Black Buster

Black Buster
Chapter 57 "Chain Destruction"



Azka Endorphane dan Filia Lucette, telah sampai di desa Kitara tepatnya di panti asuhan Alice sekaligus tempat Filia tinggal.


Setelah menggendong Filia cukup lama, Azka menurunkan Filia yang sebelumnya terluka akibat berburu Wolfem dan Thornwolf. Sekarang, Filia sudah merasa baikan karena regenerasi lukanya cukup cepat karena efek kekuatan Link tipe Vistia.


Tidak terasa matahari sudah menunjukkan sinar senjanya. Desa Kitara juga sangat sepi tanpa ada penduduk sama sekali seperti biasanya. Azka seperti tidak sadar kalau dia sudah berjalan sejauh dan selama ini.


“Terima kasih, kak Azka.” Filia mengucapkannya dengan sopan.


“Tak perlu di pikirkan.” Azka menjawabnya dengan acuh.


Itu karena Azka sekarang belum melihat tanda-tanda dengan kedatangan Tricia dan Levin. Dia mungkin berpikir kalau mereka berdua sudah datang dan beristirahat di dalam panti asuhan.


Ketika Azka dan Filia berjalan untuk memasuki panti asuhan, Nenek panti asuhan yang bernama Alice keluar dari panti asuhan dengan senyuman ramah.


“Kalian sudah datang ya ….”


“Mama!” Sambil berteriak dengan ceria, Filia berlari ke pelukan Alice.


“Tubuhmu … apa kamu tidak papa nak?” Alice bertanya seperti seorang ibu sambil mengelus rambut Filia dengan lembut. Dia tampak khawatir melihat keadaan Filia yang di penuhi luka-luka ringan.


Mendengar itu, Filia hanya mengangguk dengan senyuman manis. “Ya, aku tidak papa.”


“Begitu ya ….” Alice mengucapkan itu dengan lega.


Azka yang melihat mereka berdua dari kejauhan hanya memasang tatapan datar. Tapi baginya, pemandangan mereka berdua mengingatkannya kembali dengan Mia.


Entah kenapa perasaan seperti itu muncul ketika mengingat dirinya yang berlatih keras hingga membuat Mia khawatir. Meski itu kata-kata yang biasa, bagi Azka itu kenangan yang berharga.


“Filia, sebaiknya kamu masuk kedalam dan bersihkan dulu badanmu.”


Filia mengangguk sambil mengatakan “Un!” lalu masuk ke dalam dengan ekspresi senang. Mau bagaimanapun juga, Filia masih bertingkah layaknya gadis kecil pada umumnya.


Setelah melihat Filia masuk ke dalam panti asuhan, Alice tiba-tiba tersenyum dan berjalan mendekati Azka.


“Terima kasih sudah menjaga Filia, Nak.”


“Tidak, memang sejak awal aku yang bertanggung jawab membawanya.”


“Lalu, bagaimana dengan perkembangan Filia?”


Alice menanyakan tentang pengendalian kekuatan Filia. Dia juga sudah di beritahu tentang tujuan Azka sejak awal membawa Filia berburu Monster Hutan.


“Agak sulit untuk di jelaskan. Tapi ….” Azka sedikit ragu untuk melanjutkan kata-katanya.


Itu karena dia mengingat kalau Filia memang sempat mengeluarkan kekuatan Link yang cukup kuat. Meski begitu, Filia sepertinya tidak sadar menggunakan kekuatan penuhnya.


Dengan pertimbangan itu, Azka melanjutkan kata-katanya.


“Dia sepertinya belum bisa mengendalikannya secara sadar.”


Mendengar itu, Alice menaruh tangannya di dagu. “Begitu ya, memang masih terlalu cepat untuk mengendalikannya sekarang.”


“Ya, itu memang benar.”


Lalu Alice menurunkan tangannya dan kembali tersenyum. “Aku punya pertanyaanmu untukmu nak.”


Azka hanya diam dengan ekspresi datar, lalu Alice melanjutkan kata-katanya.


“Kenapa kamu sampai repot-repot ingin membuat Filia mengendalikan kekuatannya?”


Meski sedang tersenyum, Alice sebenarnya masih bertanya-tanya kenapa Azka sampai sejauh ini membantu Filia, bahkan sampai repot-repot ingin melatih kekuatan FIlia.


Dengan ekspresi datar, Azka menghela nafas dan berkata. “Aku hanya ingin membantunya. Itu saja.”


Mendengar jawaban yang singkat itu, Alice hanya terdiam dan kembali tersenyum kecil.


“Begitu ya ….”


