
(1 tahun yang lalu)
Saat itu umurnya 18 tahun, berjalan dengan sigap menuju jalan masuk pergelaran pelantikan Wakil Kapten Lancer di depan Istana kerajaan Oleander.
Azka yang kala itu bersama Izami dan juga beberapa pasukan Lancer lainnya di sambut meriah oleh para penduduk kota yang terlihat meramaikan penyambutan mereka.
Terlihat juga Yasue yang diam diam melihat Azka dari balik kerumunan warga dengan perasaan bangga.
Dari beberapa sambutan yang mengarah ke mereka, Azka sama sekali tidak merasa senang karena beberapa dari para warga itu sempat meremehkan dan menghinanya termasuk Lancer yang ada di depannya.
Dengan tatapan datarnya itu Azka berusaha tidak peduli dengan memalingkan pandangannya ke arah panggung pergelaran. Ada 3 buah kursi yang telah di duduki, termasuk Yuga yang duduk di tengah, Raja Edric di kanan dan 1 orang misterius berseragam Lancer yang duduk di agak menjauh di belakang.
Terlihat mereka bertiga hanya memasang wajah datar seakan menghiraukan suasana kota yang sedang ramai.
"Aku dengar ada beberapa anak yang berbakat dari kerajaan ini," ucap Yuga datar.
Raja Edric yang mendengar pujian dari Yuga tersenyum seakan menyombongkan diri, "Anda terlalu berlebihan. Tapi jika Anda tak keberatan, saya bisa merekomendasikan seseorang yang cocok untuk wakil kapten wilayah Oleander. Dia adalah anak yang sangat berbakat namanya adalah Izami Glind."
Pria yang duduk di belakang dengan potongan rambut hitam berantakan dan janggut tipisnya itu tersenyum kecil mendengar pernyataan dari Raja Edric.
"Oh ... keluarga Glind ya ... ku dengar keluarga Glind memang cukup berbakat,"
"Kau itu harusnya tak perlu menyaksikan pemilihan Wakil kapten, kan? Colonel Morgan." Yuga menatap datar kepada orang yang bernama Morgan itu.
[Note Author: Colonel pangkatnya jauh diatas lebih tinggi dari Kapten]
Morgan yang fisiknya berumur 38 tahun itu tertawa kecil mendengar ocehan dari Yuga, "Oi, oi, santai saja Yuga. Aku sudah lama tidak melihat pemilihan Wakil Kapten. Melihat ya seperti ini, membuatku semakin tua saja." Morgan melihat Yuga dengan santai.
Morgan menghembus nafasnya pelan, "... selain itu, aku sangat tertarik melihatnya. Dari sini, kita bisa menemukan bakat bakat baru untuk pasukan Lancer ke depannya."
"Hehehe ... justru saya merasa sangat terhormat Colonel seperti Tuan Morgan bisa sampai datang kesini," Raja Edric yang sedikit ketakutan meliihat Morgan berusaha menutupinya dengan tersenyum.
"Anda harusnya tak perlu tegang, Raja Edric. Aku hanyalah orang yang numpang lewat di acara ini. Justru bocah ini lah yang akan menjadi pusat utamanya." Morgan dengan santainya menunjuk Yuga.
Yuga merasa sedikit kesal karena di perlakukan seperti anak kecil oleh Morgan, "Seharusnya Anda bisa menjaga sikap seperti layaknya seorang Colonel, Morgan-san!" Yuga sedikit kesal karena tingkahnya itu.
"Baik ... baik ...," ucap Morgan yang seakan tidak peduli.
Azka, Izami, dan pasukan Lancer lainnya, tiba di hadapan mereka bertiga dengan membentuk barisan yang rapi. Azka yang berada di barisan paling belakang itu seketika terfokus dengan kehadiran Yuga dan Morgan.
Izami yang berada di barisan tengah itu diam diam melirik Azka dengan tatapan sinis seolah olah sangat membencinya.
"Saya selaku Raja ke VIII dari kerajaan Oleander ingin mengucapkan selamat kepada kalian semua. Sebagai Lancer dan juga warga dari kerajaan ini saya sangat bangga kepada kalian semua karena telah menjaga kota ini tetap damai dari para Buster dan kejahatan lainnya.
