
Azka dan Levin hanya memasang tatapan kosong ketika melihat reaksi dari ‘gadis kecil’ itu. Dia terlihat ketakutan dengan air mata menggenang dikedua matanya.
“Apa dia manusia setengah binatang?” Tanya Azka ketika mengamati gadis itu.
“Wah keren!” Seru Levin dengan mata berbinar.
Mereka berdua baru kali ini melihat manusia setengah binatang. Meskipun sosoknya seperti itu ia sama sekali tidak menyeramkan bahkan gadis kecil itu terlihat imut dengan rambut perak yang membelai panjang dan matanya yang berwarna biru cerah.
“Akhirnya kita berhasil menangkapmu monster kecil!” Seru salah satu Buster yang memegang sebuah senapan.
Teriakan amarah dari kerumunan Buster mulai tak terbendung ketika monster kecil itu terpojok. Saking ketakutannya, gadis kecil itu hanya bisa mundur ketakutan. Bahkan beberapa dari mereka ada yang melemparnya dengan batu hingga membuat luka lecet.
“Dasar monster!”
“Itulah akibatnya berurusan dengan kami!”
Monster kecil itu hanya bisa pasrah menerima perlakuan mereka dengan menitihkan air mata. Melihat perlakuan mereka kepada monster itu, Azka terdiam dengan sorot mata dingin.
“Mati kau monster sialan!”
Sfx: Dor!
Sebuah senapan salah satu Buster kembali menembak kearah monster kecil itu.
“Aahh!”
Monster kecil itu berteriak ketakutan sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Dengan kedua belati hitamnya tiba tiba terdengar suara tangkisan peluru hingga membuat semua orang terkejut. Azka yang menangkis serangan tersebut lalu memasang tatapan tajam ke gerombolan Buster.
“Siapa kau?!”
“Kenapa kau ikut campur?!”
Teriakan beberapa Buster kembali terngiang di kota Hayate. Gadis kecil yang sempat ketakutan hanya melihat Azka dengan tatapan kosong saat lelaki berambut hijau tua itu menyelamatkannya.
“Kenapa kau?” Gadis kecil itu menaikkan alisnya kebingungan.
“Jangan salah sangka … aku hanya tidak mau melihat gadis kecil mati di hadapanku.”
Gadis kecil itu hanya bisa terdiam sekaligus bingung. Di dalam kepalanya ia bertanya tanya kenapa pria itu sampai repot repot menyelamatkannya.
“Kau … kau Buster yang di dalam bar tadi siang ya?!”
“Kalau kau tidak mau minggir kami akan membunuhmu!”
Beberapa Buster yang sempat mengenali Azka saat dibar mulai menodongkan beberapa senjata dengan wajah kemarahan.
“Kami sudah memperingatkanmu!”
Suara dari beberapa tembakan akhirnya keluar dan menembak kearah Azka dengan cepat. Dengan sorot mata yang begitu tajam, Azka dengan mudah menangkis semua tembakan itu.
“Kuatnya ….” Lirih gadis kecil berambut perak itu.
Melihat Azka yang mampu menangkis semua serangan itu, gerombolan Buster pun semakin geram.
“Sialan! Ayo serang dia!”
“Ya!”
Dengan senjata masing masing, mereka berlari tuk menyerang Azka. Tapi tiba tiba Levin melompat ke hadapan Azka dan memukul salah satu dari mereka hingga terlempar.
“Harusnya kau mengajakku Azka!” Seru Levin ketika menatap Azka dengan senyuman.
“Kau memang suka dengan keributan ya.” Azka tampak santai sambil menyiapkan kedua belatinya.
Melihat mereka yang saling bertatapan, gadis kecil yang sejak tadi berdiri dibelakang mereka hanya bisa terdiam sekaligus kebingungan.
Kemudian, satu persatu dari Buster mulai menyerang Azka dan Levin secara bergantian. Tapi kekuatan mereka berdua jauh lebih kuat. Azka dan Levin mampu mengalahkan mereka dengan mudah.
Salah satu Buster yang melihat temannya di kalahkan satu persatu mulai merasa kesal.
