Black Buster

Black Buster
Chapter 58 "Remaining Hope"



Matahari semakin menunjukkan tanda-tanda tenggelam di ufuk barat desa Kitara. Cahaya merah itu juga menerangi seisi desa Kitara yang sangat sepi, termasuk Azka dan Alice yang tertutup oleh cahaya senja.


Setelah mendengar pertanyaan Azka yang tiba-tiba, Alice hanya bisa tersenyum ramah.


“Jadi … kau menyadarinya ya ….”


Ketika Alice menggumam, Azka hanya diam dengan tatapan datar. Dia masih belum bisa menyimpulkan maksud ucapan Alice. Lagipula dia menanyakan itu karena teringat oleh sikap Alice yang seperti menutupi sesuatu.


Tapi mengetahui hal itu, Azka semakin yakin ada yang di sembunyikan oleh Alice tentang perginya penduduk desa Kitara.


“Aku tidak keberatan kalau nenek menolak menjawabnya ….”


Dari awal Azka memang tidak berniat untuk memaksa seseorang kalau memang tidak mau menceritakannya.


“Begitu ya ….” Alice lalu berjalan ke samping panti asuhan, di mana ada beberapa tumpukan batang pohon yang sudah di tebang.


Dia hanya berjalan tanpa mengatakan apa apa, dan duduk di atas tumpukan itu.


“Aku sebenarnya tak bermaksud untuk menutupi itu dari kalian ….” Alice melanjutkan kata-katanya sambil menatap matahari terbenam.


Sedangkan Azka hanya diam sambil menatap Alice dengan datar. Alasan dia menanyakan itu karena Filia terlihat menderita dengan tubuh monsternya.


Alasan itu juga di perkuat setelah Filia menceritakan tentang dirinya saat berburu di hutan.


Alice masih tersenyum kecil dan kembali berbicara. “6 tahun yang lalu, desa ini masih di huni oleh beberapa penduduk.”


“Tapi mereka semua pergi ke kota, apa itu benar nek?” Azka memasang tatapan curiga.


Sempat terdiam sejenak, Alice lalu menjawabnya dengan ekspresi mendalam. “Mungkin bisa jadi, tapi itu tidak sepenuhnya benar.”


Azka hanya diam karena sudah menduga jawaban itu. Dia memang yakin kalau Alice berbohong tentang penduduk desa ini.


“Aku sengaja menutupinya kemarin,” lanjut Alice. “Aku hanya tidak ingin membuat Filia merasa bersalah jika mengatakan itu pada kalian.”


Filia? sebenarnya ada hubungan apa penduduk desa ini dengan Filia?


Pertanyaan itu terus terlintas di pikiran Azka sekarang. Tapi dia hanya bisa diam dan menunggu Alice menjelaskannya.


“Sebelum aku membuka panti asuhan ini, aku menemukan Filia tidak jauh dari desa ini. Saat itu, dia memang masih bayi dan sudah memiliki fisik setengah macan tutul salju. Aku berpikir kalau waktu itu dia di buang oleh kedua orang tuanya karena keadaan fisiknya. jadi karena itu … aku memutuskan untuk merawatnya ….”


Alice terus bercerita sambil menurunkan wajahnya.


“Seiring berjalannya waktu, aku menemukan dua anak lagi dan merawat mereka bersama Filia. Saat itu aku memang sudah mendirikan panti asuhan ini yang awalnya hanya bangunan tua. Tapi penduduk desa saat itu sangat menolak keras untuk menerima Filia tinggal di desa ini.”


Alice! Cepatlah usir Monster itu dari desa ini!


Anak-anak di sini sampai ketakutan karena dia adalah Monster!


Teriakan penduduk waktu itu masih teringat jelas di ingatan Alice. Bahkan dia tahu kalau Filia sering di lempari batu karena fisiknya yang seperti Monster.


Alice terus melanjutkan kata-katanya.


“Filia adalah anak yang baik ... meski dia di benci oleh penduduk desa, dia tidak pernah merasa kesal ataupun menangis. Bahkan aku bisa mengingat ucapannya waktu itu ….”


Aku pasti bisa berteman dengan siapapun!


Kata-kata dari Filia kecil saat itu sangat membekas di ingatan Alice sampai sekarang. Bahkan dengan mengingatnya saja, sudah membuat Alice tersenyum hangat.


