
[Kota Olasia, Kerajaan Oleander]
Masih di kota Olasia dengan matahari yang sudah meninggi.
Azka membantu Tricia untuk berjalan karena khawatir ia tidak bisa berjalan sendiri menuju tempat penginapan yang ada di kota.
Dia membuka pintu dan masuk bersama Tricia yang wajahnya begitu merah karena demam. Mereka menjadi pusat perhatian ketika menuju ke meja resepsionis penginapan itu. Azka terus berjalan menghiraukan tatapan aneh mereka terhadapnya karena fokus untuk membawa Tricia.
Para pengunjung lantai 1 penginapan itu terlihat bingung karena melihat seorang laki laki yang sudah tidak asing sedang membawa gadis lemah masuk ke dalam penginapan.
Gadis yang cukup muda dengan penampilan seperti orang biasa itu menyambut mereka berdua di meja resepsionis dengan memasang wajah polos.
"Ada yang bisa saya bantu?" ucap gadis resepsionis sambil tersenyum.
"Apa ada kamar kosong disini?"
"Tentu, mau pesan berapa kamar?"
"Hmm ... kami pesan satu kamar."
"Eh ... sa-satu kamar? Untuk kalian berdua?" Gadis itu mulai berpikiran aneh karena mengira mereka akan tidur dalam satu kamar.
Azka menatap gadis resepsionis itu dengan tatapan aneh karena wajahnya yang tiba tiba memerah.
"Apa kau bisa segera menyiapkannya?"
"Ba-baik maaf silahkan kuncinya."
Azka mengambil kunci kamarnya dengan cepat karena merasa terganggu dengan tingkah gadis resepsionis itu.
Ketika Azka naik menuju ke lantai 2, gadis resepsionis itu tiba tiba melihatnya dengan tatapan mencurigakan.
Sesampainya di kamar terdapat sepasang kursi dan meja dengan kasur ukuran sedang dengan desain kamar yang sangat sederhana.
Azka yang sedang membawa Tricia itu sekilas melihat seisi kamar lalu menggendongnya ke atas kasur hingga tak sengaja membuatnya terbangun.
Tricia yang memerah karena demam itu perlahan menatap Azka dan terkejut ketika menyadari ia sudah berada di sebuah kamar.
"Kau terlalu memaksakan diri ...," ucap Azka datar.
"Maaf ... sepertinya aku terlalu merepotkanmu."
"Tak usah pedulikan itu yang penting istirahat saja disini."
"Terima kasih ... padahal kita harusnya mengumpulkan uang tapi malah menghabiskan uang di penginapan ini."
"Tak apa, kita bisa memikirkan itu nanti. Karena aku masih belum tau berapa harga semalamnya disini. Jadi, aku hanya memesan satu kamar," ucap Azka santai.
Tricia terkejut hingga wajahnya memerah, "Sa-satu kamar ... i-itu berarti kau—"
"Ya itu benar ... aku akan tidur di tempat lain."
"Eh ... di tempat lain?"
Tricia sempat kegeeran berpikir Azka akan tidur bersama disampingnya. Tapi Tricia seketika terdiam karena Azka mengatakan dia akan tidur di tempat lain.
"Kenapa emangnya?"
"Ti-tidak apa ...." Tricia meyembunyikan wajahnya dengan selimut karena malu.
Azka menghela nafasnya berat, "Wajahmu semakin memerah. Apa demamnya semakin memburuk?"
"Ti-tidak ... aku malah merasa sedikit baikan."
"Begitu ya, kalau begitu aku pergi dulu. Kau harus beristirahat disini karena hari sudah gelap. Oh iya, nanti aku akan mencarikan makanan dan obat untukmu jadi kau tak perlu khawatir."
"Terima kasih ... karena sudah memperhatikanku."
Azka sempat terhenti menundukkan kepalanya karena ia tidak sadar kalau ia benar benar mengkhawatirkan dan peduli dengannya.
Azka melanjutkan langkah kakinya pergi dari kamar itu tanpa menoleh kearahnya.
