Black Buster

Black Buster
Chapter 14 "Solitude, Part 2"



(Kerajaan Oleander, 12 Tahun yang lalu)


Beberapa hari setelah kematian Mia di desa Masaya, Azka masih menyimpan perasaan yang amat sedih dari kedua matanya. Saat itu tidak ada lagi yang bisa ia lakukan selain menuruti kemauan Mia untuk menyelamatkan diri meski ia enggan melakukannya.


Dia juga terus berjalan tanpa tujuan dan sampai di sebuah kerajaan bernama Oleander. Suasana perkotaan yang sangat berbeda dari desa Masaya, Azka seperti berada disebuah negeri yang sangat asing.


Sekarang hidupnya harus berubah setelah kehilangan Mia. Azka harus bertahan hidup apapun yang terjadi sesuai permintaan terakhir Mia padanya.


Azka memasuki kerajaan tersebut dengan penampilan yang lusuh dan wajah yang berantakan. Ia juga sangat kelaparan karena belum memakan apapun sejak pelariannya dari desa.


Ia memasang tatapan lemah melihat sekeliling kota yang sangat asing. Terlihat beberapa penduduk yang melihatnya memasang tatapan jijik ke arahnya. Azka yang menyadari itu kebingungan kenapa penduduk dikota ini merasa jijik padanya.


"Siapa anak itu?"


"Anak itu pasti pelarian dari desa yang sudah hancur itu"


"Kenapa dia bisa kesini?"


Pembicaraan beberapa warga terdengar ditelinga Azka, Ia menyadari kalau penduduk kota itu membencinya sama seperti yang di lakukan orang orang di desanya.


Langkah kaki Azka terhenti di sebuah kedai, Ia melihat sebuah makanan yang disajikan oleh pelayan kedai itu sambil menelan ludahnya.


Tidak lama kemudian datang seorang pemilik kedai dengan wajah kemarahan.


"Oi, Anak sialan! Apa yang kau lakukan disitu?! Kau menganggu para pelangganku!"


"Tapi ... aku tidak melakukan apapun."


"Pergi kau dari sini dasar menjijikkan!" Pemilik kedai itu memukulnya hingga terjatuh.


"Jangan pernah tunjukkan wajahmu disini!"


Azka memegang pipinya yang dipukul sambil memasang tatapan sedih. Ia berusaha bangun dan melanjutkan langkahnya untuk pergi dari kedai itu.


Suasana kota benar benar terasa asing baginya, dengan kehilangan Mia ia kini tidak tau harus melakukan apa. Tatapan jijik dan marah dari orang orang begitu terasa dikepalanya.


Ia lalu melihat gang kecil dengan beberapa tumpukan sampah. Azka mendekati tumpukan itu karena berniat mencari makanan sisa yang telah dibuang. Saat sedang mencari, Azka yang sedang menaiki kotak kayu untuk mencari makanan tiba tiba terjatuh.


Tiba tiba ada seseorang yang muncul dari arah berlawanan. Ia melihat Azka yang sedang terjatuh dengan kondisi setengah mabuk.


"Oi bocah sialan ... apa yang kau lakukan itu ha?! Kau ini berisik sekali!"


Azka melihat orang itu dengan tatapan lemah sambil berusaha untuk bangun. Disaat Azka mau berdiri, tiba tiba kaki dari orang itu menahan tubuhnya.


"Jawab pertanyaanku bocah sialan!"


"A-aku ... hanya ingin mencari—"


"Ha?! Aku tidak mendengarmu brengsek! Bicaralah yang keras!" potong pria mabuk itu.


"Aku ... hanya ingin mencari makanan ditempat ini ...."


"Makanan? Ditumpukan sampah itu? hahahaha, jangan membuatku tertawa!" Kaki dari orang itu menginjak Azka hingga membuatnya terkapar.


Dengan sisa tenaga, Azka berusaha untuk lepas dari injakan orang itu. Tapi ia tidak sanggup karena tubuhnya begitu lemas.


"Oi ... biar kuberi tau padamu. Anak buangan dari desa miskin sepertimu tidak akan pernah di anggap oleh kerajaan ini! Aku sudah hidup lebih dari 20 tahun di tempat ini dan kerajaan ini benar benar sampah!"


Dengan tatapan lemah, Azka hanya terdiam melihat orang itu.


