Black Buster

Black Buster
Chapter 22 "Fidel"



“Buster katamu?!” Clint memasang tatapan tajam.


Azka hanya terdiam sambil mengeluarkan kedua Daggernya untuk bertarung.


“Jadi kau yang bernama Clint itu?”


“Jika itu benar apa maumu?!”


“Kita lihat saja nanti.”


“Konyol sekali.” Clint tersenyum kecil.


Azka lalu menoleh kearah Tricia yang sedang membawa Levin.


“Tricia, apa kau bisa membawanya ketempat aman?”


“Baiklah ….” Tricia berjalan pergi sambil membawa Levin.


“Tunggu dulu, nona!” Tiba tiba terdengar suara pria dari dalam tenda.


Langkah Tricia terhenti, ia lalu menatap pria itu dengan kebingungan. Dia memiliki tampilan yang sangat aneh dengan pakaian


panjang warna merah.


Clint lalu menoleh orang itu dengan senyuman kecil.


“Kau sudah bangun ya, Fidel?”


“Aku tidak menyangka kalau tenda kita sudah hancur. Apa yang sebenarnya terjadi, bos Clint?”


Fidel menatap kearah Azka dan Tricia dengan tatapan aneh. Dia memiliki rambut berwarna merah panjang dengan sebuah cambuk yang tergantung dipakaiannya.


“Seperti yang kau lihat, kita kedatangan tamu yang tak diundang.”


“Lalu kenapa nona yang disana sedang terburu buru membawa berandalan tengik itu?” Fidel menatapnya dengan tatapan aneh.


Tricia merasa jijik dengan tatapannya.


“Pergilah Tricia. Setidaknya bawa si bodoh itu ketempat aman.”


“Baik!” Tricia pun berlari sambil membawa Levin.


“Tidak akan kubiarkan!”


Fidel melompat sambil mengeluarkan cambuknya. Tiba tiba cambuk darinya mengeluarkan api dan menyerang kearah Tricia.


“Fire Whip!”


Dengan cepat, Azka menebas cambuk itu hingga terputus.


“Terima kasih, Azka!” Tricia berlari dengan panik.


Ia dan Levin akhirnya berhasil melarikan diri dari mereka.


“Cih, berani juga kau menghalangi seranganku?”


“Maaf saja jika aku merusak mainanmu.”


“Mainan katamu?!” Fidel memasang tatapan menakutkan.


“Bos, apa aku boleh membunuh anak ini?!”


“Lakukan sesukamu.” Clint memasang senyuman kecil.


Beberapa anak buah Clint yang tadi melarikan diri telah kembali ketenda mereka. Mereka memasang wajah kebingungan saat melihat Fidel. Dia adalah salah satu anak buah kepercayaan Clint, ia bergabung dengan Clint Buster saat Clint baru membentuk Buster. Dan salah satu alasannya juga karena ia sangat kuat.


Fidel lalu memegang cambuknya yang sudah terpotong. Ia membuang cambuk itu dan mengeluarkan cambuk lainnya dari salah satu jarinya.


“Jarinya mengeluarkan sebuah cambuk?!” Azka terkejut ketika melihat cambuk itu muncul dari tangan Fidel.


Link yang dimiliki oleh Fidel adalah Whip Link. Ia dapat membuat sebuah cambuk dari seluruh anggota tubuhnya dan menjadikannya sebagai senjata utama. Salah satu teknik yang dikeluarkan saat menyerang Tricia juga merupakan salah satu dari kekuatan cambuknya.


“Nama Linkku adalah Link cambuk!. Dengan kekuatanku, aku dapat menciptakan cambuk dari dalam tubuhku!” Ucap Fidel sambil menyombongkan diri.


Azka hanya menatapnya dengan datar. Saat masih bergabung menjadi Lancer ia sangat jarang bertemu dengan Buster yang memiliki kekuatan Link. Kekuatan Link sendiri sampai sekarang masih sangat misterius.


Tidak semua orang bisa terlahir dengan kekuatan itu. Dan setiap kekuatan Link hanya bisa dimiliki oleh satu orang saja. Dengan kata lain, seseorang bisa terlahir dengan kekuatan Link jika pemilik Link sebelumnya telah meninggal.


“Akan kutunjukkan rasa sakit cambuk ini padamu!”


Cambuk yang dipegang Fidel tiba tiba memanjang ke arah Azka. Tapi dengan mudah Azka berhasil menghindar dari serangan cambuknya.


Gerakan cambuk dari Fidel terus menyerangnya secara cepat.


“Black Slash!”


Tebasan hitam itu kembali memotong cambuknya. Tapi, cambuk yang sudah terpotong itu kembali memanjang dan bergerak semakin cepat kearahnya.


