
Sinar rembulan menciptakan keheningan di dalam hutan, kecuali suara Tricia dan Filia yang sedang berlari.
Bulan purnama tampak begitu cantik sekaligus membawa perasaan damai bagi yang melihatnya, tapi—tidak dengan perasaan Tricia saat ini.
Untuk sesaat, bayangan Azka terbesit di dalam pikiran Tricia yang membuatnya cemas.
Apa ini?! Kenapa perasaanku mulai tidak tenang?! Apa terjadi sesuatu?!
Tricia bertanya-tanya dalam hati, terlihat jelas dari raut wajahnya. Sedangkan Filia, berlari di belakangnya menyadari kalau Tricia tampak gelisah.
“Ada apa, Tricia-san?” tanya Filia cemas.
Sempat terdiam beberapa detik, Tricia menghilangkan rasa paniknya. “O-oh, tidak papa.”
Memang Tricia berkata dirinya tidak papa, tapi Filia yakin kalau ada sesuatu yang menganggu pikiran Tricia.
Filia tak mengerti, tapi entah kenapa sosok Azka tiba-tiba muncul di dalam pikirannya. Awalnya Filia ragu, apakah kabur keputusan yang benar? Tapi di satu sisi, Filia tidak ingin usaha Azka menjadi sia-sia.
Aku harap Azka-san baik-baik saja, benak Filia dengan ekspresi sedikit murung.
Sekarang, mereka berdua berlari dengan perasaan gundah. Jarak dari tempat mereka ke desa Kitara sudah tidak jauh, sekitar 30 menit kalau terus berlari.
Namun, rambut hitam dari arah belakang menyerang secara tiba-tiba, spontan FIlia dan Tricia menunduk dan akhirnya jatuh terguling di tanah.
Sesaat, Tricia dan Filia begitu panik. Ketika mencari asal serangan tersebut, mata mereka melebar.
Rambut hitam yang sudah mengakar di udara, Chyntia berjalan keluar dari gelap hutan dengan ekspresi tajam.
“Ke-kenapa dia di sini ….” Tricia melihat kedatangan Chyntia dengan tatapan tidak pecaya.
Pertanyaan mulai muncul dalam pikiran Tricia, kenapa dia bisa ke sini sedangkan Azka mati-matian menahan mereka?
Filia menunjukkan reaksi yang sama, melangkah mundur sambil tergeletak di tanah.
“Kita kembali berhadapan ya gadis manis,” kata Chyntia pada Tricia.
“Apa yang terjadi? Kenapa kau bisa mengejar kami?”
“Biar kuberi tahu sesuatu, sebaiknya kau menyerah saja dan serahkan FIlia-chan padaku.”
Tricia tak menjawab, dia lalu berdiri dan kembali menarik FIlia yang sedang kebingungan untuk berlari menjauh.
“Percuma saja terus melarikan diri. Kalau aku jadi kalian, aku lebih mengkhawatirkan pengguna belati hitam itu.”
Seketika Tricia melepas tangan Filia dan menghentikan larinya. Tricia mengernyit, menoleh ke Chyntia. “Apa maksudmu ….”
“Saat ini, teman kalian sudah mati di tangan Parviz.”
“Tidak mungkin ….” Tricia dan Filia merespon bersamaan, untuk sesaat tatapan mereka seakan kosong.
“Sebenarnya aku berniat membunuh orang itu, karena dialah penyebab Kazel mati. Tapi, selama dia berhadapan dengan Parviz, aku tak perlu khawatir.”
“Azka-san … mati?” gumam Filia dengan mata menggenang.
“Ara, kau pikir itu salah siapa, Filia-chan? Harusnya kau sadar semua ini salahmu!” Chyntia memancing emosi mereka sambil tersenyum kecil.
“Salahku?” Bahu Filia merosot, rasa syok terlihat jelas dari wajahnya yang menurun.
“Kurasa kematian belati hitam itu sudah cukup setimpal dengan kematian Kazel. Jadi, lebih baik menyerah saja.”
