Black Buster

Black Buster
Chapter 47 "Incident Behind the Theft"



Chapter Spesial.


Jangan lupa juga buat like, komen dan votenya.


Kritik dan saran juga di perbolehkan.


----------------------------------------------


Setelah menjelaskan rencananya kepada Filia, Levin dan Tricia akhirnya pergi mencari tau di mana markas Crimson Buster tempat menahan Alan dan Cornelia.


Sedangkan Azka dan Filia, pergi ke sebuah hutan dengan alasan yang sudah di jelaskan Azka sebelumnya.


“Apa kakak yakin bisa menangkap monster itu semua? Maksudku mereka cukup kuat apalagi mereka melakukan perburuan secara berkelompok.” Filia menatap Azka dengan perasaan ragu.


Sekarang, Azka dan Filia berjalan di tengah hutan dengan tujuan mencari monster yang bisa di jual. Azka memiliki pengetahuan yang cukup banyak tentang monster di sekitar sana. Dan dari buku yang pernah ia baca, ada sebuah monster yang cukup mahal di dekat desa Kitara.


“Tenang saja,” ucap Azka. “Lagipula inilah satu satunya cara mengumpulkan uang tercepat.”


Filia hanya mengangguk dengan ucapan Azka. Dia juga sebenarnya tahu kalau ada monster yang cukup langka di beberapa penjual material. Tapi karena mereka sangat kuat, Filia masih belum sanggup melawan mereka.


Suasana canggung akhirnya di rasakan oleh Filia ketika dia pergi berdua bersama Azka. Meski Azka adalah orang yang menolongnya kemarin, tapi ia masih sedikit ketakutan karena tatapan dingin Azka.


Sambil berjalan, Filia memandangi Azka dengan tatapan canggung.


“A-aku sangat berterima kasih karena kakak sudah membantuku sejauh ini.” Filia menuurunkan wajahnya.


“Kau tak perlu berterima kasih,” kata Azka. “Lagipula kita masih belum menemukan ‘Wolfem’ untuk di jual.” Azka masih berjalan dengan FIlia yang ikut di sampingnya.


Wolfem, monster srigala yang hidup secara berkelompok. Sebenarnya ukuran dari monster srigala itu tidak sebesar Grant Wolf saat kejadian di desa Torbe. Tapi karena mereka hidup secara berkelompok, itu membuat mereka menjadi sulit di buru.


Sesuai buku monster yang Azka baca, harga dari inti tubuh Wolfem adalah 20.000 Nam. Tentu harga itu jauh lebih murah dari Grant Wolf yang memiliki inti senilai 150.000 Nam.


Setelah berjalan cukup lama, Azka mulai memecah suasana.


“Filia, kalau boleh tau kenapa mereka menculik teman temanmu?” Azka bertanya meski tak melihat tatapan Filia.


Sambil terus berjalan, Filia hanya menunduk.


“Itu kejadian tiga minggu yang lalu.”


Filia mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada teman temannya.


***


Tiga minggu yang lalu di Kota Hayate.


Saat itu, Filia yang memakai sebuah jubah hitam yang menutupi hampir seluruh wajahnya, sedang berjalan bersama Alan dan Cornelia.


Mereka berjalan di tengah kota dengan tujuan membeli perlengkapan panti asuhan dan mencari obat obatan untuk Alice.


Lalu, Cornelia mulai menatap Alan dan Filia dengan sepasang mata birunya.


“Hei, hei, apa kalian pernah berpikir kalau dunia ini sangat luas?” Cornelia memasang tatapan antusias.


Alan yang sedang berjalan di tengah mereka berdua lalu berbalik menatapnya.


“Tentu saja Cornelia! Aku sangat yakin kalau dunia ini sangat luas.” Alan mulai menggerakkan tangannya untuk memperjelas.


Cornelia mengangguk mendengar ucapan antusias Alan.


“Bagaimana denganmu, FIlia?” tanya Cornelia.


