Black Buster

Black Buster
Chapter 26 "Fighter Vs Performer"



Seluruh anak buah Clint Buster berteriak menggertak untuk menyerang Azka dan Tricia dengan pedang. Jumlah yang lebih banyak seakan membuat menjadi percaya diri.


Tricia memanah salah satu dari mereka hingga terjatuh dan Azka dengan mudah mengalahkan 3 orang dari mereka.


Sisa dari mereka lalu berhenti menyerang saat melihat teman mereka dikalahkan satu persatu. mereka tidak menyangka kalau Azka dan Tricia dapat mengalahkan beberapa dari mereka dengan mudah


Azka lalu menatap mereka semua dengan tatapan tajam. Dan orang orang itu langsung histeris ketakutan dengan tatapan Azka.


“Me-menakutkan!” Teriak mereka semua sambil menangis ketakutan.


Seluruh Clint Buster yang tersisa lari terbirit birit meninggalkan Azka dan Clint.


“Mereka tidak bisa diandalkan!” Clint memasang wajah kemarahan.


Ternyata mereka semua berlari menuju reruntuhan bangunan yang tidak jauh untuk bersembunyi. Mereka semua hanya bisa melihat dari kejauhan dengan wajah ketakutan.


Dan yang tersisa di tempat itu hanya mereka berlima.


Levin lalu berjalan kesisi Azka dan Tricia.


“Eh, baru saja aku ingin menghajar mereka.” Levin merasa kecewa karena anak buah Clint melarikan diri menuju reruntuhan.


“Ini bukan perlombaan tau,” sahut Tricia.


Clint terus menatap mereka bertiga dengan tatapan dingin. Puncak kemarahan darinya bahkan sudah tidak bisa dibendung lagi.


Ia lalu melebarkan tangan dan mengarahkannya kepada mereka bertiga. Lengan dari Clint membesar seakan mengeluarkan sebuah meriam.


Levin lalu panik melihat teknik yang akan dilakukan Clint. Ia ingat kalau sebelumnya Clint mampu mengeluarkan sebuah meriam dari telapak tangannya.


“Apa yang dia lakukan?” tanya Azka bingung.


“Rasakan ini! Arm Cannon!”


Bola meriam berkecepatan tinggi mengarah ke mereka bertiga.


“Meriam?!” Azka kaget melihat sebuah meriam muncul dari tangan Clint.


Dagger telah digenggam erat oleh Azka. Ia bersiap untuk menebas meriam tersebut agar tidak terjadi hal yang tak diinginkan.


“Serahkan saja padaku.” Tricia tiba tiba menghalau persiapan dari Azka.


Azka memasukkan kembali daggernya sesuai permintaan Tricia. Dari tatapannya Tricia, Azka sangat yakin kalau Tricia akan melakukan sesuatu dengan panahnya.


Tricia lalu berjalan kedepannya Azka dan mengarahkan panahnya terhadap bola meriam yang menuju ke mereka. Tapi ia berusaha fokus karena teriakan panik Levin sangat menganggunya.


“Shining Arrow!”


Panah bercahaya melesat dengan kencang menghancurkan meriam dari Clint.


“Apa?!”


Clint begitu terkejut Tricia menghancurkan meriam itu dengan mudah. Ia tidak menyangka kalau gadis itu mempunyai kekuatan yang cukup hebat.


“Ternyata gadis manis sepertimu hebat juga ya.” Clive menggoda Tricia dengan tatapan aneh.


Lagi lagi Tricia merasa jijik dengan tatapan Clive. Bahkan ia jauh lebih aneh dengan pria berbaju merah yang sempat ingin menyerangnya. Seakan tatapan orang itu lebih parah dari tatapan orang cabul.


“Kerenn!!” seru Levin dengan mata berbinar.


Clive berlari dengan kencang membawa kedua pemukul besi.


“Aku adalah wakil Clive sang penampil. Aku akan membalaskan dendam orang orang yang kau kalahkan!”


Clive bermaksud untuk menyerang Azka disaat lengah. Tapi tiba tiba Levin kembali menghadangnya dengan tangan kosong.


“Kau lagi!”


“Halo wajah aneh.” Levin mengejeknya dengan santai.


Levin terlihat senang meledek musuh musuhnya. Apalagi ia sempat terkekeh ketika melihat wajah Clint yang berwarna setengah biru dan putih. Memang wajah Clive sendiri tampak sangat konyol dengan warna yang begitu mencolok apalagi topi panjangnya menambah kesan aneh pada penampilannya.


“Wajah aneh katamu?!” geram Clive. “Bos, apa aku boleh membunuh bocah ini?!”


Wajahnya dipenuhi amarah saat meminta izin dari Clint. Ia merasa tak terima jika wajahnya dihina oleh Levin.


“Tentu saja,” jawab Clint santai.


Apapun jawabannya pasti Clive akan tetap bersikeras untuk membunuhnya. Selain itu, Clint juga yakin kalau Clive pasti bisa membunuhnya dengan mudah.


Clive melompat mundur dari genggaman Levin. Ia hanya bisa tersenyum karena mendapatkan izin untuk membunuhnya.


