
Malam di kota Hayate terasa begitu dingin sekaligus tegang. Malam itu adalah malam bulan purnama.
Azka, mengarahkan salah satu belatinya dengan tujuan menghentikan langkah kaki Parviz yang terus mendekat.
Tak jauh dari belakang Azka berdiri, Tricia sedang memeluk Filia yang begitu ketakutan. Bahu Filia masih bergetar, tatapan matanya juga ikut bergetar tiap kali menatap Parviz.
Setelah melangkahkan kakinya, Parviz berhenti beberapa senti di hadapan Azka. Kedua mata hitamnya terlihat sangat tenang saat menatap sepasang mata hijau milik Azka.
“Kau punya mata yang bagus,” kata Parviz. “Jujur saja, baru kali ini ada Buster yang menghalangiku hanya untuk menolong gadis kecil.”
“Itu karena kau sudah membohonginya.”
“Lalu kenapa? Kita berdua adalah Buster, itu adalah hal yang wajar untuk orang seperti kita.”
Tanpa berkata apapun, sebuah percikan terlihat setelah kedua bilah pedang dari Azka dan Parviz saling berbenturan. Azka sudah menebasnya dengan kuat, tapi kekuatan Parviz jauh lebih besar saat menahan serangannya.
Parviz mendorong pedang panjangnya hingga membuat Azka terseret kebelakang beberapa senti.
Sekali lagi, Parviz mengayunkan pedangnya secara lurus tepat mengarah ke wajah Azka.
Trang!
Sampai menggunakan kedua belatinya, Azka sedikit kesulitan menahan ayunan pedang dari Parviz.
“Kuperingatkan sekali lagi, enyahlah dari hadapanku.” Parviz memasang tatapan tajam sambil memberikan tekanan pada pedangnya.
Azka mendorong pedang Parviz dengan kuat dan langsung mengeluarkan beberapa tebasan hitam. Tapi, Parviz menangkis semua tebasan itu dengan ekspresi tenang seakan bukan sesuatu yang sulit baginya.
Dari percikan ledakan dan asap ledakan itu, tiba-tiba sebuah anak panah bercahaya hijau muda melesat menuju Parviz dan—tembakan terhenti setelah rambut hitam yang begitu panjang menangkis anak panah itu.
Terlihat di belakang Parviz, Chyntia sudah memanjangkan rambutnya seperti menari di udara.
“Rambutnya memanjang?!” Azka cukup terkejut dengan rambut hitam milik wanita itu.
Dengan raut wajah kemarahan, Chyntia memanjangkan rambutnya menjadi tajam ke arah Azka. Serangan itu meleset karena Azka berhasil menghindar, tapi rambut hitam itu bergerak sangat cepat dan Azka langsung memotong rambut itu sebelum melukainya.
“Kurang ajar!” Amarah Chyntia seperti meluap-luap dengan rambut hitamnya yang terus memanjang menjadi beberapa titik serangan.
Azka sedikit kerepotan dengan rambut-rambut itu, serangan itu mirip seperti rambut penghancur yang sanggup menghancurkan sesuatu yang mengenainya. Bahkan efek dari serangan itu membuat beberapa retakan di tanah.
“Kenapa wanita itu tiba-tiba menyerangku?!” Lalu, Azka mengeluarkan beberapa tebasan hitam untuk memotong tiap bagian rambut itu. Seakan sia-sia, rambut itu terus tumbuh dan menjadi mengeras seperti sebelumnya.
“Tenangkan dirimu, Chyntia.” Parviz mencoba menenangkan Chyntia dengan ekspresi tenangnya.
“Tapi … tapi orang itu yang sudah membunuh Kazel! Aku … aku akan membunuh orang itu!”
“Kazel?” tanya Azka pelan. “Apa jangan-jangan pria pengguna rantai itu?”
“Kau yang sudah membunuhnya kan?! Aku tak akan pernah memaafkanmu!” Tanpa menunggu penjelasan Azka, Chyntia langsung memanjang rambutnya menjadi tajam mengarah ke Azka.
Azka menghindar dengan melompati serangan itu. Tapi kenapa wanita itu melampiaskan kemarahan padanya? Apa dia salah paham tentang apa yang sebenarnya terjadi?
“Apa mungkin pengguna rantai itu?” Tricia yang juga mendengar kekesalan Chyntia ikut bertanya dengan pelan.
Memang sebelumnya, Tricia dan Filia sempat melihat mayat Kazel yang tertusuk dengan rantainya sendiri di dekat alun-alun kota Hayate. Tricia menduga kalau Kazel mati dengan cara bunuh diri, tapi dia tidak tahu kalau Azka dan Levin yang membunuhnya.
“Sudah kubilang tenangkan dirimu, Chyntia!” bentak Parviz yang akhirnya menghentikan amarah Chyntia.