Sementara itu, Azka hanya diam sambil mengenang masa kecilnya. Entah kenapa mendengar cerita Filia, mengingatkan dirinya saat masih di desa Masaya yang sudah hancur di telan lahar gunung berapi 12 tahun yang lalu.


Azka sangat paham bagaimana rasanya di benci oleh semua orang, bahkan sampai melukai dirinya dan juga Mia. Meski dia sudah memiliki teman, tapi ingatan kelam itu masih membekas di hatinya sampai sekarang.


Setelah berusaha menghilangkan pikiran itu, Azka kembali bertanya.


“Lalu apa yang membuat mereka meninggalkan desa ini?”


Mendengar pertanyaan itu, Alice kembali mengeluarkan ekspresi mendalam dan melanjutkan ceritanya.


“Kejadian itu terjadi 6 tahun yang lalu, tepatnya saat Filia mulai hilang kendali.”


“Hilang kendali?”


“Ya, bahkan aku masih mengingat kejadian itu ….” Alice menurunkan wajahnya sambil menceritakan kejadian itu.


***


6 Tahun yang lalu, saat kejadian Filia hilang kendali.


Saat itu Filia masih berusia 6 tahun, tapi dia sudah hilang kendali dan sudah menghancurkan sebagian desa Kitara. Entah apa yang membuatnya menjadi seperti itu, karena dia tiba-tiba mengamuk begitu saja.


Tubuh macannya sedikit membesar tidak seperti biasanya dengan mata yang berwarna merah dan taring yang sangat tajam.


Filia yang seperti kehilangan dirinya terus menghancurkan Sebagian desa hingga membuat penduduk saat itu menjadi geram.


“Filia!”


Wanita tua yang meneriakkan itu adalah, Alice. Di belakangnya juga berdiri dua anak kecil, yaitu Alan dan Cornelia yang tampak ketakutan. Alice hanya bisa menatap Filia dengan panik ketika melihat Filia yang terus menyerang desa Kitara tanpa pandang bulu.


Menyadari Alan dan Cornelia yang ketakutan, Alice menutupi wajah mereka dan menyuruh mereka masuk ke dalam panti asuhan.


“Mama!” Cornelia saat itu hanya bisa gemetar ketakutan sekaligus di telan kebingungan.


Sedangkan Alan hanya bisa diam dengan ekspresi khawatir.


Melihat mereka berdua yang di serang rasa panik, Alice hanya bisa memeluk mereka dengan lembut.


“Jangan khawatir … Filia masih menjadi teman kalian ….”


“Apa Filia baik-baik saja?!” Alan menanyakan itu dengan panik.


“Filia pasti baik-baik saja ….”


“Ta-tapi ….”


“Tak perlu khawatir Alan, sebaiknya kalian berdua bersembunyi di dalam.”


Tanpa menunggu jawaban mereka, Alice lalu mendorong mereka dengan lembut ke dalam panti asuhan dan menutupnya dari luar. Dia hanya tidak ingin membuat mereka semakin khawatir.


Sedangkan mereka berdua hanya bisa diam di dalam panti asuhan dengan ekspresi khawatir ketika melihat Alice tersenyum sebelum menutup pintunya dari luar.


“Bunuh Monster itu!”


“Monster sialan! kau harus bertanggung jawab dengan kepalamu!”


Teriakan geram dari para penduduk menggema di seluruh desa. Alice yang ikut mendengarnya mulai berjalan cepat untuk menenangkan mereka.


Ternyata terlihat para penduduk itu sudah banyak mengeluarkan senjata tajam untuk melukai FIlia yang sejak tadi melompat dan mencakar beberapa rumah.


Melihat itu, Alice mulai panik dan berteriak ke mereka.


“Aku mohon! Jangan sakiti dia!”


“Ha?! apa yang kau katakan nenek tua! Dia adalah Monster yang berbahaya!”


“Sudah kami bilang berapa kali kalau Monster itu tidak bisa tinggal di desa ini!”


Dua orang yang memimpin para penduduk meneriakkan itu dengan wajah kemarahan.


Penduduk desa yang ada di belakang juga mengangguk sambil berteriak, “Itu benar! kita harus membunuhnya!”