Levin membalas senyumannya dengan tatapan yakin. Ia mengikat kedua gelang kain yang berwarna kuning dengan erat dan bersiap untuk bertarung seperti seorang petinju.


Sejak dulu, Levin mempunyai kebiasaan sebelum bertarung yaitu mengikat kedua gelang tali yang ada di kedua lengannya.


“Levin!” panggil Azka. “Apa kau keberatan aku mengalahkan pria itu?"


Azka meminta izin kepada Levin untuk melawan Clint. Ia melakukan itu karena sebelumnya Levin lah yang sangat ingin menghajarnya.


“Tidak!" Teriak Levin. "Kalau begitu, aku akan membereskan pria aneh ini.”


“Jangan meremehkan ku kurang ajar!” bentak Clive.


Pukulan besi mendarat dengan kencang dilengan Levin. Levin sengaja menahannya dengan lengan agar tidak mengenai bagian tubuh yang lain. Ia menahan sakit karena pukulan besi dari Clive benar benar menyakitkan.


“Apa terasa sakit?” Clive tersenyum kecil.


Clive tau kalau Levin begitu kesakitan menahan serangannya. Ia sebenarnya cukup terkejut karena biasanya lengan seseorang akan hancur jika sampai terkena pukulannya.


Levin lalu menendangnya tapi Clive berhasil menghindar.


“Aku akan menunjukkan padamu bagaimana sang penampil sepertiku bertarung.”


Clive merasa percaya diri dengan julukannya sebagai penampil dalam suatu pertarungan.


“Penampil? Kau ini bodoh ya?” tanya Levin dengan polos.


“Aku tidak mau mendengar itu dari mulutmu dasar bodoh!”


Clive kesal dengan ucapan bodoh dari Levin. Itu sama saja kalau ia lebih bodoh dari Levin dan ia tidak terima oleh hal itu.


“Hidup Clive sang Penampil!”


“Hidup! Hidup!”


Sisa sisa anak buah Clint Buster menyorakinya dari kejauhan. Karena ketakutan mereka hanya bisa menyemangati Clive sambil bersembunyi dibalik reruntuhan.


“Kembalilah kesini dasar kalian penakut!” teriak Clive pada anak buahnya.


Karena takut terluka, seluruh anggota Buster itu kembali bersembunyi seakan tak terjadi apa apa.


Clive menghela nafas berat seakan pasrah dengan kelakuan mereka. Ia bahkan sampai lupa kenapa Clint bisa mengajak mereka untuk bergabung.


Clive kembali fokus dengan pertarungannya.


Ia lalu menatap Levin dengan serius, “Performer Step!”


Tiba tiba dia bergerak dengan lincah dan menyerang Levin dari segala sisi.


“Menyerah saja! Mereka semua memanggilku sebagai Performer bukan tanpa alasan. Mereka memanggilku begitu karena aku selalu menyuguhkan pertarungan yang indah! Hahahaha!”


Sambil terus berpindah dengan cepat, Clive menyombongkan dirinya sambil tertawa. Tiba tiba sebuah pemukul besi yang sangat keras membentur kepala Levin hingga tertunduk kebawah.


“Pasti sakit!” Tricia menutup mulutnya sambil membayangkan rasa sakit yang diterima oleh pemukul besi itu.


Kening Azka mengkerut saat melihat itu, ia malah berpikir kalau pukulan tadi pasti akan membuatnya tambah bodoh.


Clive lalu melompat mundur, ia tertawa seakan menyombongkan diri. Tawanya tiba tiba terhenti saat menyadari kalau Levin masih bisa tersadar dari pukulannya.


“Bagaimana bisa?!” Clive mengernyit.


Pukulan dari pemukul besi harusnya dapat membuatnya terjatuh. Dan mungkin kalau manusia biasa pasti akan langsung mati.


Levin yang tertunduk lalu menaikkan wajahnya yang dipenuhi darah. Ia menatap Clive sambil tersenyum.


“Cukup menyakitkan ya, pria dengan wajah aneh.”


Seakan luka yang diterima olehnya sama sekali tidak berpengaruh. Padahal pemukul besi yang dipakai Clive sangat berat. Bahkan tanah bisa menjadi berlubang saat pukulan itu mendarat.


“Heh … apa kau ini monster?”


Clive sedikit gemetar karena menganggap remeh kekuatan Levin. Tapi itu tidak terlalu berpengaruh padanya, ia yakin kalau ia pasti bisa membunuhnya. Apalagi Levin telah menerima luka yang cukup parah.


“Baiklah giliranku!” Levin bergerak dengan cepat.


Menyadari itu Clive juga bergerak dengan cepat. Mereka berdua saling menjual serangan tapi tak ada satupun dari mereka yang berhasil kena.


Apa apaan anak ini?! Padahal ia hanya memakai tangan kosong! Tapi kenapa ia bisa menahan pemukul besiku dengan mudah?! Batin Clive terkejut.


Levin terus menyerangnya secara cepat tapi masih saja ditahan oleh pemukul milik Clive. Mereka berdua berhenti secara bersamaan sambil menatap satu sama lain.


