
“Jadi ini … kota terkecil yang ada di Oleander?” Tanya Tricia.
“Seperti yang kau lihat..”
Hari masih cukup pagi bahkan matahari belum terlihat meninggi.
Azka dan Tricia, sampai di sebuah kota kecil bernama Olasia. Kota kecil yang masuk dari wilayah Kerajaan Oleander, memiliki struktur bangunan dan penduduk yang tidak sebesar dan sebanyak kota pusat Olean.
Mereka berdua menyusuri kota demi mencari informasi tentang Final Valley. Tapi, Azka yang khawatir akan persediaan uangnya, lebih berniat mendapatkan informasii tentang monster langka yang bisa menghasilkan uang.
“Apa kau memang tau Azka dimana kita bisa menemukan Final Valley? Maksudku tempat itu sudah di anggap legenda oleh kebanyakan orang.” Tricia memasang seakan pesimis.
“Sebaiknya kau jangan berbicara tentang itu keras-keras.”
Azka merasakan tatapan aneh penduduk ketika Tricia terlalu blak blakan membicarakan Final Valley. Menyadari itu, Tricia memasang eskpresi bersalah dan berjalan menundukkan kepalanya.
“Benar juga ….” Tricia memelankan nada bicaranya.
Beberapa menit berlalu, mereka terhenti di sebuah rumah makan kecil yang cukup tua. Azka menatap rumah makan itu dari luar dan terlihat suasana di tempat itu tidak terlalu ramai sesuai harapannya.
“Hmm … aku mengerti." Tricia mengangguk pelan.
Dengan wajah cerianya, Tricia masuk ke dalam rumah makan tanpa ada keraguan sedikitpun dari langkah kakinya. Azka menganggap Tricia sedang aneh akhir akhir ini dan pasrah melihat Tricia berjalan duluan.
Menyusul ke meja yang sudah di tempati Tricia, Azka duduk di hadapan Tricia dengan seorang pelayan wanita yang sejak tadi bersiap mencatat pesanan mereka.
“Aku pesan ini 2 ya," kata Tricia, sambil menunjuk menu makanan di tangannya.
“Tunggu dulu, kenapa kau langsung memesannya?"
“Tenang saja itu bukan lah menu yang aneh jadi tak usah khawatir." Seakan tak peduli dengan komentar Azka, Tricia tersenyum lembut.
"... Terserah saja," desah Azka.
Pelayan yang sejak tadi menyaksikan perdebatan mereka hanya bisa terdiam dengan tatapan berbinar seakan kagum melihat pertengkaran sepasang kekasih.
“Mereka benar benar serasi ya, ah … indahnya masa muda,” gumam pelayan itu pergi dengan perasaan berbunga bunga.
Melihat gelagat aneh dari pelayan itu, Azka memasang tatapan risih. Dia menduga kalau pelayan itu sudah berpikir yang tidak-tidak tentangnya.
***
Setelah menunggu beberapa lama, pelayan wanita itu datang membawa makanan untuk mereka berdua dengan wajah yang berseri seri. Tentu Azka merasa terganggu dengan senyuman itu.
“Selamat menikmati."
“Ya, berapa harganya?” Tanya Azka.
“Kali ini ada penawaran spesial, jadi kalian hanya perlu membayar 400 Nam.”
Pelayan itu tersenyum hingga menyipitkan matanya. Dia salah mengartikan bahwa mereka berdua sedang berpacaran.
“Aku tidak terlalu mengerti. Tapi … itu benar benar murah.”
Azka kebingungan melihat tingkah aneh pelayan itu sambil memberikan koin sebanyak 400 Nam dengan harapan pelayan itu segera pergi.
“Terima kasih." Pelayan itu pergi meninggalkan mereka berdua.
Ketika bersiap menyantapnya, Tricia melirik ke Azka yang sejak tadi menatap makanan di hadapannya. Makanan mereka terdiri dari sepotong daging bakar yang ukurannya cukup kecil dan banyaknya sayuran hijau hingga menutupi daging bakar itu.
“Jadi … ini makanan yang kau pesan?” Azka menunjuk makanannya dengan tatapan pahit.
“Ya ...," jawab Tricia.
Melihat senyuman gadis berambut hijau muda itu, perasaan Azka merasa tidak nyaman.
“Sebaiknya ku makan saja … lagipula kita sudah membayarnya.” Dengan nafas berat, Azka mengambil garpu di samping makanannya.
“Selamat makan!” seru Tricia.
Azka dan Tricia, memakan makanannya masing-masing dengan tenang
Sebenarnya, Azka sering mendapatkan tatapan tajam dari orang-orang ketika makan di kedai atau restoran. Baginya, itu sudah menjadi pemandangan sehari hari. Oleh karena itu sekarang, Azka merasa aneh dengan suasana kedai yang begitu tenang.
