Black Buster

Black Buster
Chapter 28 "Showdown at Corael! Azka Vs Clint"



Hardy yang telah membawa Vina telah sampai ditempat pengungsian warga desa Corael. Pengungsian mereka letaknya sendiri tidak terlalu jauh dari Corael. Mereka membangun tempat itu dengan beberapa tenda dan juga dapur khusus pengungsian.


Disaat beberapa warga sedang menyiapkan makanan, mereka terkejut melihat Hardy dan Vina yang wajahnya tampak kotor mendatangi mereka.


“Pak kepala desa! Vina!”


Beberapa orang itu berlari mendekati mereka berdua.


“Apa kau tidak apa apa pak kepala desa?!” tanya salah satu warga.


“Ya, kami tak apa,” jawab Hardy.


“Syukurlah, kami semua khawatir dengan kalian.”


“Apa … kedainya Vina baik baik saja?” tanya mereka khawatir.


Vina hanya murung terdiam. Dia masih merasa sedih mengingat kedainya telah hancur.


“Kedainya sudah hancur,” jawab Hardy pelan.


Mereka tampak sedih saat melihat Vina dipenuhi luka kecil. Orang orang desa tau bagaimana nekatnya Vina untuk melindungi kedai kakeknya. Warga selalu memaksanya untuk pergi ke pengungsian tapi ia selalu menolak karena ingin melindungi satu satunya peninggalan kakeknya.


“Itu memang benar tapi … aku masih punya kenangan bersama kakek dan juga kalian di desa,” sambung Vina tersenyum sekaligus tegar.


“Vina ….”


Para warga tersenyum sekaligus haru pada Vina. Sama seperti Vina, semua warga desa Corael juga sangat mencintai desa tempat mereka tinggal.


Vina masih mengingat perkataan Azka sebelumnya. Stigmanya terhadap Azka juga menjadi membaik karena sebelumnya telah menuduh Azka akan melakukan hal yang sama seperti Buster lainnya.


Vina yakin kalau Azka dan teman temannya pasti akan berhasil menyelamatkan desanya.


Hardy tersenyum melihat Vina yang begitu tegar. Ia merasa Vina jauh lebih dewasa setelah bertemu Azka dan yang lainnya. Karena sebelumnya, Vina hanyalah gadis 8 tahun yang terus bersedih sejak kehilangan kakeknya.


“Ayo Vina, kita obati lukamu.”


Salah satu warga membawa Vina menuju tenda dengan maksud mengobatinya.


Salah satu warga membawanya kedalam tenda untuk mengobati luka kecil Vina. Tapi, disaat bersamaan semua orang yang ada disana begitu terkejut saat mendengar suara ledakan dari desa Corael.


Mereka terdiam melihat kobaran api mulai menyelimuti desa dari kejauhan. Bahkan beberapa dari mereka sampai berlutut dengan mata menggenang.


Bibir Hardy bergetar dengan mata melotot, “Apa yang sebenarnya terjadi disana?!”


Hardy tidak bisa berpikir jernih melihat keadaan desanya sekarang. Apa desanya hancur disebabkan oleh Azka dan Clint?


Vina berlutut dengan mata menggenang. Desa yang menyimpan semua kenangannya seakan berubah menjadi medan perang.


“Azka … Levin …,” lirih Vina dengan mata menggenang.


Dia merinding membayangkan Azka dan yang lainnya telah dikalahkan oleh Clint. Padahal Azka sudah berjanji untuk menyelamatkan desanya dari genggaman Clint. Jika sampai kalah, Vina tidak tau apa lagi yang harus ia lakukan.


Vina hanya tidak ingin desa yang dicintainya ikut hancur ditangan Clint Buster.


***


Di alun alun desa Corael, Azka dan Clint saling menatap satu sama lain sambil menodongkan senjata mereka. Kobaran api yang menghanguskan rumah mereka seakan menambah panasnya pertarungan mereka.


Clint tersenyum kecil lalu menembakkan beberapa peluru kearah Azka.


“Nightfall Slash!”


Tebasan hitam yang sangat besar muncul dari retakan tanah dan menghancurkan seluruh serangan dari Clint.


Clint lalu berlari ke hadapan Azka dan memukulnya dengan keras. Azka terlempar tapi berhasil menahan daya serangan dengan kedua tangannya.


Saat Azka menabrak reruntuhan, Clint lalu melompat untuk menginjaknya, tapi Azka berhasil menggulingkan badannya untuk menhingdar.


Azka lalu berlari dengan cepat dan menyerang Clint dari jarak dekat.


“Gawat!” Clint terkejut dengan kehadiran Azka.


Clint terkena beberapa sayatan ditubuhnya, lalu memukul Azka beberapa kali hingga terjatuh.


Azka bangkit dengan nafas terengah engah kesakitan.


“Kenapa sampai sejauh ini?!” Tanya Clint dengan tatapan merendahkan.


Clint merasa pertarungan mereka hanya sia sia. Sejak tadi Azka cuma berhasil membuat sayatan kecil ditubuhnya.


Azka hanya berdiri memasang wajah datar.


“Aku ingin bertanya padamu. Kenapa kau menjadi Buster?”


Sangat aneh rasanya jika seorang Buster rela bertarung mati matian demi sebuah desa. Apalagi dia baru saja sampai di desa ini. Semua kebingungan itu membuat Clint bertanya tanya.


“Final Valley.”


“Final Valley katamu?” Clint menaikkan alisnya saat mendengar jawaban Azka.


Selama 10 tahun menjadi Buster, Clint sangat sering mendengar impian konyol tersebut. Ia sendiri sangat muak jika bertemu Buster yang memiliki tujuan seperti itu.


Clint tersenyum kecil dan berkata, “Rupanya kau hanya bocah bermulut besar ….”