"Sesuai dengan jadwal kenaikan pangkat hari ini. Markas pusat Lancer mengirim Kapten Yuga Tachibana untuk memberikan jabatan Wakil Kapten kepada salah satu dari kalian." Raja Edric menjelaskan agenda acaranya dengan raut wajah yang terlihat sangat berkuasa.
Yuga pun berdiri dari tempat duduknya dan melihat dengan tatapan datar ke seluruh pasukan Lancer yang tertunduk hormat padanya.
"Baiklah kita langsung saja, saya sudah melihat perkembangan dari kalian dan juga berdiskusi dengan beberapa Kapten yang bertugas di dekat wilayah ini. Mereka hanya merekomendasikan 2 nama padaku dan 2 orang ini memang di rasa cukup meyakinkan. Mereka adalah, Izami Glind dan juga ... Azka Endorphane." Yuga seketika melihat Azka yang seakan tidak terlalu peduli dengan ucapannya.
[Note Author: Wakil Kapten Lancer di pilih oleh Kapten yang biasanya bertugas di wilayah itu seperti contoh kasusnya ini adalah pemilihan Wakil Lancer wilayah Oleander. Sedangkan Kapten biasanya bertugas di beberapa wilayah contohnya adalah Yuga yang seorang Kapten dia bertugas untuk 2 kerajaan besar dan salah satunya adalah kerajaan Oleander. Kapten biasanya juga bertugas membantu perkerjaan di luar wilayah itu tergantung dari perintah Markas Pusat Lancer.]
Para penduduk kota yang awalnya senang karena nama Izami yang di rekomendasikan berubah menjadi kecewa mendengar nama Azka.
Izami merasakan hal yang sama, dia tidak menyangka ketika mendengar nama Azka di sebut. Yasue yang juga ikut menyaksikan dari balik kerumunan warga, diam diam merasa sangat senang karena mendengar nama Azka.
"Baiklah, di antara dua nama tadi kalian bisa maju ke barisan depan." Yuga yang melihat mereka maju ke depan dengan perasaan datar itu terus terfokus dengan Azka yang dari langkahnya itu sama sekali tidak terlihat antusias.
Menyadari Yuga sedang memperhatikannya, Azka memalingkan pandangannya dengan ekspresi datar.
Izami yang juga ikut maju terus mengeluarkan senyuman seakan membanggakan diri karena merasa dia yang terpilih.
"Kalian berdua yang sudah menunjukkan kegigihan kalian selama menjadi pasukan Lancer memang sangatlah membanggakan. Tapi, Wakil kapten untuk wilayah ini hanya satu dan orangnya adalah ... Azka Endorphane!" tegas Yuga.
Izami yang seketika terkejut karena bukan namanya yang terpanggil langsung menoleh ke arah Azka dengan tatapan benci seakan tidak terima dengan hasilnya.
"Jangan bercanda! Ini pasti sebuah kesalahan!" Izami menunjuk ke arah Azka sambil memprotes keputusan yang dibuat oleh Yuga.
Melihat Izami marah padanya, Azka masih mengeluarkan ekspresi datar seakan sudah terbiasa.
Sudah kuduga ini akan terjadi, benak Azka.
Suasana di pergelaran tersebut semakin tidak kondusif karena warga yang ikut menyaksikan itu tidak terima dengan pengumuman tersebut. Kecuali Yasue, dia berusaha menyimpan rasa senangnya mendengar hasil tersebut.
Bagus nak, aku tau kau pasti terpilih ..., benak Yasue.
Morgan yang menyaksikan keributan itu hanya tersenyum kecil, "Aku tidak tau apa yang sebenarnya terjadi di sini. Tapi, sepertinya Yuga telah membuat keputusan yang benar." Morgan yang menikmati suasana itu memahami bahwa masyarakat Oleander sudah membenci Azka sejak awal.
"Keputusanku sudah bulat. Azka adalah Lancer yang cukup berbakat dan sangat baik. Dia bahkan terlihat selalu menolong beberapa warga saat di landa kelaparan. Aku memang tau kau berasal dari keluarga yang cukup terpandang dalam segi kekuatan. Tapi, itu saja tidak lah cukup, Izami." Yuga dengan ekspresi tenang berusaha menjelaskan alasannya ke Izami yang masih di telan kekesalan.
