Black Buster

Black Buster
Chapter 72 "Between Two Blow"



Entah kenapa Levin mulai kebingungan melihat perubahan sikap Mirio. Apa sebutan gorilla membuatnya marah? Tapi Levin sama sekali tak yakin dengan asumsi tersebut.


Ketika sedang memikirkan itu, tiba-tiba saja Mirio menghilang dengan kecepatan tinggi.


“Kakak awas!”


Teriakan dari Alan dan Cornelia membangunkan Levin dari rasa penasaran. Tepat di saat terkejut, Mirio sudah berada di hadapannya sebelum mendaratkan pukulan yang sangat keras ke wajahnya.


Lagi-lagi Levin harus terlempar, kali ini lebih jauh sampai menabrak beberapa rumah di sekitar Markas Crimson Buster.


“Oi … apa itu tadi? kecepatannya benar-benar gila ….” Levin mencoba membangunkan tubuhnya, namun…


“Takkan kubiarkan!”


“Gawat—”


Bamm!


Tendangan dari Mirio membuat ledakan kecil, menerbangkan Levin sambil menumpahkan darah dari mulutnya.


“Kakak!” teriak Alan dan Cornelia.


Kedua bocah itu mulai mengeluarkan ekspresi khawatir, melihat Levin yang sudah terluka parah dan tak berdaya.


Dengan mengepalkan tangan-tangan besarnya, Mirio berjalan mendekati Levin dengan tatapan tajam.


“… ugh ….” Levin mengeluarkan muntah darah, mencoba membangunkan tubuhnya. Sambil memegangi perutnya, Levin bernafas terengah-engah.


Kedua mata Levin bahkan sampai memerah dengan rasa sakit yang luar biasa dari wajahnya. Levin hanya bisa setengah merangkak menahan kesakitan karena tak sanggup berdiri.


“Mau sampai kapan kau terus bertahan?”


Tanpa Levin sadari, Mirio sudah berdiri di depannya. Levin bahkan tidak bisa menatapnya akibat menahan rasa sakit.


“….” Levin terdiam dengan nafas terengah-engah.


“Jawablah pertanyaanku, dengan luka seperti itu kau tidak bisa bertahan lebih lama!”


“Berisik sekali,” sahut Levin tajam. “Apa itu benar-benar menganggumu?!”


“Kenapa … kenapa kau terus bertarung? Jika jawabanmu ingin menjadi petarung terkuat, seharusnya kau menyadari kemampuanmu! Lalu kenapa kau terus bertarung?!”


“Berisik!” Kemudian, Levin mencoba berdiri dengan kedua lututnya yang gemetaran.


Duduk sekaligus bersembunyi di samping reruntuhan, Alan dan Cornelia mengernyit melihat Levin yang masih bisa berdiri dengan banyak luka.


“Kakak …,” gumam Alan dan Cornelia.


“… aku tidak mau kalah … di perjalanan pertamaku ….” Sambil merintih kesakitan, Levin memasang tatapan tajam meski dengan mata memerah.


“Apa maksudmu?” tanya Mirio dingin.


“Final Valley … kami ingin pergi menemukan tempat itu. Lebih tepatnya, aku tidak ingin kalah dari orang itu.”


“Pengguna belati hitam itu?”


“Ya, karena dia adalah temanku—” tiba-tiba, Levin bergerak sangat cepat dan tiba di hadapan Mirio.


Mirio seketika terkejut dengan kecepatan Levin, tapi yang membuatnya semakin terkejut adalah tatapan Levin yang begitu tajam.


Orang ini?! Dia terlihat sangat berbeda!


Bamm!


Pukulan telak dari Levin mampu menerbangkan Mirio hingga menghancurkan beberapa bangunan toko.


Pukulannya berbeda!


Disaat Mirio di landa kepanikan, Levin melompat ke udara dan menerjangnya dengan sebuah tinju yang mengeluarkan aura kuning gelap.


Kecepatannya juga berbeda!


Blarr!


Retakan tanah pun tercipta di tempat Mirio tergeletak. Gumpalan asap juga terjadi setelah Levin mendaratkan pukulannya.


Namun—Mirio berhasil menghindar sesaat sebelum terkena pukulan maut tersebut.


Levin menyadari hal itu, dan sekarang Mirio sudah berdiri tak jauh di hadapannya.


Kekuatannya jauh lebih meningkat dibanding sebelumnya, Mirio memasang ekspresi serius memandangi Levin yang penuh luka itu.


“Pukulanmu sekarang lebih menyakitkan.”


“… sudah kubilang aku tidak akan kalah darimu,” balas Levin dengan nafas terengah-engah.


“Kau memang musuh yang menarik.”


Tepat setelah mengatakan itu, Mirio mengeluarkan gerakan kuda-kuda sambil mengepalkan kedua tangannya. Tiba-tiba, Mirio mengeluarkan semacam aura hingga membuat kulit kulit wajahnya tertarik ke atas.