“Lupakan saja mereka berdua! Kita hanya perlu mengincar monster itu!” Perintah orang itu sambil menodongkan pisaunya.
Sfx: Dor!
Salah satu tembakan mulai mengarah ke gadis kecil itu tapi langsung ditangkis oleh Azka. Disaat lengah salah satu dari mereka kembali menyerang gadis itu dengan pedang tapi langsung dihentikan oleh Levin.
Ternyata mereka berusaha memfokuskan serangan ke gadis itu hingga membuat Azka dan Levin sedikit kewalahan.
“Levin!”
“Ya!”
Seakan mengerti maksud darinya, Levin pun dengan cepat menggendong gadis kecil itu dan membawanya pergi menjauh.
“Kami tidak akan membiarkanmu pergi monster sialan!”
Dengan amarah yang belum mereda, kerumunan Buster itu pergi mengejar Levin yang membawa gadis kecil itu.
Gadis kecil itu hanya bisa panik sambil melihat kerumunan Buster yang mulai mengejarnya.
“Kau tidak perlu khawatir.”
Sambil menggendongnya pergi, Levin berusaha menenangkan gadis kecil itu dari kemarahan Buster yang mengejarnya.
Gadis kecil itu hanya bisa terdiam ketika menatap Levin yang terlihat begitu santai.
Sementara itu, Azka yang tertinggal di belakang Levin ikut mengikuti Levin sekaligus menghalau beberapa Buster yang mulai menyerang mereka secara agresif. Bahkan beberapa dari mereka mulai menembak asal asalan kearah Levin dan gadis kecil itu.
“Sialan!”
Sambil berlari dengan wajah panik, Azka mengeluarkan beberapa tebasan hingga menumbangkan beberapa dari mereka.
Tapi serangan Azka seperti sia sia ketika beberapa Buster yang ada di dalam bar ikut keluar mengejar mereka. Itu terjadi karena Levin yang berlari tanpa tujuan membuat keributan di kota Hayate hingga membuat Buster lainnya ikut mengejarnya.
“Wah … mereka bertambah banyak!”
Melihat kerumunan Buster yang semakin banyak, Levin berlari dengan kegirangan.
Tiba tiba sebuah peluru nyasar hampir mengenainya, tapi untung Levin berhasil menghindar berkat teriakan gadis kecil itu.
“Hampir saja … terima kasih ya.”
Senyuman Levin membuat gadis kecil itu hanya terdiam sekaligus senang karena bisa membantunya.
“Levin fokuslah brengsek!”
Azka berteriak dari kejauhan melihat Levin yang terlihat santai dengan beberapa tembakan yang mengarah ke arahnya.
Kemudian, Azka yang sedang berlari melihat Tricia yang tampak kebingungan di salah satu jalan kecil.
“Tricia!”
Terkejut mendengar suaranya, Tricia lalu berbalik sekaligus panik melihat Azka yang sedang berlari.
“Azka! Apa yang terjadi?!”
“Nanti saja penjelasannya, ayo kita harus lari!”
Dengan rasa bertanya tanya, Tricia pasrah dan berlari mengikuti Azka. Rasa kebingungannya pun semakin memuncak ketika melihat kerumunan Buster sedang mengejar Levin.
Meski ingin bertanya apa yang sebenarnya terjadi tapi Tricia mengurungkan niatnya karena sekarang bukanlah waktu yang tepat.
“Mau kemana kau membawa Monster itu sialan!”
Teriakan dari kerumunan Buster terus mengiringi pengejaran mereka kepada Levin dan gadis kecil bertubuh macan putih itu. Bahkan mereka terus menembak dan melempar beberapa pisau kearah mereka berdua.
“Gawat! Mereka semakin nekat saja!” Levin mulai panik saat menghindar dari serangan mereka. Ia juga sedikit kewalahan karena sambil menggendong gadis itu.
“Turunkan saja aku disini!” Seru gadis itu sambil memberontak agar bisa turun.
Gadis kecil berambut perak itu merasa tidak enak karena Azka dan Levin sampai terlibat dengan gerombolan Buster.
