Black Buster

Black Buster
Chapter 49 "Intense! Levin Vs Kazel"



Suasana Bar di kota Hayate yang mulai memanas membuat kerumunan Buster mulai meninggalkan Bar dengan wajah panik.


Mereka sengaja karena tidak mau terlibat dengan Kazel dan Chyntia, apalagi kalau harus berurusan dengan ketua Crimson Buster, Parviz.


“Menghajarku katamu?!” teriak Kazel. “Kalau aku tidak mau mengatakannya, apa yang akan kau lakukan hah?!” Kazel terlihat mulai memancing emosi yang akhirnya membuat suasana menjadi memanas.


Tapi, tatapan dan teriakan Kazel sama sekali tidak membuat Levin gemetar.


“Tidak mau ya? Kalau begitu ....” Levin mulai menunjukkan kepalan tangan. “Aku akan menghajarmu di sini!”


Suara pukulan yang sangat keras terdengar.


Pukulan dari Levin tepat mendarat di perut Kazel hingga membuatnya terlempar menghancurkan seisi kedai.


Melihat hal itu, Tricia hanya memasang tatapan datar dan kembali menatap Levin.


“Apa kau sudah gila?!”


“Kenapa?” tanya Levin.


“Kita masih butuh informasi kan?”


“Aku punya ide yang lebih bagus.”


Tricia terdiam ketika Levin yang tiba tiba tersenyum seperti sedang merencanakan sesuatu.


“Apa maksudmu?” gumam Tricia.


“Jika kita menghajar dua orang itu, mungkin saja bos mereka akan datang kemari.” Levin mengatakan itu tanpa keraguan sedikitpun.


“Apa kita punya jaminan kalau anak anak itu masih hidup?!”


Mendengar hal itu, Levin mulai menggaruk kepalanya. “Yah … gaada sih.”


“Kalau begitu jangan berpikir seenaknya bodoh!”


Sementara itu, dengan beberapa tumpukan kayu di atasnya. Kazel kembali bangkit dan kali ini wajahnya semakin kemarahan.


Chyntia yang melihat itu langsung berdiri di hadapan Levin dan Tricia seakan siap untuk bertarung.


“Kalian berdua tidak akan bisa lolos dari si—”


“Chyntia!”


Teriakan dari Kazel memotong perkataan Chyntia hingga membuatnya berbalik.


Kedua mata Kazel semakin di penuhi kemarahan. “Jangan ikut campur dengan pertarunganku!”


“Tapi, apa kau lu—”


“Diam! Aku tidak akan mengampuni bocah petarung itu!”


Setelah memotong perkataan Chyntia, Kazel pun berdiri sambil membersihkan pakaiannya yang kotor akibat tumpukan tadi.


“Pukulanmu cukup menyakitkan juga ya,” ucap Kazel.


Levin yang melihat itu hanya tersenyum bersemangat sambil mengikat gelang kainnya dengan kuat.


“Selanjutnya pasti akan lebih menyakitkan!” seru Levin.


“Oh? Kalau begitu ….”


Tiba tiba muncul sebuah rantai yang berwarna merah dari kedua tangan Kazel. Terlihat masing masing rantai itu mempunyai sebuah bagian yang tajam di setiap sisinya.


Kazel melanjutkan perkataanya, “Kita lihat siapa serangannya yang jauh lebih menyakitkan!”


“Link Rantai?” Tricia yang berdiri di samping Levin mengeluarkan ekspresi terkejut. Kedua matanya terfokus dengan rantai berduri yang di keluarkan oleh Kazel. Tapi yang lebih mengejutkannya adalah kedua rantai itu berwarna seperti merah darah.


Menyadari kebingungan Tricia, Kazel mulai menjelaskan.


“Chain Link! Nama dari kekuatan Linkku. Dengan kekuatan ini aku bisa mencipatkan rantai dari tubuhku.”


Secara perlahan, senyuman Kazel perlahan menjadi intens. “Dan warna merah dari rantai ini adalah … darah dari orang orang yang sudah aku bunuh! Hahahaha!”


Suara tertawa yang begitu menakutkan itu membuat bibir dan tatapan Tricia mulai bergetar.


Chyntia yang sejak tadi melihat ke arah Kazel mulai bergumam.


“Dia sudah menjadi gila ….”


Chyntia mulai berkeringat dingin karena dia sangat tahu bagaimana sifat asli Kazel. Selama bertahun tahun bersama di Crimson Buster, Chyntia menyadari kalau Kazel ini adalah seorang psikopat.


Seperti tak gentar, Levin malah terlihat semakin bersemangat.


“Hahahaha! Menarik sekali kau ini!”


“Kenapa kau ikut tertawa ….” Tricia memasang wajah masam ke arah Levin.


Tanpa menunggu waktu lama, Kazel dan Levin pun menyerang secara bersamaan hingga tempat di sekitar mereka menjadi hancur akibat daya serangan itu.