"Aku tidak mengerti maksudmu, Brengsek! Jika soal menolong orang orang itu aku harusnya lebih baik darinya! Lagipula kenapa harus anak buangan dan tidak berguna sepertinya yang menjadi Wakil Kapten Oleander?!" Izami terus memprotes dengan wajah kemarahan.
"Aku tidak akan mengubah keputusanku, jika kalian merasa lebih baik darinya harusnya kalian bisa membuktikan itu. Mulai sekarang, dia akan menjadi Wakil Kapten wilayah ini, jadi kalian semua harus bisa menerima hasilnya. Kita adalah pasukan Lancer yang tujuan utamanya adalah menjaga keamanan dunia terutama dari kelompok Buster yang sudah semakin kuat. Ini bukanlah tempat untuk taman bermain yang dimana isinya adalah anak anak! Ini adalah tempat dimana dedikasi kalian sangat di junjung tinggi!"
Yuga dengan wajahnya yang terlihat menakutkan itu dengan tegas menjelaskan kepada semua orang yang hadir dalam pergelaran tersebut.
"Hmm ... keren," celetuk Morgan yang menatap Yuga dengan santai.
Pasukan Lancer lain yang awalnya juga merasa tidak terima tetap berusaha menerima keputusan Yuga.
"Baik!" teriak seluruh pasukan Lancer Oleander.
Mereka akhinya mulai berjalan pergi meninggalkan tempat itu. Warga yang turut hadir pun ikut meninggalkan tempat itu dengan perasaan kesal.
"Cih, aku tidak akan pernah menerimamu sebagai Wakil Kapten!" Dengan tatapan geram, Izami ikut pergi tanpa menunjukkan rasa hormat kepada Yuga dan yang lainnya.
Tunggu saja kau brengsek! Aku akan menjadi wakil kapten tak peduli apapun yang terjadi! benak Izami dendam.
Sedangkang Raja Edric yang memasang senyum paksa itu tetap menyimpan perasaan kesal karena pengangkatan Azka sebagai wakil kapten wilayah ini.
Hanya diam di tempat itu, Azka menatap Yuga dengan tatapan datar.
Suasana di tempat itu seakan tenggelam lautan kesunyian.
Morgan pun berdiri dari kursinya lalu ikut meninggalkan tempat itu seakan tak peduli, "Aku duluan ya, terima kasih atas pergelarannya," ucap Morgan sambil menggaruk kepalanya.
"Selamat atas kenaikan pangkatmu. Aku tunggu pencapaianmu berikutnya." Yuga menatapnya dengan tatapan dingin. Kemudian, dia berbalik dan pergi menyusul Morgan.
Tak ada ekspresi apapun yang di tunjukkan Azka. Dia hanya memasang ekspresi datar, meski dia sendiri cukup senang dengan kenaikan pangkatnya.
Raja Edric yang menunjukkan raut wajah kesalnya juga ikut pergi meninggalkan Azka tanpa mengucapkan satu katapun padanya.
Aku tidak tau aku akan bisa di terima oleh masyarakat atau tidak. Tapi, sepertinya ini akan menjadi lebih buruk ..., benak Azka.
***
(1 Tahun kemudian)
Terus bertahan hampir selama satu tahun dari beratnya cacian yang menimpanya semasa menjadi Wakil Kapten, Azka berusaha menahan semua itu. Tidak ada satupun balasan dari Azka, selain menerimanya dengan santai.
Sekarang, Azka sedang memimpin sebuah pasukan di hamparan rumput yang luas. Langit berwarna abu-abu kala itu, melawan satu kelompok Buster yang cukup banyak.
Pertarungan yang cukup sengit terjadi dengan pemandangan beberapa Buster jatuh tak bernyawa.
Bertindak selayaknya pemimpin, Azka dengan cepat melindungi salah satu rekannya dari sebuah serangan pedang.