“Ada apa Azka?” Tricia menatap Azka yang bertingkah aneh.
“Tak apa.”
Kemudian, Azka teringat tujuan awalnya. Sekarang, bagaimana dia bisa mendapatkan informasi tentang monster langka yang bisa menghasilkan uang?
“Tricia, sebaiknya kita harus mencari barang barang atau monster yang bisa di jual untuk mendapatkan uang. Perjalanan ini mungkin akan menghabiskan banyak uang.” Azka menatapnya datar.
“Aku juga berpikir seperti itu tapi … dimana kita bisa menemukannya?”
“Karena itulah ke sini. Mungkin di tempat ini kita bisa mendapatkan informasi yang penting.”
Azka sempat berpikir untuk terus menangkap monster kecil seperti Mousse dan Wobbit, tapi dia merasa itu hal yang cukup merepotkan. Selain harganya yang murah. monster monster itu cukup gesit. Tentu itu tidak akan setara dengan usaha menangkapnya. Lagipula dia ingin mengumpulkan uang dengan cara cepat.
Tricia yang sejak tadi bertingkah aneh tiba tiba menghentikan suapannya. Nafasnya terengah engah dengan wajah memerah sambil berkeringat dingin.
Masih melamun memikirkan itu, Azka sama sekali tak menyadari Tricia yang tampak gelisah dengan wajah memerah di hadapannya.
Di tengah suasana kedai yang tenang, muncul seorang pria paruh baya memasuki ruangan itu. Wajahnya begitu panik, tapi tatapannya segera terfokus dengan keberadaan Azka. Dengan ekspresi panik, dia lari terbirit-birit mendekati meja yang di tempati Azka dan Tricia.
“A-aku mohon selamatkan aku …” Pria tua itu gemetar ketakutan.
“Huh?” respon Azka datar.
“Ka-kau adalah wakil Lancer kan?” Pria tua itu terus gemetaran.
Mendengar pertanyaan yang menjengkelkan itu, Azka tertunduk dengan wajah geram.
“Maaf pak tua aku sedang makan.”
Menahan emosinya, Azka memasang ekspresi datar ke pria tua itu. Dia cukup yakin kalau orang itu hanya akan memanfaatkannya.
“Ta-tapi …”
Azka menghela nafasnya berat, “Kau harusnya tau kalau kau meminta orang yang salah."
Sejak pengkhinatan itu Azka selalu berpikir seluruh orang di kerajaan ini benar benar sama brengseknya. Tidak akan percaya pada siapapun kecuali dirinya sendiri, itulah Azka Endorphane sekarang.
“A-aku mohon … jika tidak orang itu bisa membu—”
Tiba-tiba, terdengar suara kursi jatuh.
Perkataan pria itu terpotong ketika Tricia terjatuh dari kursinya. Melihat itu, Azka dengan reflek mendekati Tricia dan menopang kepalanya di lengan.
Azka memegang dahinya dan menyadari kalau Tricia sedang sakit. Dia menduga kalau Tricia yang sejak tadi bertingkah aneh hanya ingin menyembunyikan rasa sakitnya.
“Tricia, apa kau tak apa?”
“Y-ya ....” Bisik Tricia pelan.
Ketika Azka sedang sibuk mengecek kondisi Tricia, Pria tua itu masih memaksa Azka yang sedang membantu Tricia berdiri. Dia terus mendesaknya seakan tidak peduli dengan kondisi Tricia. Mulai merasa risih, Azka menatapnya dengan tajam, dan membuat pria tua itu terdiam gemetaran.
Duar!
Sebuah pintu kedai terlempar oleh tendangan seseorang. Pemandangan itu seketika menarik tatapan pandangan semua pengunjung kedai.
“Dimana kau dasar penipu sialan!”
Terlihat seorang pria kekar dengan tampang sedikit menyeramkan. Dari pakaiannya, pria itu adalah seorang pengembara yang sekarang memasang wajah kemarahan.
Lutunya melemas, pria tua itu terduduk seakan ketakutan.
“Di-dia datang … A-aku mohon dengan sangat … aku bisa memberi imbalan jika kau mau menolongku.” Pria tua itu memohon seakan menahan tangis ketakutan.
Mendengar itu, Azka terdiam sejenak. Dia sedikit tertarik dengan penawaran pria tua itu.
“Oi, sebaiknya kau tidak usah ikut campur bocah! Dia hanya pria tua brengsek karena sering menipu pengembara seperti kami. Dia berbohong akan barang barang yang di jual dengan mengatakan bahwa itu adalah barang yang berkualitas. Banyak uang kami yang sudah terkuras oleh perbuatannya!" Pria pengembara berteriak dengan tempo cepat yang menambah kesan seram di wajahnya.
