
Arc 3 Beast
----------------------------------------------
Bulan purnama yang mulai tertutup awan adalah tanda waktu memasuki tengah malam.
Gelap hutan tempat bermalam Azka, Levin dan Tricia saat itu benar benar sunyi dari gangguan apapun. Setelah melakukan perjalanan yang cukup panjang mereka sekali lagi memutuskan untuk bermalam disebuah hutan.
Di hutan tersebut juga terdapat sebuah api unggun dan sungai yang arusnya cukup tenang disamping mereka mendirikan tenda.
Terlihat Tricia sudah tertidur nyenyak di dalam tenda dan itu menjadi hal yang wajar mengingat dirinya adalah seorang wanita. Para lelaki juga terpaksa mengalah karena akan sangat aneh rasanya jika mereka harus tidur satu tenda.
Tiba tiba, terdengar suara dengkuran yang cukup keras dari luar tenda. Orang itu adalah Levin yang sedang tertidur pulas hingga mengigau.
Berbeda dengan Tricia yang tidur nyenyak didalam tenda. Azka dan Levin tidur didekat api unggun dengan beralaskan kain yang sedikit tebal.
Disamping Levin tertidur, Azka yang awalnya tidur nyenyak mulai terganggu karena Levin tidak sengaja memukul wajahnya.
“Brengsek … aku tidak bisa tidur.” Azka membuang tangan Levin yang menempel diwajahnya.
Terpaksa bangun dengan raut wajah kesal, Azka lalu mengamati Levin yang sedang tertidur pulas disampingnya. Malam itu adalah malam ketiga mereka tidur bersama setelah meninggalkan desa Corael.
“Lain kali aku harus tidur jauh jauh darinya.”
“Hm … makanan … hehehe ….”
Azka memasang tatapan malas ketika melihat Levin kembali mengigau.
“Levin kurang ajar! bukannya dia bilang mau berjaga malam ini?!”
Dari suara dengkurannya, tampak Levin tidur dengan sangat nyenyak. Hal itu berbanding terbalik saat ia bilang akan berjaga malam. Bahkan kata katanya saat itu terdengar meyakinkan.
Sudah menjadi hal yang umum ketika bermalam di hutan harus ada yang berjaga. Tentu saja untuk memantau situasi atau kejadian yang tidak diharapkan saat semuanya tertidur.
Melihatnya yang semakin tertidur pulas, Azka hanya bisa menghembus nafas berat.
“Sepertinya harus aku yang berjaga malam ini.”
Dan sekali lagi, Azka lah yang selalu mendapat giliran untuk berjaga.
***
Matahari akhirnya terbit dengan mentari pagi.
Dengan wajah ceria, Tricia akhirnya keluar dari tenda dan tatapannya tertuju ke Azka dan Levin.
“Selamat pagi.”
Sapaan Tricia di iringi oleh senyuman lembut dan rambut berwarna hijau muda yang terlihat bersinar terkena cahaya matahari.
Levin yang baru saja terbangun pun menguap dengan suara yang cukup menganggu. Ia meregangkan tubuhnya dan menatap kedua mata Tricia yang berwarna coklat.
“Yo, selamat pagi Tricia!” Wajahnya begitu bersemangat seperti biasa.
Menyadari Azka yang telah terbangun, tatapan Levin pun mengarah ke arahnya.
“Ternyata bangunmu cukup pagi ya Azka!” Seru Levin dengan polos.
Mendengar perkataan itu, Azka hanya bisa menahan kesal saat menatapnya. Sejak terbangun, ia sama sekali belum tidur karena harus berjaga malam yang seharusnya menjadi tugas Levin.
“Sepertinya tidurmu sangat nyenyak ya.”
“Kau ini tidak tidur ya semalam?”
Karena melihat wajah Azka sedikit berantakan dan kantung mata yang mulai menghitam, Levin memiringkan kepalanya karena kebingungan.
