Black Buster

Black Buster
Chapter 33 "Liar"



Matahari terbit sejak tadi menyinari desa Corael.


Di dalam tenda, Azka yang telah sembuh akibat pertarungannya dengan Clint bersiap melanjutkan perjalanan bersama Tricia. Mereka tampak sibuk merapikan barang barang untuk perjalanan nanti.


“Jadi kalian sudah mau pergi?” Tanya Vina yang sejak tadi melihat mereka dengan perasaan sedih.


“Tentu saja. Kami tak bisa berlama lama disinii.” Jawab Tricia tersenyum.


“Apa kau yakin akan pergi ke Mid Land? Maksudku kakek Hardy pernah bilang kan kalau daratan itu berbahaya.” Vina menatap mereka khawatir karena teringat dengan perkataan Hardy sebelumnya.


“Kita tidak akan tahu kalau belum pergi kesana kan?” Tricia meyakinkan dirinya.


Vina terdiam lalu menatap Azka yang masih mempersiapkan barang barang.


“Azka … apa orang yang kau ceritakan sebelumnya sangat berharga bagimu?”


Vina mengingat perkataan Azka yang menyebutkan tentang seseorang yang berharga baginya.


Azka terdiam sejenak lalu menjawab, “Tentu saja dia sangat berharga bagiku.” Azka menatap Vina dengan ramah.


Vina tersenyum lembut, “Aku harap kau bisa menemukan Final Valley suatu saat nanti!”


“Ya.” Azka mendekat ke Tricia dan mengajaknya pergi.


“Tunggu! Apa kalian tidak mengajak Levin?”


Azka dan Tricia saling memandang dengan bingung.


“Apa kau ingin mengajaknya Azka?” Tanya Tricia memastikan.


Azka terdiam mengingat perkataan Levin semalam, dia bingung harus menjelaskan apa ke Vina. Sebenarnya Azka cukup kaget ketika Levin telah menganggapnya sebagai teman. Dia juga ingat tentang perkataan kepala desa dan harapan penduduk yang sebenarnya.


“Entahlah aku belum memikirkannya.” Azka melanjutkan langkahnya.


“Tapi ….” Vina pasrah karena Azka langsung meninggalkannya.


***


Di alun alun desa Corael, beberapa warga masih gotong royong untuk membangun kembali desa mereka.


Lalu tidak lama Levin menghampiri mereka sambil tersenyum lebar.


“Selamat pagi!” Levin menyapa. “Pagi pagi begini kalian sudah bekerja ya?”


Tapi tak ada balasan apapun, mereka pura pura tak melihat Levin dengan melanjutkan perkerjaan mereka.


Levin sedikit kesal dan mulai menganggu mereka.


“Oi! Aku jangan dicuekin dong! Oiii!” Seru Levin sambil menepuk tembok rumah beberapa kali.


Salah satu warga mulai geram, “Woi! Jangan merusaknya lagi dasar berandalan busuk!”


“Hahaha inilah yang harusnya kudengar!” Seru Levin sambil tertawa.


Levin merasa aneh jika penduduk desa tidak memanggilnya dengan sebutan berandalan karena sudah menjadi panggilannya sejak lama.


“Apa yang masih kau lakukan disini?! Mereka sudah mau pergi kan?!”


“Mereka?” Levin terdiam sejenak. “Oh, maksud kalian Azka dan Tricia? Aku tidak akan pergi dengan mereka.”


“Ha?!” Mereka langsung menghentikan kegiatan saat mendengar penyataan Levin.


“Kenapa kalian kaget begitu?” Tanya Levin polos.


“Oi, bukannya kau ingin menjadi petarung terkuat? Harusnya kau pergi saja dengan mereka.”


“Tentu saja aku akan menjadi petarung terkuat suatu saat nanti tapi, aku masih ingin tinggal di disini lebih lama lagi.”


“Apa yang kau bicarakan?! Tidak ada yang mengiginkanmu disini!”


“Itu benar! Pergi saja kau dari sini dasar berandalan sialan!”


Levin kebingungan melihat reaksi mereka yang semakin kasar mengusirnya. Ia merasa akhir akhir ini mereka semakin kasar sejak kedatangan Azka dan Tricia.


“Kenapa saat aku bertemu denganmu selalu ada keributan?” Azka tiba tiba datang menghampiri Levin bersama Tricia.


“Oh, kalian masih disini rupanya.”


Apa Azka benar benar tidak mengajaknya? Benak Tricia terdiam sambil menatap Azka.


Tricia sebenarnya ingin mengajak Levin menjadi temannya. Tapi ia tidak tau apa Azka berpikiran yang sama tentangnya.


Tidak lama Hardy dan rombongan warga mendatangi Azka dan Tricia. Mereka bermaksud memberikan perpisahan terakhir sebelum mereka berdua meninggalkan desa.


“Kalian sudah mau pergi ya?” Tanya Hardy.


“Oh, kepala desa.” Ucap Azka.