"Ada apa dengan tatapanmu itu hah?! Apa kau berpikir aku akan menolongmu? Enak saja!" Orang itu kembali menginjaknya dengan keras.


"Aku bukanlah orang suci yang mau menerima perlakuan mereka! Selain itu, menyiksa anak buangan sepertimu memang cukup menyenangkan." Orang itu melihat Azka dengan tatapan jahat.


Orang itu lalu menendang tubuh Azka dengan keras, ia terus menendangnya berkali kali. Azka hanya bisa terdiam pasrah menerima perlakuan orang itu.


"Rasakan ini!" Orang itu menendang dengan keras lalu pergi sambil meminum botol birnya.


Azka terbatuk mengeluarkan darah, ia memegang perutnya karena menahan sakit. Ia hanya bisa menatap orang itu dengan mata menggenang. Azka bahkan tidak sanggup untuk menangis karena tidak mengubah apapun.


Lalu hujan mengguyur seluruh kerajan Oleander, hujan itu seakan memperburuk nasibnya.


Suara langkah kaki terdengar mendekati Azka, seorang pria tua yang sedang membawa payung itu memasang wajah ramah kepadanya. Ia mengulurkan tangannya ke Azka dari balik payung.


"Biar kubantu berdiri ...."


Azka melihat orang itu dengan tatapan lemah, "Si-siapa ... kau?"


"Namaku ... Yasue." Yasue yang bertampang seram itu memasang wajah ramah padanya.


"Aku ... tidak butuh bantuanmu ...." Azka yang sudah tidak kuat menahan rasa sakit dan lemas, tiba tiba tidak sadarkan diri.


***


Azka kembali tersadar dan terkejut ketika menyadari ia berada di sebuah ruangan. Dengan tatapan lemah ia melihat sekeliling dan melihat ada sebuah makanan di sampingnya.


Ia kebingungan melihat makanan itu sambil menelan ludahnya.


"Kau sudah sadar nak?" Yasue memasuki ruangan dengan putung rokok dimulutnya.


Azka hanya melihatnya dengan tatapan datar. Walaupun ia bertemu dengan orang asing yang wajahnya seram, dia sama sekali tidak merasa ketakutan.


"Kenapa kau menolongku?"


"Entahlah ... aku hanya ingin menolongmu." Yasue menggaruk kepalanya.


"Aku berterima kasih tapi, sebaiknya aku pergi dari sini." Sambil menahan sakit ia terbangun dan berniat pergi dari ruangan itu.


"Oi! Mau kemana kau?!"


Azka panik ketika Yasue meneriakinya, ia lalu berlari meninggalkan tempat itu. Disaat berlari ia kemudian terjatuh karena tubuhnya benar benar lemas.


Yasue yang melihat itu hanya menghembuskan asap rokoknya.


"Kenapa kau tiba tiba ingin pergi? Aku bukanlah orang jahat."


Azka tidak peduli dengan kata katanya dan berusaha untuk bangkit.


"Oi ... kau mendengarku bocah?!"


"Aku ... tidak mempercayai siapapun."


Yasue hanya terdiam mendengar jawaban dari Azka. Ia berpikir kalau anak itu sepertinya selalu mengalami siksaan dan hinaan dari orang orang sekitar.


Yasue menghela nafasnya, "Aku tidak menyuruhmu untuk mempercayaiku. Kalau kau memang ingin pergi aku tidak akan melarangmu. Tapi, sebaiknya kau makanlah terlebih dahulu."


"Aku ... tidak lapar."


"Aku tau kalau kau lapar, tenang saja aku tidak meracuni makanan itu." Yasue melihat Azka dengan tatapan meyakinkan.


Yasue lalu pergi mengambilkan makanannya, "Makanlah nak ...," ucap Yasue sambil memberikan makanan untuknya.


Azka hanya terdiam menerima makanannya, ia merasa kalau orang itu berkata jujur.


Dia mengambil sendoknya dan memakannya secara perlahan. Ia merasa senang karena akhirnya ia bisa memakan sesuatu selama 3 hari menahan lapar.


Yasue yang melihat Azka makan dengan lahap hanya bisa tersenyum dengan rokok di tangannya.