Sebenarnya, Alice tidak terlalu mengerti apa yang di katakan Azka. Tapi dia yakin kalau Azka memiliki maksud yang baik untuk membantu Filia.


“Apa mereka berdua belum kembali?” tanya Azka.


“Nak Tricia dan Nak Levin ya ….” Alice menggumam sambil menurunkan bahunya.


“Jadi mereka belum kembali ….” Azka menjawab seakan mengerti dengan reaksi Alice.


Entah apa yang membuat Levin dan Tricia begitu lama, tapi Azka berusaha untuk tetap tenang dan menunggu kedatangan mereka.


“Eeaksimu tidak menunjukkan rasa khawatir.” Alice mengucapkan itu sambil tersenyum.


Mendengar itu, Azka hanya memasang tatapan datar. “Apa itu terlihat aneh?”


“Tidak juga. Selagi menunggu mereka, mungkin kau bisa beristirahat di dalam panti asuhan.”


“Baiklah.”


“Kalau begitu aku akan menyiapkan makan malam, jadi aku masuk duluan ya.”


Tanpa menunggu jawaban dari Azka, Alice lalu berbalik dan berjalan menuju panti.


Sedangkan Azka hanya terdiam melihat Alice berjalan. Karena teringat oleh sesuatu, Azka tiba-tiba memanggil Alice dengan tatapan tajam.


“Nek.”


Alice lalu berhenti dan menoleh dengan ekspresi datar. “Ada apa nak?”


Dengan tatapan curiga, Azka mulai bertanya. “Kalau boleh tau, apa yang sebenarnya terjadi dengan penduduk desa ini?”


***


Sementara itu di alun alun kota Hayate.


Beberapa hantaman rantai Kazel masih menghujani Levin yang terus menghindar. Bahkan rantai-rantai itu terus mengelilingi Kazel hingga membuat Levin kesulitan untuk mendekat.


“Bagaimana ini …,” gumam Levin.


Selagi terus menghindar, Levin masih terus berpikir untuk bisa memukulnya dari jarak dekat. Link Rantai itu memang sangat merepotkan karena rantainya itu terus mengelilingi di sekitar Kazel.


Jika Levin memaksa untuk mendekat, pasti serangan itu akan membuat luka yang cukup fatal. Bahkan Levin juga tidak bisa menarik rantai-rantai itu untuk menghajar Kazel seperti yang dia lakukan sebelumnya.


Karena Rantai itu sekarang berukuran cukup besar hingga membuatnya sulit untuk di tarik.


“Sialan! aku tidak bisa berpikir!” Sambil terus menghindar, Levin menggaruk garuk kepalanya dengan gelisah. Dia tampak kesulitan untuk berpikir sesuatu dengan otak kecilnya.


“Bunuh … bunuh ….” Kazel terus menggumamkan itu sambil mengayunkan rantainya untuk menyerang Levin.


Tatapan mata Kazel terlihat begitu kosong seakan mengeluarkan aura membunuh. Sedangkan Levin hanya memasang tatapan datar ketika melihat Kazel yang bersikap aneh.


“Sebenarnya dia itu kenapa sih ….”


Ketika Levin menggumamkan itu, Kazel tiba-tiba tertawa dengan suara yang menakutkan. Tapi yang membuat Levin terkejut, Kazel tertawa sambil meneteskan beberapa air mata.


“Dia menangis?!”


“Terus … bunuh … seperti ini bukan? Ayah … Ibu ….”


“Apa yang dia bicarakan itu?”


Dengan perasaan tanda tanya, Levin terus menghindar dari serangan Kazel. Meski dia bertingkah aneh, serangan Kazel sama sekali tidak melambat. Seakan-akan rantai itu mengikuti aura membunuh dari penggunanya.


Kazel terus tertawa dengan pelan, namun ia perlahan mengeluarkan isak tangis sambil terus mengayunkan rantainya.


“Maafkan aku … Ayah … Ibu ….”


Levin mulai memasang tatapan datar ketika melihat sikap Kazel yang begitu aneh. Dia mulai bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi dengan musuhnya itu.


Levin semakin kebingungan di buatnya. Kenapa dia terus menggumam kata-kata yang tidak jelas begitu?


Mau bagaimanapun juga, serangan rantainya tidak berhenti untuk menyerang.


“Aku … akan terus … membunuh … seperti yang kalian inginkan … jadi … aku mohon … tunggu sebentar lagi ….”


“Apa yang sebenarnya kau bicarakan sialan!” Levin berteriak dengan wajah kesal.


