
Langit hampir sepenuhnya gelap dengan sedikit cahaya merah yang masih tersisa. Tenggelamnya matahari seakan mewakili perasaan Azka saat ini.
Khawatir.
Itulah yang Azka saat ini rasakan. Kedua temannya saat ini, Levin dan Tricia masih belum menunjukkan kehadirannya.
Apa mereka berdua baik-baik saja?
Walau begitu, Azka berusaha menahan pertanyaan itu dan menunggu kedatangan mereka bersama Alice.
“Hari sudah mulai gelap,” kata Alice. “Aku harap mereka berdua baik-baik saja ….”
“Levin, Tricia ….”
Ketika menggumamkan nama mereka, Azka hanya melihat ke sisi luar desa dengan perasaan penuh harap.
Entah kenapa, Azka mempunyai firasat buruk tentang keadaan mereka. Fakta kalau mereka telah pergi sejak pagi, menambah rasa khawatir dalam pikirannya.
Apakah sesuatu yang buruk sedang terjadi?
Tidak, harusnya mereka baik-baik saja. Apalagi Levin sudah berjanji sebelumnya untuk kembali bersama Tricia dengan aman.
Pikiran itu seketika menghilang ketika Filia yang menghampiri Alice dengan ceria secara tiba-tiba.
“Mama!” seru Filia. “Aku sudah menyiapkan beberapa makan malam.”
Alice mengelus kepala Filia dengan lembut. “Terima kasih Filia.”
Filia mengganguk dengan manis sambil berkata, “Un!”
Malam hampir tiba. Alice berdiri dari tumpukan kayu dan berjalan masuk ke panti asuhan untuk menyiapkan semua makan malam. Baru beberapa langkah, Alice terhenti dan berbalik menatap Azka dengan ekspresi khawatir.
“Apa kau tidak ingin masuk nak?”
Masih memandangi jalan masuk desa, Azka hanya diam membelakangi Alice. Di dalam pikirannya sekarang hanya di penuhi dengan satu pertanyaan.
"Aku akan tetap di sini nek," jawab Azka.
Belum pernah melihat Azka seperti itu, Filia ikut merasa khawatir. Dia lalu mendekat dan memeluk kaki Azka dengan lembut.
“Apa Levin-san dan Tricia-san belum kembali?”
Pertanyaan dari Filia seperti menunjukkan rasa peduli, tapi itu masih belum menghilangkan perasaan Azka saat ini. Dia hanya bisa menatap Filia dengan datar.
“Mungkin aku harus menyusul mereka ….”
“Eh? kalau begitu aku ikut.” Filia mengatakan itu dengan mudah.
Bukan ide yang bagus untuk mengajak FIlia bersamanya. Jika dugaannya benar, akan sangat buruk jika FIlia sampai ikut terlibat.
Tapi di satu sisi, Filia akan cukup membantu karena dia adalah gadis mungil yang kuat dengan kekuatan Link Macan Tutul Salju.
Tidak, Azka harus menghilangkan kemungkinan terburuk itu jika harus bertarung melawan Crimson Buster.
Suasana di depan panti asuhan akhirnya di telan kesunyian.
Dengan semua keheningan itu, tiba-tiba terlihat bayangan seorang gadis di ujung desa Kitara. Alice dan Filia terkejut, sedangkan kedua mata Azka melebar melihat kedatangan gadis berambut hijau muda itu dengan tubuh penuh luka.
Gadis yang berjalan dengan nafas terengah-engah itu adalah, Tricia Zinnia. Dia memasang ekspresi lemah sambil berjalan menuju panti asuhan dengan langkah-langkah kecil. Luka itu memang tidak parah, tapi itu membuatnya cukup merasakan sakit.
Melihat Tricia yang mulai hilang keseimbangan, Azka kemudian berlari dan menopangnya dengan lengan ketika Tricia terjatuh. Dia lalu membaringkannya di atas lengan dan bertanya.
“Apa yang terjadi Tricia?”
Bibir Tricia sedikit bergetar, tapi pikirannya saat ini lebih mengkhawatirkan seseorang. “Levin … dalam bahaya ….”
