Black Buster

Black Buster
Chapter 66 "Little Girl Shouldn't Bear it All"



Meninggalkan Levin yang sedang bertarung, Azka berlari di jalan utama kota Hawlic untuk mengejar Parviz yang sekarang menuju ke desa Kitara. Terlihat cukup banyak anggota Crimson Buster yang berserakan bersimbah darah di beberapa tempat, sekaligus menjadi pemandangan kota Hawlic malam itu.


Tidak memakan waktu lama, Azka hampir sampai di perbatasan antara Kota Hawlic dan Kota Hayate. Sekarang dia berlari di jalan perbatasan dengan tatapan khawatir.


Pikirannya di selimuti oleh rasa cemas. Pertama, Azka masih belum bertemu dengan Tricia dan Filia. Kedua, dia harus menghentikan Parviz sampai ke desa Kitara. Dari kemungkinan itu, jelas Azka mempunyai firasat buruk.


Tapi, kekhawatiran itu mulai menghilang saat dia melihat Tricia dan Filia sedang berjalan menuju kota Hawlic. Mereka seakan terkejut dengan kedatangan Azka yang tiba-tiba.


“Azka?!”


“Azka-san?!”


Tricia dan Filia merespon secara bersamaan.


“Kalian baik-baik saja?” tanya Azka cemas.


“Y-ya, apa yang terjadi? Kenapa kau kemari Azka?” Tricia memasang ekpresi bertanya-tanya.


“Ada sedikit masalah ….”


“Eh? tapi, teman-temanku masih ada di sana kan Azka-san?!” Ekspresi Filia mulai khawatir.


“Ya, mereka baik-baik saja. Levin ada di sana bersama teman-temanmu, sekarang dia sedang bertarung dengan salah satu dari mereka.”


“Levin? Tunggu, apa yang sebenarnya terjadi? Aku masih belum mengerti. Bukankah kita harus menyelamatkan anak-anak itu?” Raut wajah Tricia tampak semakin kebingungan.


“Sudah kubilang di sana ada Levin.”


“Tapi, mereka semua ada di sana kan? kenapa kau membiarkan Levin bertarung seorang diri?”


“Tidak, di sana hanya ada satu orang.”


“Apa?!” Tricia mengernyit. Sedangkan Filia hanya diam kebingungan menyimak percakapan mereka.


“Ya, hanya ada satu orang yang bertubuh besar di tempat itu.”


“Bertubuh besar?” Sambil menundukkan wajahnya, Tricia mengingat kembali tentang ciri-ciri orang itu. Dia langsung terpikir dengan Buster yang mengejarnya di kota Hawlic siang tadi.


“Hanya pria itu? bukankah ada satu anggota wanita lagi?” tanya Tricia kemudian.


“Tidak, hanya orang itu.”


“Tu-tunggu Azka-san, apa benar Alan dan Cornelia baik-baik saja?” Dengan mata berkaca-kaca, Filia memeluk kaki Azka dengan perasaan cemas.


Sambil mengelus kepala Filia dengan lembut, Azka berkata. “Ya, mereka baik-baik saja.” Tampak Filia kembali tenang setelah kepalanya di elus.


Kemudian, Azka melanjutkan, “Sekarang ada yang lebih penting, Orang yang bernama Parviz itu sedang menuju ke Kitara.”


“Huh?!” respon Tricia dan Filia bersamaan.


“Apa yang mereka rencanakan?!” tanya Tricia kemudian.


“Bukankah sudah jelas? dia berniat menangkap Filia secara langsung.”


“Ta-tapi, aku ada di sini ….” Ketika menggumam, tiba-tiba mata Filia melebar. “Apa mungkin ….”


“Ya, nenek panti itu sekarang dalam bahaya.”


“Mama!” Bibir Filia bergetar yang membuat suaranya ikut bergetar.


“Mereka pasti mengira kau sedang bersembunyi di sana.” Sejak tadi Azka menjelaskan dengan wajah setenang mungkin.


“Kenapa … mereka sampai sejauh itu?” gumam Tricia sambil menurunkan pandangannya.


“Tenanglah, kita masih bisa mengejar mereka sekarang.”