Bahkan aura aneh itu membuat kerikil kerikil di tanah sampai terangkat, menunjukkan besarnya kekuatan Mirio. Sepertinya, aliran Nagaretsu yang di miliki Mirio masih menyimpan potensi yang lebih besar.


Levin terkejut, kedua lengan Mirio tiba-tiba mulai membesar oleh otot-ototnya. Tidak memakan waktu lama, Mirio selesai melakukan persiapan dan memasang ekspresi tajam dengan hawa menusuk.


“Jadi sejak tadi, kau masih belum mengeluarkan kekuatanmu ya ….” Levin mengeluarkan senyuman kecut sambil memfokuskan diri dari serangan lanjutan Mirio.


“Aku hanya ingin melihat semua kemampuanmu, bocah.”


“Kalau begitu, rasakan ini!”


Tepat setelah mengatakan itu, Levin bergerak sangat cepat dengan kepalan tinju. Mirio tampak tenang sementara Levin menuju ke arahnya.


Satu kepalan tangan, Mirio menahan tinju dari Levin dan—pukulan berikutnya, dua pukulan, tiga pukulan, dan akhirnya terjadi hujan pukulan antara Levin dan Mirio.


Baik mereka berdua, saling menerima pukulan namun pukulan dari Levin terlihat tak mempan di tubuh Mirio. Meski tubuh, wajah dan tangan sudah berdarah-darah, Levin sama sekali tak mengendurkan hujan pukulannya.


Dengan tempo cepat, Mirio memfokuskan kekuatan penuh di tangan kiri dan mendaratkan pukulan tersebut tepat di wajah Levin yang berdiri lemas tak berdaya.


Meski Levin tidak terlempar ataupun terbang, namun pukulan Mirio membuat wajah Levin bersimbah darah.


“Kau ….” Mirio tercengang, Levin masih bisa berdiri dengan luka parah seperti itu.


Dengan nafas terputus-putus, Levin memuntahkan darah sebelum berbicara, “… aku tidak akan kalah ….”


Mendengar itu, Mirio sebenarnya sangat kesal apalagi Levin terus mengoceh ‘tidak akan kalah’ apalagi dengan wajah bersimbah darah.


“Kurang ajar!” Mirio melesatkan pukulan terkuatnya dan— Bamm! Pukulan Mirio tertahan oleh kedua tangan Levin.


Saking kuatnya pukulan Mirio, Levin sampai terdorong mundur.


“Sekarang giliranku!” Levin segera menghempas kepalan tangan Mirio dan meninju balik tubuh Mirio hingga terdorong mundur.


Tangan Levin gemetaran, menghajar tubuh Mirio yang sudah di perkuat dengan teknik Nagaretsu.


Tapi tiba-tiba saja, Mirio mengeluarkan darah dari mulutnya. Ternyata pukulan Levin sudah jauh lebih kuat, bahkan mampu melukainya meski sudah di lapisi teknik Nagaretsu.


Namun, Mirio tiba-tiba terdiam.


“Aku punya pertanyaan untukmu,” sahut Mirio. “Apa kau bertarung sampai seperti ini hanya untuk impianmu?”


“… tentu saja.”


“Jadi kau tidak peduli apa yang akan terjadi dengan temanmu selama kau masih bisa mencapai impianmu?”


“… mana mungkin aku melakukan itu.”


“Apa maksudmu?” tanya Mirio tajam.


“Percuma saja aku menjadi petarung terkuat tapi aku tidak bisa meraihnya bersama teman-temanku.”


Mendengar jawaban itu, Mirio terdiam sejenak, menunjukkan ekspresi datar seakan merenungkan sesuatu.


“Begitu ya ….” Mirio memasang senyuman kecil untuk sesaat. “Kalau begitu, aku juga tidak akan kalahmu denganmu, bocah.” Dengan kuat, Mirio langsung menendang Levin hingga terlempar menabrak reruntuhan markas Crimson Buster.


Brukk!


Alan dan Cornelia sontak terkejut dengan itu, terutama Cornelia yang sudah menangis melihat kondisi Levin.


“Kakak itu … dia pasti sudah mati ….” Dengan tangan yang seakan memohon, Cornelia menggumam dengan mata berkaca-kaca.


“Apa yang kau katakan Cornelia?! Kakak itu … dia tidak mungkin mati!”


“Alan ….” Cornelia menghentikan air matanya, menolah ke Alan dengan reaksi bingung.


“Kakak itu … dia pasti menang. Tidak, mereka berdua benar-benar keren!”


Tepat mengatakan itu, Levin tiba-tiba saja berdiri dari tumpukan reruntuhan. Tubuhnya sudah terluka parah, lengannya juga bersimbah darah, namun raut wajah Levin begitu serius.


Mirio membalas dengan tatapan tajam, mengepal kedua tangannya dan mulut yang di penuhi muntahan darah.


Melihat tatapan mata mereka berdua yang saling mengakui satu sama lain, Cornelia mengerti dengan maksud Alan.


