Black Buster

Black Buster
Chapter 18 "Friends" (Arc 1 - End)



Pagi telah menyingsing di kerajaan Oleander.


Azka yang sejak tadi terbaring karena pertarungan melawan Izami perlahan kembali tersadar. Ia melihat Tricia yang tertidur seakan menunggunya untuk terbangun.


"Ruangan ini ...."


Azka melihat sekeliling ruangan yang sudah tidak asing baginya.


"Azka?" Tricia mengucek matanya yang masih mengantuk.


Azka menoleh kearah Tricia dan mengingat semua kejadian semalam. Ia merasa senang karena Tricia benar benar mengkhawatirkannya.


"Terima kasih, Tricia."


Tricia menghembuskan nafas berat, "Ternyata tatapanmu masih seperti biasanya."


Azka merasa kebingungan dengan perkataan Tricia.


"Ya, tapi tak apalah. Azka yang kukenal memang selalu seperti ini." Tricia memasang senyuman kecil.


Azka lalu memegang lukanya yang telah diperban.


"Kenapa aku bisa berada disini?" Ia kebingungan karena ia sangat mengenali ruangan yang ditempatinya.


"Paman Yasue yang membawamu kesini."


"Eh? Pak tua?"


"Ya."


Azka bertanya tanya kenapa Yasue bisa membawanya dari ruangan di Markas Lancer. Tapi, ia tidak terlalu memperdulikan hal itu.


"Oh iya, ini ... aku membawakanmu makanan." Tricia mengambil makanan dari tas belanjaan dan memberikannya ke Azka.


Azka mengambil sepotong roti berisikan daging itu. Dia hanya terdiam sambil menatapi makananya.


"Ada apa, Azka? Apa kau tak suka?"


"Oh ... bukan itu." Ia memakannya karena berpikiran rasa dari makanan itu begitu hambar seperti biasanya.


Tiba tiba Azka terdiam saat ia mengunyah sepotong roti itu.


"Enak ...," ucap Azka dengan mata membesar.


Azka mengigitnya sekali lagi untuk memastikan rasa makanan itu.


"Enak ya?"


Azka terkejut dengan menghentikan kunyahannya. Bayangan kelam yang selalu mengelilinginya membuat ia tidak bisa merasakan makanan apapun.


Dia mengingat saat Mia memberikannya sepotong roti saat kecil. Rasa makanan itu terasa begitu nikmat seperti yang sekarang ia makan.


"Aku senang kalau kamu akhirnya bisa merasakan makanan itu. Selama ini aku mengetahui kalau kamu tidak bisa menikmati semua makananmu."


Tricia terlihat senang sambil memakan roti miliknya.


Azka hanya diam, indera perasanya sudah kembali sejak ia merasakan masa masa kelamnya. Azka sadar, kalau selama ini ada orang yang sudah percaya padanya.


Ternyata dipercayai oleh seseorang itu bisa membuat hati begitu ringan.


Kematian Mia kali ini tidak lagi sia sia. Kali ini ia bertekad untuk terus bertahan hidup demi melindungi seseorang yang mempercayainya.


Yasue yang sejak tadi melihat mereka berdua dari balik pintu hanya memasang senyuman haru. Ia sangat senang karena akhirnya Azka bisa mempercayai seseorang.


***


Yuga bersama anak buahnya mengangkat Izami yang masih terkurung dari Link akarnya. Mereka semua berjalan menuju kereta perang yang ditarik dua ekor kuda berwarna coklat.


Kereta miliknya memliki 3 ruangan yang berjejer. Bagian pertama adalah bagian untuk mengendalikan kedua Zebra tersebut agar bisa berjalan.


Bagian kedua adalah ruangan utama sekaligus terluas, tempat Yuga bersama keempat anak buahnya dapat bersantai. Dan bagian terakhir adalah penjara dari kurungan besi yang sangat kuat.


Kereta itu juga memiliki sebuah lambang Lancer di masing masing sisinya untuk menandakan kalau kereta ini adalah kereta perang dari pasukan Lancer.


