
Hari tampak sore di desa Corael yang damai. Beberapa penduduk masih terlihat sibuk membangun beberapa lapak dan menghiasi desa dengan lampu hias.
Setelah cukup lama berbaring, Azka yang mulai bosan berdiri memakai bajunya. Tak lama setelah memakai baju, Tricia, Vina dan Levin mendatanginya dengan wajah berseri seri.
“Azka!!” Seru Vina sambil berlari memeluk Azka.
Azka menoleh kebawah dengan heran.
“Hahahaha, sudah kubilang kan kalau dia masih hidup.” Levin tertawa mendekati Azka sambil menepuk tubuh Azka berkali kali.
Azka menahan emosinya saat pundaknya ditepuk berkali kali.
“Pundakku masih terluka dasar bodoh!” Bentak Azka dengan tatapan dingin.
“Maaf, maaf.” Levin menghentikan tepukannya sambil menggaruk kepala.
Tricia memasang wajah datar ketika melihat Azka telah berpakaian. Tricia menduga kalau Azka berniat untuk pergi dari tenda.
“Kau harusnya tak banyak bergerak Azka. Tembakan ditubuhmu belum sembuh sepenuhnya.” Jelas Tricia dengan khawatir.
“Kau tak perlu khawatir, aku baik baik saja.” Ucap Azka datar.
Luka tembak yang melubangi tubuh Azka memang cukup menyakitkan. Azka telah terbiasa menerima luka yang cukup fatal hingga membuat Azka bisa pulih dengan cepat. Selain itu juga Azka tidak suka jika harus berlama lama diobati.
Azka melihat sekitar dan baru sadar tidak ada kepala desa bersama mereka.
“Kemana kakek tua itu pergi?” Tanya Azka bingung.
“Kakek Hardy sedang menyiapkan festival di alun alun desa.” Jawab Vina tersenyum manis.
“Festival?” Azka semakin bingung, apa yang sebenarnya terjadi di desa Corael saat dia masih koma selama dua hari.
“Aku tidak terlalu mengerti tapi Kakek kepala desa bilang kalau festival ini sengaja diadakan oleh penduduk desa.” Lanjut Tricia menjelaskan.
“Aku jadi tidak sabar membayangkan seluruh makanan yang ada disana!” Levin ngiler saat membayangkan makanan enak di festival nanti.
“Kau kan baru saja makan.” Ucap Tricia dengan wajah masam.
Levin memandang Tricia dengan tatapan kosong. Dia lalu memegang perutnya dan tidak lama terdengar suara keroncongan dari perutnya.
“Tuh kan aku lapar.” Ucap Levin dengan polos.
“Apa itu sebuah trik?!” Tricia membentak Levin dengan kesal. Bagaimana bisa Levin langsung lapar setelah memakan cukup banyak sebelum mengunjungi Azka.
Azka berdiri diam memandangi Tricia yang sedang memarahi Levin. Azka tidak tau sejak kapan mereka berdua menjadi akrab.
“Hahaha! Tenanglah Trisla.” Ucap Levin sambil menggaruk kepalanya.
“Sudah berapa kali aku katakan namaku Tricia!” Tricia memasang wajah malas pada Levin.
“Namamu sangat sulit diucapkan.” Levin mengelak dengan wajah polos.
Tidak lama kemudian, Kakek Hardy masuk kedalam tenda dengan wajah berseri seri. Penampilannya sedikit berantakan karena selesai membantu warga menyiapkan festival.
“Kalian disini rupanya.”
“Yo, kakek tua desa!” Panggil Levin santai.
“Berhenti memanggilku seperti itu!” Kakek Hardy tampak kesal dengan panggilan kakek tua desa.
Hardy kembali memasang wajah berseri seri saat melihat Azka sudah bisa berdiri.
“Kau sudah bisa berjalan ya? Penduduk desa Corael sedang mengadakan Festival demi merayakan kembalinya desa ini.”
“Ada ada saja.” Azka menggeleng pelan ketika mendengar alasan diadakannya festival.
Padahal desa Corael sendiri masih belum selesai dibangun malah bisa bisanya mengadakan perayaan dalam keadaan seperti itu.
“Anggap saja ini ucapan terima kasih kami karena kau telah menyelamatkan desa ini dari Clint Buster.”
Azka menghelas nafas pelan, “Sudah kubilang itu bukan sesuatu yang harus di besar besarkan.”
“Apa kau tidak menyukainya?” Vina menatap Azka dengan wajah murung.
Azka mulai merasa tak enak dengan tatapan polos Vina. Padahal Azka tak bermaksud seperti yang Vina katakan.
Azka hanya tidak suka kemenangannya melawan Clint terlalu di besar besarkan dan Azka merasa tak nyaman jika berada di keramaian.
“Sudah sudah mending kita langsung kesana.” Levin menarik Azka dengan santai.
“Oi! Jangan menarikku seperti itu!” Azka tampak kesal saat Levin menariknya keluar menuju festival yang dimaksud.
Gelap malam di desa Corael tak terasa dengan hiasan lampu merah yang menerangi seisi desa. Beberapa stan yang menjual makanan dan barang lainnya juga berjejer dengan rapi. Keadaan desa benar benar ramai oleh orang orang yang berlalu lalang.
Azka berdiri diam memandangi seluruh hiasan desa yang tampak sederhana tapi begitu hangat. Festival desa Corael mengingatkannya dengan perayaan di kerajaan Oleander. Mengingat tatapan kebencian seluruh penduduk Oleander hanya membuatnya kesal.
