
“Maaf, aku sudah memukulmu sebelumnya,” ucap Vina dengan wajah bersalah.
Azka berdiri dan menatap Vina dengan datar, “Tak apa, aku tau kau mengalami hal yang berat.”
“Ternyata kau baik juga ya, hahahaha.” Levin tertawa terbahak bahak sambil menepuk pundak Azka berkali kali.
Azka menatapnya dengan risih, “Kau masih hidup rupanya.”
“Tentu saja. Aku ini sangat kuat.” Levin seakan menyombongkan diri.
“Levin! Apa kau baik baik saja?!” tanya Vina dengan khawatir.
Vina sebelumnya melihat luka tembak diperut Levin.
“Ya. Aku hanya sedikit lengah.”
“Syukurlah.”
“Oi, Azla bagaimana?”
Levin masih berusaha membujuk Azka untuk bergabung kedalam Buster. Sebelumnya Azka masih belum memberikan jawaban padanya.
“Namaku Azka brengsek. Dan aku tidak mau bergabung denganmu.”
“Yah … kenapa? Kau sangat kuat bukan?” Levin terlihat murung.
“Aku tidak peduli,” ucap Azka sambil memalingkan pandangannya.
Azka menolak penawaran Levin tanpa pikir panjang.
“Kau ini masih saja memaksa ya,” Tricia menghampiri mereka.
“Yah … aku hanya ingin memastikan. Sekarang bagaimana apa kau berubah pikiran?” Tanya Levin dengan mata berbinar.
“Tidak akan!” bentak Azka dengan risih.
“Baiklah kalo begitu kali ini pasti akan berhasil!”
Azka dan Tricia kebingungan.
“Kalau begitu izinkan aku untuk bergabung dengan kalian.” Levin menatap dengan mata bersinar.
Azka dan Tricia hanya terdiam dengan tatapan aneh. Padahal sejak pertama kali menawarkan mereka itu sama saja untuk mengajaknya bergabung.
“Tidak,” ucap Azka dan Tricia.
“Cepat banget.” Levin sampai kaget ketika mereka menolak tanpa pikir panjang.
Azka memegang kepala karena tidak kuat menghadapi Levin. Ia bahkan tak ingin membayangkan apa jadinya kalau Levin ikut bersamanya.
Banyak alasan kenapa Azka tidak ingin mengajaknya. Selain dari tingkahnya yang bodoh, Azka masih belum mempercayai berandalan berambut pirang itu.
Berbeda dengan Azka, Tricia juga tidak ingin mengajaknya karena tingkahnya yang menjengkelkan.
“Ano … kenapa kau ingin menjadi Buster, Levin?”
Vina sejak tadi kebingungan dengan percakapan mereka bertiga.
“Tentu saja demi impianku,” ucap Levin dengan bangga.
Sejak pertama bertemu dengannya, Levin terus berkata tentang impiannya. Apa sebenarnya impian dari orang itu?
“Wah, benarkah?” Vina berdecak kagum.
“Buster katamu?!”
Kakek Hardy berjalan mendekati mereka. Ia merasa benci ketika Levin berbicara tentang impiannya dan Buster.
“Pak tua desa! Sejak kapan kau disini?” tanya Levin.
“Aku sejak tadi disini dasar bodoh!”
Dari gaya bicara, mereka berdua seakan sudah lama mengenal satu sama lain. Sebelumnya Hardy berkata kalau penduduk didesa Corael tidak suka dengan kehadiran Levin.
“Kau sudah menjadi berandalan dan sekarang ingin menjadi Buster?!”
“Ya,” jawab Levin polos.
“Alasan yang konyol! Jika memang kau mau mencapai impianmu harusnya kau pergi dari desa ini sekarang dasar bocah berandalan!” bentak Hardy.
Levin hanya terdiam kebingungan.
“Kau ini bicara apa pak tua desa? Tentu saja aku akan pergi jika sudah lebih kuat.”
“Tapi yang kau lakukan disini hanyalah membuat keributan!”
Hardy seakan menasehati Levin seperti seorang cucunya. Bisa dibilang kalau hubungan mereka persis seperti hubungan Azka dan Yasue dulu.
Levin lalu menatap Azka dengan serius, “Azla?”
“Azka!”
Levin masih saja salah menyebutkan namanya Azka. Dan itu benar benar membuat Azka jengkel.
“Azka ya? Maaf maaf … jika boleh tau kenapa kau ingin menjadi Buster?”
Suasana menjadi hening saat Levin bertanya tentang itu pada Azka. Levin penasaran kenapa Azka yang ternyata baik mau menjadi Buster.
“Kenapa aku harus menjawab pertanyaanmu?”
Azka merasa kalau pertanyaan itu tidak harus diketahui olehnya. Lagipula dia juga tidak terlalu mengenal Levin.
Selain itu, Azka juga tidak peduli tentang apa impian yang dimaksud Levin.
“Aku hanya penasaran sih hehehe.” Levin tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya.
Azka menatapnya seakan ada sesuatu yang ingin dia ketahui. Mungkin mengatakannya tidak terlalu berpengaruh apa apa dan bisa saja dia mendapatkan informasi yang penting.
