
Di saat orang misterius itu berjalan tiba tiba langkahnya terhenti saat Azka menahan pundaknya. Jubah yang menutupi wajahnya terbuka, dia adalah Fidel salah satu anak buah terkuat Clint Buster yang telah dikalahkan Azka.
“Kau masih disini rupanya.” Ucap Azka dengan datar sambil menahan pundak dari Fidel.
“Ahh! kenapa kau bisa disini?!” Fidel menjerit ketakutan melihat Azka tiba tiba berada dibelakangnya.
“Harusnya itu yang aku tanyakan padamu.”
“Le-lepaskan aku!” Fidel mengeluarkan cambuknya untuk melarikan diri dari genggaman Azka.
Karena panik Azka terpaksa melepaskan tangannya dari pundak Fidel. Azka lalu terdiam sambil menatap Fidel yang telah kabur.
Kerumunan warga yang mendengar keributan itu lalu berbalik menatap Azka. Mereka tampak kebingungan karena melihat seseorang yang mencurigakan melarikan diri.
“Apa yang terjadi?!”
Warga masih kebingungan dan saling menatap. Tiba tiba seorang pria dari desa Corael yang terengah engah mendatangi Azka dan kerumunan warga.
“Kenapa kalian diam saja! Cepat kejar orang itu!” Seru orang itu sambil mengatur nafasnya.
“Apa yang kau katakan?” Tanya salah satu warga kebingungan.
“Dia salah satu anak buah Clint! Dan dia juga mencuri beberapa makananku!”
“Apa? Anak buah Clint?!”
Kerumunan warga kaget saat mengetahui masih ada anggota Clint di desa Corael. Mereka sebelumnya telah mencari sisa sisa anak buah Clint untuk diberi pelajaran karena telah menghancurkan desa.
Tapi, mereka tidak berhasil karena seluruh anggota Clint Buster sudah melarikan diri sebelum ditemukan oleh mereka.
“Ayo kita beri pelajaran ke dia!”
“Ya!”
Kerumunan warga itu langsung berlari mengejar Fidel. Mereka tampak berapi api karena tidak sempat melampiaskan kemarahan mereka.
Azka yang sejak tadi bersama mereka hanya bisa diam sambil memandangi gerombolan warga yang telah pergi.
“Apa yang sebenarnya orang orang itu lakukan?” Azka sedikit kebingungan dengan tingkah gerombolan warga.
***
Fidel masih saja kabur dengan panik karena Azka telah mengetahui identitasnya. Saat menoleh kebelakang Fidel semakin panik ketika melihat gerombolan warga sedang mengejarnya.
“Sial! Kenapa mereka mengejarku?!” Fidel menjerit ketakutan sambil mempercepat larinya.
Kerumunan warga memasang wajah kemarahan sambil meneriaki Fidel untuk berhenti. Tapi, Fidel yang takut dipukuli sama sekali tidak perduli dengan teriakan mereka.
“Gawat! Padahal aku hanya berniat mencari bos Clint. Tapi kenapa malah begini?!” Gumam Fidel sambil berlari dengan panik.
Fidel masih berada di desa Corael karena ia tidak dibawa kabur oleh teman temannya. Ia tertimbun reruntuhan saat dikalahkan oleh Azka dipertarungan sebelumnya.
Setelah terbangun dan menyadari keadaan desa Corael sudah tenang, Fidel berniat untuk mencari keberadaan Clint dan orang orang lainnya. Tapi saat terus mencari dengan menyamar memakai jubah, Fidel baru sadar kalau dia lah yang tertinggal.
Dari kejauhan terlihat Levin, Tricia dan Vina sedang berjalan karena ingin mencari Azka yang sejak tadi tidak kembali ketempat mereka duduk.
Fidel yang terus berlari melihat mereka bertiga dari kejauhan.
“Oi awas! Jangan menghalangiku!” Teriak Fidel dengan wajah panik ketika mereka bertiga menutupi jalan kaburnya.
Levin dan yang lain pun menoleh ke arah Fidel dengan wajah bingung.
“Oi, Ada apa ini?!” Tanya Levin saat melihat kerumunan warga yang penuh kemarahan mengejar Fidel.
“Dia kan?” Gumam Tricia karena mengenali wajah Fidel.
Sebelumnya Fidel berniat untuk menyerang Tricia karena membawa Levin yang sedang terluka. Tapi untungnya Azka berhasil menghentikan serangannya.
“Oi, Minggir kalian!” Teriak Fidel.
Sambil berlari, Fidel mengeluarkan cambuknya untuk menyerang mereka bertiga.
“Minggir katamu?” Tricia menembakkan panahnya dan berhasil melukai tangan Fidel.
“Tanganku!” Fidel menjerit kesakitan saat tangannya berdarah.
Meski kesakitan, Fidel terus berlari sambil mengecek keadaan tangannya dan secara tidak sadar Fidel menabrak Levin hingga keduanya terjatuh.
Kerumunan warga yang sejak tadi mengejarnya lalu berhenti ketika melihat Fidel jatuh terkapar bersama Levin.
“Sialan! Sudah kubilang jangan berdiri disitu dasar bodoh!” Fidel berusaha bangun sambil memegang kepalanya kesakitan.
“Apa yang kau lakukan disini?!” Tricia bersiap mengarahkan panahnya pada Fidel.
Fidel langsung ketakutan saat melihat Tricia dan juga warga yang siap menghajarnya. Tidak lama kemudian Levin juga terbangun setelah tertabrak oleh Fidel.
