Black Buster

Black Buster
Chapter 46 "Planning"



Matahari terbit dari ufuk timur desa Kitara.


Mentari pagi yang begitu menyejukkan turut membangunkan Azka yang tidur di alas kain tipis di sekitar tenda dan panti asuhan.


Dengan raut wajah yang masih setengah sadar, Azka menoleh dan menatap Levin yang masih tertidur di sampingnya.


“Levin brengsek, aku kira kau yang berjaga malam ini!” Sambil membentak, Azka teringat percakapannya dengan Levin.


Malam tadi setelah berburu untuk makan malam, Azka masih mengingat jelas kalau Levin akan berjaga malam nanti. Tapi sekali lagi, Levin malah melupakan tugasnya dan tertidur dengan wajah polos.


Tidak lama, Levin juga terbangun setelah mendengar bentakan Azka.


“Azka, selamat pagi.” Levin memandangi Azka dengan tatapan setengah sadar sambil mengusap matanya.


“Kenapa kau malah tertidur? Bukannya kau bilang akan berjaga malam ini?!”


“Mm … habisnya aku ngantuk.” Levin mulai mengeluarkan suara manja.


“Apa kau ini anak anak?!”


Kemudian, Alice dan Filia keluar dari dalam panti asuhan setelah mendengar suara dari Azka dan Levin.


“Selamat pagi kak Azka, kak Levin!” Filia melambaikan tangannya dengan senyuman lebar.


Mendengar teriakan Filia yang begitu ceria, Azka dan Levin menoleh ke arahnya secara serempak.


“Yo, selamat pagi!” Levin membalas dengan senyuman lebar.


Di samping itu, Azka tak membalas sambutan Filia padanya. Azka tak balik menyapanya bukan berarti membenci Filia, tapi Azka memang tak pernah memberi sapaan pada siapapun.


“Pagi pagi begini kalian berdua sudah bersemangat ya.” Alice tersenyum menatap mereka berdua.


Tidak lama kemudian, Tricia menyusul dari tenda dan menatap semua orang yang ada di situ dengan senyuman. “Oh, selamat pagi nenek, Filia.” Senyuman lembut mengalir keluar dari mulut Tricia.


“Pagi kak Tricia.” Filia membalas dengan senyuman manis.


“Apa lukamu sudah baik baik saja?” Sambil menanyakan itu, Tricia mulai mengamati tubuh Filia.


Filia mengangguk sambil tersenyum, “Ya, aku sudah baik baik saja.”


Efek dari Link tipe Vistia memang sangatlah berguna untuk penggunanya. Bahkan tubuh mungil Filia benar benar sembuh secara total, itu juga terlihat dari senyuman dan ekornya yang sejak tadi bergoyang goyang.


Setelah matahari cukup meninggi di atas desa Kitara, Alice dan Filia sedang menyiapkan makanan di dalam panti asuhan dari hasil buruan Azka dan Levin.


Kemudian, Azka, Levin dan Tricia mulai membicarakan sesuatu di depan tenda mereka.


“Azka, lalu bagaimana? Apa yang akan kita lakukan untuk membantu Filia?” Tricia memulai dengan sebuah pertanyaan ketika menatap Azka.


Azka sempat terdiam sejenak dan mulai berpikir.


“Jujur saja, aku tidak punya keinginan untuk menolongnya ….”


“Apa yang kau katakan, Azka?!” Levin tampak kesal ketika mendengar jawaban Azka.


Levin terlihat geram ketika sifat tak peduli Azka keluar.


Mengabaikan perkataan Levin, Azka tampak tenang sambil melanjutkan. “Aku memang tidak punya keinginan tapi, aku juga tidak mau melihat gadis kecil harus berusah payah mengumpulkan sepuluh juta Nam sendirian.”


Tricia memegang dagunya seakan kebingungan, “Apa maksudmu Azka?”


“Aku hanya berpikir untuk membantunya mencari uang sebanyak sepuluh juta Nam.” Azka menambahkan dengan wajah tenang.


Mendengar hal itu, Tricia terdiam sejenak sambil memegang keningnya.  “Tapi … apa kau yakin Buster itu akan menepati janjinya?”


Azka terdiam dengan menurunkan wajahnya. “Aku memang tidak bilang kalau kita harus mempercayainya. Tapi, tidak ada salahnya jika kita menuruti permintaan mereka.”


Tricia kembali terdiam dan berusaha mencerna pernyataan Azka. Sedangkan Levin hanya menyimak seakan tak mengerti dengan percakapan mereka berdua.


“Aku tidak terlalu mengerti, yang penting aku akan menghajar mereka semua.” Levin tampak bersemangat sambil mengepalkan tangannya ke depan.


“Bodoh … kita belum pasti melawan mereka.” Tricia mengerutkan keningnya ketika melihat Levin.


“Eh … benarkah?” Levin tampak kecewa saat menoleh ke Tricia.