“Tujuanku hanya satu. Final Valley.”
“Fi-final Valley?!” tanya Hardy dengan mata membesar.
Hardy dan Vina benar benar kaget saat mendengar nama Final Valley. Seakan mendengar Final Valley adalah hal yang sangat dilarang.
Azka, Tricia dan Levin hanya terdiam kebingungan dengan reaksi Hardy dan Vina.
“Benarkah kau mau menemukan Final Valley?” tanya Vina untuk memastikan.
“Ya,” jawab Azka tanpa ragu.
“Oi, nak aku tau kau orang yang kuat. Tapi apa kau sadar apa yang kau bicarakan itu?!”
“Tentu. Final Valley ya Final Valley,” jawab Azka dengan polos.
Tricia hanya tertawa kecil saat Azka mengatakannya dengan polos. Ia paham kalau orang orang mungkin akan terkejut saat mendengar nama Final Valley. Apalagi Azka sama sekali tidak tau apapun tentang Final Valley di mata orang orang.
“Kau ini bodoh ya? Final Valley adalah tempat yang bahkan sudah dianggap legenda oleh banyak orang!”
“Aku juga tahu tentang hal itu.”
“Banyak sekali Buster diseluruh daratan pergi menemukan tempat misterius itu. Mid Land yang menjadi daratan terluas selalu menjadi tujuan dari para Buster untuk menemukan tempat itu! Tapi, sesampainya disana kabar mereka bahkan tak pernah terdengar lagi.”
Hanya menceritakannya saja membuat kakek Hardy sampai merinding ketakutan.
“Apa Mid Land seberbahaya itu?” tanya Levin dengan polos.
“Tentu saja dasar bodoh! Daratan yang kita tinggali sekarang adalah North Land yang berbatasan langsung dengan daratan Wistoria yang ada dibarat dan juga daratan Herse yang ada ditimur. Jika dibandingkan dengan 3 daratan itu, Mid Land masih berkali kali lipat lebih luas.”
Dan itulah yang menjadi alasan kenapa Mid Land menjadi tujuan utama para Buster menemukan Final Valley. Selain daratan yang sangat luas, orang orang diluar Mid Land menganggap kalau daratan itu masih misterius.
“Para Buster yang berhasil kesana memang adalah orang orang yang terpilih dan sangat kuat. Markas pasukan Lancer didaratan itu juga jauh lebih banyak dan sangat kuat jika dibandingkan dengan daratan North Land. Bahkan orang orang memberi julukan untuk Mid Land dengan sebutan kuburan dari keputusasaan.” Hardy menambahkan.
“Kuburan dari keputusasaan?” lirih Tricia.
“Ya. Aku memang berterima kasih karena sudah membantu Vina, tapi sebaiknya kau lupakan saja tentang tujuanmu.”
Hardy bercerita seperti itu untuk membuat Azka dan Tricia mengurungkan niatnya mencari Final Valley. Selain tujuan yang terbilang mustahil, Mid Land sendiri sangat berbahaya untuk dimasuki.
Azka hanya memasang tatapan datar saat Hardy menceritakan apa yang dia tau tentang Mid Land.
“Melupakannya katamu?”
Hardy terdiam ketakutan melihat tatapan Azka.
“Aku bisa hidup didunia ini semua berkat seseorang yang telah merawatku. Jika aku sampai melupakan janjiku padanya, aku lebih baik mati daripada menjadi manusia yang penuh penyesalan!” Azka memasang tatapan serius kepada Hardy.
Hardy, Vina dan Levin terdiam mematung saat Azka mengatakan hal yang tidak mereka sangka. Dari tatapannya sangat menunjukkan kalau Azka benar benar serius untuk pergi menemukan Final Valley.
“Aku mohon izinkan aku ikut dalam perjalananmu.” Levin memohon dengan serius.
“Sudah kubila—”
“Aku yakin kalau kita memiliki impian yang hampir sama. Jadi aku mohon bawalah aku bersamamu, Azka.” Potong Levin.
Levin merasa kalau Azka adalah orang yang tepat untuk membantu mencapai mimpinya. Ia yakin kalau ia akan benar benar cocok dengan Azka kedepannya, tentu saja sebagai teman.
Azka hanya terdiam ketika melihat sosok Levin yang tiba tiba serius. Itu malah membuatnya semakin penasaran tentang impian yang ingin dicapai Levin.
“Aku tidak mengerti … apa sebenarnya impianmu?”
“Impianku adalah ….”
BOOM! BOOM!
Tiba tiba terdengar beberapa suara ledakan yang tidak jauh dari tempat mereka. Ledakan itu membuat beberapa rumah warga menjadi rubuh.
“Apa itu?” tanya Tricia panik.
“Mereka ….”
Hardy terdiam menatap sekumpulan orang orang yang berjalan kearah mereka. Orang orang itu adalah Clint Buster.
Mereka berjalan sambil merusak beberapa rumah disekitar. Clint yang memimpin anak buahnya memasang tatapan kemarahan saat melihat mereka.