Dia melakukan itu karena tidak mengerti apa yang sejak tadi di katakan Kazel. Ayah? Ibu? Kenapa dia terus menggumamkan itu?


“Hahahaha!” Dengan mata berkaca-kaca, Kazel kembali tertawa dengan suara yang mengerikan.


“Dia benar-benar sudah gila!”


Ketika Levin menanyakan itu pada dirinya, tiba-tiba di hadapannya sudah ada rantai yang berukuran besar dan menghantamnya hingga terlempar.


Levin terlempar cukup jauh sampai menembus beberapa kedai sampai terbaring menahan sakit. Akibat serangan tadi, dahi dan perutnya sampai mengeluarkan darah yang cukup membuatnya kesakitan.


“… aku benar-benar lengah ….” Ketika menggumamkan itu, Levin berusaha untuk bangkit dari serangan tadi.


Sambil mengatur nafasnya, Levin menatap Kazel dengan tatapan lemah.


Ternyata Link Rantainya masih mengelilingi di sekitar Kazel dan itu tetap membuatnya sulit untuk di dekati.


“Jika aku sampai terkena serangan seperti itu lagi … mungkin aku bisa mati ….”


Sambil memegangi luka di perutnya, Levin masih terus berpikir untuk mencari celah mengalahkannya.


“Chain … Destruction.”


“Gawat!” Dengan wajah panik, Levin melompat untuk menghindar dari hantaman itu.


Dia melompat dan berhasil bersembunyi di belakang bangunan. Sekarang Levin menatap Kazel dengan nafas terengah-engah akibat lukanya.


Levin sedikit panik karena tidak tahu sampai kapan dia bisa bertahan jika menghindar seperti ini. Sebenarnya, Levin sendiri sudah tidak sanggup untuk bertarung setelah pertarungan yang terjadi sebelumnya.


Sebenarnya dia cukup nekat karena sengaja menahan Kazel agar Tricia bisa kabur duluan meski tubuhnya sudah hampir di ambang batas. Apalagi dia sudah berjanji ke Azka, kalau dia akan melindungi Tricia mencari markas Crimson Buster.


Karena sudah terlanjur, yang terpenting sekarang adalah dia harus bertahan hidup.


“Ayah … Ibu … tunggulah sebentar lagi ….”


Kazel terus menggumam dan sesekali tertawa sambil berjalan mencari Levin yang bersembunyi. Sedangkan Levin hanya terus menatapnya dengan datar.


“Kenapa dia terus menyebutkan Ayah dan Ibunya?”


Dengan ekspresi bingung, Levin memperhatikan Link Rantai berwarna hitam itu. Dia baru sadar kalau warna hitam itu persis seperti darah yang sudah lama mengering dan menjadi hitam.


Kalau di ingat-ingat, memang sebelumnya Kazel sangat antusias ketika melihat darah dan mulai hilang kendali. Tapi pada saat itu, rantai-rantai milik Kazel di lapisi darah merah segar.


Lalu kenapa sekarang rantainya berubah warna menjadi darah yang sudah lama menghitam?


Ketika terus menatap Kazel, tiba-tiba detak jantung Levin berdetak dengan kencang. Levin menyadari perasaan ini tapi dia menggeleng seakan menolak akan sesuatu.


“Hentikan itu ….” Sambil bergumam sendiri, Levin seperti memasang ekspresi serius.


Setelah itu, Levin kembali merasa tenang dan detak jantungnya kembali seperti biasa. Entah apa yang membuat Levin tiba-tiba bertingkah seperti itu.


Dia lalu mengambil nafas panjang sebelum berkata. “Aku harus mengalahkannya dengan kekuatanku.”


“Ketemu juga … hahaha!”


Levin terkejut ketika melihat Kazel yang sudah mengetahui posisinya. Menyadari itu, Levin langsung melompat dari serangan Kazel yang tiba-tiba.


“Kalau begini terus aku tidak akan bisa menyusul Azka dan yang lain!”


Setelah meneriakkan itu, Levin mengangkat beberapa potongan batu bekas pertarungan sebelumnya. Dia lalu melemparnya dengan cepat ke arah Kazel, tapi sayang serangan seperti itu dengan mudah di hancurkan oleh Kazel.


Levin yang sudah memikirkan sebuah ide, terus melemparnya dengan bongkahan batu.


Ketika Kazel menghancurkan batu-batu itu, dia terdiam melihat Levin yang sudah berada di hadapannya seakan muncul dari bebatuan itu.


“Kali ini tidak akan kubiarkan!” Levin mengepalkan tangannya dengan kuat. “Death Blow!”


