
Setelah berhasil menumbangkan Kazel dan Chyntia, Levin masih terdiam dengan nafas yang terengah-engah.
“Apa … mereka sudah kalah?”
Alun alun kota Hayate mendadak di telan kesunyian setelah pertarungan tadi. Bahkan tidak ada satupun orang di kota Hayate yang terlihat karena sejak tadi melarikan diri.
Tricia lalu berjalan mendekati Levin.
“Sepertinya kita berhasil mengagalkan rencana mereka.”
“… tapi tadi menyenangkan, hahaha.” Levin tertawa dengan santai.
Tapi, Levin tiba tiba terdiam dan duduk di tengah tengah tempat itu. Levin masih kelelahan dengan tubuhnya yang di penuhi luka.
“Levin, kau tidak apa apa?” tanya Tricia.
“Tentu saja tidak, aku sekarang kelaparan.” Sambil mengeluh, Levin memegang perutnya yang keroncongan.
“Yang kumaksud itu luka di tubuhmu, bodoh.” Tricia memasang ekspresi masam.
Suasana kembali di landa kesunyian. Tricia masih memandangi tempat sekitar untuk memastikan keadaan Kazel dan Chyntia.
“Lalu kita pergi kemana sekarang?” tanya Levin.
“Kita masih belum tau di mana mereka menahan anak anak dari panti asuhan.”
“Berarti kita harus menemukannya kan? Yosh, kalau begitu kita harus cari makan dulu.” Levin mengatakan itu dengan ekspresi girang.
“Apa di pikiranmu ini hanya makanan saja?”
Seakan tak peduli dengan ucapan Tricia, Levin berdiri dan berniat melanjutkan pencarian markas Crimson Buster.
“Ingat Levin, kita tidak perlu bertarung. Juga, kita harus memberi tahu ke Azka dan Filia kalau Crimson Buster sejak awal tidak berniat untuk menepati penawaran mereka.”
“Aku mengerti itu.” Levin menjawabnya dengan santai.
Mereka berdua pun pergi meninggalkan Chyntia dan Kazel yang masih tak sadarkan diri.
***
Sementara itu, Azka dan Filia masih bertarung melawan gerombolan Monster Wolfem. Beberapa dari Wolfem sudah di kalahkan, tapi jumlah mereka yang terus bertambah membuat Filia semakin kesulitan.
Dengan nafas terengah-engah, Filia menatap gerombolan itu.
“Mereka … terus berdatangan.” Filia mulai kelelahan setelah cukup lama bertarung dengan gerombolan monster itu.
Azka yang selesai mengeluarkan beberapa tebasan, menoleh ke Filia.
“Masih sanggup?” tanya Azka datar.
Seakan berusaha menghilangkan rasa lelah, Filia mengangguk dengan yakin.
“Ya, aku masih bisa bertarung.”
“Begitu ya ….”
Mereka akhirnya terus melanjutkan pertarungan mereka melawan gerombolan Wolfem itu. Azka yang sudah berniat membantu Filia mengendalikan kekuatannya, sengaja tidak melukai Wolfem itu agar FIlia bisa mengalahkannya.
Tentu, Azka hanya membantu ketika Filia berada di keadaan terdesak. Tapi, Filia yang seperti sudah kelelahan terus memaksa tubuhnya untuk bertarung.
Melihat hal itu, Azka sedikit takjub dengan usaha Filia.
“Dia lumayan juga ….” Sambil menggumamkan itu, Azka menebas beberapa Wolfem yang berlari ke arahnya.
Filia terus melukai beberapa Wolfem itu dengan mencakarnya. Tapi serangan Filia yang tidak cukup kuat harus mencakarnya beberapa kali.
Selain daya serangan yang tidak terlalu mematikan, Filia juga terlihat tidak terbiasa melawan gerombolan Wolfem sekaligus. Wolfem sendiri memiliki daya fisik yang sangat kuat, jadi karena itu, FIlia semakin kesulitan untuk menumbangkan mereka.
“… seranganku … sama sekali tidak mempan ….” Sambil mengatur nafasnya, Filia menatap mereka dengan tatapan lelah.