“Hmm.” Filia meletakan tangannya ke dagu sambil berpikir. “Aku juga berpikir seperti itu tapi, aku takut bertemu orang jahat.” Filia berusaha menutupi keraguannya di balik jubah.


Alan dan Cornelia saling berpandangan lalu kembali menatap Filia.


“Tenang saja Filia,” kata Alan. “Suatu saat nanti aku akan menjadi lebih kuat dan membawa kalian berdua bersama mama untuk mengelilingi dunia ini.” Kedua mata Alan tampak berbinar.


Cornelia mengangguk, “Ya itu benar, jadi kau tidak boleh takut, Filia.”


“Tapi …,” gumam Filia.


“Jangan khawatir,” ujar Alan. “Aku berjanji untuk melindungi kalian berdua.” Alan mencoba meyakinkan Filia.


Setelah mendengar perkataan yang meyakinkan dari Alan, Filia lalu menoleh dan menatap mereka berdua.


“Kalau begitu baiklah!” Filia kembali memasang wajah ceria.


Setelah berjalan cukup lama, tiba tiba terdengar suara ledakan dari salah satu kedai di dekat mereka.


“Maju kalian dasar orang orang lemah!”


Teriakan seorang pria menggema di jalanan kota Hayate hingga mengagetkan Alan, Cornelia dan Filia.


Langkah mereka terhenti ketika memandangi sebuah kedai yang sudah hancur. Mereka mengernyit ketika melihat empat orang yang mengalahkan banyak sekali Buster di sekitar mereka.


Empat orang itu adalah, Crimson Buster.


“Hahahaha! Kalian semua benar benar lemah!” Kazel tertawa dengan lantang hingga membuat orang orang ketakutan.


Di samping Kazel, Chyntia dan Mirio hanya memasang tatapan tajam kepada gerombolan Buster yang ingin menyerang mereka.


Tapi ketakutan mereka semakin menjadi jadi ketika Parviz, ketua dari Crimson Buster menatap mereka dengan tatapan dingin.


“Di-dia, Parviz sang penebas api!” Teriak salah satu Buster yang melihatnya dengan penuh ketakutan.


Rasa ketakutan dari orang itu seperti menular kepada gerombolan Buster yang mulai menurunkan senjatanya.


Sempat terdiam dengan suasana mencekam, Parviz mulai mengeluarkan pedang yang cukup panjang dari sarung pedangnya.


Parviz mulai menatap mereka dengan tatapan tajam. “Sword technique: Red Fang!”


Tebasan merah yang sangat mematikan langsung mendarat dan menumbangkan mereka semua sekaligus.


Kejadian mengerikan itu di saksikan oleh Alan, Cornelia dan Filia yang sejak tadi bersembunyi memandangi mereka. Dari tatapan mereka bertiga jelas terlihat rasa ketakutan yang mendalam.


“Oi, apa apaan itu … dia mengalahkan mereka dengan sekali serang.” Alan tampak ketakutan dengan keringat dingin.


Bahkan Cornelia sampai tidak bisa berkata apa apa ketika melihat serangan mematikan itu. Sedangkan Filia hanya terdiam ketakutan. Melihat situasi yang cukup mengerikan itu, Alan tanpa pikir panjang menarik Cornelia dan Filia untuk pergi.


“Ayo kita lari, Cornelia, FIlia!” Alan berusaha menarik mereka untuk melarikan diri.


“Ta-tapi bagaimana dengan obat mama?” tanya Filia.


“Kita bisa pikirkan itu nanti.” Alan terus menarik mereka untuk lari.


Sementara itu, Kazel yang melihat tiga bocah yang melarikan diri mulai memasang tatapan mencurigakan.


“Oh, ada tiga bocah yang melarikan diri ya,” ucap Kazel.


Parviz yang melihat itu juga mulai sedikit penasaran dan tertuju terhadap bocah yang memakai jubah hitam. Ketika mengamati bocah itu baik baik, dia melihat ekor putih di balik jubah itu.