Clive kelelahan sambil mengatur nafasnya. Tidak disangka kalau Levin bisa mengimbangi gerakannya. Bahkan ia sampai terpojok oleh serangan Levin. Semakin dipikirkan oleh Clive hanya membuatnya tambah kesal.


“Chain Beater!”


Levin berhasil menghindar dari serangan mendadak Clive. Ia terkejut saat melihat pemukul besi itu tiba tiba memanjang. Pemukul besi itu meleset hingga terdengar dentuman ditanah.


Ternyata pemukul besi milik Clive berisi sebuah rantai dan membuat besi itu bisa dikendalikan olehnya.


“Sayang sekali kau menghindar.”


Clive tersenyum kecil sambil memutar pemukul besinya.


“Wuhh …,” desah Levin sambil mengusap keringatnya. “Mungkin aku bisa mati jika terkena itu.”


Dari kejauhan, Tricia memasang wajah malas saat mendengar Levin berkata seperti itu.


“Harusnya dia sudah mati oleh pukulan sebelumnya,” desah Tricia.


Clive menumbukkan pemukul besinya secara beruntun, Levin terus menghindar dari serangan beruntun itu.


“Sudah cukup!” Levin berteriak dengan jengkel.


Ia merasa kesal karena serangan membabi buta Clive membuatnya terus terpojok. Clive yang tidak peduli dengan teriakan Levin sama sekali tak mengurangi tumbukan beruntun pemukul besinya.


“Aku akan menunjukkan padamu betapa hebatnya seorang petarung!” Levin lalu berlari menuju Clive.


Kepalan kedua tangan Levin tiba tiba bercahaya kuning. Cahaya itu seakan menambah kekuatan pukulannya terhadap Clive dan pemukul besinya.


Dan benar saja, ketika Clive menyerangnya dengan pemukul besi. Dengan mudah Levin memukul kedua pemukul itu hingga retak.


“Tidak mungkin!” Clive panik ketika pemukulnya tak bisa ia kendalikan.


“Tangannya seakan mengeluarkan cahaya!” seru Tricia.


“Apa itu Link?”


Azka menaikkan alisnya saat melihat kekuatan Levin. Ia tidak tau kalau Levin mempunyai kekuatan Link.


Meskipun begitu, Link itu memiliki kemampuan yang sangat cocok sebagai seorang petarung.


Clive kembali panik saat Levin tiba tiba menghilang. Ia mencari disekeliling tapi ia tidak dapat menemukannnya.


“Aku disini dasar bodoh!” Teriak Levin dari atas.


Clive melihat keatas lalu kaget karena Levin bersiap untuk memukulnya.


“Death Blow!”


Sfx: Blarr!


Pukulan mematikan dari Levin mendarat dengan tepat diatas kepala Clive. Bahkan pukulannya menyebabkan tanah disekitar Clive menjadi retak.


Clive langsung terjatuh hingga matanya memutih tak sadarkan diri. Levin seperti sengaja memukulnya dari atas sama seperti yang dilakukan Clive saat memukulnya dengan pemukul besi.


Tapi dari segi kekuatan pukulan Levin mungkin jauh lebih kuat.


“C-Clive!” Teriak Clint dari kejauhan.


Ia tak menyangka kalau Clive yang selalu menampilkan pertarungan yang indah bisa dikalahkan oleh berandalan tengik itu.


“Lumayan juga kau, Levin,” sahut Azka.


Azka dan Tricia berjalan mendekati Levin. Levin tampak kelelahan karena terlalu banyak menghindar dari serangan Clive. Sambil mengatur nafas, Levin hanya bisa tersenyum seakan tak menjadi masalah besar.


“Sudah kubilangkan kalau aku ini kuat ….” Tiba tiba Levin terjatuh.


Sepertinya pukulan yang tadi membuat ia kehilangan banyak darah atau kelelahan.


“Aku … lapar,” lirih Levin memelas.


Secara bersamaan wajah Azka dan Tricia tampak masam saat Levin berkata lapar. Levin masih saja menjadi orang yang sulit dimengerti. Tapi bagaimanapun itu dia berhasil mengalahkan Wakil dari Clint Buster yaitu Clive the Performer.


Azka menghela nafas berat, “Kau istirahat saja. Biar aku yang mengurus pria besar disana.” Azka lalu berbalik menatap Clint.


Clint terus menahan amarahnya ketika melihat wakilnya sendiri telah dilakukan.


“Kurang ajar!”


Clint mengamuk karena amarah yang semakin tak terbendung. Azka yang melihatnya hanya bisa memasang wajah datar.


Sepertinya kali ini Clint benar benar marah seakan kemarahannya dapat menghancurkan seisi desa Corael. Pertarungan mereka sudah tidak dapat dihindari.


To be Continued…


Note Author:


Arm Cannon: Meriam Lengan


Shining Arrow: Panah Bersinar


Performer Step: Langkah Penampil


Chain Beater: Pemukul Rantai


Death Blow: Pukulan Kematian