“Kau pikir aku ini gara gara siapa brengsek?!” Azka memasang tatapan kesal.
“Memangnya siapa?” Levin bertanya seakan tak tahu apa apa.
“Lupakan saja.” Ucap Azka sambil berdiri. “Aku mau tidur sebentar.”
Dengan wajah mengantuk, Azka berjalan ke arah Tricia.
“Kau bisa tidur di dalam tenda kalau mau.”
“Aku memang berniat seperti itu.” Azka berniat melanjutkan tidurnya di tenda tempat Tricia tidur.
“Baiklah, kalau begitu aku akan mencari makanan!” Sambung Levin.
“Bangunkan aku jika makanannya sudah siap.” Azka masuk kedalam tenda dengan tatapan datar.
“Oke.” Ucap Tricia dengan tatapan lembut.
Beberapa jam kemudian, Levin telah selesai memburu beberapa daging dan juga ikan yang telah dimasak oleh Tricia.
Setelah tertidur sebentar, Azka yang baru saja terbangun berniat untuk sarapan bersama Levin dan Tricia.
“Selamat makan!”
Kedua mata Levin tampak berbinar sambil memakan makanan itu dengan rakus.
“Sudah tiga hari ini ya kita belum menemukan sebuah kota.” Ucap Tricia mengambil beberapa potong daging.
“Tapi setidaknya kita sudah keluar dari wilayah Free Zone.” Jawab Azka sambil memakan ikan. “Seharusnya tidak lama lagi kita bisa menemukan sebuah kota.”
“Kira kira sekarang kita berada di dekat kerajaan mana?”
“Entahlah ….”
Karena belum menemukan petunjuk apapun untuk pergi ke Mid Land, selama tiga hari itu mereka hanya berjalan tanpa tujuan dengan harapan menemukan informasi jika sampai di sebuah kota.
Jadi mereka sama sekali tidak tau sedang berada di wilayah mana. Tapi, Azka sangat yakin jika ia telah keluar dari wilayah Free Zone karena di sekitar hutan tempat mereka tinggal masih banyak monster liar yang bisa dijual.
“Tenang saja … jika kita berjalan lurus pasti akan sampai kekota selanjutnya.” Levin tampak santai sambil menghabiskan makanannya.
Azka dan Tricia yang awalnya berdiskusi menatap Levin dengan wajah masam.
Menyadari ada sesuatu yang aneh, Azka terkejut sekaligus kesal ketika Levin telah menghabiskan hampir seluruh makanannya.
“Sialan Levin! lagi lagi kau menghabiskan semuanya!”
“Habisnya aku benar benar lapar.” Levin menjawab polos sambil melanjutkan makannya.
Dengan menahan kesal, Azka kembali menghembus nafas berat. Dia lupa kalau ia jangan sampai lengah dalam urusan makanan karena Levin pasti akan menghabiskan semuanya.
“Oh iya Levin, bukannya Vina sempat memberimu sebuah tas?” Tanya Tricia.
“Kenapa memangnya?”
“Apa ada sesuatu yang penting ditas itu?”
“Penting? Bahkan Vina tidak memberiku apa apa selain makanan dan juga benda ini.”
Tiba tiba Levin mengeluarkan secarik kertas dari kantung celananya.
“Kertas?” Tanya Azka dan Tricia secara bersamaan.
Dengan wajah tak peduli, Levin melempar kertas itu yang kemudian ditangkap oleh Tricia.
“Benar benar Vina itu … bisa bisanya dia memberiku makanan sangat sedikit. Untung saja aku cukup pintar untuk berburu makanan, kalau tidak aku pasti mati kelaparan.”
Keluhan Levin sama sekali tak didengar oleh Azka dan Tricia yang sibuk melihat isi kertas itu.
Setelah membuka kertas itu, Azka dan Tricia kompak menaikkan alisnya.
“Kertas ini kan ….”
Levin yang sejak tadi mengomel sendirian terdiam ketika melihat reaksi mereka berdua.
