Black Buster

Black Buster
Chapter 50 "Levin and Tricia Decision!"



Chyntia yang terus berlari ke tempat Kazel masih memasang wajah panik. Bahkan mata dan bibirnya bergetar ketika melihat puluhan rantai yang melayang di udara.


“Kazel … dia benar benar gila akan darah ….” Chyntia bergumam sambil berlari di jalanan sempit kota Hayate.


Sementara itu di alun alun kota tempat pertarungan Levin melawan Kazel.


“Rantai rantainya semakin menggila saja!” Sambil menyerukan itu, Levin yang dalam keadaan terdesak masih menghindari hujan serangan dari Kazel.


Di iringi suara tawa yang semakin keras, Kazel terus mengendalikan rantai rantainya untuk menyerang Levin. Bahkan raut wajahnya sudah menunjukkan gairah yang luar biasa.


“Ya … teruslah menghindar … seperti seekor tikus! Hahahaha!”


Terlihat rantai rantai dari Kazel semakin mempercepat serangannya ke Levin.


Levin yang beruaha menghindar itu, hanya bisa menoleh ke belakang sambil memikirkan celah untuk menyerang.


“Bagaimana ini …,” gumamnya.


Beberapa dari rantai itu kembali melukai Levin hingga lengannya tergores. Darah yang begitu kental akibat serangan itu juga terlihat terus menetes dari lengannya.


Menerima serangan secara terus menerus membuatnya mulai kesakitan, dan Levin semakin kehilangan fokus untuk berpikir.


“Sudah cukup, aku akan mengalahkan orang gila ini!”


Tiba tiba Levin terhenti dan sengaja menghadapi beberapa rantai yang mulai mendekat.


Dengan banyaknya resiko, Levin dengan tatapan tajam langsung menahan beberapa rantai itu dengan tangannya. Meski begitu, tangannya mengeluarkan darah yang cukup banyak akibat menahan tajam dari rantai rantai itu.


“Menarik … menarik!” Kazel tertawa semakin keras ketika Levin dengan sengaja menahan rantai rantai miliknya.


Setelah menahan cukup lama rasa sakit, Levin mulai menarik rantai rantai tersebut hingga menarik paksa Kazel ke hadapannya.


“Sudah kubilang kalau aku akan menghajarmu!”


“Hahaha!” Kazel hanya tertawa ketika di tarik ke hadapan Levin.


“Death Blow!”


Pukulan Levin yang sangat keras itu menghantam wajah Kazel hingga terlempar menghancurkan beberapa kedai di belakangnya.


Beberapa tetesan darah masih menetes dari kedua tangan Levin. Tapi, Levin hanya terdiam dengan nafas terengah engah ketika melihat ke tempat Kazel terlempar.


“Apa … dia sudah … kalah?”


Kesunyian yang sempat melanda di sekitar Levin tiba tiba terpecah dengan suara hentakan kaki. Mendengar hal itu, Levin menoleh ke belakang ketika kedatangan seorang wanita.


“Kazel … kalah?”


Chyntia yang baru saja sampai ke tempat Kazel dan Levin hanya terdiam dengan wajah yang seperti tak percaya dengan apa yang terjadi.


Levin yang menatapnya cukup lama tiba tiba teringat akan sesuatu.


“Oi, di mana Tricia?!”


Mendengar itu, Chyntia sama sekali tak menjawab dan hanya terdiam menatap Kazel di tumpukan puing puing.


“Oi, wanita rambut hitam! Kau dengar aku tidak?!”


“Berisik!”


Tiba tiba terdengar suara reruntuhan dari tempat Kazel terlempar.


“Kazel?!” Chyntia memasang ekspresi terkejut.


Menyadari hal itu, Levin memalingkan pandangannya ke tempat Kazel.


Tak lama kemudian, Kazel kembali bangkit dengan tubuh yang di penuhi luka.


“Menarik … menarik … aku benar benar menikmatinya.” Kazel menggumam dengan wajah terkesan menikmati.


Melihat nafsu bertarung dari Kazel sudah menggila, Chyntia mulai berbicara ke arahnya.


“Kazel, sudah cukup,” ucap Chyntia. “Kita harus fokus ke rencana kita menangkap Filia.”


Mendengar itu, Levin kembali menoleh ke Chyntia dengan wajah terkejut.


“Woi … apa yang kau katakan itu?!”


Chynita hanya tersenyum dengan santai. “Sesuai perkataanku tadi, kami berdua di perintahkan untuk menangkap FIlia-chan.”


Ekspresi Levin mulai geram. “Kalian sudah membuat penawaran bukan?!”


“Dari awal kami memang tidak berniat untuk menepati penawaran itu. Karena pada akhirnya yang kami inginkan itu uang dan tentu saja Filia-chan dengan kedua temannya itu.”