“Yang menjadi permasalahannya sekarang adalah, kita tidak tau di mana mereka menyembunyikan anak anak itu.” Azka kembali melanjutkan sambil memikirkan sesuatu.


“Kau benar, jika mereka berniat mengingkari perjanjian Filia, kita tidak akan sempat menolongnya.” Tricia menambahkan dengan tatapan cemas.


“Sudah kubilang kan kalau kita hanya perlu menghajarnya.” Levin kembali mengepalkan tinjunya dengan tatapan polos.


“Jangan melakukan hal yang bodoh! Ingatlah Levin, mereka masih menyandra anak anak itu.” Azka berusaha menjelaskan dengan tatapan kesal.


Levin terdiam sejenak dan kembali menatap Azka, “Apa Filia tidak tau di mana mereka bersembunyi?”


“Dia memang belum mengatakan hal itu, tapi aku menduga kalau Filia tidak tau di mana mereka menahan teman temannya.”


Azka terliha yakin dengan ucapannya. Azka menyimpulkan seperti itu karena yakin jika Filia tau di mana mereka menahan teman temannya, dia pasti lebih memilih menyelamatkan mereka.


“Aku juga berpikir seperti itu ….” Tricia mengulang perkataan Azka seakan memikirkan hal yang sama.


“Aku punya ide bagus!” Levin mengacungkan jarinya dengan mata berbinar.


Seperti menghadapi jalan buntu, Azka dan Tricia kaget ketika Levin mulai mengacungkan jarinya.


“Bagaimana kalau kita mencari tau di mana markas mereka?!” Levin seakan membanggakan diri setelah mengatakan itu.


Azka dan Tricia terdiam dan saling berpandangan. Lalu, mereka berdua kembali menatap Levin.


“Aku tidak mengelak itu tapi, itu ide yang bagus.” Azka mengatakan itu meski ada keraguan.


“Hehehe, benar kan?!” Levin mulai tertawa seakan meledek.


“Entah kenapa aku sedikit kesal melihat wajahnya.” Tricia memasang wajah masam melihat tingkah Levin.


“Yosh, kalau begitu aku akan pergi mengha—maksudku mencari mereka!” Levin bergegas pergi tapi langkahnya terhenti ketika Azka menahan bahunya.


“Apa kau baru saja bilang ingin menghajar mereka?” tanya Tricia kecut.


“Tunggu dulu brengsek! Tidak ada yang mengatakan kalau kau harus pergi sendiri.” Azka menambahkan dengan tatapan kesal.


“Kalau begitu ayo kita pergi.” Levin menoleh ke Azka dengan tatapan polos.


“Sudah kubilang kan? Kalau aku berniat membantu Filia mengumpulkan sepuluh juta Nam.”


“Tentu saja tidak, lagipula mencuri akan membutuhkan waktu yang sangat lama.” Azka tampak santai saat menjelaskan.


Mendengar hal itu, Tricia hanya terdiam dan percaya apa yang di katakan Azka. Dia yakin kalau Azka pasti memiliki rencana untuk mengumpulkan uang yang banyak. Meski Tricia juga yakin kalau Azka berniat untuk mencari uang untuk dirinya sendiri.


“Kalau begitu biarkan aku pergi, Azka!” Levin yang sejak tadi tertahan mulai merasa gelisah.


Azka menghela nafas berat, “Tricia, sebaiknya kau ikut dengan Levin.”


“Aku?” Tricia memastikan perkataan Azka sambil menunjuk dirinya.


“Ya.” Azka mengulangnya tanpa keraguan.


“Baiklah kalau begitu.” Tricia juga berpikir kalau itu ide yang bagus.


“Yosh, kalau begitu ayo Tricia!” Levin tampak antusias ketika menatap Tricia.


Ketika Tricia belum sempat menjawab, Alice tiba tiba muncul dari dalam panti asuhan dan mendekati mereka.


“Sebenarnya apa yang sedang kalian bicarakan?” Alice memasang senyuman lembut ketika menatap mereka bertiga.


“Ah, nenek kita akan pergi— aw!” Perkataan Levin terpotong saat Tricia menyenggolnya dengan kuat.


“Ti-tidak apa nek.” Tricia melanjutkan dengan senyuman memaksa.


“Kau ini kenapa sih?!” Levin mulai mengeluh sambil mengelus lengannya yang di senggol Tricia.


“Kalau begitu ayo kita sarapan, aku dan Filia sudah menyiapkan semuanya.” Alice menjelaskan tujuannya seakan tak mencurigai apapun.


“Makanan? Wah, kebetulan aku sangat lapar!” Levin langsung berlari menuju panti asuhan dengan tatapan berbinar.


Azka tampak masam dan mulai mengatakan sesuatu dalam hati. Aku benar benar tidak mengerti dengan pikirannya.


***


Setelah ajakan dari Alice, mereka bertiga duduk di sebuah meja makan yang cukup tua dengan Filia yang sejak tadi duduk menunggu Alice bersama Azka, Levin dan Tricia.