Beberapa warga desa lalu mendatangi Azka dan yang lainnya dengan wajah berseri seri.
“Terima kasih banyak telah menyelamatkan desa kami.”
“Kami membuat festival ini sebagai ucapan terima kasih. Kau juga bisa menikmati makanan yang ada disini secara gratis.”
Mereka berterima kasih sekaligus menawarkan Azka untuk menikmati festival desa Corael. Orang orang itu lalu pergi karena tidak ingin menganggu Azka dan yang lainnya.
“Makanan gratis? Ini pasti hari keberuntunganku!” Seru Levin bersemangat.
“Aku benar benar tidak menyangka mereka menyiapkan ini untuk kita.” Ucap Tricia sambil melihat suasana festival.
“Aku akan menghabiskan semua makanan disini!” Levin meninggalkan mereka dengan antusias.
“Levin, tunggu!” Seru Vina sambil mengejar Levin.
“Apa kau tidak pergi Azka?” Tanya Tricia heran karena sejak tadi Azka hanya terdiam.
“O-oh.” Azka tersadar dari lamunannya dan segera mengikuti Tricia.
Keduanya berjalan di jalan utama festival yang dikelilingi oleh lampu hias berwarna merah. Tricia berdecak kagum dengan mulut yang sedikit terbuka saat melihat hiasan yang begitu cantik. Azka yang berjalan disamping Tricia hanya memasang tatapan datar seperti biasanya.
Tidak lama berjalan, mereka berdua melihat Kakek Hardy mendatangi mereka dengan wajah bersinar.
“Azka, Tricia kalian sudah sampai rupanya. Semoga kalian menikmati perayaan desa Corael sebagai ucapan terima kasih dari kami.” Ucap Hardy dengan hormat.
“Tapi ini terlalu berlebihan.” Tricia tersenyum lembut karena merasa tidak enak dengan perayaan yang terlalu berlebihan.
“Tak perlu sungkan hahaha, kami dari awal memang ingin mengadakan festival untuk merayakan kebebasan desa Corael.” Kakek Hardy tertawa kecil sembari menjelaskan.
“Ayo biar kutemani kalian melihat lihat. Kami juga mempunyai makanan yang enak.” Hardy memandu jalan Azka dan Tricia sambil menunjuk makanan yang harus mereka coba.
Tidak jauh dari tempat mereka berjalan, Levin dan Vina terlihat sedang mengunjungi salah satu stan makanan yang menjual daging panggang.
Levin memandangi seluruh daging bakar dengan tatapan berbinar. Penjual daging yang sedang mengantung beberapa potong daging merasa terganggu dengan tatapan Levin.
“Permisi pak tua! Aku mau ini, ini, ini dan ini!” Seru Levin bersemangat sambil menunjuk seluruh daging yang dijual.
Penjual daging yang melihat Levin menunjuk seluruh dagangannya memasang ekspresi masam, “Apa kau punya uang?”
“Eh? Bukannya semua ini gratis?” Tanya Levin dengan polos.
“Gratis matamu! Yang gratis itu buat mereka berdua!” Penjual daging memasang ekspresi kesal sambil menujuk Azka dan Tricia yang sejak tadi berdiri di depan lapaknya.
“Oh, Azka, Tricia! Sejak kapan kalian berdiri disitu?” Tanya Levin karena tidak sadar dengan kehadiran keduanya.
“Baru saja. Kenapa aku setiap bertemu denganmu selalu berisik?!” Azka memasang ekspresi mengeluh karena Levin selalu membuat suara gaduh saat bertemu.
“Mumpung kalian disini! Tolong jelaskan ke pak tua itu kalau aku juga ikut membantu desa ini! Oi, oi, Azka, Tricia!” Levin menunjuk penjual daging itu sambil memohon ke Azka dan Tricia berulang ulang.
Tricia dan Azka memasang ekspresi masam secara bersamaan. Mereka sangat terganggu dengan suara Levin yang sangat berisik.
Azka menghela nafas dengan ekspresi malas, “Baiklah baiklah, apa aku—”
“Segera datang!” Seru Penjual daging dengan antusias.
Belum selesai bicara penjual daging tersebut langsung mengerti dan memberikan daging bakar yang cukup banyak ke Azka.
“Ambilah sepuasnya! Daging bakar milikku sangat terkenal didesa ini! Jika ini masih kurang beritau saja aku!” Seru Penjual Daging dengan wajah berseri seri.
“Ya, tapi ini sudah terlalu banyak.”
“Banyak? Ini masih kurang.” Levin dengan santai memakan daging bakar milik Azka.
“Cih, pergi saja kau dari sini. Kau menganggu bisnisku!” Seru Penjual daging dengan tatapan kesal.
Azka terdiam melihat ekspresi Penjual daging itu. Hardy mengatakan kalau sebenarnya seluruh penduduk Corael sengaja membenci Levin agar dia bisa pergi meraih impiannya.
Menyadari hal itu, Azka semakin yakin kalau penduduk desa Corael sangatlah baik. Azka sampai tak menyangka kalau dia bisa berada di desa dimana seluruh penduduknya sangat baik.
Azka dan rombongannya kembali berkeliling desa untuk menikmati perayaan desa Corael. Senyuman hangat sekaligus ramah terlukis jelas di wajah orang orang saat menyambut Azka dan yang lainnya.
To be Continued...