Memikirkannya saja sudah membuat Clint merasa bodoh. Mengalahkannya saja masih kesulitan, dan dia dengan santainya ingin pergi ketempat yang bahkan keberadaannya dianggap sebagai legenda.


“Lalu apa yang ingin kau lakukan jika sampai disana? Ingin melihat lihat?” tanya Clint dengan nada merendahkan.


“Janji?! Hahahaha! Kau pikir menjadi Buster itu adalah permainan anak anak?!”


Clint merasa direndahkan oleh seorang bocah yang mengaku sebagai Buster. Dari melidungi desa yang bukan kepentingannya hingga mencari legenda yang sangat konyol demi sebuah janji.


Azka tertunduk geram saat janjinya ditertawakan.


“Kau benar benar membuatku muak!” Teriak Clint.


Clint mengarahkan jari telunjuknya, “Index Bullet!”


Beberapa peluru melesat dengan kencang.


Azka mengangkat wajahnya dengan geram. Lalu cipratan darah keluar saat peluru peluru itu melubangi tubuhnya.


Clint terkejut melihatnya. Apa dia sengaja tidak menghindar?


“Apa kau sudah puas tertawa?!” Azka memasang tatapan menyeramkan.


Azka sengaja tak bergerak agar Clint tau kalau janjinya itu bukan lah main main.


Clint terdiam dengan tatapan Azka. Apa yang membuatnya begitu marah ketika janjinya ditertawakan?


Azka sangat menghormati Mia lebih dari apapun dan dia tidak akan membiarkan berani untuk menertawakan Mia.


Dengan tubuh yang dipenuhi darah, Azka menodongkan kedua daggernya.


Clint terkejut saat Azka masih berniat untuk mengalahkannya


Apa anak ini serius?! pikir Clint.


Harusnya dengan luka tembak seperti itu, Azka tidak akan memiliki kesempatan untuk menang. Pikiran Clint tentang Azka sekarang berubah, dengan melihat tatapannya anak ini memiliki ambisi yang kuat dibanding Buster yang pernah ia temui.


“Kau harusnya tau kalau pertarungan antara Buster adalah pertarungan sampai mati.”


Clint mengarahkan telapak tangannya. Sebuah Meriam melesat dengan kencang menuju Azka. tapi, Azka mampu menghindar dari serangannya.


Pendarahan akibat tembakan sebelumnya sama sekali tak membuat Azka melambat. Dengan cepat ia berlari sambil menebaskan beberapa tebasan.


Clint masih mampu untuk menghindar sambil menembaknya dengan Meriam. Azka yang terus berlari tiba tiba memejamkan matanya.


Ia mengambil nafas dalam dalam dan mencoba fokus. Terlihat Twin Black Daggernya diselimuti oleh aura hitam.


Azka lalu berhenti dan membuka matanya.


Clint memasang tatapan merendahkan, “Apa yang akan kau lakukan? Percuma saja tebasanmu itu masih bisa ku hindari.”


Memang Link tebasan milik Azka memiliki daya serang yang kuat tapi kecepatan tebasannya masih bisa untuk dihindari.


“Two Slash Fangs of Darkness!”


Tiba tiba dua tebasan seperti taring yang sangat besar melesat dengan kencang.


“Ugh!” teriak Clint kesakitan.


Tebasan kegelapan yang sangat besar itu akhirnya melukai Clint dengan sangat parah. Clint mengeluarkan banyak darah hingga terjatuh tak sadarkan diri.


Azka akhirnya berhasil mengalahkan Clint. Dia mengambil nafas pelan pelan dengan tatapan lemah.


“Jangan pernah … menertawakan Mia-san ….” Azka lalu terjatuh pingsan.


Tubuhnya sudah tidak sanggup menahan rasa sakit oleh tembakan sebelumnya.


“Azka!” Teriak Tricia dari kejauhan.


Tricia mendatangi Azka karena sejak tadi khawatir dengan ledakan yang berasal dari tempat Azka bertarung. Tricia sangat terkejut ketika melihat Azka terkena beberapa luka tembak.


Disaat bersamaan beberapa warga desa di pengungsian datang dengan wajah panik. Mereka lalu terdiam saat melihat keadaan disekitar yang benar benar kacau. Mereka juga melihat Clint yang sedang terkapar dan Tricia yang sedang menemani Azka.


“Apa yang terjadi?” tanya salah satu warga.


Hardy dan Vina muncul dari balik kerumunan. Mereka ikut terdiam karena tak menyangka Azka berhasil mengalahkan Clint.


Vina menangis sekaligus senang saat mengetahui Clint sudah dikalahkan. Ternyata Azka sudah menepati janjinya untuk menyelamatkan desa ini dari genggaman Clint.


“Terima kasih …,” ucap Vina dengan isak tangis.


Semua warga juga ikut menangis sekaligus senang karena desa mereka telah diselamatkan. Mereka semua merasa bersyukur dan berterima kasih kepada Azka yang telah mengalahkan Clint.


Tricia yang melihat semua itu dari sisi Azka juga merasa senang.


“Kau telah menyelamatkan mereka … Azka.” Tricia tersenyum sekaligus hangat kearah Azka.


Azka masih terkapar dengan luka tembakan ditubuhnya. Dengan suasana haru dari warga desa Corael, pertarungan antara Azka melawan Clint the Projectile telah dimenangkan oleh Azka.


To be Continued…


**Note Author**


Nightfall Slash \= Tebasan Matahari Terbenam


Index Bullet \= Peluru Jari Telunjuk


Twin Black Dagger \= Dagger hitam kembar yang dipakai Azka.


Two Slash Fangs of Darkness \= Dua Tebasan: Tebasan Taring Kegelapan.**