“Ekor?” gumam Parviz.


Chyntia dan Mirio yang kebingungan dengan maksud Parviz lalu menoleh ke arahnya.


“Ada apa, ketua?” tanya Mirio.


“Dia jangan jangan ….” Parviz masih mengamati Filia yang sedang berlari bersama Alan dan Cornelia.


“Kazel!” teriak Parviz. “Selidiki bocah yang berjubah hitam itu!”


“Hm?” Kazel berbalik dengan wajah kebingungan dan menambahkan. “Apa bocah itu menganggumu?”


“Lakukan saja!” bentak Parviz.


Dengan raut wajah kebingungan, Kazel menuruti perintahnya dan mendekati mereka dengan cepat.


Seketika, Alan, Cornelia, dan Filia terkejut melihat kedatangan Kazel yang sudah berdiri menghadang.


“Mau apa kau?!” Alan meneriakinya sambil berusaha melindungi Filia dan Cornelia.


“Oi, oi, tenanglah,” ucap Kazel santai. “Aku hanya penasaran dengan bocah yang memakai jubah ini.”


Dengan santai, Kazel mulai membuka jubah dari Filia, tapi langsung di hentikan oleh Alan.


“Jangan menyentuhnya!” Alan memukul tangan Kazel yang mulai menyentuh Filia.


“Sialan kau, bocah!” Kazel mulai geram dan menampar Alan hingga terlempar.


“Alan!” FIlia dan Cornelia berteriak ketika melihat Alan terlempar.


“Ini kan?” Kazel mengernyit ketika melihat Filia.


Sementara itu, Parviz, Chyntia dan Mirio ikut terkejut melihat penampilan Filia yang sesungguhnya.


“Sudah kuduga dia pengguna tipe Vistia,” gumam Parviz.


Parviz mengetahui kalau Link memiliki dua tipe yaitu Valdia dan Vistia, tapi wajahnya tiba tiba berubah menjadi antusias ketika melihat Filia yang memiliki tubuh setengah binatang.


Menurut Parviz, pengguna Link tipe Vistia yang tidak bisa mengendalikan kekuatannya pasti memiliki fisik yang sama seperti Filia. Tapi Parviz seakan bersemangat karena pengguna tipe Vistia yang gagal memiliki harga jual yang sangat tinggi di pasar budak.


Di samping itu, Mirio hanya terdiam menaikkan alisnya. “Aku belum pernah melihat tipe Vistia seperti gadis itu.”


Sedangkan Chyntia tampak antusias ketika melihat fisik Filia. “Wah, lucunya,” ucapnya dengan mata berbinar.


Menyadari anggota Crimson Buster yang mulai melirik ke arah Filia, Cornelia dengan tatapan tajam mulai melindungi Filia.


“Jangan mendekatinya!”


Tapi, Kazel terlihat santai menanggapinya, “Oh, kau berani juga ya, gadis kecil.”


Lalu, perintah dari Parviz mulai terdengar. “Kazel, tangkap bocah monster itu!”


“Oke,” ucap Kazel. “Maaf gadis kecil, sepertinya aku akan membawa temanmu ini.” Kazel mulai mendekat namun Filia dan Cornelia terus mundur menghindarinya.


Terlihat raut wajah Filia begitu ketakutan sambil sesekali melirik ke arah Alan yang masih terkapar. Sedangkan Cornelia terus berdiri di hadapan Filia dengan maskud melindunginya.


“Oi, tenanglah aku hanya ingin membawa gadis macan itu.” Kazel terus menghasut dengan wajah santai.


“Tidak akan kubiarkan!” Cornelia berteriak sambil terus mundur di ikuti Filia dari belakang.


“Cornelia ….” Filia hanya bisa terdiam ketika melihat Cornelia.


Setelah cukup lama mengulur waktu, Kazel mulai kesal dan melompat ke belakang Cornelia dan Filia.