***


Setelah pertemuannya dengan Yasue beberapa minggu yang lalu, Azka tetap tidak mempercayai orang itu. Ia yakin kalau orang itu mempunyai maksud jahat padanya. Yasue sempat menawarkan ia untuk tinggal ditokonya tapi ia menolak.


Azka terus bertahan dikota itu sebagai jasa bersih bersih para penduduk. Kehadiran dirinya dikota itu telah terdengar oleh seluruh penduduk di kerajaan Oleander.


Segala cacian dan siksaan terus ia dapatkan hampir setiap hari. Kerajaan Oleander memang selalu mendiskriminasikan anak yatim piatu seperti Azka. Kebencian para penduduk bertambah setelah mereka tau kalau Azka adalah anak dari desa miskin bernama Masaya yang telah hancur sebulan yang lalu.


***


Terlihat Azka sedang membersihkan salah satu rumah milik warga. Ia telah menyelesaikan perkerjaan terakhirnya dan disaat bersamaan pria pemilik rumah itu mendatanginya.


"Pekerjaannya sudah selesai." Azka berbalik kearahnya dengan tatapan datar.


Pria itu memasang tatapan jijik kearahnya, ia lalu memandangi seisi rumahnya yang terlihat rapi.


"Ini uangmu." Pria itu memberi uang sebanyak 500 nam ke Azka.


Azka menerima uang itu dengan ragu, "Bukannya jatahku harusnya 2000?"


"Ha?! Kau pikir siapa dirimu sialan?! Sudah bagus aku memberimu uang!"


"Tapi ...."


Pria itu memasang wajah marah ketika melihat Azka yang sangat tenang. Lalu dengan berat hati dia memberikan sisa uang itu padanya.


"Pergi kau dari sini anak sialan! Jangan pernah datang ketempat ini, cuih!" Pria itu meludah ke pakaian Azka.


Azka yang menerima perlakuan pria itu tetap memasang wajah datar dan pergi dari tempatnya.


Ia keluar dari rumah itu sambil memegang uang dari hasil kerjanya. Ia yang belum makan sejak pagi berniat untuk membeli beberapa makanan.


"TOLONG! Anak itu mencuri uangku! Siapapun itu tolong tangkap dia!" Teriak pria tadi sambil menujuk ke Azka.


Langkah Azka terhenti ketika menyadari pria itu menuduhnya sebagai pencuri. Azka terdiam karena terkejut mendengar hal itu.


Tidak butuh waktu lama, beberapa penduduk itu datang dengan wajah kemarahan ketika mengetahui Azka adalah pencurinya.


"Anak itu rupanya!"


"Benar benar menjijikkan!"


"Harusnya kau mati, dasar pencuri!"


Gerombolan orang itu mendekat ke Azka dengan wajah penuh amarah. Pria tadi yang menuduhnya hanya mengeluarkan senyuman munafik dari belakang.


"Aku tidak melakukan apapun ...." Azka memasang wajah panik melihat mereka.


"Jangan banyak alasan!" Salah satu pria langsung memukulnya dengan keras hingga hidungnya berdarah.


"Su-sungguh ... aku sama sekali tidak mencuri ...." Azka yang dalam keadaan tersungkur berusaha menjelaskan kebohongan pria itu.


"Sudah ku bilang jangan banyak alasan!" Orang itu kembali menendangnya dengan keras.


"Uhuk ... uhuk ... aku mohon ... dengarkan penjelasanku." Azka batuk batuk kesakitan.


"Penjelasan?! Jelas jelas kau sedang memegang uang saat keluar dari tempat itu!"


"Benar! Aku juga melihatnya!"


Lalu pria yang tadi menuduhnya mendekat ke arah Azka dengan memasang tatapan jahat.


"Harusnya kau itu mati saja, dasar anak menjijikkan!" Pria itu menendangnya dengan keras.


Lalu gerombolan orang itu ikut menendangnya secara bersamaan.


"Ta-tapi ...." Azka yang wajahnya mulai berdarah hanya bisa menerima tendangan dari orang orang itu.


"Harusnya kau itu mati saja!"


"Kau tidak layak untuk hidup di dunia ini, dasar anak tidak tau diri!"


Salah satu orang itu mengangkat Azka dan memukulnya dengan keras hingga terjatuh. Mereka lalu kembali memukulnya tanpa menunjukkan belas kasihan dari wajah mereka.


Kenapa ... kenapa ...tidak ada yang mau mendengarku? batin Azka dengan mata menggenang.