Salah satu anak buah dari Yuga datang sambil menghormat kearahnya, "Permisi Kapten! Anu ... kita mau pergi kemana ya?" Dia kebingungan sambil menggaruk dagunya.


Yuga hanya menghembuskan nafas berat, "Bawa kita ke negara Azalea."


"Kapten? Apa kita tidak kembali ke kerajaan Petrea?"


"Tidak. Aku masih mempunyai urusan ditempat itu."


"Ba-baik Kapten!" mereka lari tergesa gesa untuk menyiapkan perjalanan dengan kereta itu.


Yuga lalu melepas kurugannya dan melempar Izami kedalam penjara.


Gubrak!


"Apa maksudnya ini?!" Izami memegang jeruji besi dengan kesal.


Yuga mengeluarkan sebuah surat dan memberikannya pada Izami.


Izami mengambilnya dan terkejut ketika melihat isi surat itu.


"Tidak mungkin!"


"Kau sudah mengerti kan?"


Izami hanya terdiam dengan wajah yang sangat kesal. Ia kaget karena isi surat itu berisi tentang dikeluarkannya Izami dari pasukan Lancer. Isi surat itu juga menyuruh Yuga untuk menangkap Izami karena pernah melakukan transaksi pasar gelap.


Markas Pusat Lancer sudah mengetahui semua kelakuan buruk Izami yang sering menindas warga sipil. Izami sudah menduga kalau kejadian Azka yang sebenarnya sudah diketahui oleh Yuga.


"Sialan!"


"Tenang saja ... kau masih bisa hidup tenang didalam penjara."


"Brengsek!"


Akar tumbuhan tiba tiba muncul dan mengikat tangan Izami. Yuga lalu masuk kedalam kereta kuda tersebut bersama para anggotanya.


Salah satu anak buah itu mulai menyuruh kedua kuda tersebut untuk menjalankan kereta.


"Ini semua salahmu, Azka!!!"


Teriakan kesal dari Izami mengiringi perjalanan Yuga bersama anak buahnya menuju negara Azalea.


"Suatu saat nanti kita akan bertemu lagi ... Azka. Tentu saja sebagai musuh ...." Yuga melamun kearah jendela dengan tatapan datar.


***


Setelah tersadar, Azka merapikan seluruh barang barangnya dan berniat untuk meninggalkan kerajaan Oleander.


"Jadi kau sudah mau pergi ya, nak?" Yasue masuk kedalam kamar sambil memasang senyuman kecil.


"Ya."


Tricia dan Yasue, mereka berdua seakan menarik dirinya dari jurang kegelapan.


Apalagi dia telah berjanji ke Mia dan dirinya sendiri untuk menemukan tempat yang menjadi impian setiap orang.


Final Valley, tempat yang selalu diceritakan oleh orang orang secara turun temurun.


Keberadaannya masih misterius hingga sekarang. Banyak sekali orang orang sampai mempertaruhkan nyawanya untuk pergi kesana.


Tidak ada yang pernah tau Final Valley itu seperti apa. Ada yang mengincar sebuah senjata sihir terkuat, dan ada juga yang mengincar kekayaan.


Tapi, Azka sama sekali tidak berniat untuk mencari keduanya. Dia mempunyai tujuan lain selain janjinya pada Mia.


"Sepertinya kau tidak akan kembali ke tempat ini."


Yasue menghisap rokoknya pelan sambil melihat Azka yang masih bersiap siap.


"Ruangan ini masih sama seperti dulu, pak tua." Azka melihat seisi kamar itu.


"Benarkah? Aku tidak terlalu memperhatikannya."


Kamar yang ditempati Azka itu sebenarnya adalah kamar yang sama saat Yasue membawanya. Ia masih mengingat saat bertemu dengan Azka saat pertama kalinya.


Walaupun ruangan itu kosong tapi ia sengaja membersihkannya setiap hari. Azka memang menolak tawaran untuk tinggal bersamanya. Tapi, Yasue terus berharap kalau Azka bisa menempati kamar itu dengan nyaman.


"Terima kasih atas semuanya, Paman!" Tricia mendekat kearah Yasue sambil membawa panahnya yang telah diperbaiki.