“Ya, kalau begitu kita harus cepat!”


Setelah memutuskan semuanya, Azka dan Tricia bersiap untuk mengejar Parviz yang sekarang menuju desa Kitara. Baru beberapa langkah, Filia hanya diam dengan menurunkan wajahnya di belakang. Tak terlihat jelas ekspresi Filia, tapi Azka dan Tricia tahu kalau gadis kecil itu sedang murung.


“Filia-chan ….” panggil Tricia dengan lembut.


Memanggil namanya, Filia hanya terdiam melihat Azka dan Tricia. Rasa keraguan terlihat jelas dari raut wajah Filia.


Azka menyadari perasaan Filia saat ini. Oleh karena itu, dia berjalan mendekatinya dan kembali mengelus rambut peraknya yang cantik itu.


“Kau tidak perlu menyalahkan dirimu.”


Dengan rambutnya yang masih di elus, Filia menaikkan tatapannya dengan lembut. “Tapi … gara-gara aku … Alan, Cornelia, bahkan Mama ikut terancam bahaya. Aku … aku tidak mau mereka terluka karena melindungiku ….”


Melihat Filia yang hampir menitihkan air mata, Azka hanya diam memandanginya. Dia berhenti mengelus Filia sebelum berbicara.


“Kau tak usah khawatir. Aku janji, akan melindungi mereka semua.” Azka mengatakannya tanpa menatap ke Filia. “Levin juga berjanji untuk membawa teman-temanmu selamat. Jadi, kau tak perlu berjuang sendirian.”


“Kenapa … kenapa kau sampai sejauh ini membantuku, Azka-san?! Kenapa kau sebaik ini? Kau adalah Buster kan?! Kenapa?!” Suara Filia bergetar ketika melihat ke Azka.


Entah kenapa Azka kesulitan menjawab itu, tidak—lebih tepatnya dia tidak ingin menjawab alasan sebenarnya. Sudah beberapa kali pertanyaan itu di tujukan padanya, tapi Azka tetap mengelak hal itu.


“Entahlah.” Hanya itu yang bisa di ucapkan Azka.


Berdiri di belakangnya, Filia tampak tidak puas dengan jawaban itu, matanya juga masih menggenang melihat Azka yang mulai berjalan pergi.


“Azka ….” Tricia seakan kehilangan kata-kata melihat Azka melangkah. Jujur saja, dia tidak mengerti dengan pikiran Azka saat ini.


Karena waktu terus berjalan, Tricia mendekati Filia untuk membujuknya. “Tenang saja Filia-chan, mereka pasti baik-baik saja. Sekarang kita harus menghentikan mereka sebelum sampai ke desa Kitara,” ucapnya sambil mengelus rambut Filia.


“Tricia-san ….” Ekspresi Filia tampak kembali ceria.


“Sejak awal kami sudah berniat untuk menolongmu kan? Jadi kau tak usah menyalahkan dirimu sendiri. Kau tahu? dia memang seperti itu, tapi percayalah Azka adalah orang yang sangat baik.”


Tentu Tricia tidak lupa dengan semua pertolongan Azka padanya. Meski kesan awalnya seperti penjahat, Tricia sudah yakin kalau Azka adalah orang yang sangat baik.


Mendengar kata-kata itu, Filia mulai tersenyum lega. Hatinya seketika luluh dengan tatapan mata yang begitu manis.


“Terima kasih … Tricia-san.”


“Kalau begitu ayo, kita harus kembali ke desa Kitara. Aku juga yakin Levin pasti membawa teman-temanmu pulang dengan selamat.”


Filia mengangguk sambil mengatakan “Un!” dan mulai berlari bersama Tricia, mengejar Azka yang sudah berada di depan mereka.


***


Hampir tiga puluh menit mereka bertiga berlari dan akhirnya sampai di kota Hayate. Sama seperti sebelumnya, Kota Hayate saat ini begitu sepi tanpa ada satu orangpun yang terlihat. Rumah, kedai makan dan juga Bar sudah terlihat berantakan seperti kota mati.


Di samping Tricia, Filia berlari sambil mengendus tanda-tanda seseorang. “Aku belum mencium bau mereka dari sini.”