Setelah mendengar hal itu, Levin semakin menunjukkan wajah kemarahan. Bahkan tatapan matanya semakin membesar.


“Dasar licik! Kalau begitu aku akan menghajar kalian!”


“Benarkah? Kau tidak akan bisa mengalahkanku dengan tubuh yang penuh luka seperti itu.” Chyntia hanya tersenyum menanggapi kemarahan Levin.


Tanpa pikir panjang, Levin mulai bergerak dengan cepat dan bersiap untuk memukul Chyntia.


Tapi ketika Levin berada di hadapannya, pukulan Levin seperti tertahan oleh sesuatu.


“Tanganku?!”


Dengan wajah terkejut, Levin melihat tangannya sudah terikat oleh rambut berwarna hitam.


“Kamu ini kasar juga ya pada seorang gadis.” Sambil tersenyum, Chyntia terlihat sudah melepas kunciran rambutnya.


Terlihat rambut Chyntia yang begitu panjang telah mengikat salah satu tangan Levin yang hendak memukulnya.


Masih dengan wajah panik, Levin berusaha melepaskan pukulannya dari rambut itu.


“Rambut? Apa apaan ini?!”


“Kasar sekali, aku ini selalu merawat rambutku tahu.”


“Ha? Kau ini bicara apa? Kau ini bodoh ya?”


“Bodoh? Berani sekali kau berbicara kasar kepada wanita, dasar bocah!”


Dengan wajah kesal, Chyntia lalu melempar Levin dengan rambutnya hingga menabrak sebuah rumah tua.


Gumpalan asap yang menemani tempat mereka mulai menghilang ketika Kazel kembali mengendalikan rantai rantainya.


“Chyntia! Jangan ikut campur!”


Mendengar Kazel yang berteriak kepadanya, membuat Chyntia sedikit kesal.


“Sadarlah bodoh! Ingat rencana kita sebelumnya!”


“Huh, rencana? Satu satunya yang ingin kulakukan sekarang adalah menambah koleksi darah dari bocah itu!”


“Dia sudah mulai hilang kendali,” gumam Chyntia.


Tidak lama kemudian, Tricia juga sampai di tempat mereka setelah Chytia berhenti mengejarnya. Karena merasa ada yang aneh, Tricia akhirnya memutuskan untuk ke tempat Levin.


“Apa yang terjadi ….” Sambil menggumamkan itu, Tricia memandangi tempat sekitar dan menyadari Levin yang terkapar di salah satu kedai yang sudah hancur.


“Levin!”


Chyntia yang mendengar teriakan itu, lalu berbalik menatap Tricia.


Dengan wajah yang sedikit panik, Tricia perlahan mengeluarkan sebuah panah dan berniat untuk menyerang.


“Ara ara, jadi kau berniat untuk bertarung ya.”


Tricia hanya tersenyum. “Karena rencana kami sudah gagal, jadi apa boleh buat.”


“Oh … menarik juga kamu.” Chyntia kemudian tertawa kecil sambil menutup mulutnya.


Tricia yang memasang tatapan tajam akhirnya menembakkan beberapa panah ke arah Chyntia. Tapi dengan mudah, Chyntia berhasil menghindar dari serangan itu.


“Panah ya? Kekuatanmu unik juga.” Chyntia yang terus menghindar hanya memasang wajah tenang.


Sedangkan Tricia begitu kesulitan untuk mengenai Chyntia dengan tembakan panahnya.


“Gerakannya cepat …,” gumam Tricia. “Kalau begitu, Shining Arrow!”


Panah yang cukup besar dan bercahaya melesat dengan cepat ke arah Chyntia. Tapi Chyntia kembali menghindarinya dengan mudah.


Tricia yang terus memanah ke arah Chyntia, tiba tiba terkejut ketika Chyntia sudah berada di hadapannya.


Lalu dengan rambutnya yang sejak tadi melayang mulai mencekik Tricia dan mengangkatnya.


“Sudah cukup bermain mainnya, nona manis. Kami masih ada keper—”


Perkataan Chyntia terpotong ketika Levin menghajarnya hingga terlempar. Karena berhasil lepas dari rambutnya, Tricia pun terjatuh ke tanah.


“Levin!” Tricia tersenyum ketika Levin yang sebelumnya terkapar telah berada di hadapannya.


“Yo, apa kabar?” Levin tampak santai sambil melambaikan tangannya.


“Kau tidak apa apa?” tanya Tricia.


“Ya, hanya luka kecil.”


“Apa yang sebenarnya terjadi di sini?”


Seakan tak mendengarnya, Levin tiba tiba memasang tatapan serius.


“Tricia,” ucap Levin. “Wanita tadi sempat mengatakan kalau mereka berniat untuk menangkap Filia.”


“Apa?!” Tricia memasang ekspresi terkejut dan melanjutkan perkataannya. “Lalu bagaimana dengan penawaran mereka?”