Tebasan dari Azka seakan tak berpengaruh terhadap cambuk dari orang itu.


Mau ditebas bagaimanapun, cambuk dari


orang itu pasti akan tumbuh lagi, batin Azka sambil terus menghindar.


“Sampai kapan kau akan terus menghindar dasar bodoh!” Fidel terus mengayunkan cambuknya dengan cepat.


“Twin Slash!” Azka terus menebas cambuk Fidel.


Tapi semua itu sia sia, cambuk yang sudah terpotong itu kembali memanjang.


“Hahahahaha! Kalau begitu bagaimana dengan yang ini?! Double Whip!”


Cambuk dari Fidel tiba tiba bertambah menjadi dua. Kedua cambuk it uterus membuatnya semakin kerepotan.


“Kau tidak akan bisa lolos!”


Salah satu cambuk dari Fidel berhasil mengenai tubuhnya.


Azka kesakitan terkena cambukan dari orang itu. Tanpa ia sadari cambuk itu telah mengikat tangannya dengan kuat.


“Sial!”


Fidel mengeluarkan senyuman kecil, “Jangan pernah meremehkan kekuatanku bocah brengsek!”


Dia lalu mengangkat Azka yang dalam keadaan terikat. Kemudian dia memutar cambuk itu dengan cepat seperti seorang koboi.


Ia lalu melepas cambuk dari tangan Azka dan melemparnya dengan sangat kuat. Azka lalu terlempar dengan jauh sambil menabrak beberapa bangunan hingga hancur.


Seluruh anak buah Clint memasang wajah ketakutan ketika Fidel berhasil melempar Azka hingga menghancurkan beberapa bangunan.


“Mengerikan ….”


“Senior Fidel benar benar mengerikan ….”


“Pasti dia sudah mati.” Fidel lalu berjalan sambil meletakan cambuknya dipinggang.


Clint yang menyaksikan pertarungan itu hanya bisa menatap Fidel dengan tatapan datar.


“Kau harusnya bisa membunuhnya lebih cepat, Fidel.”


“Maaf bos kalau itu sedikit membuang waktumu.”


“Tak apa, yang penting satu orang penganggu telah terbunuh.”


“Tentu saja, Bos Clint.” Fidel tersenyum seakan menyombongkan diri.


“Jika mengingat berandalan itu masih lolos rasanya aku ingin sekali minum anggur dengan banyak! Ngomong ngomong kemana orang bodoh itu?! padahal aku sudah menyuruhnya untuk mengambilkan minumanku!”


Sebelumnya Clint telah menyuruh salah satu anak buahnya untuk mengambil wine saat pertarungan melawan Levin.


“Ma-maaf bos, kita sudah kehabisan minuman.”


“Apa?! kenapa bisa sampai kehabisan?!” Tanya Clint dengan wajah kemarahan.


“I-itu karena bos sendiri yang—”


“Jadi kau mau menyalahkanku?!” Potong Clint.


“Ti-tidak bos.” Orang itu gemetaran.


“Dasar tidak berguna!” Clint memukul tanah dengan wajah kemarahan.


“Tenang saja bos, mungkin kedai yang ada diujung desa masih mempunyai stok minuman.”


“Kedai itu ya?” Clint merujuk ke kedai milik Vina.


Karena Levin sebelumnya melindungi kedai milik Vina, Clint tidak sempat untuk menghancurkan kedai itu. Bahkan Levin sempat menghajarnya dan itulah yang membuat Clint begitu marah.


“Berandalan itu masih lolos kan? Kalau begitu aku saja yang pergi.”


“Hm?”


“Aku akan membawakan anda minuman anggur dan juga … kepala dari bocah itu.”


“Aku mengandalkanmu, Fidel.” Clint memasang tatapan yakin.


Fidel pun pergi menuju kedai milik Vina.


***


Tricia dan Levin yang sedang melarikan diri akhirnya dapat bersembunyi disalah satu rumah. Ia sempat kaget dengan suara reruntuhan yang tidak jauh dari tempat Azka bertarung.


“Aku harap Azka baik baik saja.”


Tricia meletakkan Levin yang masih tidak sadarkan diri. Tapi saat melihatnya baik baik, Tricia merasa bingung dengan keadaan Levin.


Ia seperti mendengar suara dengkuran dari pria berambut pirang itu.


“Apa aku tidak salah dengar?”


Tricia terkejut karena Levin tiba tiba terbangun seakan telah tertidur pulas.


Levin meregangkan tangannya, “Nnggg … oh, Kau gadis berambut hijau muda itu ya? Sedang apa kau disini?” tanya Levin dengan polos.