“Eh? Kau bisa mencium bau seseorang?” tanya Tricia.


Filia mengangguk, “Un! Mungkin ini salah satu kelebihan dari kekuatanku.”


“Ternyata Link tipe Vistia banyak keunggulan ya …,” gumam Azka sambil berlari di depan mereka berdua.


“Apa kau mengingat aroma mereka Filia?” tanya Tricia kemudian.


“Sebenarnya aku tidak tahu bau mereka seperti apa. Aku hanya mencoba mengendus seseorang selain kita.”


“Jadi kota ini sudah benar-benar di tinggalkan ya ….” Azka mengatakannya dengan reaksi datar.


“Benar yang di katakan nenek Alice. Kerajaan Hawthorn sama sekali tidak peduli dengan keadaan kota-kotanya.” Tricia melanjutkan sambil mengingat penjelasan Alice tentang kerajaan Hawthorn.


Mendengar percakapan itu, Filia mulai menjelaskan. “Sebenarnya hal seperti ini sangat sering terjadi. Sejak dulu, kerajaan ini mengalami krisis akibat perebutan kekuasaan. Jadi mereka tidak terlalu peduli dengan kota lainnya.”


“Semua keluarga kerajaan memanglah seperti itu. Aku yakin kalau kerajaan sampah itu akan bernasib sama. Bahkan mengingat rajanya saja sudah membuatku muak.” Kerajaan yang di maksud Azka di sini adalah kerajaan tempat tinggalnya dulu, kerajaan Oleander.


“Azka-san? apa kau juga berasal dari kerajaan sekitar sini?” tanya Filia penasaran.


“Lebih tepatnya aku hanya tinggal di sebuah toko tua.”


“Yah, ceritanya cukup panjang Filia.” Tricia menambahkan sambil tersenyum pada Filia.


“Jadi … kalian berdua bertemu di sana?”


“… kurang lebih seperti itu.” Tricia tersenyum kecut, dia hanya tidak mau menceritakan semuanya secara rinci.


“Wah … aku tidak menyangka. Setelah itu kalian bertemu dengan kak Levin kan?”


“Ya, kami bertemu dengannya dua minggu yang lalu.”


“Jadi kalian bertiga baru menjadi Buster?”


“Benar, kalau tidak salah kami baru sebulan menjadi Buster.”


“Wah ….” Kedua mata biru Filia tampak berbinar.


Sambil berlari mendengar kedua gadis itu mengobrol, Azka memasang ekspresi seakan risih. Dia paham dengan ketertarikan Filia, apalagi dia hanya seorang gadis kecil yang lucu. Tapi bagi Azka, itu cukup membuatnya tidak nyaman. Oleh karena itu, dia hanya diam sambil memfokuskan tatapannya ke depan.


“Ngomong-ngomong,” sela Tricia. “Apa pria bertubuh besar itu yang sekarang bersama Levin?”


“… ya. Tapi anehnya, dia sengaja membiarkanku pergi mengejar orang yang bernama Parviz itu.”


“Eh?” tanya Tricia dan Filia bersamaan.


“Firasatku, dia hanya berniat untuk bertarung melawan Levin secara langsung. Entah kenapa aku bisa merasakan itu dari tatapannya.” Azka mengatakan itu dengan tatapan kosong. Dia teringat dengan tatapan Mirio sebelumnya.


“Jujur saja orang itu benar-benar menakutkan ….”


“Ya, dia sudah seperti Levin tapi dengan ukuran yang lebih besar.”


“Apa kak Levin akan baik-baik saja?” tanya Filia.


“Meskipun dia orang yang nekat. Aku yakin kalau dia pasti menang.”


Tatapan mata Tricia terlihat begitu meyakinkan, bahkan Filia sampai bingung kenapa Azka dan Tricia bisa seyakin itu. Karena mereka berdua percaya, maka Filia harus mempercayakan semuanya kepada mereka.


Sementara itu, Azka hanya diam. Dari kejauhan, gerbang kota Hayate sudah terlihat. Tapi dia merasakan aura yang aneh. Dengan perasaan kebingungan, kedua mata Azka langsung melebar.