“Sudah cukup permainan kejar kejarannya, bocah!” teriak Kazel.


Sontak, Filia dan Cornelia terkejut dan melihat keberadaan Kazel yang tiba tiba di belakang mereka.


“Kemarilah gadis kecil!” Kazel mulai menarik tangan FIlia tapi di hentikan oleh Cornelia yang mengigit tangannya.


“Aw!” teriak Kazel. “Lepaskan itu bocah tengik!” Kazel tampak kesal sambil menggoyangkan tangannya dari gigitan Cornelia.


Sambil menggigit, Cornelia lalu melirik ke arah Filia.


“La-larilah, Filia.” Sambil berusaha mengatakan itu, Cornelia masih menggigit tangan kanan Kazel.


“Tapi ….” Filia hanya terdiam melihat Cornelia yang berusaha melindunginya. Filia terlihat ragu karena tak mau meninggalkan Cornelia sendirian.


“Sialan kau bocah tengik!” Kazel berusaha menarik Cornelia dengan paksa dan akhirnya gigitan itu terlepas.


“Larilah, Filia!” Cornelia berusaha menahan Kazel meski tubuhnya sedang di angkat.


Tatapan yang penuh keraguan terlihat jelas di mata Filia. Dengan air mata yang mulai berkumpul, Filia akhirnya melarikan diri.


Di saat sedang berlari, Filia terjatuh ketika menabrak seseorang bertubuh besar dan orang yang menghadangnya itu adalah Mirio.


“Jangan harap kau bisa lari.” Tangan Mirio mulai mendekati Filia, tapi tiba tiba tangannya di gigit oleh Alan.


Terlihat Alan dengan tubuh yang sedikit terluka, berusaha mengigit tangan Mirio yang cukup besar.


“Alan!” Filia lalu terdiam ketika menatap Alan.


Alan terus menggigit tangan yang berukuran besar itu. Karena ukuran tangan Mirio yang cukup besar, Alan terjatuh ketika Mirio mulai menggoyangkan tangannya.


Tanpa merasa kesakitan, Mirio mulai mengangkat Alan.


“Lepaskan aku!” Alan berusaha melepaskan diri sambil memukul tubuh besar Mirio.


Seakan tak peduli dengan pukulannya, Mirio membawa Alan dan kembali mendekat ke arah Filia.


“Lari, FIlia!” Alan berusaha menghentikan Mirio dengan terus memukulnya.


“Tidak ….” Filia mulai berlutut dengan tatapan kosong.


FIlia terdiam dengan tatapan keraguan ketika melihat Alan dan Cornelia yang berusaha menghentikan mereka. Tapi, keyakinan mulai berkumpul di tubuhnya dan Filia kembali berdiri seakan bersiap menyerang Mirio.


“Oh, jadi kau mau bertarung ya?” Mirio terlihat tenang ketika Filia menatapnya dengan tatapan serius.


“Lepaskan temanku!” Filia melompat dengan cepat dan mulai menyerang ke arah Mirio.


Tapi, serangan Filia dengan mudah di tahan oleh Mirio, bahkan ia menahannya dengan satu tangan.


Filia berusaha untuk melepaskan diri dengan terus mencakar lengan Mirio. Meski mampu melukai lengannya, Mirio masih memasang wajah tenang seakan tak merasakan sakit sama sekali.


Lalu, Mirio melempar Filia hingga menghancurkan lapak buah buahan yang ada di sampingnya.


“Filia!” teriak Alan.


Alan semakin geram ketika melihat Filia terlempar dan kembali memukul Mirio berkali kali. “Kurang ajar! Kurang ajar! Kurang ajar!” teriak Alan berulang kali.


“Apa yang sebenarnya kau lakukan, bocah?” Mirio menurunkan pandanganya menatap Alan yang sejak tadi memukulnya.