Pertanyaan yang hendak di tanyakan Azka membuatnya terdiam, ketik mendengar jawaban yang tidak di inginkan. Melihat kondisi Tricia yang saat ini terluka dan hilangnya Levin membuat perasaannya sedikit campur aduk.
Tapi itu segera menghilang ketika Tricia melanjutkan kata-katanya.
“Levin … masih bertarung dengan salah satu dari mereka.”
Beberapa pertanyaan kembali memenuhi pikiran Azka saat ini.
Apa yang sebenarnya terjadi dengan Levin?
“Tricia-san!” Tiba-tiba Filia berlari dengan khawatir mendekati Tricia.
Sama seperti Azka, Filia tampak kebingungan dengan apa yang dia lihat sekarang. Sedangkan Azka hanya bisa menatapnya dan berusaha membuatnya lebih tenang.
“Tenanglah Tricia,” kata Azka. “Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi.”
Bibir merah muda Tricia yang awalnya bergetar, mulai menujukkan tanda-tanda ketenangan. Pikirannya saat ini kacau sekaligus merasa bersalah, tapi dia harus tenang dan menyerahkan sisanya ke pria berambut hijau gelap di depannya sekarang.
Kedua mata coklat Tricia seakan dirinya sudah baik-baik saja. Dia bangun dari lengan Azka dan mulai menceritakan apa yang terjadi.
***
Gelap malam kini melanda di seluruh kerajaan Hawthorn, termasuk kota Hayate.
Terbaring akibat serangan sebelumnya, Levin hanya bisa menatap rantai-rantai yang terus menghancurkan seisi kota.
Sudah hampir satu jam dia terus bertahan dari serangan Kazel.
Sebelumnya dia sempat terpojok akibat salah satu serangan darinya, tapi Levin menemukan celah untuk menghindar ketika emosi menguasai Kazel.
Entah apa yang membuatnya seperti itu, dan Levin terus bertanya-tanya akan hal itu. Tapi yang harus dia lakukan sekarang adalah … mengalahkan Kazel.
Levin lalu berdiri sambil mengeluarkan nafas berat.
“Aku tidak tahu sampai kapan aku akan bertahan ….” Kata-kata itu terus di gumamkan Levin.
Pertarungan yang terus terjadi sejak siang tanpa henti membuat dirinya sangat kelelahan. Di tambah beberapa luka yang semakin terbuka membuat gerakan Levin semakin melambat.
Tapi Levin adalah Levin, dia masih bersemangat untuk bertarung tak peduli dengan keadaannya sekarang.
Sedangkan Kazel secara agresif mulai mengayunkan rantainya ke Levin.
“Kita mulai lagi ….” Setelah menggumamkan itu, Levin langsung berlari menghindar dari serangan itu.
Hujan serangan terus menghujani Levin tanpa henti. Rantai besi berwarna hitam itu seakan tak terlihat di gelap malam, tapi serangan itu tetap mampu menghancurkan beberapa bangunan di sekitarnya.
Levin mulai terbiasa dengan pertarungan ini. Terus berlari dan menghindar agar bisa menemukan celah mendekatinya.
Itulah satu-satunya cara yang bisa dia lakukan sekarang.
“… aku harus menunggu rantai-rantai itu menjauh darinya. Kalau satu serangan itu sampai merobek lukaku, aku benar-benar dalam bahaya ….” Levin berbicara pada dirinya sendiri sambil berlari bersembunyi di belakang rumah tua.
Untuk kesekian kalinya, bangunan tua itu tiba-tiba hancur ketika sebuah Rantai besi berwarna hitam menghantam bangunan itu. Hancurnya bangunan itu adalah sebuah tanda kalau Levin harus menghindar.
“… sialan ….” Dengan nafas berat, Levin kembali berlari dari kejaran rantai besi itu.
Sambil berlari, dia menemukan beberapa tumpukan besi bekas bangunan hancur. Tanpa pikir panjang dia mengambil beberapa dan melemparnya ke udara.
Sesuai dugaanya, rantai besi milik Kazel menembus besi-besi itu dengan mudah. Tapi itu sekaligus memberikan celah untuk Levin.
Sekarang dia berlari melawan arah menuju Kazel dengan cepat. Kazel menyadari pergerakan itu, tapi kecepatan rantainya seakan melambat. Itu terjadi akibat besi-besi yang di lempari Levin masih menembus rantai-rantai itu.