"Hahahaha, santai saja nak Tricia." Yasue senang sambil menggaruk kepalanya.


"Apa kau sudah siap, Azka?"


"Ya."


"Baiklah aku akan tunggu diluar."


Azka lalu memakai tasnya yang berukuran kecil dan menyusul Tricia.


"Tunggu dulu, nak."


"Ada apa? Bukannya aku sudah membayar perbaikan panahnya?"


Yasue menghembus asap rokoknya, "Apa aku ini seperti orang yang serakah? Aku hanya ingin memberimu ini."


Yasue memberikan sebuah baju panjang berkain hitam.


"Ini?"


"Bajumu sudah sobek bukan? Anggap saja ini hadiah perpisahan dariku. Aku juga sengaja membuatnya mirip dengan yang kau pakai sekarang."


"Pak tua ...."


"Berhati hatilah ...." Yasue memasang senyuman kearahnya.


Selama ini Azka tidak sadar kalau Yasue adalah orang yang selalu memperhatikannya. Bisa dibilang hanya Yasue lah satu satunya orang dari kerajaan Oleander yang tidak membencinya.


Azka mengingat semua kebaikan Yasue padanya saat ia kecil sampai sekarang.


"Terima kasih ... Yasue-san."


Yasue terdiam sambil mengeluarkan air mata. Dia sendiri tidak tau kenapa dirinya menangis ketika Azka memanggilnya dengan nama.


Selama ini Azka selalu memanggilnya dengan sebutan pak tua. Mungkin karena itulah d begitu emosional saat mendengar itu dari mulutnya sendiri.


"Kalau bukan kau yang datang pada saat itu ... mungkin aku tidak akan berada disini."


Kejadian saat Yasue membawanya ke toko masih teringat jelas diingatan Azka.


"Hentikan itu ... bocah sialan! Kau hanya membuat mataku semakin kelilipan!" Yasue tidak bisa menghentikan tangisannya.


"Terima kasih banyak atas semuanya."


"Sudah kubilang hentikan itu." Yasue mendekat dan memeluknya dengan erat.


"Kau sudah tumbuh besar rupanya. Sejauh apapun tujuanmu ingatlah kalau tempat ini akan selalu menjadi rumahmu."


Sebuah rumah untuk pulang bersama dengan orang yang begitu peduli padanya. Azka sangat berterima kasih atas semua kebaikan yang Yasue berikan padanya.


Yasue hanya bisa menangis sambil memeluk Azka dengan erat. Akhirnya saat saat di mana Azka akan pergi telah tiba.


Mungkin Yasue akan merasa kesepian tanpa kehadiran Azka yang selalu mengutang di toko tua miliknya.


***


"Kami pergi dulu, pak tua."


"Cih, entah kenapa aku lebih nyaman disebut seperti itu."


"Sampai jumpa lagi, paman."


"Ya. Jaga dia baik baik nak Tricia. Jika dia melakukan kesalahan kau marahi saja dia."


Yasue melambai kearah mereka berdua yang telah pergi dari tokonya.


"Ada ada saja pak tua itu."


"Walaupun dia sedikit menyeramkan tapi dia selalu memperhatikanmu."


"Ya. Mungkin lebih tepatnya dia lebih mirip penguntit." Azka mengeluarkan senyuman kecil.


"Wah ... akhirnya aku bisa melihatmu tersenyum."


"Kau pasti salah liat."


"Kau bohong, aku melihatnya."


Mereka telah keluar dari kerajaan Oleander. Baju yang telah diberikan oleh Yasue juga sudah dipakai oleh Azka.


Sejauh ini mereka masih baik baik saja. Azka akan mengatasi apapun yang akan mereka hadapi kedepannya. Tentu saja bersama gadis yang menjadi temannya sekarang, Tricia Zinnia.


Petualangan mereka baru saja dimulai. Dengan tujuan sebesar Final Valley mereka harus menjadi lebih kuat.


Dengan ini, Azka Endorphane resmi. menjadi Buster sekaligus mendapat 'teman' pertamanya.


To be Continued ...


Arc 1 Bonds of Dawn Selesai.


Setelah ini akan masuk ke Arc 2 Corael Village.