Tapi terlihat dari tatapan orang yang di selamatkan Azka itu dia seakan tidak merasa senang karena telah di tolong oleh Azka.
"Aku tidak butuh bantuanmu!" ucap orang itu yang mundur ke arah Lancer lainnya.
Azka yang hanya melihatnya dengan ekspresi datar itu terus berusaha menahan serangan beruntun dengan Twin Dagger hitam miliknya.
"Mati kau Lancer Sialan!" Tiba tiba seorang Buster yang berusaha menyerang Azka itu malah menyerang dengan cepat ke arah seorang Lancer yang telah duluan meninggalkan
"Gawat!" Azka yang menyadari itu berusaha dengan cepat mengejar orang itu.
Clang!
Serangan yang dilancarkan oleh seorang Buster itu berhasil di tahan oleh Azka dengan belati hitamnya. Akan tetapi, sesaat sebelum menghentikan serangan itu, ternyata Azka terkena sedikit goresan di perutnya dan membuatnya cukup kehilangan banyak darah.
Beberapa Lancer melihat itu, tapi mereka hanya diam memandangi Azka bersimbah darah. Bahkan Lancer yang telah di selamatkan oleh Azka, hanya melihatnya dengan tatapan seakan tidak merasa butuh bantuannya.
Dia yang menyadari kesempatan itu seketika mengeluarkan sebuah Peledak Sihir yang ada di kantong tasnya. Dengan tatapan jahatnya itu ia tanpa ragu langsung menngaktifkannya dan melemparnya tanpa perasaan ragu sedikitpun.
Peledak sihir sembari mengeluarkan kilatan merah dari sisinya, meluncur ke arah Azka yang sedang berdiri tak berdaya.
"Selamat tinggal ... pecundang!" ucap orang itu dengan perasaan senang karena akan berhasil menyingkirkannya.
Dia bersama pasukan Lancer lainnya pun pergi meninggalkan Azka tanpa menoleh sedikitpun kearahnya.
Terdiam seakan mematung, pikiran Azka di seakan di selimuti kegelapan. Pandangannya menjadi buram, dan sebuah kata terbesit di pikirannya. Pengkhianat.
Begitu ya ... mereka ternyata sudah berencana melakukan hal ini padaku ..., benak Azka terdiam.
Kedua telinga Azka seakan mati rasa sampai mampu mendengar suara detak jantungnya sendiri. Semakin jantungnya berdetak pelan, suara dari peledak sihir itu semakin terdengar jelas.
"Oi, Apa kalian bercanda?! Tidakk! Aku tidak ingin mati!" teriak salah seorang Buster yang masih di tahan serangannya oleh Azka.
Dia pun mengeluarkan keringat dingin karena ketakutan melihat Peledak Sihir yang juga menuju ke arahnya.
Sepertinya ... aku akan mati disini .... Azka yang terlihat pasrah itu perlahan menutup matanya seakan menerima Peledak Sihir itu akan membunuhnya.
Boom!
Sihir peledak itu pun meledak dengan kekuatan ledakan yang cukup dahsyat hingga menimbulkan gumpalan asap yang sangat banyak dari tempat Azka menahan serangan itu.
***
Hari yang sudah larut malam di hamparan padang rumput dan di temani api unggun Azka tiba tiba berteriak dan terbangun dari tidurnya.
"Agh!" Azka merasa shock hingga mengeluarkan keringat dingin dan nafas yang terengah-engah.
"Kenapa aku bisa bermimpi tentang kejadian itu?" Azka yang berusaha mengatur nafasnya itu berusaha mencerna kejadian yang menimpanya pada 2 minggu yang lalu.
Azka yang masih merasa shock kemudian melihat pelan ke arah Tricia yang sedang tertidur pulas menghadapnya dari jarak sekitar 5-meter dari tempatnya tidur.
Azka yang sudah mulai merasa tenang kemudian kembali menatap Tricia dengan tatapan datar. Di dalam benaknya, Azka bertanya tanya kenapa Tricia bersikeras ing menemani perjalanannya.
Tapi satu hal yang pasti, Azka sangat yakin jika suatu saat nanti Tricia pasti akan mengkhinatinya persis seperti yang di lakukan semua orang.
To be Continued...