“Aku mohon, dia hanyalah anak-anak. Dia hanya kehilangan kendali, aku mohon jangan sampai membunuhnya ….” Alice terus mencoba menenangkan mereka.


“Apa kau tidak sadar kalau dia sudah menghancurkan desa kita?!”


“Aku tahu … tapi, aku mohon kalian tidak harus membunuhnya ….” Alice mulai bersujud untuk memohon di hadapan penduduk desa


Tapi penduduk desa Kitara seakan tak peduli dengan nenek paruh baya itu dengan berlatri melewatinya. Mereka sekarang berlari menuju Filia yang sudah berubah menjadi setengah macan putih yang bertubuh tidak terlalu besar.


“Semuanya! kita harus melindungi desa ini!”


“Ya!”


Setelah aba-aba itu, para penduduk desa langsung berlarian sambil memegang senjata untuk mendekati Filia.


Filia yang menyadari itu hanya bisa meraung sambil menatap penduduk desa dengan geram.


Dengan kaki-kaki mungilnya, Filia lalu melompat untuk menerkam mereka semua. Tapi seakan kesadarannya mulai kembali, Filia menghentikan serangannya dan memutuskan tidak jadi menerkam mereka.


Kesempatan itu langsung di ambil oleh para penduduk desa dengan melayangkan senjatanya masing-masing ke Filia.


Filia hanya bisa meraung tapi kali ini tatapannya seperti di selimuti kesedihan ketika menatap penduduk desa yang hendak menyerangnya.


“Filia!”


Teriakan dari Alice itu datang bersamaan dengan dirinya yang sudah menghadang serangan penduduk desa ke FIlia.


Filia yang masih hilang kendali itu hanya bisa diam melihat Alice melindunginya. Dia juga terlihat menunjukkan tanda-tanda untuk tenang.


“Minggir nenek tua sialan!”


Tapi salah satu dari penduduk desa itu terus menerobos dengan mendorong Alice hingga terjatuh. Penduduk desa yang ada di belakangnya juga mengikuti pria itu.


Melihat Alice terluka, Filia kembali hilang kendali. Bahkan sekarang lebih parah dengan raungan suara yang sangat keras.


“Filia … jangan ….” Alice yang sedang terjatuh itu hanya bisa memasang ekspresi sedih.


“Tidak akan kubiarkan kau lolos kali ini, Monster!”


“Ya! Kau juga sudah membuat anakku terluka, Monster sialan!”


Dengan teriakan-teriakan itu, mereka hampir melukai Filia yang tiba-tiba menghindar dari serangan mereka.


Filia yang seperti mengamuk itu tiba-tiba melompat dan menerkam beberapa penduduk desa hingga terluka.


“Filia!” Hanya itu yang bisa di teriakkan Alice ketika melihat Filia melukai beberapa orang.


Penduduk desa yang lain semakin di telan kemarahan karena beberapa dari mereka sudah terluka.


“Monster sialan!”


Beberapa penduduk desa itu berlari sambil memegang pedangnya masing-masing. Sedangkan Filia yang melihat itu tampak tak peduli dan berniat untuk menyerang balik.


Tapi serangan mereka seketika berhenti saat Alice sudah menghadang mereka di tengah-tengah.


Meski dia berhasil menghentikannya, ternyata ujung pedang milik salah satu penduduk sempat menggores wajah Alice hingga menteskan darah.


“Nenek Alice!”


Pria yang memegang pedang tersebut langsung menjatuhkan senjatanya. Dia hanya bisa panik karena tidak sengaja melukai nenek itu.


Sementara itu, Filia yang melihat itu dari belakang Alice tampak semakin mengamuk. Tapi Alice langsung berbalik dan memeluk Filia yang semakin hilang kendali.


“Filia … tenanglah ….” Alice menggumam sambil memeluk FIlia dengan kuat.


Seperti tergerak dengan kata-kata Alice, Filia langsung menjadi tenang. Mata merahnya pun perlahan menghilang dan kembali berwarna biru seperti biasanya.


Entah karena kelelahan atau apa, Filia akhirnya pingsan di pelukan Alice.


Sedangkan penduduk desa hanya bisa diam dengan tatapan kosong. Satu-persatu dari mereka juga menjatuhkan senjatanya ke tanah.