Merasa situasi di bar akan memburuk, Tricia berlari meninggalkan bar. Sedangkan Chyntia yang melihat Tricia kabur pun ikut mengejarnya sambil tersenyum.


“Tidak akan ku biarkan kau lari!” Chyntia mengejarnya dengan senyuman mencurigakan.


Karena para gadis telah meninggalkan Bar, yang tersisa di tempat itu hanyalah Levin dan Kazel yang saling beradu pukulan dan rantai.


“Hahahaha! Menarik!” Dengan raut wajah seakan menikmati, Kazel terus menekan Levin dengan rantainya.


Menyadari tekanan tersebut, Levin akhirnya melompat kebelakang untuk menghindari serangan itu.


Seperti orang yang haus darah, Kazel langsung mengayunkan rantainya untuk menyerang Levin. Efek dari serangan itu juga mulai membuat Bar menjadi hancur.


Menyadari hal itu, Levin lalu menghindar ke atas untuk menghindar dari puing puing bangunan.


“Orang itu semangat sekali ya?!” Sambil mengatakan itu, Levin yang menghindar ke atas memandang ke bawah dengan senyuman antusias ke arah Kazel.


Kazel yang melihat Levin menghindar ke atas pun ikut menyusul Levin sambil mengayunkan rantainya.


“Tidak akan kubiarkan! Spiked Swing!”


Tiba tiba rantai dari Kazel mulai menyerang ke arah Levin secara cepat. Sadar dengan sebuah serangan, Levin pun berhasil menghindar.


Meski berhasil menghindar, tapi Levin tiba tiba terkejut dengan Kazel yang sudah berada di hadapannya.


Panik akan hal itu, Levin langsung memukulnya tapi tangannya tiba tiba di tahan oleh jeratan rantai.


“Kau tidak akan bisa kabur dariku hahahaha!” Kazel yang tertawa seperti hilang kendali, langsung membanting Levin ke jalanan utama kota Hayate.


Hantaman yang sangat keras itu, membuat orang orang di sekitar mulai berlari ketakutan.


Seperti tak di kasih ampun, Kazel langsung mengarahkan rantainya ke tempat Levin mendarat tanpa ragu ragu.


Dari balik gumpalan asap tersebut, serangan dari rantai Kazel sepertinya berhasil mengenai Levin.


“Sial! Dia benar benar tidak memberiku peluang.” Sambil mengatakan itu, Levin mulai bangkit dengan rasa sakit.


Mengetahui hal itu, Kazel tertawa dengan keras dan mata yang melotot.


“Hahahaha! Aku berhasil membuatmu terluka!” Saking kerasnya tertawa, bahkan air liur pun mulai menetes dari bawah bibirnya.


Kazel yang awalnya sudah menggila, semakin menunjukkan sisi gelapnya ketika melihat darah yang menetes dari lengan Levin.


“Darah … darahhh!” teriak Kazel.


Sambil menahan rasa sakit, Levin mulai tertegun ketika melihat Kazel dari kejauhan.


“Oi … dia kenapa sih?”


Seperti tak menyangka dengan keadaan Kazel, Levin kembali mengikatkan gelang kainnya dengan kuat dan bersiap untuk bertarung.


“Matilah!”


Tiba tiba sebuah teriakan terdengar, dan Kazel pun tiba tiba sudah berada di hadapan Levin dengan tatapan haus darah.


Menyadari hal itu, Levin langsung menendang kepalanya hingga terlempar menabrak kedai. Tapi dengan cepat, Kazel kembali bangkit dan kali ini wajahnya tampak semakin mengamuk.


Rantai rantai yang sebelumnya hanya dua di keluarkan oleh Kazel, secara satu persatu mulai bermunculan.


“Hahahaha! Aku akan menambah koleksi darahmu untuk rantai rantaiku ini!” Dengan wajah yang tampak mengerikan, Kazel menjilat darah di salah satu rantainya yang barusan melukai Levin.


“Ya! Kalau begitu ayo kita buktikan.” Levin tersenyum seakan bersemangat.


Dengan tumpuan kaki yang kuat, Levin langsung berlari dengan cepat untuk menyerang Kazel. Levin yang bergerak ke arahnya juga mampu menghindar dari serangan beruntun dari rantai Kazel.


“Death … Blow!” Pukulan yang sangat kuat dari Levin akhirnya mendarat di perut Kazel, bahkan rantai orang itu tidak dapat menahan daya seranganya.


Levin yang mulai terengah engah hanya bisa terdiam dan menoleh ke tempat Kazel terlempar. Tapi Kazel yang terkapar akibat serangan itu masih menunjukkan tanda tanda untuk bangkit dengan menggerakkan beberapa jarinya.


Tidak lama kemudian, Kazel akhirnya terbangun dengan tatapan kosong. Di mulai oleh teriakan, raut wajah Kazel tiba tiba semakin munujukkan rasa psikopatnya ketika menatap Levin.