“Tu-tunggu dulu, kau itu tadi tidak sadarkan diri makanya aku membawamu kesini.”


“Tidak sadarkan diri? Oh iya, aku sempat tertembak ya?”


“Tentu saja! Apa kau tak merasa kesakitan?!”


Levin terdiam menatap Tricia, “Aduh … sakit!” Ia lalu memegang perutnya seakan kesakitan.


“Reflekmu telat!”


“Hahahaha … aku memang sempat tak sadarkan diri, tapi karena aku sangat mengantuk aku malah tertidur.” Levin terbangun sambil menggaruk kepalanya.


“Aku tidak mengerti dengan pikiranmu.” Tricia memegang kepalanya karena pusing dengan tingkah lelaki itu.


“Lalu kemana perginya si pengguna jari peluru itu pergi?!” Levin baru tersadar kalau ia sudah tidak berada di tenda markas Clint.


“Jari peluru? Apa maksudmu?”


“Jari jarinya benar benar membuatku kaget. Dia bisa mengeluarkan sebuah peluru dengan hanya menunjuk. Bahkan ia dapat mengeluarkan meriam dengan telapak tangannya. Tapi itu keren banget!” ucap Levin dengan mata berbinar.


Tricia berpikir kalau meriam yang dimaksud oleh Levin, digunakan oleh Clint untuk menghancurkan desa Corael.


“Oh iya! Ada yang lebih penting sekarang!” Levin kaget seakan mengingat sesuatu.


“Ada apa?!” Tricia ikutan panik.


“Dimana sekarang Vina?”


“Gadis kecil itu ya? Kami meninggalkannya dikedai.”


“Gawat!”


“Kau tak perlu panik. Azka sudah mengalahkan gerombolan Buster yang tadi mengejarmu.”


“Benarkah? Hahahaha hebat juga calon teman Busterku.”


Levin sebelumnya sempat mengajak Azka dan Tricia untuk bergabung menjadi Buster. Meskipun belum memberi jawaban tapi, ia merasa yakin kalau Azka mau bergabung dengannya.


“Dengar baik baik, aku dan Azka sudah menjadi Buster. Jadi untuk apa kita bergabung denganmu?!” Bentak Tricia.


“Yah ….” Levin memasang wajah murung.


Tricia lalu tersenyum karena merasa tidak enak dengan tatapan Levin, “Kau bisa mengajak yang lain kan hehehe. Memangnya kenapa kau ingin menjadi Buster? Bukankah sebelumnya kau itu adalah petarung jalanan?”


“Aku ingin menjadi Buster untuk mencapai impianku.”


“Impian?” Tanya Tricia kebingungan.


“Dan impianku adalah … rahasia! Hahahahaha.” Levin tertawa terbahak bahak.


“Aku ingin sekali memukulmu!”


Tricia menahan kesal karena ia sempat merasa bersalah menolak ajakan Levin. Harusnya dia tau kalau anak ini selalu bertingkah konyol. Tricia bahkan bingung kenapa ia sampai menanyakan alasan Levin untuk menjadi Buster.


“Oh iya, kemana perginya temanmu yang memakai dagger hitam itu?” Tanya Levin.


“Azka ….”


Tricia hanya terdiam sambil melihat kearah bangunan yang baru saja hancur.


***


Karena terlempar oleh cambuk Fidel, Azka sampai menabrak beberapa rumah hingga tak sadarkan diri.


Azka membuka mata dan menyadari kalau dirinya telah mendarat direruntuhan rumah. Luka akibat lemparan dan tabrakan beberapa bangunan hanya berpengaruh kecil padanya.


“Aku terlempar cukup jauh ….” Azka mengusap rambut hijau tuanya karena merasa pusing.


Ia lalu terbangun dan memeriksa kondisi sekitar. Tiba tiba datang seorang pria tua dengan tubuh yang cukup pendek.


Pria tua itu begitu khawatir saat melihat Azka terbangun. Ia lalu berjalan pelan mendekatinya.


“Apa … kau tidak apa apa?” Pria tua itu seakan tak percaya kalau Azka masih hidup.


Dia sebelumnya telah melihat kalau Azka terlempar dari kejauhan. Ia sangat heran, seharusnya manusia biasa pasti akan mati jika terlempar seperti itu.


“Ya … siapa kau pak tua?” Azka kebingungan melihat pria tua itu.


“Namaku … Hardy, aku adalah kepala desa Corael.”


To be Continued…


Note Author:


Fire Whip \= Cambuk Api


Black Slash \= Tebasan Hitam


Twin Slash \= Tebasan Kembar


Double Whip \= Dua Cambuk