Tiba tiba ada beberapa Wolfem yang melompat ke Filia dari belakang. Filia yang menyadari itu, hanya bisa terdiam dengan wajah panik.
Lalu, beberapa tebasan yang cukup besar menjatuhkan beberapa Wolfem yang menyerang Filia dari belakang.
“Jangan lengah, Filia.”
Filia menoleh ke Azka dengan sedikit panik. “Te-terima kasih ….”
Mendengar itu, Azka kembali menebas beberapa Wolfen yang ada di hadapan Filia. Seketika gerombolan Wolfem itu menjadi berkurang karena berhasil di kalahkan.
Filia yang melihat itu hanya bisa terdiam. Dia seakan kagum dengan kekuatan Azka yang mampu mengalahkan beberapa monster itu dengan mudah.
Itu sekaligus membuat Filia terasa tidak terlalu berguna karena kekuatan Azka jauh di atasnya.
“Kak Azka,” panggil Filia.
Setelah menebas beberapa Wolfem, Azka menoleh ke arahnya.
“Ada apa?”
Filia lalu mendekat ke Azka karena monster Wolfem sudah berkurang banyak.
“Apa kak Azka punya petunjuk untuk mengendalikan kekuatanku?”
Mendengar pertanyaan itu, Azka terdiam sejenak.
“… aku sebenarnya tidak punya petunjuk apapun mengenai itu. Karena tiap orang memiliki kemampuan Link yang berbeda beda jadi agak sulit menentukannya.”
Filia menurunkan pandangannya seakan murung. “Begitu ya ….”
“Dulu aku juga tidak bisa mengendalikan kekuatanku. Bahkan setiap kali aku mengayunkan sesuatu, secara tidak sengaja aku membuat tebasan.”
Ketika mengatakan itu, Azka teringat dengan kejadian waktu kecil saat tidak sengaja merusak barang barang di rumah. Bahkan dia sempat di marahi oleh Mia karena terlalu banyak barang yang terbelah oleh tebasannya.
Mendengar cerita itu, Filia kembali menatap Azka.
“Oleh karena itu aku selalu berlatih mengendalikan tebasanku sejak kecil,” lanjut Azka.
Seperti mendengar sebuah harapan, Filia kembali ceria.
“Jadi kalau aku terus berlatih, aku bisa menjadi lebih kuat?”
“Ya, lagipula karena kekuatanmu itu, kau harus hidup sebagai manusia setengah hewan kan?”
Mendengar itu, Filia tiba tiba menunduk.
“Y-ya,” gumam Filia. “Aku ingin sekali menjadi manusia normal agar aku bisa berteman dengan siapapun ….”
Azka yang mendengar itu hanya bisa terdiam dengan tatapan kosong. Entah kenapa perkataan Filia tadi, seperti melihat dirinya saat masih kecil.
Seakan mengerti dengan maksud Filia, Azka mengelus rambut FIlia yang berwarna perak itu.
“Jangan khawatir ….”
Filia mengernyit dengan mata menggenang ketika rambutnya di elus.
“Ya!” Dengan jawaban ceria, Filia menyeka air matanya.
Gerombolan Wolfem semakin berdatangan hingga mengelilingi Azka dan Filia. Tapi Azka terkejut ketika mendengar suara monster yang tidak asing di telinganya.
“Suara itu ….” Azka mengernyit melihat asal suara dari arah perbukitan.
Filia memiringkan kepalanya melihat Azka yang terlihat panik.
“Ada apa kak?”
Azka mengeluarkan aura hitam yang ada di kedua daggernya.
“Tidak kusangka, monster itu ada di sini.”
Dari tempat mereka, tiba tiba terdengar suara seperti hentakan kaki yang sedang berlari.
Secara tiba tiba, dua Monster Srigala yang berukuran besar muncul di hadapan Azka dan Filia dari arah perbukitan.
Dengan dua tanduk di wajahnya, taring yang begitu tajam, dan berwarna biru gelap. Kedua Srigala itu terlihat sangat kontras dengan gerombolan Wolfem dengan tubuh mereka yang begitu besar.