“Sekali lagi aku sangat berterima kasih telah menyelamatkan desa ini. Aku bahkan tidak tau harus memberikan apa sebagai ucapan terima kasih.”


“Jika mau berterima kasih. Kalian bisa memberiku uang.”


“Uang?” Tanya Hardy untuk memastikan.


“Azka!” Omel Tricia. “Lupakan saja, dia hanya bercanda kok.” Tricia tersenyum karena merasa tak enak dengan Hardy dan penduduk desa.


Azka sebenarnya sering meminta imbalan pada orang lain jika selesai menolong mereka. Ia melakukan itu karena penduduk Oleander terlanjur membencinya.


Tapi, Azka juga tak suka jika di anggap sebagai pahlawan yang hanya mendapatkan imbalan terima kasih. Bagi Azka, pahlawan adalah omong kosong karena tetaplah manusia yang membutuhkan uang untuk bertahan hidup.


“Apa itu benar? Padahal kami sama sekali tak keberatan dengan itu. Lagipula kami sangat berutang budi pada kalian.”


Hardy dan rombongan warga menatap dengan ramah.


“Seriusan?!” Azka tak menyangka jika mereka tak keberatan dengan permintaannya.


“Cukup sampai disana!” Tiba tiba terdengar teriakan dari kejauhan.


Semua orang di alun alun desa sangat terkejut dengan kedatangan pasukan Lancer yang tiba tiba. Pria yang tadi berteriak lalu menunjuk ke arah Azka dengan sikap mencurigakan.


“Kenapa ada pasukan Lancer?!” Tricia menaikkan alisnya saat menatap satu pasukan Lancer yang bersiap menyerang.


Biasanya pasukan Lancer tidak mau melakukan pengejaran di wilayah Free Zone yang adalah wilayah bebas. Alasan utama kenapa Lancer sangat jarang melakukan pengejaran karena Free Zone tidak termasuk prioritas utama mereka.


“Siapa mereka?” Tanya Levin dengan polos.


Azka hanya diam menatapnya. Ia menduga pria berambut pirang itu yang memimpin pasukannya.


“Akhirnya aku menemukan kalian, Clint Buster!” Seru pria berusia 22 tahun itu.


“Clint Buster?!” Azka dan Tricia kompak sekaligus terkejut.


Penduduk desa ikut terkejut saat pria itu menuduh Azka dan Tricia.


“Oi, apa maksudmu?” Tanya Azka bingung.


“Maksudku? Jangan berlagak bodoh! Jelas jelas kau Clint si manusia proyektil yang selama ini kami cari!” Pria itu semakin ngotot ketika melihat Azka.


Vitto dan pasukannya sejak lama mengincar Clint dan anak buahnya. Karena sebelumnya mereka telah menjarah sebuah kota di kerajaan terdekat.


“Ha?” Azka sama sekali tak mengerti apa yang dipikirkan orang itu.


“Clint? Dia itu bodoh ya?” Levin menunjuk ke orang itu dengan polos.


“Siapa yang kau panggil bodoh sialan!” Teriak pria itu.


Lalu pria itu berusaha untuk tenang dan menatap salah anggota Lancer.


“Oi, bawa dia kemari.” Ucap pria itu.


“Baik, wakil Vitto!” Lancer itu lalu pergi untuk membawa seseorang yang dimaksud.


Tidak lama Lancer itu melempar Fidel dihadapan Azka dan yang lain.


Mereka terkejut termasuk warga saat melihat Fidel yang dalam terikat dengan wajah ketakutan. Sebelumnya Fidel terlempar cukup jauh dan akhirnya ditemukan oleh pasukan Lancer.


Azka lalu menatap pria yang bernama Vitto itu. Ia tak mengerti dengan maksud mereka melempar Fidel padanya.


“Bos tolong aku!” Teriak Fidel memohon.


“Bos?!” Azka terkejut menatap Fidel.


Semua orang juga ikut terkejut ketika Fidel memanggil Azka dengan sebutan bos.


Fidel yang tadinya memohon tiba tiba tersenyum jahat. Dia sengaja memanggil Azka dengan sebutan bos agar pasukan Lancer percaya kalau Azka adalah Clint.


Sebelumnya Fidel yang telah tertangkap mengatakan pada mereka kalau Clint masih berada di desa Corael. Dia melakukan itu karena masih dendam karena telah dipermalukan oleh Azka dan Levin.


Fidel juga tau kalau dia dan yang lainnya sudah diincar oleh Vitto, tapi mereka belum pernah melihat Clint secara langsung oleh karena itu dia memanfaatkan ketidaktauan Vitto.


“Sialan kau!”


Azka sangat kesal melihat senyuman Fidel yang seakan meledeknya. Ia tau kalau Fidel sengaja berbohong agar dirinya ikut tertangkap.


“Dia salah satu anak buahmu kan?!” Seru Vitto merasa yakin.


“Aku bukanlah Clint yang kalian cari!” Teriak Azka.


“Apa yang kau katakan?! Jelas jelas dia memanggilmu bos!”


“Dia hanya berbohong!”


