
Sempat di telan ketegangan oleh tatapan Parviz, Mirio berusaha menyembunyikan keraguannya dengan ekspresi tenang.
“Maaf kalau aku membuatmu kecewa, Parviz.” Mirio meminta maaf sambil menundukkan badan.
Tidak ada alasan yang bisa di katakan Mirio. Semua yang di katakan Parviz memang adalah kesalahannya, apalagi membiarkan Azka dan Levin lolos begitu saja.
Faktanya, mereka berdua pasti cukup kelelahan setelah mengalahkan Kazel, terutama Levin yang sejak tadi siang bertarung dengannya. Dengan kondisi seperti itu, akan sangat mudah mengalahkan mereka.
Namun, ada perasaan yang mengganjal di lubuk hati Mirio. Dia tidak bisa mengartikan itu dan tentu saja, itu bukanlah suatu alasan yang harus di katakan ke Parviz.
Melihat permintaan maaf itu, Parviz memasang ekspresi tajam. Sambil menopang kepalanya dengan tangan, rasa kekecewaan perlahan luntur dari sudut bibirnya.
“Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan Mirio. Entah apa tujuanmu, kau tetap membuatku kecewa.”
“Maafkan aku.”
“Aku tahu kau orang yang kuat, aku juga sangat mengenalmu, Mirio. Karena itu juga, aku mengangkatmu sebagai tangan kananku. Tapi, kau harus menebus kesalahanmu untuk kedepannya.”
“Terima kasih, aku pasti menebus kesalahanku dan tak akan membuatmu kecewa ….”
Melihat pemandangan Mirio yang meminta maaf itu, Alan dan Cornelia yang sejak tadi terbaring dengan tubuh terikat memasang ekspresi bertanya-tanya.
Pikiran mereka berdua di penuhi pertanyaan ketika mendengar pembicaraan mereka. Terutama ‘para penggangu’ yang di maksud mereka berdua.
Apakah para penganggu itu termasuk Filia? Jika itu benar, Filia melakukan itu bersama siapa?
“… Alan …,” bisik Cornelia. “… apa yang mereka bicarakan? apa Filia baik-baik saja?”
“Aku tidak tahu ... mungkin saja, Filia sedang bersama seseorang ….”
“Apa kau yakin?”
“Entahlah … aku juga tidak yakin ….” Belum menyelesaikan ucapannya, Alan menoleh ke belakang memeriksa keadaan Cornelia. “… kau baik-baik saja kan?”
Melihat ekspresi khawatir Alan , Cornelia menganggukkan wajahnya sambil menahan sakit. “Y-ya, aku baik-baik saja. Hanya saja, tanganku sedikit kesakitan ….”
Setelah mendengarkan itu, Alan dengan reflek melihat pergelangan tangan Cornelia yang memerah akibat tali yang mengikatnya begitu kuat.
“Bertahanlah … Cornelia ….”
“… aku tidak papa, malah aku lebih mengkhawatirkan Filia ….” Perasaan tegar terlihat jelas dari tatapan Cornelia.
Alan yang melihat itu hanya diam dengan tatapan lembut. “… Cornelia … kau memang kuat ….”
“Apa yang kalian bisikkan itu ha?!”
Suara yang begitu kejam seakan mengakhiri percakapan Alan dan Cornelia. Tatapan tajam dari Parviz mampu membuat tekanan yang membuat mereka berdua terdiam seakan membeku.
Tepat setelah itu, salah satu anggota dari Crimson Buster datang ke ruangan itu. Dengan ekspresi yang mencurigakan, orang itu mendekat ke telinga Parviz dan membisikkan sesuatu.
Tak ada yang bisa mendengarnya, tapi Parviz menaikkan sudut bibirnya sambil mengganguk. Orang itu selesai, dan sekarang dia beranjak pergi dari ruangan itu.
“Begitu ya … begitu ya ….”
Masih berdiri dengan tubuh tegap, Mirio menunjukkan wajah seakan penasaran. Sedangkan Chyntia sejak tadi berdiri menurunkan pandagannya seperti orang yang patah semangat.
Tak jauh dari hadapan Parviz, Alan dan Cornelia mengeluarkan ekspresi yang tidak mengenakkan.
Raut wajah Parviz jelas menunjukkan kecurigaan. Sambil setengah tersenyum, dia berdiri menatap Alan dan Cornelia.