“Sekarang giliranku, brengsek!”
Kazel mengerang kaget melihat kepalan tangan Levin mulai mendekatinya.
“Death Blow!” Sebuah pukulan dari Levin melesat menghantam tepat di wajah Kazel hingga berdarah.
Nafasnya terengah-engah, kepalan tangan Levin juga mengeluarkan darah.
“… jangan bangun lagi kau sialan … aku ingin segera menyelesaikan ini dan memakan makanan enak.” Ucapan itu yang di inginkan Levin saat ini.
Tubuhnya sudah tidak mampu bergerak lebih dari ini. Dia juga sudah mengerahkan semua kekuatannya dengan pukulan itu.
“Mungkin ini hukuman karena sering mengajak penduduk desa Corael bertarung."
Apa ini sebuah karma? Baru kali ini Levin merasa sangat lelah ketika bertarung. Mungkin dia harus meminta maaf karena sering menganggu orang-orang di desanya.
Meski begitu, Levin masih tidak yakin kalau Kazel sudah di kalahkan. Dugaan itu ternyata benar.
Dari gumpalan asap itu, Levin bisa merasakan kalau rantai-rantai besi milik Kazel bergerak. Rantai itu ternyata sedang menghancurkan puing-puing bangunan yang menimbun tubuh Kazel.
Setelah tubuhnya terlihat, Levin tersenyum dengan bibir gemetar. “Sepertinya makan malamku kembali tertunda ….”
Sementara itu, Kazel terbaring lemah tak berdaya melihat langit malam.
“Bunuh … bunuh ….” Tatapannya kosong, Kazel terus menggumamkan itu dengan pelan dengan pikiran kosong.
Pandangannya serasa di selimuti kegelapan masa kecilnya. Hasrat membunuh juga semakin menguasainya ketika rantai-rantai itu terus di layangkan.
Aku tidak mau membunuh ….
Kata-kata yang begitu dalam terlintas dalam pikirannya. Ketakutan dan isak tangis, itulah yang di rasakan Kazel saat itu.
***
16 tahun yang lalu.
Tengah malam seakan membuat suasana tenang di dalam sebuah rumah tua yang cukup terpencil.
Tapi, ketenangan itu tiba-tiba menghilang.
“Kazel!” Teriak seorang pria sambil menendangnya dengan geram.
Pria itu adalah Ayah dari Kazel, Koza. Sekarang dia berdiri di hadapan Kazel dengan wajah kemarahan.
Sedangkan Kazel, hanya bisa menangis sambil menahan sakit akibat tendangan dari Ayahnya. Umurnya sekarang berusia 12 tahun dengan fisik yang di penuhi oleh luka lebam akibat siksaan dari ayahnya. Selama itu juga, dia terus mengalami siksaan dari kedua orang tuanya.
Semua itu berawal karena keluarga Kazel, keluarga Raychain adalah keluarga yang berprofesi sebagai pembunuh bayaran.
Kecuali Kazel Raychain, pewaris kekuatan Link Rantai dari keluarganya. Dia terus menolak membunuh seseorang tidak seperti kedua orang tuanya.
“Kau … benar-benar anak yang tidak berguna!” Koza terus menendangi Kazel meski dia sudah terbaring kesakitan.
“Maafkan … aku ….”
“Kenapa kau selalu menolak menggunakan kekuatanmu untuk membunuh?!”
“Tapi … aku tidak mau membunuh seseorang ….”
“Link Rantai adalah kekuatan yang sudah di warisi oleh keluarga Raychain sejak lama dan kau adalah anak yang memiliki kekuatan itu! Kau benar-benar memalukan nama keluarga Raychain!” Koza kembali menendangnya sampai terbatuk mengeluarkan darah.
“Ampuni aku … Ayah ….”
“Kau benar-benar memalukan! Membunuh adalah keahlian keluarga kita! Lihatlah darah itu!” Koza menunjuk darah yang di keluarkan dari mulut Kazel.
“Darah dari kematian seseorang itulah yang harus kau cintai sekarang!” Koza terus meneriakinya dengan geram.
“Tidak … aku tidak mau ….” Bahu Kazel bergetar.