Tapi Levin sempat terhenti ketika melihat Kazel yang menangis seperti ketakutan akan sesuatu. Meski begitu, Levin tetap mendaratkan pukulannya hingga membuat Kazel terlempar menembus beberapa rumah.


“Dia ….” Levin menggumam dengan mata melebar ketika mengingat Kazel sebelumnya.


Entah kenapa Levin merasa ada yang aneh ketika Kazel tiba-tiba menangis seperti ketakutan akan sesuatu. Padahal Kazel sebelumnya hanya tertawa seakan kegirangan ketika Levin memukulnya beberapa kali.


Tapi entah kenapa, Kazel begitu ketakutan akan sesuatu ada Levin tidak tahu apa yang sebenarnya Kazel takutkan.


“Bunuh … bunuh ….”


Tidak lama, Kazel kembali bangkit dan kembali mengendalikan rantai-rantainya. Setelah menyingkirkan reruntuhan yang ada di depannya, Kazel memasang tatapan tajam ke Levin.


“Bunuh!”


Tepat setelah meneriakkan itu, Link rantainya tiba-tiba melayang dengan cepat dan menghujani Levin dengan serangan.


“Apa apaan itu?!” Levin mulai berlari dengan panik untuk menghindar dari serangan Kazel yang membabi buta itu.


Ketika berlari, Levin tidak sadar sudah ada dua rantai yang mengenainya. Levin masih bisa berdiri tapi ketika dia berbalik, ada sebuah rantai yang berukuran besar dan kembali menghantamnya dengan keras.


Serangan tersebut bahkan sampai membuat tanah di sekitarnya menjadi retak dan menciptakan gumpalan asap.


Dengan rantai yang sudah menyatu, Kazel berjalan dengan tatapan kosong menuju tempat Levin terbaring. Dia sudah melayangkan rantainya di atas seakan siap untuk kembali menghantamnya.


Sedangkan Levin yang terkena hantaman rantai itu, hanya bisa terbaring lemah dengan luka yang sudah semakin parah. Ketika dia mulai menatap ke langit, sebuah rantai yang berukuran besar tiba-tiba menutupi pandangannya.


Levin hanya memasang tatapan lemah menatap serangan yang sudah siap untuk melukainya. Karena serangan tadi, Levin tidak bisa menggerakkan tubuhnya dan hanya bisa pasrah jika dengan rantai itu.


“Apa aku akan mati di sini?”


“Ayah … Ibu … kalian lihat bukan?” Kata-kata Kazel bergetar hingga membuat tangannya ikut gemetar ketika ingin menyerangnya.


Levin hanya terdiam mendengar Kazel yang di selimuti perasaan ragu-ragu. Dia bisa melihat itu ketika tangan Kazel terhenti untuk menyerangnya.


“Aku … aku … akan membunuh seperti yang kalian … inginkan ….” Kazel terus menggumam hingga membuat bahunya gemetar. Ketika gerakan tangannya sudah ragu-ragu, kedua mata Kazel mulai menitihkan air mata.


“Aku … tidak mau ….” Kazel menutupi wajah dengan telapak tangannya, suara yang di barengi oleh air mata itu perlahan mulai membasahi pipinya.


Ketika perasaaan masa lalunya muncul, satu-satunya yang terbesit dalam pikiran Kazel adalah pertumpahan darah dan orang-orang yang telah terbunuh. Meski samar-samar, ingatan yang membekas dari masa lalunya membuat Kazel di selimuti perasaan melankolis.


Dalam ingatan yang samar-samar itu, Kazel kecil sedang menangis di hadapan kedua orang tuanya yang sudah terbaring tak bernyawa.


“Maafkan aku … Ayah … Ibu ….”


Kata-kata itu terus terngiang dalam ingatannya, perasaan bersalah terus menghantuinya ketika dia menangis di hadapan kedua orang tuanya, dan di temani Link Rantai yang sudah di penuhi darah.


To be Continued…


Note Author:


Maaf ya kalau akhir-akhir ini updatenya lama, jujur gua masih sibuk banget sekarang jadi belum ada waktu luang. Tapi gua tetap bakal usahain tiap dua hari seperti biasanya.


Sebenarnya gua sendiri mau upload perhari biar Arc 3 ini cepat selesai. Tapi balik lagi sih ke waktu, jadi sabar ya.


Gua juga mau ngucapin terima kasih buat yang udah baca, like atau vote cerita ini. Kalo masih ada yang kalian rasa kurang atau bagaimana, gua tetap terbuka dengan saran dan kritik dari kalian.


Terima kasih, salam literasi.