“Sudah kuduga mereka ada disini.”
Langkah mereka lalu terhenti dihadapan mereka. Orang orang clint Buster mengeluarkan seluruh senjatanya seakan bersiap untuk bertarung.
Azka dan yang lainnya menatap kedatangan mereka dengan tatapan tajam.
Clint mengeluarkan senyuman kecil, “Ternyata benar kau masih hidup, bocah dagger hitam.”
Seluruh orang di Clint Buster lebih mengenal Azka sebagai bocah dagger hitam.
Clint sebelumnya yakin kalau yang telah melukai Fidel adalah Azka, tapi ia tidak menyangka kalau Azka seperti baik baik saja setelah menerima lemparan yang cukup kuat dari Fidel.
“Hihihihi jadi dia orangnya ya, dan juga ada berandalan yang selama ini kita incar.” Clive terkikik dengan tampangnya yang aneh.
“Jadi kalian datang kesini ya?” tanya Azka dengan santai.
“Biar ku pastikan, apa benar kau yang telah mengalahkan Fidel?” tanya Clint.
“Apa maksudmu pria aneh dengan cambuk itu?” Azka teringat dengan pria yang telah melemparnya dan mencuri beberapa barang di kedai Vina.
“Ternyata benar kau pelakunya.”
Clint dan Azka hanya saling menatap dengan dingin satu sama lain.
“Oi kalian semua! Kalian akan aku hajar!” teriak Levin dengan semangat. Ia bahkan menunjuk secara langsung kepada Clint.
“Menghajarku?” tanya Clint sambil menahan kesal.
“Bodoh! Apa yang kau katakan?!”
Hardy sangat panik ketika Levin tambah memanasinya. Sejak tadi Hardy begitu ketakutan ketika Clint Buster datang di hadapan mereka. Ia benar benar tidak tau apa yang sebenarnya Azka dan Levin lakukan hingga membuat mereka begitu marah.
Dengan yakin Hardy lalu menarik tangan Vina untuk pergi dari tempat itu. Disaat mereka melarikan diri tiba tiba Clive mengeluarkan dua pemukul besi untuk menyerang mereka.
“Tidak akan kubiarkan kalian pergi heheheh.”
Dengan cepat Levin menahan kedua pemukul besi milik Clive.
“Apa yang kau lakukan dasar wajah biru putih aneh!” Levin menatap mata hitam Clive dengan tajam.
“Wajah biru putih aneh katamu?! Berani sekali kau menghina penampilanku yang spektakuler ini!”
Dengan kesal Clive meyerang Levin dengan kuat tapi, Levin berhasil menghindar darinya. Pukulan yang kuat dari Clive meleset hingga membuat tanah disekitarnya menjadi berlubang cukup dalam.
“Sialan dia berhasil menghindar!” Clive melihat Levin yang melompat menghindari serangannya.
“Ta-tanahnya menjadi berlubang seperti itu?!”
“Wa-wakil Clive benar benar mengerikan.”
Anggota Clint Buster ketakutan setelah melihat pukulan Clive yang begitu kuat bahkan sampai membuat lubang yang cukup dalam.
“Bahaya juga ternyata ….” Levin kaget melihat lubang yang cukup dalam.
Levin lalu berdiri dihadapan Clive. Tapi dia tiba tiba menatap Azka sambil tersenyum.
“Aku masih belum mengatakannya kan?”
“Hm?” Azka kebingungan dengan maksud pertanyaan Levin.
“Impianku adalah … menjadi petarung terkuat!”
“Petarung?”
Azka seperti mendengar sesuatu yang konyol. Tapi ia tidak kaget karena kelakuannya juga begitu konyol.
“Mungkin itu singkatnya. Impianku yang sebenarnya adalah membuktikan kepada dunia kalau bertarung dengan tangan kosong juga bisa menjadi yang terkuat!” Levin menatap Azka dengan penuh keyakinan.
Azka dan Tricia hanya terdiam ketika mendengar alasan untuk menjadi petarung terkuat. Ternyata dibalik sifat bodohnya ia mempunyai impian yang cukup menarik.
Tricia lalu menatap Azka sambil tersenyum. Ia merasa kalau Azka sepertinya akan akrab dengannya suatu saat nanti. Mengingat tujuan mereka bisa dikatakan hampir sama.
“Impian yang konyol,” ucap Azka dengan datar.
“Kita berdua memiliki impian yang konyol bukan hahahahaha!” Levin tertawa terbahak bahak.
“Kali ini aku setuju denganmu.”
Seketika Azka dan Levin menjadi sangat akrab karena satu pemikiran. Ia sendiri tidak menyangka kenapa dia bisa bersemangat saat mempunyai tujuan dan impian yang sama sama konyol.
“Maju kalian semua!”
“Baik bos!” Teriak seluruh anggota Clint Buster.
Clint memerintah seluruh anak buahnya untuk menyerang Azka dan Tricia.
Secara bersamaan, Azka dan Tricia mengeluarkan senjata mereka masing masing dan bersiap untuk menghadapi kepungan Clint Buster.
To be Continued…