“Jangan bercanda ….” Suara Tricia tertahan rasa amarah, wajahnya menurun dengan tangan mengepal.
“Hm?” respon Chyntia seakan tak peduli.
“Filia-chan, maaf … pergilah lebih dulu.”
“Eh?” Selagi di landa perasaan syok, Filia kebingungan oleh maksud Tricia.
“Azka … Azka tidak akan mati.” Tricia mengangkat wajahnya dan memasang tatapan yakin.
“Oh, kau sangat percaya diri ya? Kau pikir Parviz itu siapa? Level kekuatannya sangatlah jauh di bandingkan temanmu.”
“Kau tidak punya bukti ….”
“Bukti? bukankah kau sudah melihat bagaimana kekuatannya? Bahkan temanmu saja begitu kesulitan.”
“Diam ….”
“Aku tidak tahu kenapa Kazel sampai terbunuh olehnya, tapi bisa kupastikan kalau temanmu sudah mati!”
“Tutup mulutmu wanita ******!”
“Ara, ternyata gadis sepertimu bisa berkata kasar ya.”
“FIlia-chan … pergilah.”
“Ta-tapi ….”
“Kumohon ….”
Terdiam dengan perasaan campur aduk, Filia menatap raut wajah Tricia yang mulai tersulut emosi. Tanpa di sadari kedua mata Filia menggenang, apakah ini semua salahnya?
TIdak, Filia tidak boleh percaya dengan omongan wanita itu. Apalagi Tricia masih sangat yakin kalau Azka belumlah mati.
“Pergilah!” Tricia berteriak menahan emosinya.
Spontan, Filia sangat terkejut melihat Tricia berteriak seperti itu. Baru kali ini Filia melihat Tricia yang biasanya lembut, begitu marah saat ini.
Tanpa berpikir apapun lagi, Filia langsung bergegas pergi sambil memejamkan matanya.
Chyntia hanya diam mengamati Filia pergi, reaksinya seakan tak begitu peduli.
“Cepat atau lambat, Filia-chan pasti tertangkap. Lagipula, kita berdua masih mempunyai urusan bukan?”
Dengan maksud ucapannya barusan, jelas Chyntia ingin membalas Tricia di pertarungan sebelumnya.
“Azka … pasti masih hidup!” Tricia menunjukkan raut wajah yang tersulut kemarahan.
“Kau masih memikirkannya? Kukira kamu berbicara seperti itu agar Filia-chan tidak merasa bersalah. Dari awal, kalian telah salah memilih musuh.”
“Kau hanya berbohong kan ….”
“Berbohong? Sepertinya kau sangat percaya ke teman-temanmu. Ya, wajar sajar seperti itu, kau selalu lari selagi kedua temanmu bertarung. Kau hanya bisa merepotkan mereka bukan? Jelas saja salah satu dari mereka akan mati.”
Tricia menurunkan wajahnya, entah apa maksud Chyntia mengatakan itu, tapi Tricia semakin tersulut amarah.
“Kalau aku jadi dirimu, mungkin aku akan menye—” ucapannya terhenti, pipi kanan Chyntia tiba-tiba tergores mengeluarkan darah.
Dengan cepat, Tricia sudah mengeluarkan panahnya dengan tatapan tajam.
“Jangan mengatakan sesuatu yang belum terbukti!”
Untuk sesaat, bibir Chyntia bergetar ketakutan. Bagi Chyntia, melihat tatapan Tricia yang di penuhi kemarahan malah mengingatkan pada dirinya.
Namun perasaan itu hilang seketika, Chyntia memanjangkan kembali rambutnya seperti ular yang sedang menari.
“Kau pikir … hanya kau saja yang marah? Temanku juga mati karena pengguna belati hitam itu!” Rambut Chyntia melesat dengan cepat ke arah Tricia.
Tricia tak gentar, dia mengeluarkan anak panah bercahaya hijau dan melubangi rambut Chyntia.
Chyntia mulai tersulut kemarahan. Rambut hitamnya kembali memanjang, jauh lebih keras.