“Beraninya kau melukai FIlia!” Alan memasang tatapan geram ketika melihat Mirio.


Mirio yang tampak tenang itu lalu mulai menahan pukulan dari Alan hingga meremasnya dengan kuat. Alan lalu mulai berteriak kesakitan ketika tangannya semakin di remas oleh Mirio.


Setelah meremas tangan Alan, Mirio lalu melemparnya hingga ia terkapar tak sadarkan diri.


Kemudian, Parviz dan Chyntia yang menyaksikan itu sejak tadi datang mendekati Filia yang dalam keadaan terluka.


“Wah, dia benar benar imut,” ucap Chyntia dengan tatapan berbinar ketika memandangi tubuh Filia.


Dengan keadaan yang penuh luka, Filia menoleh ke arah Parviz dan Chyntia. Terlihat tatapan Parviz begitu tajam ketika menatapnya.


“A-aku mohon … jangan sakiti teman temanku.” Filia memohon dengan air mata yang berkumpul.


Parviz hanya terdiam sambil terus menatap Filia dengan tatapan tajam. Lalu tidak lama, Kazel dan Mirio berkumpul bersama Parviz dan Chyntia sambil membawa Alan dan Cornelia dengan keadaan lemah.


“Alan … Cornelia ….” Filia mulai menitihkan air mata ketika melihat Alan dan Cornelia terluka parah.


Namun di saat Filia menangis, dia mengingat perkataan Alan dan Cornelia yang menyuruhnya untuk melarikan diri.


Karena tak ingin usaha teman temannya sia sia, Filia menyeka air matanya dan berdiri di hadapan mereka.


“Aku … tidak akan tertangkap oleh kalian!” Filia memasang tatapan serius sambil bersiap untuk bertarung.


Melihat tatapan gadis kecil itu, Parviz tiba tiba tersenyum kecil. “Percuma saja, kau tidak akan menang melawan kami.”


Tapi, Filia tak peduli dengan kata katanya dan mulai menyerang ke arah Parviz. Tapi, Parviz hanya tersenyum dan memegangi leher Filia dengan mudah.


“Sudah kubilang percuma saja.”


Filia yang lehernya mulai tercekik, berusaha melepaskan dirinya. Namun, genggaman Parviz yang begitu kuat membuat usahanya menjadi sia sia.


Parviz terdiam sejenak lalu menatap Filia dengan senyuman kecil.


“Aku akan melepaskanmu dan juga kedua bocah itu,” ucap Parviz. “Tapi, kau harus memberiku uang sebanyak 10 juta Nam dalam waktu satu bulan.”


Filia yang masih tercekik ikut terdiam setelah mendengar penawaran dari Parviz. Lalu Parviz melepaskan genggamannya dan membuat FIlia terjatuh.


Parviz lalu memandangi anak anak buahnya seakan memberi tau maksud dari perkataannya. Lalu, mereka bertiga mengangguk dan pergi sambil membawa Alan dan Cornelia.


“Aku akan menahan teman temanmu, sampai kau membawakan uang 10 juta Nam di hadapanku.” Parviz kembali menjelaskan.


Filia hanya bisa terdiam ketika melihat teman temannya di bawa pergi, bahkan air matanya mulai berkumpul.


Parviz lalu berbalik dan berkata, “Jika kau tidak berhasil mengumpulkan uang itu, aku akan membaawamu ke penjualan budak.” Parviz mulai melangkahkan kakinya pergi.


Tapi Parviz kembali terhenti dan menatapnya dengan tatapan menyeramkan.


“Tapi,” ucap Parviz. “Kalau kau berencana untuk melarikan diri, aku akan membunuh dua bocah itu.”


Tanpa berkata apa apa lagi, Parviz melanjutkan langkah kakinya dan pergi dari tempat itu.


Sementara itu, Filia masih berlutut dengan tatapan kosong ketika mendengar penawaran dari Parviz.


“Maaf, Alan … Cornelia ….”


To be Continued …