Azka turun ke lantai 1 dan menempati meja yang ada di sudut gelap ruangan itu. Ia memang suka menyendiri jika berada di tempat yang ramai karena sudah menjadi kebiasaannya sejak kecil.
Gadis resepsionis yang sempat bertingkah aneh saat di meja resepsionis itu datang menghampiri Azka. Ia dengan ramah membawa menu pesanan dan memberikannya ke Azka yang sedang duduk sendirian.
"Anu ... kau pria yang tadi ya?"
Azka terdiam melihat menu yang di berikan oleh gadis yang bertinggi sekitar 153 cm itu.
"Kakak mau pesan apa?"
Azka menatap datar ke gadis yang penampilannya seperti bocah 15 tahun dengan rambut coklat membelai panjang.
Dia bingung dengan reaksi ramah gadis yang mendekatinya. Ia segera tersadar dari prasangka buruk dan kembali menatap gadis yang sedang menunggu pesanan darinya.
"Aku pesan makanan yang termurah disini."
"Baiklah, menu gratis untuk kakak segera datang."
Gadis itu pergi meninggalkan Azka untuk menyiapkan makanan.
Azka begitu bingung dengan menu gratis yang di ucapkan gadis itu. Ia seakan berpikir kalau bocah itu akan menaruh racun pada makanannya.
Meskipun terlihat mustahil ia melakukannya karena wajahnya yang begitu ramah dan polos. Tapi, sejak pengkhianatan itu Azka tidak pernah mempercayai siapapun lagi termasuk Tricia.
Setelah menunggu lama gadis itu datang membawa menu makanan yang dimaksud. Ia kemudian duduk di hadapan Azka sembari menaruh makanan yang telah ia bawa.
"Silahkan, kak."
Azka semakin merasa curiga dengan makanan gratis yang di maksud karena tampak begitu mewah. Gadis itu terlihat seperti menunggu di hadapannya sambil memasang wajah tersenyum dengan rona merah dipipinya.
"Apa ... ini?"
"Menu gratis untuk kak Azka."
Azka semakin bingung karena dia ternyata mengenali dirinya karena harusnya memang seperti itu.
"Apa ... kau tidak menyukainya?" Gadis itu tampak sedih karena Azka terus memandangi makanan darinya.
"Siapa kau sebenarnya? Ini seperti makanan yang cukup mahal rasanya sangat mustahil jika ini gratis."
"Ya memang sih, tapi ... aku memang sengaja memberikan makanan ini secara gratis untukmu."
"Apa maksudnya?"
"Sepertinya kak Azka tidak mengenaliku ya ... wajar juga sih kalau kakak tidak mengenaliku, karena kita memang belum pernah bicara secara langsung hehe."
Azka semakin bingung dengan arah pembicaraan yang di maksud gadis itu. Karena ia sangat yakin tidak mengenali atau bahkan bertemu dengannya.
"Namaku Liana, mungkin kakak sudah lupa tapi, dulu saat kakak menjadi wakil Lancer. Kakaklah yang menyelamatkanku dari para Buster saat menyerang kota ini beberapa bulan yang lalu. Aku berpikir kalau kakak waktu itu benar benar keren saat bertarung melawan mereka bersama Kapten Yuga."
Gadis itu sangat bersemangat bahkan dari tatapan dan nada bicaranya sudah sangat terlihat jelas. Ia seakan benar benar seperti seorang penggemar yang sedang menceritakan pahlawan yang telah menyelamatkan hidupnya.
"Sejak saat itu aku benar benar mengagumimu. Awalnya aku tidak menyadari karena wajahmu sedikit berbeda. Tapi, aku langsung yakin saat aku melihat dagger hitam di pinggangmu saat kau menaiki tangga tadi."
Azka terdiam menatapnya merasa ada sesuatu yang aneh dengannya karena ia sangat yakin kalau ia dibenci oleh penduduk kerajaan Oleander.
"Begitu ya ... tapi, sepertinya kau mengagumi orang yang salah."
"Tapi, aku benar benar senang bisa bertemu denganmu Azka-san. Dan sebagai ucapan terima kasihku aku akan mentraktir makanan ini untukmu. Jadi, aku mohon terimalah."