“Bos! Apa yang kau katakan?! Padahal kita sudah bersama cukup lama. Kenapa kau berpura pura tidak mengenaliku?!” Teriak Fidel sambil tersenyum jahat kepada Azka dan yang lain. Fidel terus berbohong agar Vitto semakin percaya.


Fidel tak masalah kalau dirinya tertangkap karena Clint dan yang lainnya pasti bisa menyelamatkannya. Jadi yang bisa dilakukan Fidel sekarang hanya terus menghasut pasukan Lancer untuk menangkap Azka dan yang lain agar dendam Clint Buster bisa terbalaskan.


“Kenapa kau berbohong oi! Sini biar kuhajar kau!” Levin yang ingin memukul Fidel ditahan oleh beberapa warga.


“Oi, tenanglah Levin.” Seru salah satu warga.


Hardy lalu menampakkan wajahnya dari balik kerumunan warga.


“Maaf, tapi yang kalian tuduhkan itu salah. Mereka bukanlah Clint Buster seperti yang kalian tuduhkan.” Hardy berusaha menjelaskan untuk menenangkan Vitto dan pasukannya.


“Ha? Apa yang kau bicarakan kakek tua?!” Vitto membentak seakan tak peduli dengan ucapan Hardy.


Seketika para warga menjadi kesal Ketika Vitto membentak kepala desa kesayangan mereka. Mereka bahkan berteriak dengan maksud mengusir Vitto dan yang lain.


“Mereka bukanlah orang jahat!


“Ya, itu benar! Mereka bahkan menyelamatkan desa dari Clint dan anak buahnya!”


“Pergi saja kalian dari sini!”


Penduduk Corael tidak peduli dengan pasukan Lancer yang seharusnya baik. Mereka sejak awal tidak terlalu berharap kepada Lancer karena selama tinggal di desa Corael, mereka tidak pernah mendapatkan perlindungan dari mereka.


“Kenapa kalian semua mengusirku?! Apa kalian tidak tau kalau kami adalah pasukan Lancer yang harusnya kalian sambut?!” Vitto menatap mereka seakan membanggakan posisinya sebagai prajurit Lancer.


“Sialan! akan ku hajar kau brengsek!” Teriak Levin berapi-api.


“Kenapa kau ini begitu emosian?!” Tricia dan Vina berusaha menahan Levin yang ingin menghajar Vitto.


Vitto terdiam sejenak dengan menatapi mereka.


“Aku mengerti. Kalian semua sedang disandra oleh mereka.”


Vitto menduga kalau penduduk Corael sedang disandra oleh Azka dan itu sebabnya mereka ikut bersikeras mengatakan kalau Azka bukanlah Clint.


“Disandra?” Azka tak habis pikir kenapa Vitto malah menuduhnya seperti itu.


Sempat menjadi Lancer cukup lama, Azka tak menduga ada Lancer yang bodoh sepertinya. Itu mengingatkannya lagi dengan Izami.


“Kalian mengatakan kalau kalian bukan lah Clint Buster. Lalu siapa kalian sebenarnya?!” Tanya Vitto sambil tersenyum kecil.


Semua penduduk terdiam yang awalnya sempat berisik. Mereka tidak ingin Azka dan Tricia sampai tertangkap karena mereka adalah Buster.


Azka dan Tricia sama sama terdiam. Jika mengatakan Buster itu akan tetap membuat mereka diburu.


“Kenapa kau diam saja?!” Senyuma Vitto tampak jahat karena menduga sejak awal Azka adalah Clint yang dimaksud.


Vitto mengangkat tangan kananya yang memberi aba aba pada pasukannya. Seketika pasukan dibelakang Vitto membentuk formasi bersiap menembak.


“Tenang saja para penduduk desa! Aku, Vitto Higuchi wakil Lancer yang terhebat akan menyelamatkan kalian semua hahahaha!” Teriak Vitto seakan menyombongkan diri.


Azka menatap Vitto dengan tatapan tajam.


“Percuma saja.” Azka bersiap mengeluarkan dua dagger hitamnya.


“Apa kau yakin Azka?!” Tricia sedikit panik karena Azka seakan siap meladeni mereka.


Azka hanya terdiam karena sejak awal Vitto terlalu bodoh untuk diajak bicara. Mungkin satu satunya jalan agar membuatnya mengerti adalah mengalahkan mereka semua.


Setelah memulai perjalanannya yang belum lama, Azka sedikit bersemangat karena ini pertama kalinya melawan mereka sebagai Buster.


To be Continued...


Maaf banget kalau author belum update beberapa hari karena kemarin kemarin masih sakit.


Yang udah mampir dan baca cerita ini jangan lupa juga dukung author dengan beri like dan votenya.


Kalo ada kritik dan saran tentang penulisan atau lainnya bisa di kolom komentar ya, author juga masih belajar kok.


Dan kalo ada pertanyaan tentang Black Buster yang mungkin belum paham juga biss komentar.


Terima kasih banyak.


Salam hangat dari Mr. Sweet.


Follow ig author juga ya @mr.sweet70