasaaan lega.
“Sudah kubilang kan kalau aku akan menyusul.” Levin mengatakan itu dengan senyuman seakan tak menghiraukan kondisi lukanya.
Mereka berdua yang terus berlari tidak sadar kalau mereka baru saja melewati gerbang keluar kota Hawlic. Dengan jalanan tanah yang akan menghubungkan ke beberapa kota, mereka berdua terus berlari ke jalan menuju ke kota Hayate.
Sementara itu …
“Bocah kurang ajar ….” Chyntia terbangun dengan beberapa puing bangunan di tubuhnya. Tubuhnya sedikit terluka tapi dia masih terlihat baik-baik saja.
Tiba-tiba terdengar beberapa hentakan besi yang cukup terasa di sekitar Chyntia terbaring. Ketika dia mencari asal suara itu, kedua matanya melebar ketika melihat Kazel sedang berjalan dengan rantai-rantai seperti membentuk kaki laba-laba.
“Kazel ….” Chyntia hanya terdiam melihat Kazel yang memasang tatapan kosong dengan matanya berwarna merah.
“Kazel, sadarlah!” Meski Chyntia tahu kalau memanggilnya adalah hal yang percuma, dia terus berteriak dengan harapan Kazel mau mendengarnya.
Mirio yang sejak tadi mengikuti Kazel akhirnya berpapasan dengan Chyntia. Mereka berdua seperti kehilangan kata-kata sambil menatap satu sama lain.
“Mirio, kita harus mengehentikannya!” Chyntia dengan wajah panik menarik kerah baju Mirio.
Tapi Mirio memalingkan tatapannya seakan menyerah. “Percuma saja ….”
“Tidak mungkin ….” Chyntia menggumam dengan tatapan seakan di penuhi kesedihan. Dia tak berkata apa-apa lagi selain melepas genggamannya dari kerah baju Mirio.
“Tidak ada yang bisa kita lakukan selain Parviz yang menghentikannya ….” Mirio melanjutkan kata-katanya dengan suara yang begitu berat.
Chyntia yang tidak mendengar itu seperti tidak menerima jawaban dari Mirio. Chyntia lalu berbalik dengan mata yang menggenang, lalu berjalan menuju markas dengan maksud meminta Parviz untuk menyelamatkan Kazel.
“Kazel ….” Chyntia bergumam dengan menitihkan beberapa air mata.
To be Continued…