Tembakan panahnya seakan tak mempan menembus rambut hitam itu. Tetapi, Tricia sama sekali tak bergeming dan memusatkan kekuatannya kepada satu anak panah.
“Shining Arrow!”
Tembakan panah Tricia melesat mengeluarkan cahaya hijau muda. Chyntia berdiri menatap panah itu dengan tajam.
“Apa kau pikir tembakan ini bisa mengalahkanku?!” Chyntia menahan anak panah Tricia menggunakan rambutnya yang sudah mengeras.
Terjadi percikan api saat keduanya bertemu, kemudian menghasilkan ledakan kecil setelah berbenturan.
“Kau hanyalah gadis bodoh yang tidak tahu apa-apa! Gara-gara kalian … Kazel menjadi hilang kendali dan akhirnya terbunuh. Kau pikir itu salah siapa?! Soft Bang Crusher!”
Sambil meluapkan amarahnya, Chyntia membabi buta mengarahkan rambut hitamnya itu. Tricia menghindar sambil melesatkan beberapa anak panah. Sama seperti Chyntia, tatapan mata Tricia menunjukkan kemarahan.
“Aku tidak mengerti apa yang kau ucapkan!” teriak Tricia sambil menembakkan anak panah menghentikan gerakan rambut Chyntia.
“Tidak mengerti? Aku merasakan hal yang sama denganmu! Kazel terbunuh rantainya sendiri gara-gara kalian!”
“Kalau begitu, jangan samakan aku dengan dirimu!”
“Sejak awal … kalianlah yang membuat Kazel hilang kendali! Karena itulah temanmu seharusnya mati!”
Teriakan kedua wanita itu mengiringi serangan mereka yang saling menangkis.
Pertarungan mereka berdua sepintas hanya menjual beli serangan yang sia-sia. Baik Tricia dan Chyntia sama-sama hilang kendali memikirkan teman mereka yang begitu berharga.
“Azka … maupun Levin … tidak akan mati semudah itu!”
“Kenapa … kenapa?!”
Tiba-tiba, cahaya hijau berkilau menerangi kegelapan hutan, Tricia mulai membidik panahnya dengan tatapan tajam.
Melihat Chyntia yang di telan kemarahan karena temanya mati, Tricia mengerti akan hal itu. Tapi, Tricia berbeda …
“Karena mereka adalah … teman-temanku!” Cahaya hijau yang begitu cantik semakin bersinar saat Tricia bersiap menembakkan panahnya.
Chyntia terdiam melihat aura hijau yang terus mengalir dari panah Tricia. Dengan panik, Chyntia memanjangkan rambutnya membentuk seperti perisai.
“Celadon Eternity Shot!”
Wush!
Tricia melesatkan anak panah bercahaya hijau muda yang tampak indah, sekaligus menghempas semua yang ada di sekelilingnya.
“Kau tidak akan bisa mengalahkanku! Perming Shield!”
Rambut Chyntia membentuk sebuah pelindung dari rambutnya yang sudah dia keraskan menjadi sebuah perisai dan—
Boom!
Terjadi ledakan yang sangat besar, membuat gerombolan burung di dalam hutan berterbangan di langit malam. Bahkan getaran itu terasa sampai di tempat Filia yang masih berlari menuju panti asuhan.
Filia kebingungan akan hal itu, tapi dia memegang teguh kata-kata Tricia untuk menyuruhnya pergi.
Sementara itu, sisa-sisa cahaya hijau tersebar di sekeliling Tricia menciptakan cahaya hijau yang begitu cantik.
Rambut hitam dari Chyntia gagal menahan anak panah itu, dan Chyntia pun terpental jauh menabrak pepohonan oleh efek ledakan tersebut.
Panah dari Tricia mengeluarkan asap berwarna putih sesaat setelah melepas tembakannya. Tricia merenung, nafasnya sedikit terengah-engah.
“Aku … lebih mempercayai teman-temanku di bandingkan dirimu!” Tricia mengatakannya dengan suara lantang melihat Chyntia terlempar.
To be Continued …