“Menarik … menarik … hahahahaha!”


“Oi … orang ini gila ya?” Levin yang melihat itu hanya memasang ekspresi aneh.


“Aku benar benar menikmatinya,” ucap Kazel. “Bocah, ayo tunjukkan lagi kemampuanmu!”


“Begitu kah? Kalau begitu aku akan terus menghajarmu sampai kau beri tahu di mana kalian menyebunyikan teman teman FIlia.”


Ketika mengatakan itu, Levin kembali mengepalkan kedua tangannya dengan bersemangat.


“Teman teman? Hahahaha! Aku tidak peduli dengan dua ekor tikus itu!” Kazel terus tertawa dengan mata yang melotot hingga urat urat mata yang mulai terlihat.


Kazel melanjutkan ucapannya, “Yang lebih penting adalah … aku harus membunuhmu!”


Sambil mengatakan itu, beberapa rantai yang berwarna merah darah mulai melayang di belakang Kazel. Bahkan raut wajah Kazel pun terlihat semakin mengerikan di banding sebelumnya.


“Chain Dance: Bloody Scorpion!”


Rantai rantai berdarah yang ada di belakang Kazel tampak menari nari dan mengeluarkan sebuah aura yang cukup kuat di sekitarnya.


“Apa itu?!” tanya Levin mengernyit.


Tiba tiba seluruh rantai itu semakin membesar dan ….


“Celaka!” Levin langsung menghindar dari salah satu rantai yang menyeragnya dengan cepat.


“Hahahaha menarilah rantaiku! Dan penuhi hausmu dengan darahnya!”


Serangan rantai yang semakin membabi buta akhirnya membuat Levin terus mengindari dari hujan rantai itu.


Bahkan salah satu rantai itu tampak semakin membesar dengan duri yang ada di sisinya dan menyerang Levin secara cepat. Bahkan hujan serangan itu, berhasil menggores tubuh Levin secara satu persatu.


Levin yang terus berlari dari serangan itu merasa semakin terdesak.


“Gawat … rantai rantainya itu seperti tau kemana aku bergerak!”


Sambil mengatakan itu, Levin terus mengamati Kazel yang tampak kegirangan. Bahkan raut wajah Kazel seperti menikmati cipratan darah yang keluar dari luka Levin.


“Darah … darah … baguslah! Hiruplah aroma yang menyegarkan itu wahai rantai rantaiku!” Teriakan Kazel tadi seakan membuat kecepatan rantainya bertambah dan terus mengejar Levin kemana ia pergi.


“Sialan kau manusia rantai!” Levin berteriak dengan wajah tertekan karena terus berlari menghindari rantai rantai itu.


***


Sementara itu, Tricia yang terus berlari di jalan jalan sempit kota Hayate mengeluarkan ekspresi yang begitu panik.


Seakan bertambah panik, ternyata Chyntia sejak tadi berusaha untuk mengejar Tricia.


“Ternyata kamu gadis yang cukup keras kepala ya.” Sambil mengucapkan itu, Chyntia terus mengejarnya dengan raut wajah yang tampak santai.


Di saat mereka berdua saling mengejar satu sama lain, Tricia dan Chyntia secara serempak menoleh ke arah pertarungan Kazel dan Levin.


Beberapa rantai yang cukup besar dan merah ternyata sedang melayang layang di udara. Bahkan itu bisa di lihat jelas dari tempat Chyntia dan Tricia berada sekarang.


“Benda apa itu?!” Sambil berlari, Tricia memandangi rantai rantai itu dengan tatapan terkejut.


Sedangkan Chyntia yang melihat itu tampak mengeluarkan ekspresi khawatir.


“Kazel … sepertinya dia mulai kehilangan kendali,” gumam Chyntia.


Seperti sedang memikirkan sesuatu yang buruk, tiba tiba langkah Chyntia terhenti. Dia sempat terdiam sejenak mengamati Tricia yang kabur dengan mata yang terlihat kosong.


“Kazel … harus di hentikan.”


Entah apa yang ada di pikiran Chyntia, dari raut wajahnya terlihat sangat khawatir akan sesuatu. Setelah memikirkan berbagai kemungkinan, dengan sigap Chyntia berbalik untuk pergi ke pertarungan Kazel dan Levin.


Tricia yang sejak tadi menoleh ke belakang tampak kebingungan dengan tingkah Chyntia yang seperti ketakutan.


“Kenapa dia berhenti mengejarku?” Tricia pun menghentikan larinya.


Sempat terdiam sejenak, Tricia kembali memandangi puluhan rantai berwarna merah melayang layang di udara.


“Kalau di pikir pikir ….” Bibir Tricia mulai bergetar. “Kekuatan mengerikan macam apa itu ….”


To be Continued…


Note Author:


Spiked Swing \= Ayunan Berduri


Death Blow \= Pukulan Maut


Chain Dance: Bloody Scorpion \= Tarian Rantai: Kalajengking Berdarah