Di atas meja makan terdapat banyak sekali aneka daging mulai dari **** hutan panggang, ikan bakar dan lain lain.


“Wah … terlihat sangat enak.” Levin tampak berbinar ketika melihat semua makanan di atas meja dengan liur yang mulai menetes.


Melihat tingkah Levin, Filia hanya tertawa dengan wajah manisnya.


Lalu, Mereka semua duduk di kursi masing masing dan mulai menyantap makanan mereka.


“Selamat makan.” Setelah mengucapkannya secara serempak, Levin mulai menggila dengan mengambil daging yang paling besar.


“Hehehe, kak Levin benar benar kelaparan ya?” Filia tertawa ketika Levin menghabiskan makananya dengan rakus.


“Ya, maganan ibi sabgat ebak.” Perkataan Levin tidak jelas karena makanan yang masih menumpuk di mulutnya.


“Telanlah dulu makananmu!” Tricia mengomelinya dengan tatapan kesal.


Alice dan Filia hanya bisa tertawa ketika melihat kekonyolan Levin.  Sementara itu Azka berusaha mengabaikannya.


Kemudian, Azka mulai menatap Filia dengan keraguan. “Filia, apa kau akan kembali mencuri setelah ini?”


Pertanyaan dari Azka mampu membuat suasana di meja makan menjadi hening. Bahkan tatapan Filia mulai terlihat murung.


“Be-begitulah ….” Filia menurunkan wajahnya.


Azka dan Tricia yang melihat itu hanya bisa terdiam dan saling berpandangan. Sedangkan Alice berusaha tersenyum untuk mengembalikan suasana.


Azka kembali menatap Filia dan mulai bertanya. “Kalau boleh tau berapa yang sudah terkumpul?”


“Masih sekitar 3 juta ….” Tatapan Filia seakan mulai mengeluarkan air mata tapi ia berusaha menahannya.


Azka menghela nafas berat karena terkejut dengan jawaban FIlia. Mengumpulkan uang sebanyak 3 juta saja sudah sangat sulit apalagi ia hanyalah seorang gadis kecil. Bahkan rasanya mustahil jika Filia berhasil mengumpulkan sebanyak itu hanya dari mencuri.


Setelah terdiam sejenak, Azka kembali melontarkan pertanyaan. “Lalu, tinggal berapa hari lagi?”


Filia masih menurunkan wajahnya, “Tinggal 6 hari.”


Mendengar itu, Tricia langsung menghentikan makannya dan menatap Azka dengan tatapan cemas.


Azka paham dan mengartikan tatapan Tricia seakan berkata ‘Bagaimana caranya mengumpulkan 7 juta dalam waktu 6 hari?’. Tapi Azka berusaha tenang dan kembali menatap Filia.


“Apa kau keberatan jika aku membantumu?”


“Eh?” Filia yang terkejut langsung menoleh ke Azka. “Apa yang kakak bicarakan?”


“Tentu saja membantumu mengumpulkan uang.”


“Ta-tapi, aku sudah merepotkan kakak sejauh ini.” FIlia mulai gugup sambil memegangi roknya yang berwarna biru.


Melihat tingkah FIlia, Azka memalingkan pandangannya dengan tatapan dingin.


“Apa kau lupa apa yang terjadi di kota Hayate kemarin?”


Filia terdiam dengan bahu yang mulai bergetar. Saat Azka mengatakan itu, Filia teringat saat kerumunan Buster hampir menangkapnya kemarin.


Azka menghela nafas berat dan melanjutkan, “Tapi kau sudah berjuang dengan sangat baik. Jadi, biarkan aku membantumu.”


Seketika Filia tak bisa mengeluarkan kata kata saat menatap Azka. Dari tatapannya, Filia seakan tak menyangka kalau Azka memiliki sisi yang lembut.


“Te-terima kasih, kak.” Filia mengatakan itu dengan pelan dan air mata yang mulai berkumpul.


Sementara itu, Tricia mulai tersenyum lembut ke arah Filia seakan menyemangatinya. Sedangkan Alice sejak tadi hanya memandangi Azka dengan tatapan lembut. Alice sempat tak menyangka kalau Azka yang memiliki sorot mata dingin bisa berkata seperti itu.


Suasana yang sempat hening itu mulai terpecah saat suara kunyahan Levin terdengar. Tanpa di sadari, Levin semakin menggila hingga mengambil makanan di piring Azka.


Tanpa berkata apa apa, Azka mulai melanjutkan makannya dan terkejut ketika melihat piring kosong di hadapanya.


“Levin brengsek, kenapa kau mengambil makananku?!”


“Aku kira kau tidak akan memakannya.” Levin mengatakan itu dengan polos sambil mengunyah makanan dari Azka.


Suara tertawa pun keluar satu persatu hingga meramaikan suasana di meja makan. Dengan suasana seperti itu, mereka semua kembali menikmati makanannya dengan gelak tawa.


To be Continued…