“Permisi … apa aku boleh minta tolong?” Azka mengangkat tangannya pendek dan memanggil pelayan wanita yang tadi.
Terdiam dari balik dapur, Pelayan itu segera datang setelah Azka memanggilnya. Sambil menahan rasa takut, dia menahan Tricia untuk berjalan menuju salah satu meja kosong untuk beristirahat.
Kemudian dengan nafas berat, Azka menatap pria tua itu dengan datar. "... baiklah, aku akan menolongmu."
“Apa yang kau katakan barusan itu bocah?! Kenapa kau mau membela penipu sialan itu!”
Azka sebenarnya tak ingin ingin menolongnya. Tapi, di satu sisi dia membutuhkan uang karena Tricia sedang sakit dan kebetulan pria tua itu mau memberikan imbalan. Tentu dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
Bagi Azka Endorphane, dia sama sekali tak peduli dengan semua orang. Mau orang itu terancam atau di bunuh sekalipun, dia tidak peduli. Sekarang dia hanya berpikir untuk mendapatkan agar bisa bertahan hidup.
Dengan ekspresi tenang, Azka mengulurkan tangannya.
Pria tua itu berpikir kalau Azka sedang membantunya berdiri tapi, Azka menarik lagi tangannya.
“Bukan itu, aku ingin kau membayarku sekarang."
Pria tua itu panik dan segera memeriksa kantung celananya dan memberikan sekantong kain berisi uang. Azka tidak tahu berapa jumlahnya, dan dia sempat melirik ke dalam kantong itu.
Dari meja yang di tempatinya, Tricia melirik ke Azka dengan tatapan lemah. Meski sedang sakit, dia memaksa tubuhnya untuk berdiri, tapi di tahan oleh pelayan wanita. Semua itu dia lakukan karena dia ingin menghentikan Azka yang terlihat sedang memeras seseorang.
“Dengan ini sudah sepakat.” Azka mengambil sebagian uang dari kantong itu.
Kemudian, Azka menatap pria pengembara itu dengan datar, “Oi, aku akan memberikan uang ini padamu. Jika masih belum cukup kau bisa memintanya pada orang ini nanti. Setidaknya untuk sekarang kau tidak perlu membunuhnya. Bagaimana?”
Azka mengambil sebagian uang itu dan sisanya ditawar kepada pria itu. Sejak awal dia berencana memberikan penawaran kepada pria berwajah seram itu. Alasannya hanya satu, dia tidak mau terlihat menolong pria tua itu..
“Jadi kau menawarku ya … berapa uang yang kau berikan padaku?”
“Mungkin isinya sekitar 30 ribu Nam. Aku hanya mengambil 10 ribu, sisanya kau bisa menjadi milikmu."
Pria tua itu terdiam seakan merasa sedikit di bohongi. Dia masih berpikir kalau pengembara itu tidak akan berhenti mengejarnya meskipun di beri uang.
“Kenapa kau melakukan hal itu?! Kau bisa mendapatkan semua uangnya jika kau mengalahkannya!”
“Aku menolongmu bukan berarti aku harus mengalahkannya."
Sambil memikirkan penawaran dari Azka, Pria pengembara itu menaikkan sudut bibrnya. “Baiklah!”
Pria itu memutuskan mengambil uang itu, karena dia berpikir bisa mendapatkan uang yang lebih banyak dari pria tua itu.
Pengembara itu sebenarnya sedikit takut berurusan dengan Azka. Apalagi dia tahu kalau Azka dulunya seorang Wakil Lancer di kerajaan ini. Dengan kekuatannya, kemungkinan menang melawannya terasa mustahil.
Namun, Pria tua itu masih ketakutan ketika membayangkan apa yang akan terjadi dengan nasih kedepannya.
“Aku akan mengambil uang ini. Tapi ini masih belum cukup untuk mengganti semua uangku jadi mulai sekarang aku akan terus menagihmu pedagang sialan!” Setelah memberikan ancamannya, pengembara bertampang seram itu pergi dengan tubuh tegapnya.
Merasa tugasnya selesai, Azka menghampiri Tricia yang sedang tertidur lemah dan berniat untuk membawanya ke penginapan agar bisa berisitirahat.
“Dasar bocah sialan! Kau benar benar tidak berguna dasar sampah!”
Pria tua itu merasa nyawanya masih terancam dan menyalahkan Azka karena sama sekali tak menolong.
Seakan tak mendengar teriakan pria tua itu, Azka tetap berjalan pergi sambil menuntun Tricia. Tapi dia terhenti, tatapannya tajam. Seketika suasana di kedai itu di selimuti hawa membunuh yang membuat semua pengunjung mulai gemetaran.
"Sebaiknya kau diam saja, sebelum aku memenggal kepalamu.”
To be Continued...