Sambil mengatur nafasnya, Chyntia memendekkan kembali rambutnya seperti semula.
“Aku tidak akan pernah tenang sebelum membalaskan dendam Kazel.”
“Kau bisa mengamuk sepuasnya setelah Monster kecil itu ada di tanganku.”
“Sudah kubilang,” sela Azka. “Jangan menyentuh anak itu.” Kemudian, Azka berjalan hingga hingga berhenti di hadapan Chyntia dan Parviz.
“Sampai kapan kau mau menghalangiku?” tanya Parviz dengan tatapan tajam.
“Sampai kau mengurungkan niatmu.”
“Begitu ya.” Lalu, Parviz mengayunkan pedang panjangnya ke Azka dengan cepat dan membuat kedua bilah pedang berbenturan.
Tebasan Parviz yang begitu kuat membuat Azka terpojok. Dia lalu mengayunkan kembali pedangnya dan membuat tebasan merah yang cukup besar.
Ledakan dari tebasan itu terdengar cukup keras saat menghancurkan beberapa rumah. Azka berhasil menghindarinya, namun dia tidak menyangka kalau tebasan milik Parviz sedahsyat itu.
“Sebelum aku menghabisimu, aku ingin bertanya satu hal.” Tatapan Parviz sekarang mengarah ke Filia yang sejak tadi terdiam ketakutan.
“Kudengar, kau di asuh oleh seorang nenek tua. Aku ingin memastikan sesuatu, apa nenek yang mengasuhmu itu bernama Alice?” tanya Parviz dengan senyum mencurigakan.
Seketika Filia mengernyit mendengar pertanyaan Parviz.
“Kau … tahu nama Mama?” Di selimuti rasa syok, tatapan Filia tampak kosong.
“Sudah kuduga ….”
“Apa yang mau kau lakukan?!”
“Sebenarnya aku berniat untuk menangkapmu di sana dan menemui nenek itu. Tapi aku tidak menyangka kalau kau sendiri yang datang kemari.”
“Kau … mengenalnya?”
“Entahlah, bisa saja aku salah orang. Oleh karena itu, aku ingin memastikannya.”
Chyntia yang berdiri di samping Parviz sedikit kebingungan oleh perkataannya. Dia sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya di rencanakan Parviz. Meskipun begitu, dia hanya ingin fokus untuk membalaskan kematian Kazel ke Azka.
Sambil tersenyum kecil, Parviz melanjutkan kata-katanya, “Mungkin setelah menyelesaikan urusanku di sini, aku ingin mengunjungi panti asuhanmu.”
Selesai mengatakan itu— suara percikan antara belati hitam dan pedang perak panjang terdengar cukup nyaring. Dengan mata hijau gelapnya yang begitu tajam, Azka sudah berdiri tepat di hadapan Parviz setelah berusaha menebasnya.
“Aku tidak akan membiarkanmu sialan!” Azka dengan suara geramnya, membuat Tricia, Filia dan Chyntia cukup terkejut.
Berbeda dengan mereka bertiga, respon Parviz sangatlah santai saat menatap Azka yang berdiri tepat di depannya.
“Sudah kubilang, enyahlah dari hadapanku.” Parviz mengayunkan pedangnya dan membuat Azka sedikit terdorong mundur.
Melihat raut wajah Parviz setelah berbicara tentang nenek Alice, Azka mempunyai firasat buruk. Azka menoleh ke belakang melihat Tricia dan Filia dengan maksud sesuatu.
Tricia dan Filia tak mengerti dengan maksud Azka, tapi Tricia menduga kalau Azka berusaha mengatakan untuk menyuruhnya melarikan diri bersama Filia.
“Apa kau yakin?” Tricia bertanya ke Azka dengan pelan.
“Cepatlah! Lindungi Filia dan pergi dari sini!” Sambil berteriak, Azka kembai menatap Parviz dengan tajam.
“Apa yang kau katakan Azka-san?!” Filia cukup terkejut dengan Azka yang berteriak tiba-tiba.
“Oh, kau mau mengorbankan dirimu dan membiarkan mereka kabur? Kau cukup percaya diri rupanya.” Parviz terus tersenyum kecil seakan merendahkan kekuatan Azka.
“Takkan kubiarkan mereka kabur!” Chyntia dengan cepat memanjangkan rambutnya ke arah Tricia dan Filia. Tapi serangannya gagal setelah Azka menebas rambut itu.
Lalu Azka mengeluarkan beberapa tebasan hitam mengarah Chyntia dan setelah itu, dia langsung bergerak ke hadapan Parviz untuk menebasnya. Namun, serangan Azka berhasil di hentikan oleh Parviz menggunakan pedangnya.