“Kau lihat mereka kan, Cornelia?! Meski kakak itu terluka parah, dia tidak pernah menyerah. Aku yakin kalau kakak itu pasti menang!”


Cornelia yang mendengar itupun mengusap air matanya dan mengangguk. “Kau benar, Alan.”


“Aku ingin menjadi seperti kakak itu.”


Percakapan mereka berdua sama sekali di hiraukan oleh Levin maupun Mirio. Mereka berdua hanya fokus dengan pertarungan di depan mereka.


Levin bernafas terengah-engah, menahan rasa sakit. Cahaya kuning perlahan keluar dari kepalan tangan, segera menerjang ke arah Mirio.


Menyambut pukulan Levin, Mirio juga memberi sebuah pukulan dan—


Buum!


Terjadi benturan yang sangat keras dari pukulan mereka, menciptakan cahaya ledakan dari kekuatan Levin dan juga Mirio.


Benturan itu membuat Levin dan juga Mirio sedikit terhempas ke belakang. Meski begitu mereka kompak memberikan pukulan selanjutnya dan terjadi hujan pukulan dari mereka.


“Yahhh!” teriak mereka berdua yang saling menhujani pukulan.


Dan di saat terakhir, Levin dan Mirio memberi pukulan tepat di wajah masing-masing, kemudian memuntahkan darah.


Levin sangat kelelahan, bernafas terengah-engah. Mirio hampir sama, mereka berdua masih menatap satu sama lain, menunggu memberikan serangan.


“Sudah lama rasanya aku tidak bertarung sampai seperti ini,” kata Mirio.


Mendengar itu, Levin hanya diam sambil mengatur nafasnya.


“Aku benar-benar mengakuimu nak.”


“… sialan, jadi sejak tadi kau meremehkanku ya ….”


“Tentu saja tidak.”


Kemudian, Mirio memasang gerakan bersiap menyerang. “Kita akhiri ini dengan satu pukulan terakhir,” lanjutnya.


Levin tersenyum kecil, mengepal dua tangannya yang mengeluarkan aura kuning menghadapi Mirio.


“Aku setuju!”


Dan—Blar!


Kepalan tangan mereka saling mengenai perut satu sama lain, membuat Alan dan Cornelia tertegun melihat pukulan dahsyat mereka.


Keduanya sama-sama memuntahkan banyak darah, namun—


“Argh ….” Perlahan kaki-kaki Levin melemas, berlutut tak berdaya dengan kepalan tangan yang bersimbah darah.


Sementara Mirio hanya menurunkan wajahnya. Alan dan Cornelia panik, menduga kalau Levin sudah kalah dalam pertarungnan itu.


“Tidak mungkin ….” Cornelia menutup mulutnya, menyaksikan Levin yang berlutut tak berdaya.


Namun— “Urghh ….” Darah perlahan keluar dari mulut Mirio.


Ternyata pukulan Levin mampu melukai perut tebal Mirio, bahkan hampir merusak perut organ-organ dalamnya.


Kaki-kaki yang besar itupun akhirnya tak sanggup lagi berdiri, Mirio perlahan mulai tumbang ke belakang, di sertai senyuman seakan penuh penyesalan.


“Maafkan aku … Kazel—” Bruk! Tubuh besar Mirio akhirnya tumbang tak sadarkan diri, menyisakan Levin yang berlutut di hadapannya.


“Aku … menang ….”


Levin Fullbright, mengangkat tangan kanannya seperti seorang pemenang, sebelum tumbang ke depan, menyusul Mirio yang sudah tak sadarkan diri.


To be Continued ….


Catatan Author:


Oke, gua udah gak upload sebulan karena laptop gua rusak, jadi sebelumnya maaf ya. Gatau juga sih ada yang nungguin novel ini apa nggak wkwk.


Sebenernya laptop gua udah beres dari semingguan yang lalu, cuma jujur gua kesulitan banget buat lanjutin ceritanya karena udah ketinggalan banget.


Di tambah, gua juga lagi sibuk sibuknya minggu lalu. Jadi, gua gapunya waktu buat nulis dan baca lagi Black Buster.


Sama satu lagi, gua agak jenuh untuk ngelanjutin Black Buster. Bukan karena kehabisan ide, tapi gua udah kehilangan ritme buat lanjutin.


Gua juga ada proyek novel baru, tapi belum gua up dan masih di laptop.


Jadi kesimpulannya, maaf ya udah gak update lama. Kalau gua di tanya masih mau lanjutin Black Buster apa nggak, jawabannya masih kok, tergantung sih gua masih bisa ngikutin ritme yang udah hilang sebulan.


Terakhir deh, kalau ada yang emang nunggu dan setia sama novel ini, gua sangat sangat berterima kasih. Gua emang nulis karena pengen ada yang baca aja, daripada gue pendam sendiri, meski hanya satu orang yang baca, gua udah seneng banget.


Dah itu aja yang pengen gua tambahin wkwk.