"Hentikan kalian semua!" teriak seorang pria dari kejauhan.


Gerombolan orang itu menghentikan siksaan mereka lalu melihat ke orang yang sudah tidak asing bagi mereka.


Yasue yang tadi berteriak lalu mendekat ke arah mereka.


"Apa yang kau katakan, Yasue?!" ucap salah satu orang dengan nada tinggi.


"Jangan bilang kalau kau membela anak ini!"


"Kalian sudah keterlaluan! Dia hanyalah anak anak!" Yasue membalas perkataan mereka dengan wajah marah.


"Tapi dia sudah mencuri uang salah satu dari kami!"


"Kalian bahkan belum sempat mendengar penjelasannya!"


"Kita tidak butuh penjelasannya! Lagipula dia hanyalah anak buangan tanpa punya siapa siapa."


"Itu benar, bisa bisanya anak ini berada disini! Anak menjijikkan seperti dia harusnya mati saja!"


"Kalian ...." Yasue menahan amarahnya.


"Apa kau mau menggantikan siksaan anak ini, haaa?!"


Salah satu dari mereka memegang kerah Yasue dan bersiap memukulnya.


Tiba tiba pandangan mereka semua tertuju ke arah Azka. Dia berusaha untuk berdiri dengan tubuh dan wajah yang dipenuhi darah.


Azka hanya melihat mereka dengan tatapan lemah. Ia menyadari kalau Yasue mencoba untuk menolongnya.


"Nak!" Yasue memasang wajah khawatir ketika melihat keadaan Azka.


Azka lalu berjalan secara perlahan meninggalkan mereka semua.


Yasue lalu menahan tangannya Azka untuk tidak pergi, "Oi, Nak! Kau harusnya menjelaskan apa yang sebe—"


"Menjauhlah dariku!" potong Azka dengan tatapan menyeramkan.


Azka lalu menlempar uang yang dia dapat ke pria yang menuduhnya. Ia melepas genggaman dari Yasue dan berjalan dengan lemah meninggalkan mereka.


Semua orang yang disitu hanya bisa terdiam melihat tatapan Azka yang begitu menyeramkan.


"Dasar anak iblis ...."


"Aku tidak akan mengampuninya ...."


Gerombolan warga itu lalu pergi meninggalkan kejadian itu.


Yasue yang tidak peduli dengan ucapan para warga hanya bisa terdiam melihat Azka yang pergi dengan keadaan seperti itu. Air mata Yasue terbendung karena Azka selalu menderita dari siksaan orang orang di kerajaan Oleander.


***


Hujan tiba tiba mengguyur seisi kerajaan dan hutan. Azka yang berjalan dengan tubuh yang dipenuhi darah sampai di padang rumput yang tidak jauh dari kota Olean.


"Aku tidak butuh siapapun!" Azka memasang wajah marah terhadap gerombolan Mousse.


Gerombolan Mousse itu lalu menyerang ke arahnya tapi, Azka yang dipenuhi amarah dengan mudah membunuh semua Mousse itu dengan Twin Daggernya.


"Huft ... huft ...." Sambil mengatur nafasnya Azka mengingat Yasue yang sedang membelanya saat di siksa oleh para warga.


"Aku hanya bisa melukai orang orang yang berada didekatku ...." Azka menangis karena gara gara dia Yasue hampir di benci oleh seluruh warga.


"Kenapa ... aku menangis ...." Azka terus mengusap air matanya yang tak kunjung berhenti.


Azka lalu terjatuh dan menatap langit yang di penuhi oleh awan hitam. Hujan yang telah turun itu seakan menemani dirinya yang terus menangis.


"Apa yang aku harus lakukan ... Mia-san?"


Dengan hujan yang membasahi darah ditubuhnya, Azka terus menangis karena hidupnya benar benar sendirian.


***


(Masa Sekarang)


Azka masih berada di kamar penginapan kota Olean karena hilangnya Tricia. Dengan wajahnya yang datar, Azka masih mengingat jelas tentang masa lalunya yang begitu kelam.


Meningat semua itu memang membuatnya sedikit kesal. Tapi berkat itu juga, Azka tau kalau ia tidak akan bisa berteman dengan


"Semoga kita bisa bertemu lagi ... Tricia."


To be Continued ...