Filia yang melihat itu dengan reflek gemetar. “I-itu kan ….”
“Hornwolf ya ….” Azka sedikit terkejut sambil mengeluarkan aura hitam di kedua belatinya.
Melihat kedatangan Hornwolf yang tiba tiba, Azka sedikit bersemangat.
Sesuai buku Monster yang pernah ia baca, Hornwolf sendiri cukup langka di kalangan penjual inti monster. Harganya sendiri juga sangat mahal yaitu, 250.000 Nam untuk satu ekor Hornwolf.
Hornwolf memiliki tanduk di bagian wajahnya dan biasa berburu secara berpasangan. Ukuran mereka juga sangat besar bahkan melebih Grant Wolf.
Melihat Azka yang sedikit bersemangat, membuat Filia bertanya tanya.
“Kak Azka, apa yang akan kau lakukan?”
“Filia, kau masih bisa bertarung kan?”
“Eh? tapi monster itu sangat kuat.”
“Tenang saja, kali ini kita akan bertarung bersama-sama.”
Filia terdiam dengan tatapan tanda tanya.
Dengan senyuman mencurigakan, Azka menambahkan. “Jika kau bisa mengalahkan Hornwolf mungkin kau bisa mengendalikan kekuatanmu.”
Mendengar itu, Filia mulai merasa yakin. Lalu, dia menatap sepasang Hornwolf itu dengan serius.
“Baiklah!”
Melihat Filia yang sudah percaya diri, Azka mengeluarkan tebasan secara cepat ke monster itu.
“Twin Slash!” Serangan Azka seperti tidak mempan dan hanya menimbulkan luka kecil di tubuh Hornwolf itu.
Sepasang Hornwolf itu tiba tiba meraung dengan suara yang cukup keras. Filia yang sudah tadi bergerak dengan cepat, juga menyerang kedua Monster itu dari jarak dekat.
“Snow Scracth!”
Serangan Filia sama sekali tidak menimbulkan efek apa apa di tubuh mereka.
“Tidak mempan …,” gumam Filia mengernyit.
“Awas Filia!” teriak Azka!
Salah satu Hornwolf itu mengamuk dan mulai menanduk Filia. Karena teriakan Azka tadi, Filia berhasil untuk menghindar.
Sepasang Hornwolf itu masih mengamuk dan berlari menyerang ke arah Filia. Tapi tebasan dari Azka berhasil menghentikan monster itu hingga melirik ke Azka.
Dengan cakar yang begitu besar dan kuat, kedua Hornwolf itu menerkam ke arah Azka yang sudah menghindar.
Merasa tersudut oleh kedua monster itu, Azka kembali mengeluarkan aura hitam di kedua daggernya.
“Nightfall Slash!” Tebasan hitam Azka yang muncul dari arah tanah, tepat mengenai kedua monster itu.
Filia yang melihat kekutan Azka seperti takjub. “Kuatnya ….”
Dari gumpalan asap akibat dari serangan Azka, terlihat kedua monster itu masih berdiri kokoh meski dengan luka tebasan yang cukup banyak.
Melihat kedua monster itu masih bisa bertahan membuat Azka sedikit terkejut.
“Ternyata mereka lebih kuat dari dugaanku ….”
Kedua Hornwolf itu terlihat semakin mengamuk hingga suara raungan mereka menggema di sekitar hutan.
Salah satu dari Hornwolf itu tiba tiba melompat dan menghantam Azka dengan tanduknya. Azka masih bisa menghindar tapi…
“Celaka!” Salah satu dari Hornwolf itu sudah berlari dan menanduknya hingga terlempar.
“Kak Azka!” Filia berteriak dengan wajah panik.
Sepasang Hornwolf itu tiba tiba menoleh ke FIlia dan mulai mendekat. Menyadari hal itu, Filia mulai gemetar ketakutan dengan berjalan mundur.
“Apa yang harus kulakukan? Seranganku sama sekali tidak mempan ….” Bibir Filia bergetar ketika menggumamkan itu.