Tetapi, Azka berusaha menahan Parviz agar dia tidak menganggu Tricia dan Filia kabur.
“Cepatlah Tricia!” teriak Azka.
Azka khawatir kalau dia tidak bisa menahan posisinya saat ini, tapi yang membuatnya semakin kesulitan adalah Tricia dan Filia yang belum melarikan diri.
Raut wajah mereka berdua seperti di telan oleh keraguan, terutama Tricia. Dia kebingungan dengan pilihan antara membantu Azka bertarung atau kabur bersama Filia.
“Apa yang kau lakukan Tricia?!” Azka semakin terpojok menahan pedang dari Parviz. Bahkan dia sampai terdorong mundur oleh tekanan pedang Parviz yang begitu kuat.
Berusaha mengabaikan pemandangan itu, Tricia akhirnya menyerah dan terpaksa mengikuti ucapan Azka. Filia yang masih kebingungan di tarik oleh Tricia dan kabur dari tempat itu.
“Chyntia!” teriak Parviz.
“Aku mengerti!” Sesuai dengan perintah Parviz, Chyntia memanjangkan kembali rambutnya mengejar mereka berdua yang sudah berlari meninggalkan gerbang kota.
Tricia dan Filia mulai panik dengan rambut yang mengejar mereka, tapi rambut panjang itu berhasil terpotong. Ternyata, Azka masih sanggup mengeluarkan sebuah tebasan hitam dari belati kirinya sambil menahan serangan pedang Parviz menggunakan belati kanannya.
“Kurang ajar!” Parviz mulai kesal, kemudian dia mendorong pedangnya semakin kuat dan membuat Azka melompat ke belakang.
Melihat Tricia dan Filia yang semakin menjauh, Parviz dengan cepat mengayunkan pedangnya dari atas ke bawah menciptakan sebuah tebasan merah seperti sebuah taring yang membelah tanah di daratan.
“Crimson Wolf Fang!”
Kedua mata Azka sempat membesar melihat serangan itu sebelum dia berlari dengan cepat dan menghentikan tebasan itu hanya menggunakan kedua belatinya. Kekuatan tebasan itu begitu besar sampai Azka terdorong ke belakang menahan tebasan merah tersebut.
Sambil berlari menarik Filia, Tricia sedikit panik sekaligus terkejut melihat Azka yang kesulitan menahan tebasan itu.
“Bawa Filia dan larilah bersama nenek … Tricia.” Azka mendesah pelan saat menoleh ke Tricia dengan tatapan lembut seakan di paksakan.
Azka sudah di ambang batasnya menahan tebasan itu, dan akhirnya— sebuah ledakan terdengar sangat keras. Itu semua terjadi setelah Azka gagal menangkis tebasan merah Parviz.
“Aku mengerti ….” Tricia memalingkan pandangannya dan terus berlari menarik Filia. Emosinya campur aduk dengan raut wajah tampak gelisah. Tapi dia harus terus berlari agar usaha Azka tidak sia-sia.
Sementara tangannya di tarik oleh Tricia, Filia hanya bisa diam dengan tatapan kosong melihat Azka terkena tebasan merah itu.
“Azka-san ….”
“Dia pasti baik-baik saja … aku yakin itu.” Tricia berusaha menenangkan Filia, tapi raut wajahnya berkata sebaliknya.
***
Gumpalan asap dari tempat Azka terkena tebasan itu menjadi pemandangan Parviz dan Chyntia saat ini. Filia dan Tricia sudah menghilang dari pandangan mereka berdua tepat setelah tebasan itu berhasil membunuh Azka.
Melihat semua itu, Parviz semakin geram sambil menggenggam gagang pedangnya yang berwarna merah dengan kuat.
“Benar-benar bodoh, dia sampai mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan monster kecil itu.” Parviz sangat yakin kalau tebasan miliknya sudah membuat Azka terbunuh.
“Mereka pasti belum jauh, kita masih bisa mengejarnya,” tutur Chyntia.
“Aku masih tidak mengerti apa yang mereka pikirkan. Ayo, kita pergi.”
Kemudian, Parviz dan Chyntia mulai bergerak mengejar mereka, tapi belum jauh dari tempat itu langkah mereka terhenti.
Gumpalan asap yang mulai menghilang memperlihatkan sosok yang membuat Parviz cukup terkejut.
Dengan beberapa luka di sekitar tubuhnya dan kemeja hitam panjang yang sudah sobek, Azka berdiri di hadapan mereka dengan darah yang menutupi sebagian dahinya.
Lalu, dia merentangkan salah satu belatinya ke samping seakan melarang mereka melangkah lebih jauh.
“Jangan harap kalian bisa pergi dari sini, brengsek.” Azka memasang tatapan yang lebih tajam dari biasanya.
To be Continued…