“Oi, apa yang kau lakukan? Kau jangan terlalu banyak bergerak.”
“Aku tidak ingin merepotkan kalian. Jadi lepaskan saja aku.”
“Apa yang kau katakan? Kau bisa terbunuh oleh mereka.”
“Kenapa ….”
“Temanku sudah bilang kan? Kalau dia tidak ingin melihatmu mati di hadapannya.”
Mendengar perkataan itu, gadis kecil itu hanya bisa terdiam karena selama ini ia selalu dipanggil monster. Karena baru kali ini ada seseorang yang masih menganggapnya sebagai manusia.
Sementara itu di belakang kerumunan Buster, Azka dan Tricia berusaha menyerang beberapa dari mereka hingga terluka. Tapi sekali lagi, masih banyak Buster yang terus berdatangan mengejar Levin dan gadis monster itu.
“Kalau begini tidak ada habisnya.”
“Kau benar, mereka terus berdatangan.”
Dengan sorot mata tajam yang mengarah ke gerombolan itu, Azka memfokuskan kedua belatinya.
“Nightfall Slash!”
Tebasan hitam yang mengarah lurus ke kerumunan Buster dengan mudah menumbangkan hampir semua dari mereka.
“Bagus Azka!” Seru Levin ketika menatap Azka dan mempercepat larinya.
Azka dan Tricia yang terus berlari dari belakang ikut mempercepat langkahnya dan melewati gerombolan Buster yang sedang terkapar.
Setelah cukup lama membawa gadis kecil itu kabur, Azka dan rombongan pun sampai disebuah hutan dil uar kerajaan Hawthorn.
Mereka bertiga terus mengatur nafas karena kelelahan dari pengejaran itu.
“Seharusnya … disini sudah aman.” Ucap Levin dengan nafas terputus putus.
Melihat mereka yang begitu kelelahan, gadis kecil itu hanya bisa terdiam menatap mereka satu persatu. Meskipun bingung, gadis itu tidak bisa menyembunyikan rasa senang karena mereka mau menyelamatkannya.
“Sebenarnya apa yang terjadi pada kalian berdua?!” Tanya Tricia sambil mengatur nafasnya.
Dia masih tidak mengerti kenapa Azka dan Levin sampai membuat keributan hingga kerumunan Buster mengejar mereka.
Kemudian, Tricia yang menatap gadis itu sedikit terkejut dan menambahkan, “Apa dia ….”
“Ya.” Jawab Azka dengan nafas terengah engah. “Dia adalah monster yang dibicarakan itu.”
“Baru kali ini aku melihat manusia setengah binatang.” Tricia menaikkan alisnya ketika mengamati gadis itu.
Karena tatapan aneh Tricia, gadis kecil itu memasang wajah ketakutan layaknya wajah anak anak pada umumnya.
“Apa aku membuatnya takut?” Tanya Tricia ketika melihat reaksi gadis itu.
“Mungkin dia mengira kau adalah monster yang mau memakannya.” Jawab Levin polos.
“Apa aku memang terlihat seperti itu?!” Tricia menatap Levin dengan wajah kesal.
Sempat melihat sekilas penampilan gadis kecil itu, Azka perlahan mendekatinya dengan tatapan dingin hingga membuat gadis kecil itu ikut melangkah mundur karena ketakutan.
Kemudian, tangan Azka menyentuh dan mengusap rambut perak gadis kecil itu hingga membuatnya tenang.
Padahal gadis itu mengira kalau Azka akan melakukan sesuatu padanya tapi ia sedikit merasa tenang saat Azka mulai mengusap kepalanya.
“Te-terima kasih karena menyelamatkanku, kak.”
“Sudah kubilang aku hanya tidak ingin melihat gadis kecil mati tertembak dihadapanku.”
Azka melepaskan tangannya dari kepala gadis itu dan menambahkan, “Siapa kau sebenarnya?”
Gadis kecil itu memasang senyuman manis dan berkata, “Namaku Filia.”
To be Continued…
Note Author:
Nighfall Slash \= Tebasan Matahari Terbenam.