Lalu pemimpin dari penduduk itu tiba-tiba berjalan dari kerumunan dengan memasang tatapan setengah kesal. Dia masih memegang senjatanya dan mulai berbicara ke Alice.


“Kau benar-benar nenek tua yang keras kepala ….”


“Dia hanyalah anak-anak, apa kalian tidak memikirkan perasaan anak ini? Dia hanya ingin di anggap oleh kalian semua ….” Dengan suara yang bergetar, Alice mengatakan itu di sertai isak tangis.


Pria sekaligus pemimpin penduduk desa hanya diam kehilangan kata-kata. Dia lalu menoleh ke belakang seakan memberi tanda ke orang-orang untuk meninggalkan tempat ini.


Para penduduk desa akhirnya menuruti perkataan pria itu meski masih menyimpan perasaan kesal. Beberapa dari mereka juga membantu orang-orang yang terluka akibat serangan Filia sebelumnya dan pergi menyusul yang lain.


Setelah suasana menjadi kondusif, pria itu kembali menatap Alice.


“… kurasa kau nenek yang sangat menyayangi mon— anak itu.” Pria tua itu sengaja mengoreksi kata-katanya.


“Kau terlalu baik, nenek Alice.” Pria itu melanjutkan ucapannya sambil tersenyum.


Melihat reaksi pria itu membuat Alice sedikit tenang. “Setiap bayi yang terlahir berhak untuk menjalani kehidupan. Aku hanya ingin menjadi tempat untuk pulang bagi anak-anak seperti mereka.”


Pria itu hanya bisa tersenyum dan menjatuhkan senjatanya.


“Kami memang ingin melihat anak-anak panti asuhanmu hidup layaknya orang-orang. Tapi aku sendiri masih belum menerima Monster itu tinggal di desa ini, dia sudah melukai anakku walau tidak sengaja.”


“… aku mohon maafkanlah anak ini. Filia sama sekali tak bersalah, dia hanya tidak bisa mengendalikan kekuatannya.”


Entah apa yang di pikirkannya, Pria itu sempat terdiam dan akhirnya berbicara.


“Aku sangat percaya kalau kau adalah wanita yang baik. Tenang saja, kali kau bisa merawat mereka dengan nyaman.”


Setelah mengatakan itu dengan suara tajam, Pria itu langsung berbalik dan pergi dari hadapan Alice.


***


“Waktu itu aku masih tidak mengerti dengan ucapan orang itu. Tapi keesokan paginya aku menyadari, kalau semua orang sudah meninggalkan desa. Aku akhirnya paham kalau mereka bermaksud untuk membiarkanku tinggal di sini dan merawat ketiga anak-anakku sekarang.”


Alice menceritakan semua kejadian 6 tahun yang lalu sambil menurunkan wajahnya. Sedangkan Azka hanya diam mendengar kebenaran tentang perginya penduduk desa Kitara.


Reaksi Azka hanya datar.


Tapi entah kenapa ketika dia melihat Alice, itu mengingatkannya dengan Mia. Bahkan dia masih ingat jelas saat Mia melindunginya dari lemparan batu dari penduduk desa Masaya.


Alice menaikkan wajahnya dengan perasaan sedih.


“Sampai sekarang Filia terus merasa bersalah … Filia berpikir kalau gara-gara dialah penduduk desa sampai meninggalkan desa.”


“Begitu ya ….” Hanya respon datar itu yang di keluarkan Azka.


Kini dia sudah mengerti semua tentang masa lalu Filia dan kebenaran dari desa ini. Sebenarnya Azka sempat ragu untuk menolong Filia, meski dia seorang gadis kecil. Tentu saja karena sifatnya yang sulit percaya pada pada siapapun.


Tapi setelah mengetahui latar belakang Filia, Azka sudah sepenuhnya percaya dan ingin menolong Filia sebisa mungkin.


Alasannya hanya satu.


Dia dan Filia memiliki nasib yang tidak jauh berbeda.


Di benci semua orang, siksaan, di anggap seperti sampah, dan hampir di bunuh. Azka sudah mengalami semua masa menyakitkan itu.


Tapi dari semua itu, yang paling menyakitkan adalah … kehilangan seseorang yang berharga.


Karena itulah, Azka tidak ingin melihat Filia mengalami nasib yang sama seperti dirinya.


To be Continued…