“Siapa yang tadi menabrakku sialan?!” Levin mengeluh dengan wajah kesal.
Lalu, Levin dan Fidel saling berpandangan dengan bingung.
“Siapa kau?” Tanya Levin dengan polos.
“Ka-kau berandalan itu?!” Seru Fidel dengan wajah panik.
“Siapa yang kau sebut berandalan, dasar pria dengan baju aneh!” Levin menjawab dengan raut wajah kesal.
“Dia ….” Vina terdiam sejak tadi melihat Fidel.
“Kau gadis kecil waktu itu!” Fidel teringat dengan Vina yang mati matian melindungi kedai hingga menggigit kakinya.
“Kau orang yang menghancurkan kedai kakek!” Teriak Vina dengan wajah kemarahan.
“Lagi lagi soal kedai?!” Fidel kebingungan kenapa saat bertemu Azka dan Vina mereka selalu membahas kedai tua yang sudah ia hancurkan. Fidel sama sekali tak mengerti kenapa mereka begitu kesal saat kedai tua itu dihancurkan.
“Aku akan membalas perbuatanmu!” Teriak Vina dengan wajah kemarahan.
“Vina hentikan ….” Ucap Tricia sambil menahan Vina yang ingin memukul Fidel.
Fidel lalu berdiri dengan wajah bingung dan bersiap melarikan diri.
“Oi, mau kemana kau?!”
“Tentu saja melarikan diri. Aku sudah tidak punya urusan denganmu.”
“Jadi kau yang menghancurkan kedainya Vina?!”
“Hm?” Fidel terdiam melihat Levin yang begitu kesal.
“Kurang ajar! Rasakan ini!” Levin mulai mengarahkan pukulan.
“Tu-tunggu!” Teriak Fidel dengan panik.
Sfx: Blar!
Belum selesai berbicara, Levin langsung menghajarnya tepat diperut Fidel hingga terlempar menabrak beberapa rumah warga yang masih dibangun. Fidel terlempar cukup jauh sampai tak terlihat lagi oleh orang orang ditempat itu.
Azka yang baru saja datang berusaha untuk mencerna apa yang sebenarnya terjadi.
“Aku mendengar suara reruntuhan. Apa itu?” Tanya Azka sambil mendekati mereka bertiga.
“Agak susah dijelaskan sih.” Jawab Tricia bimbang.
“Wah cukup jauh juga hahaha!” Levin tertawa dengan santai sambil melihat Fidel yang terlempar jauh.
“Levin sialan kau!” Serentak kerumunan warga meneriaki Levin dengan kesal.
“Tenang, aku sudah membereskan orang itu untuk kalian.” Levin menjelaskan dengan santai.
“Kurang ajar kau! Berani beraninya kau merusak rumah kami yang masih dibangun!”
“Eh?!” Levin terkejut saat melihat amarah warga.
Terlihat bangunan bangunan rumah yang masih belum jadi kembali hancur saat Levin memukul Fidel hingga terlempar menabrak bangunan itu.
“Sialan kau! Cepat tanggung jawab bocah sialan!” Teriak kerumunan warga dengan kesal.
“Hehehe, maaf.” Levin tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya.
***
Hari semakin malam di desa Corael saat warga telah selesai mengadakan perayaan.
Tricia dan Vina telah tertidur nyenyak di dalam tenda yang dibangun oleh warga setempat. Azka yang belum tidur terlihat sedang berbaring diluar tenda dengan suasana hening.
Tidak lama Levin datang dengan penampilan berantakan karena selesai memperbaiki rumah yang tak sengaja dirusak.
“Kau belum tidur?” Tanya Levin.
“Aku sudah tertidur cukup lama.” Jawab Azka tanpa menoleh ke Levin.
“Begitu ya.”
“Jadi kau sekarang menjadi kuli ya?” Azka menatap Levin dengan nada mengejek.
“Sialan padahal aku tidak sengaja!” Seru Levin karena merasa yakin dirinya tak bersalah.
“Oh iya, tentang permintaan itu—”
“Tak perlu dipikirkan.” Levin memotong perkataan Azka.
“Hm?” Azka memasang wajah kebingungan.
“Aku tidak akan memaksamu lagi untuk mengajakku. Setelah membantu mereka aku mulai berpikir kalau disinilah tempatku.”
Azka terdiam dengan penjelasan Levin.
“Sejak kecil aku tinggal desa ini dan jika di pikir pikir akan berat rasanya kalau aku harus pergi dari sini.” Levin lalu terdiam menatap ke langit malam yang dipenuhi bintang.
“Begitu ya? Syukurlah.” Azka seakan tidak peduli dengan penjelasan Levin.
“Sepertinya aku harus melindungi desa ini lebih lama lagi hahaha!” Levin tertawa dengan santai ketika mengingat perlakuan penduduk Corael yang selalu memarahinya.
Azka terdiam dengan wajah datar.
“Tapi, suatu saat nanti aku pasti akan mewujudkan impianku dan kita pasti akan bertemu lagi!” Seru Levin dengan tatapan yakin.
“Jika hari itu tiba mungkin aku akan pura pura tidak mengenalmu.” Azka menoleh keatas menatap bintang bintang dilangit.
“Eh?!” Levin memasang wajah polos.
Entah kenapa Azka merasa sedikit senang saat bertemu dengan Levin. Dibalik sifat polosnya dan pembuat masalah, Levin mempunyai tekad yang kuat. Apalagi Azka tau kalau sebenarnya penduduk desa sangat peduli dengan Levin.
To be Continued…