Dia hanya bisa menangis melihat darah yang mulai mengalir dari tubuhnya. Luka dari senjata tajam, dan luka lebam membuatnya tak bisa apa-apa selain menahan sakit.
Sedangkan Koza hanya melihatnya dengan ekspresi tak peduli. Bahkan dia hanya mendiamkan Kazel yang sejak tadi menangis kesakitan.
Tiba-tiba terdengar suara dobrakan pintu oleh seorang wanita yang memasuki ruangan itu.
Wanita itu adalah Kalifa Raychain, Ibu dari Kazel. Dia juga bekerja sebagai pembunuh bayaran dari keluarga Raychain. Sekarang kedua matanya yang berwarna coklat itu di penuhi perasaan panik sekaligus ketakutan.
Merasa ada yang aneh dari istrinya, Koza mulai bertanya-tanya.
“Ada apa?!”
“Sayang … kelompok Buster itu kembali kesini ….” Kalifa mengatakan itu dengan nafas terengah-engah.
“Apa?!” Koza mulai keringat dingin.
Dia hanya bisa menelan ludah karena kelompok Buster yang terlibat dengannya datang menuntut balas dendam. Beberapa hari yang lalu, Koza memang mendapatkan pekerjaan untuk membunuh salah satu pemimpin Buster.
Koza berhasil membunuhnya secara diam-diam, tapi operasi itu ketahuan oleh salah satu dari mereka dan sampai sekarang dia terus di buru oleh mereka.
“Apa yang harus kita lakukan sayang?!” Kalifa terus menghujaninya dengan pertanyaan dengan wajah yang di selimuti ketakutan.
Koza memalingkan tatapannya dan menjawabnya dengan ragu-ragu. “Aku … akan membunuh mereka semua ….”
“Tapi, mereka berjumlah lebih dari 20 orang!”
Kedua mata Koza melebar. “Mereka sebanyak itu?!”
Tidak di sangka kalau mereka datang sebanyak ini. Dari mana mereka bisa tahu tempat ini?
Koza sadar kalau dirinya tidak bisa bertarung dengan mereka sendirian. Apalagi dia tidak memiliki kekuatan Link selain mengandalkan kemampuan berpedang.
Tapi ada satu orang yang bisa …
“Kazel,” panggil Koza. “Kau harus membunuh mereka!”
Kazel kecil hanya bisa terdiam. Dia menatap kedua orang tuanya dengan tatapan seakan menolak permintaan itu.
“Tidak … aku tidak mau membunuh seseorang ….” Kazel memohon dengan mata menggenang.
“Kazel! dengarkan orang tuamu!” bentak Kalifa.
“Kau harus membunuh mereka atau … kau yang akan kubunuh!” Koza berteriak dengan wajah kemarahan. Bahkan dia sudah mengenggam sarung pedangnya dengan erat menambah kesan mengancam.
Bahu Kazel bergetar. Pikirannya mulai kosong.
“Kenapa ….” Tubuh Kazel yang terus gemetar membuat kata-katanya ikut bergetar.
Tetap saja, Koza tidak peduli dengan keadaan anak laki-lakinya. Dia terus meyakinkan anaknya untuk melakukan apa yang dia inginkan.
“Kenapa katamu?! Kau adalah penerus Link Rantai dari Kakek Buyutmu! Oleh karena itu ….”
Amarah Koza semakin meluap-luap, sekarang dia mengangkat Kazel dengan kasar dan kembali berteriak di depan wajahnya.
“Membunuh adalah keahlianmu, dasar anak tidak berguna!” Selesai meneriakkan itu, Koza lalu membantingnya seperti seorang sampah.
“Ugh ….” Hanya rintihan kesakitan yang di rasakan Kazel saat ini.
Emosi Kazel mulai goyah akibat rasa syok. Pandangannya mulai kabur dengan gumpalan air mata. Bahunya merosot, wajahnya menunduk, dan dia mulai menggumam.
“Kenapa ... aku mempunyai kekuatan ini ….” Kazel melihat kedua telapak tangannya dengan tatapan kosong.
Kekuatan ini bukanlah keinginannya.
Yang dia inginkan hanyalah bisa hidup normal seperti anak seusianya.
Apakah salah dia memiliki keinginan itu?
To Be Continued…