Azka masih berpikir kalau gadis itu mencurigakan tapi, Azka pasrah dengan paksaan gadis itu karena merasa risih dengan kehadirannya.
Azka menghembus nafasnya berat, "Terima kasih ...."
"Harusnya aku yang berterima kasih, kak Azka!"
Gadis itu sangat senang hingga matanya berbinar saat Azka mau memakan makanan darinya. Wajahnya terlihat berseri seri meskipun raut wajah Azka menunjukkan hal yang sebaliknya.
"Anu ... aku ingin bertanya, apa gadis yang kau bawa tadi itu ... pacarmu?"
"Bukan!"
"Syukurlah, lalu siapa gadis itu kak?"
Azka merasa ada yang aneh dengan pertanyaan gadis itu karena sangat ingin mengetahui siapa Tricia. Azka memang masih belum tau siapa sebenarnya Tricia dan apa tujuannya begitu ingin ikut dalam perjalanannya.
"Gadis itu ... hanya kenalanku. Aku menemukannya sedang sakit jadi aku membawanya kemari. Kenapa kau menanyakan hal itu?"
"Oh ... tidak apa. Aku kira dia itu ...."
Gadis itu memerah tersipu malu.
"Oh iya, apa kau tau tempat yang menjual obat di kota ini?"
"Obat ya ... hmm," jawab gadis itu sambil berpikir, "Ah ... aku tau tempatnya tidak terlalu jauh dari sini, kau hanya perlu berjalan di jalan menuju penginapan ini."
"Begitu ya," ucap Azka menatapnya tajam.
"Sepertinya aku terlalu menganggu waktu makanmu ya, kalau begitu aku permisi dulu aku harap kita bisa mengobrol lebih banyak lagi, kak Azka!"
Gadis itu tersenyum hingga memiringkan kepalanya lalu pergi dari Azka. Azka terus melihatnya datar karena merasa curiga dengan tingkah gadis itu.
***
Keesokan harinya matahari sudah tinggi di langit.
Azka yang semalam tidur di lantai 1 penginapan karena di izinkan oleh gadis itu merasa badannya sedikit pegal karena hanya beralas kursi kayu.
Ia berjalan menuju toko obat yang di maksud oleh Liana semalam. Azka masuk ke dalam toko itu dan di saat membuka pintu terdapat suara bel yang mengiringinya masuk.
"Selamat datang ...."
Seorang nenek tua yang penampilannya cukup pendek menyambut kedatangan Azka. Suasana toko benar benar sepi tanpa pengunjung.
"Ada yang bisa kubantu, nak?"
Nenek itu begitu ramah seakan sudah lama mengenal Azka.
"Apa anda punya obat yang bisa menyembuhkan demam?"
Azka berusaha memasang wajah ramah tapi sepertinya gagal karena ia tidak pernah mengeluarkan ekspresi apapun sejak kecil.
"Demam ya ... tunggu sebentar."
Nenek itu berusaha meraih obat obatan yang ada di rak paling atas.
Di saat Azka menunggu obat obatan dari nenek itu terdengar suara bel pintu masuk toko.
Azka tidak peduli karena melihat nenek itu berusaha menggapai obat obatan yang ia minta.
"Azka ya ..."
Azka terdiam mendengar suara pria yang memanggilnya. Suara itu tidak lah asing baginya.
Azka menoleh dan menatapnya tajam karena sudah mengetahui siapa pria yang memanggilnya tadi.
"Yuga ...," lirih Azka pelan.
Yuga berdiri di depan pintu masuk dengan seragam putih kapten Lancer. Dengan rambut abu abu panjangnya ia terlihat mencegah Azka untuk pergi darinya di depan pintu sambil menatapnya tajam seakan begitu membencinya.
"Akhirnya aku bisa bertemu denganmu lagi, Azka."
Suasana toko begitu tegang ketika mereka saling bertatapan. Tatapan tajam mereka seakan sudah lama membenci satu sama lain.
To be Continued...