“Ada apa?”
***
Matahari telah meninggi saat Azka, Levin dan Tricia meninggalkan hutan.
Setelah membereskan semuanya, Azka dan rombongan pun kembali melanjutkan perjalanan mereka.
“Kenapa kau tidak bilang mempunyai peta?!” Seru Tricia dengan kesal.
“Kertas itu tidak bisa dimakan jadi aku kira itu tidak penting.”
“Kau sempat ingin memakannya?” Tanya Azka dengan heran.
Peta yang sebelumnya dikira kertas biasa oleh Levin memang membuat Azka dan Tricia sedikit terkejut. Meskipun peta itu hanya memuat desa Corael, tapi disitu terdapat informasi sebuah kerajaan yang terdekat dari desa Corael.
Menurut peta itu, seharusnya perjalanan ke kerajaan itu dari desa Corael bisa dicapai selama dua hari. Tapi untungnya jarak mereka tidak terlalu jauh dan berniat untuk pergi kesana.
“Aku harap di kota yang kita datangi terdapat makanan enak.” Ucap Levin dengan wajah berseri seri.
“Aku juga berniat seperti itu tapi … kita tak punya uang.” Jawab Azka meski enggan.
“Eh? Kenapa Buster kita begitu miskin?”
Sfx: Wush
Disaat berjalan tiba tiba ada sesuatu yang bergerak sangat cepat di tengah tengah mereka.
“Apa itu?!”
Karena panik, Azka dan yang lainnya pun menghentikan langkahnya.
Azka menaikkan alisnya ketika mengamati sosok misterius yang telah menghilang dari pandangannya. Tapi ia sempat melihat kalau sosok itu seperti menggunakan sebuah jubah.
“Mungkin itu … seekor monster?” Tanya Tricia meski ragu.
“Mungkin saja ….” Azka juga berpikiran yang sama karena sosok itu seperti bukan manusia meskipun ia sedikit yakin kalau makhluk itu memakai jubah serba hitam.
“Apa yang kalian lakukan?” Levin berjalan dengan santai. “Ayo cepatlah … aku sudah tidak sabar mendatangi kota pertamaku sebagai Buster.”
Kata kata Levin begitu bersemangat meski wajahnya tidak terlihat seperti itu. Azka dan Tricia berpandangan sebentar lalu melanjutkan perjalanannya mengikuti Levin.
Setelah cukup lama berjalan, kedua mata Levin yang awalnya begitu lemas tiba tiba mulai bersemangat.
“Oi, lihat! Itu kerajaan yang kalian maksud kan?!”
Tatapannya begitu berbinar saat menatap Azka dan Tricia yang berjalan dibelakangnya. Levin begitu bersemangat sambil menunjuk ke sebuah kerajaan yang tidak jauh dari mereka.
Dari kejauhan, terlihat kerajaan itu sama sekali berbeda dengan Oleander. Perbedaan yang dimaksud adalah struktur bangunan yang tidak seramai dan sebagus seperti Oleander.
“Kau benar!” Seru Tricia yang ikut bersemangat.
“Ayo cepatlah kalian!” Tanpa pikir panjang Levin langsung berlari meninggalkan mereka berdua.
“Woi tunggu brengsek!” Teriak Azka dengan wajah kesal karena begitu kelelahan.
Sambil menyibak rambut hijau mudanya kebelakang telinga, Tricia kembali memperrhatikan peta tersebut.
“Akhirnya kita sampai … di kerajaan Hawthorn.” Tricia tersenyum saat menatap kembali kerajaan itu.
To be Continued…
Maaf baru bisa up karena gua masih ngerevisi kerangka Arc 3 ini dan baru selesai membuat kerangka mentah buat Arc 4.
Yang udah baca jangan lupa like dan votenya juga ya. Kritik dan saran juga sangat diperbolehkan karena author sendiri masih belajar dalam hal menulis.
Terima kasih banyak\~