“Tricia, Filia, Awas!” Sambil berteriak, Azka dengan cepat mendorong mereka berdua dari sebuah tebasan besar dan cepat berwarna merah yang mengarah ke mereka.


“Apa itu tadi …,” gumam Tricia.


Sempat di selimuti rasa syok, Filia dan Tricia hanya diam melihat bekas tebasan itu. Tebasan mematikan tadi, ternyata sanggup membelah beberapa bangunan beton yang cukup besar di belakang mereka.


Sedangkan Azka, nafasnya terengah-engah melihat sosok orang yang membuat tebasan itu. Dari kejauhan, terlihat sepasang pria dan wanita sudah berdiri menunggu mereka tepat di gerbang keluar Hayate.


Tentu kedua orang itu adalah, Chyntia dan ketua dari Crimson Buster, Parviz Benedict.


Sebuah pedang panjang dengan gagang berwarna merah, dan tubuh yang begitu gagah, Parviz menatap mereka bertiga dari kejauhan. Kemudian, tatapan tajamnya tertuju ke Filia yang jauh di depannya.


“Tak kusangka Monster Kecil itu sendiri yang menghampiriku.” Suara Parviz begitu tajam.


Tanpa terasa apapun, tiba-tiba sebuah tebasan hitam mengarah ke Parviz dengan cepat. Parviz, mengangkat pedangnya dan menangkis serangan itu dengan sangat mudah.


Chyntia cukup terkejut dengan serangan yang tiba-tiba itu. Tapi dia tidak terkejut melihat Parviz menangkis serangan itu dengan mudah.


“Hm, sepertinya ada dua tikus yang mengantar Monster Kecilku kemari.” Sambil tersenyum tajam, tatapan Mirio mulai mengarah ke Azka yang sudah berdiri jauh di hadapannya.


Dengan sinar rembulan, kedua mata Azka yang berwarna hijau itu terlihat elegan sekaligus tajam. Kedua belati hitam yang sudah di genggamnya erat, mengeluarkan aura hitam di ujung belatinya.


Melihat mereka berdua yang saling menatap, Tricia mengernyit. Selama ini. dia pernah melihat Azka seserius itu. Sedangkan Filia, bahunya bergetar seakan ketakutan melihat tatapan Parviz.


“Dia … di sini ….” Filia menggumam dengan suara bergetar.


“Jadi orang itu yang bernama Parviz?” Tatapan mata Tricia melebar melihat pria berambut hitam dengan pedang panjangnya. Dia juga melihat wanita pengguna Link Rambut yang tadi siang di lawannya.


Seakan menikmati pemandangan di depannya, Parviz menaikkan sudut bibirnya. “Jadi kau rupanya yang sudah ikut campur urusanku. Aku sempat tertarik denganmu, tapi ternyata hanyalah seorang Buster rendahan. Sangat mengecewakan.”


Tanpa kedipan mata, tebasan merah melesat dengan cepat mengarah ke Azka. Dengan cepat, dia membalas tebasan itu dengan tebasan hitam miliknya.


Ledakan antara dua tebasan pun terdengar cukup keras.


Setelah memberikan ancaman tadi, Parviz memasukkan pedangnya ke sarung pedang, dan berjalan dengan ekspresi tenang.


“Aku tidak mau membuang waktuku untuk bertarung dengan Buster pemula sepertimu. Oleh karena itu, aku akan membuat penawaran. Kau cukup serahkan bocah itu, dan aku akan mengampuni nyawa kalian.”


Mendengar penawaran konyol seperti itu, Azka dan Tricia kompak memasang ekspresi tajam. Bahkan Parviz bisa menebak penolakan itu dari raut wajah mereka, terutama Azka yang jauh berdiri di hadapannya.


Tahu akan hal itu, Parviz kembali mengeluarkan pedangnya sambil tersenyum kecil.


“Kau keras kepala juga rupanya ….”


Azka terus menatapnya dengan tajam dan mulai mengarahkan belati kanannya ke arah Parviz. “Aku hanya tidak bisa di tawar.”


“Menarik.” Parviz memasang senyuman tajam sekaligus jahat.


To be Continued…