Sepasang mata merah dari Hornwolf itu seakan menatap Filia dengan tajam. Liur yang terus menetes dari taring yang begitu tajam membuat kedua Hornwolf itu semakin ganas.
Filia yang perlahan mundur itu menoleh ke arah Azka yang baru saja berdiri dengan beberapa luka.
Melihat keadaan Azka sekarang, Filia semakin bimbang karena dirinya hanya akan merepotkannya.
Filia yang masih ketakutan tiba tiba teringat dengan perkataan Alan dan Cornelia beberapa minggu yang lalu.
“Suatu saat nanti kita pasti akan mengelilingi dunia ini.”
Mengingat perkataan itu, tiba tiba sebuah aura putih muncul dari tubuh Filia.
“Benar … aku harus menjadi lebih kuat ….” Ketika menggumamkan itu, tatapan Filia seperti di penuhi keyakinan.
Azka yang masih menahan rasa sakit, sedikit terkejut ketika melihat Filia di selimuti oleh sesuatu.
Terlihat cakar Filia tiba tiba mulai membesar, kedua matanya juga terlihat menyeramkan.
Dengan cepat, Filia berlari dan menyerang sepasang Hornwolf itu dari jarak dekat.
“Dia cepat!” Azka terkejut melihat gerakan Filia yang jauh lebih cepat dari sebelumnya.
Filia menyerang kedua monster itu secara bertubi tubi hingga membuat mereka berteriak kesakitan.
Meski kedua Hornwolf itu mencoba menyerang FIlia, tapi terkaman mereka selalu meleset karena Filia begitu cepat.
Filia melompat ke hadapan kedua Hornwolf itu dengan cakar tajam yang berwarna putih.
“… Mystic Claw!”
Secara cepat, Filia menyerang kedua Hornwolf itu dengan cakar besar yang begitu tajam. Bahkan serangan Filia berhasil membuat kedua Hornwolf itu tak sadarkan diri.
Melihat kemampuan FIlia, Azka hanya bisa terdiam dengan tatapan kosong.
“Snow Leopard Link ternyata sangat kuat ….”
Setelah menumbangkan kedua monster itu, Filia terjatuh seakan kehabisan tenaga. Bahkan nafasnya masih terengah-engah setelah mengeluarkan kekuatan itu.
Tidak lama kemudian, salah satu dari Hornwolf itu ternyata kembali berdiri meski dengan tubuh yang di penuhi luka cakar dari Filia.
“Tidak mungkin ….” Filia mengernyit ketika melihat Hornwolf itu masih bisa berdiri.
Kedua mata Hornwolf itu seakan di selimuti kemarahan ketika melihat Filia yang sudah kehabisan tenaga.
Dengan taring yang begitu tajam, Hornwolf itu berniat untuk menerkam FIlia. Tapi, sebuah tebasan yang sangat cepat mengenai Hornwolf itu hingga terjatuh kembali.
FIlia hanya diam lalu menoleh ke Azka.
“Kak Azka!” teriak Filia dengan ceria.
Terlihat Azka sudah memegang kedua belatinya untuk mengeluarkan tebasan tadi. Setelah menaruh kedua belatinya, Azka mendekat ke tempat Filia.
Azka mengulurkan tangannya untuk membantu Filia.
“Sepertinya kau sudah mulai bisa mengendalikan kekuatanmu.” Azka memasang tatapan lembut padanya.
Wajah Filia sedikit memerah karena perkataan Azka.
“Baik!” FIlia tersenyum manis hingga menyipitkan matanya.
Dia pun memegang tangan Azka untuk berdiri tapi, Filia kembali terjatuh karena kedua kakinya terluka akibat serangan tadi.
Azka menghembus nafas panjang lalu membungkukkan badannya. “… naiklah ke punggungku.”
“Te-terima kasih.” Filia mengatakan itu sambil malu malu.
Setelah mengambil Inti Monster dari kedua Hornwolf itu dan beberapa Wolfem, Azka yang menggendong Filia berniat untuk kembali ke panti asuhan.
To be Continued…