“Aku tidak terlalu mengerti tapi, mereka sepertinya sejak awal tak berniat menepati penawaran itu.”


“Jadi, mereka hanya memanfaatkan Filia untuk memberikan mereka uang?” Tricia mengigit bibirnya ketika mengatakan itu.


Mendengar suara Tricia yang mulai berubah, Levin kembali berbicara.


“Sepertinya begitu.”


Setelah mendengar itu dari Levin, Tricia hanya bisa terdiam dan mencerna semua informasi itu.


“Jadi … mereka berbohong ….”


Tricia mulai berpikir meskipun FIlia berhasil mengumpulkan 10 juta Nam, kedua temannya pasti tidak akan selamat. Tricia tampak yakin akan hal itu, karena dia dulunya seorang pelarian budak.


Mereka berdua yang sempat terdiam itu, tiba tiba berhasil menghindar dengan cepat dari serangan rantai yang mengarah ke mereka.


“Kau tidak apa apa Tricia?!”


“Ya.” Tricia lalu menatap ke beberapa bangunan yang sudah hancur.


Dari gumpalan asap itu, ternyata Kazel sudah bangkit dan baru saja menyerang mereka dengan wajah antusias.


“Kelihatannya, ada satu orang lagi yang harus ku bunuh, hahahaha!”


Mendengar itu, Tricia mulai gemetar ketika melihat tatapan Kazel dan beberapa rantai yang melayang di atasnya.


“Orang itu … dia sepertinya mulai tidak waras,” gumam Tricia.


Levin yang mendengar sebuah serangan mulai berteriak ke Tricia.


“Awas, Tricia!”


Dengan cepat Levin membawa Tricia untuk menghindar dari hantaman rantai itu.


“Terima kasih ….” Sambil mengatakan itu, Tricia berusaha mengatur nafasnya yang terengah engah.


“Tak masalah,” ucap Levin. “Yang penting kita tidak boleh lengah.”


Lalu, Levin dan Tricia pun kembali berdiri dan melihat ke tempat Kazel.


Kemudian dari tempat yang tidak jauh, Chyntia telah bangkit dan mulai berjalan mendekati mereka berdua.


“Lelaki kurang ajar, berani beraninya kau memukul wanita seperti itu!” Suara Chyntia yang terlihat marah itu membuat Levin dan Tricia menatapnya.


Mereka berdua hanya bisa terdiam karena situasinya mulai tidak terkendali. Apalagi mereka belum mendapatkan informasi tentang di mana markas Crimson Buster.


Lalu, Levin mulai berbicara.


“Tricia, sepertinya kita tidak punya pilihan lain bukan?!” Levin tampak bersemangat ketika menjelaskan maksudnya.


Tricia mendesah kecil, “Sepertinya kau benar ….”


Seakan tak mendengarnya, Chyntia mulai menunjukkan wajah geram.


“Sebelum menangkap Filia-chan, sebaiknya aku ha—”


Tiba tiba perkataan Chyntia terpotong ketika panah dari Tricia melubangi rambutnya.


Dengan senyuman kecil, Tricia ternyata sudah mengeluarkan panahnya.


“Kali ini lawanmu adalah aku.” Tricia menatapnya dengan tatapan tajam.


Chyntia hanya terdiam sekaligus kesal karena rambutnya sudah di rusak.


“Kau tahu kan kalau perempuan itu sangat menyayangi rambutnya! Aku akan membuatmu menyesal kali ini, gadis manis!” Chyntia menatapnya balik dengan tatapan geram.


Sedangkan Levin terlihat sedang mengikat gelang kainnya dengan kuat dan bersiap untuk menyerang.


“Kalau begitu aku serahkan wanita berambut aneh itu padamu, Tricia.”


“Ya, kita sudah tidak punya pilihan lain selain menghentikan mereka.” Tricia meresponnya sambil bersiap untuk memanah.


Sementara itu, Kazel yang melihat Levin untuk menyerang tampak bersemangat dengan tawa yang begitu keras.


“Hahahaha! Menarik … menarik!” Dengan raut wajah yang seperti tak terkendali, Kazel kembali menggerakkan seluruh rantainya.


“Begitu ya … jadi kalian berdua berniat untuk menghentikan kami.” Chyntia tersenyum kecil.


Rambut hitamnya yang sejak tadi melayang dan bersiap untuk menyerang, Chyntia kembali melanjutkan perkataannya.


“Kalau begitu, kami harus membunuh kalian berdua di sini!”


Suasana kota Hayate sekarang seperti kota mati karena orang orang sejak tadi berlari ketakutan. Sekarang, situasi yang semakin memanas hanya menyisakan Levin dan Tricia yang akan bertarung dengan Kazel dan Chyntia.


Lalu mereka mulai menyerang secara bersamaan.


To be Continued…