“Sepertinya … monster kecil itu akan segera menyusul kalian berdua.”
Perkataan yang membingungkan itu membuat Alan dan Cornelia bertanya-tanya.
Parviz melanjutkan kata-katanya, “Ternyata … kalian berdua tinggal di sebuah desa kecil yang tidak jauh dari kerajaan ini ….”
Semakin Parviz melanjutkan kalimatnya, kedua mata Alan semakin melebar.
“… aku sedikit penasaran, mungkin aku akan berkunjung ke tempat itu.”
“Kurang ajar! Darimana kau tahu itu?!” teriak Alan.
“Wah, wah, darimana ya?” Nada bicara Parviz seakan meledek. “Biar kutebak, sebuah desa kecil yang sudah di tinggalkan bernama Kitara. Lalu, tiga anak kecil panti asuhan yang di asuh oleh nenek tua. Bukan begitu?” Parviz mengakhiri kata-katanya dengan senyuman jahat.
Spontan kedua mata Alan dan Cornelia melebar.
“Mama?! Aku … tidak akan membiarkanmu menyentuh mama!” teriak Alan.
“Oh? Jadi kalian memanggilnya Mama ya? Aku semakin penasaran dengannya.”
“Aku mohon jangan mama ….” Sambil memejamkan matanya, Cornelia menggumam setelah mendengarkan itu.
“… ternyata kau bisa bicara juga gadis kecil. Tenang saja, selama dia tidak menggangu dan membiarkanku mengasuh monster kecil itu, aku pasti membiarkan Mama tercinta kalian selamat.”
“Cukup … sudah cukup,” ucap Alan. “Aku mohon jangan mengincar mereka berdua lagi. Jika kau memang ingin menjadikan kami budak … tolong bawa saja aku.”
“Alan …,” desah Cornelia.
“Menjadi budak atau membunuhku … itu semua terserah padamu. Tapi … aku mohon lepaskan dia dan jangan ganggu mereka yang ada di panti asuhan!” Alan berteriak dengan tatapan penuh keyakinan.
“Oi, bocah.” geram Parviz dengan tatapan dingin. “Kau pikir aku ini siapa? Jangankan dirimu, bahkan 10 bocah sepertimu, masih jauh dari setengah harga monster kecil kalian. Untuk apa aku sampai repot-repot mengurung kalian di sini. Aku tidak masalah mau kalian mati atau tidak, yang penting monster kecil itu harus kudapatkan.”
Suara dingin dari Parviz seakan membuat Alan kehilangan kata-kata. Seperti menemui titik buntu, sekarang Alan harus di hadapkan dengan penolakan. Sedangkan Cornelia hanya diam di telan ketakutan, wajahnya mulai berkeringat dingin, dan bibir gemetaran.
Harapan mereka berdua kini mulai pupus. Pergorbanan mereka terasa hampir sia-sia. Jika orang-orang itu sampai melukai Mama demi Filia, semuanya terasa menyakitkan.
Untuk membayangkan hal itu saja mampu membuat Alan dan Cornelia menitihkan air mata.
Tak peduli dengan tangisan mereka, Parviz menoleh ke Chyntia yang sejak tadi terdiam. Dia tahu kalau Chyntia masih memikirkan Kazel, semua itu terjawab dari raut wajahnya.
“Chyntia, sampai kapan kau berdiri di sana?!” bentak Kazel.
Chyntia hanya diam seakan tak mendengar. Parviz yang mulai geram berjalan mendekatinya. Kemudian, dia menampar Chyntia dengan keras hingga tubuhnya sedikit terlempar.
Pemandangan itu membuat Mirio dan anggota Crimson Buster terdiam.
“Aku paling benci melihat raut wajah seperti itu!” Sambil meninggikan suaranya, Parviz menodongkan ujung pedangnya tepat di depan wajah Chyntia.
“Sekarang jawab pertanyaanku. Apa kau mau mati sekarang?”
Terkejut sambil memegang pipinya, Chyntia merasakan hawa yang menakutkan dari aura Parviz. Rasa takut membuatnya hilang kata-kata, air mata tampak berkumpul di pupil matanya.
Pria berambut hitam sekaligus pemimpinnya, Parviz Benedict, memang orang yang sangat mengerikan.
“Parviz!” Mengabaikan posisinya saat ini, Mirio berusaha meredam kemarahan Parviz.
Namun, Parviz sama sekali tak mengendurkan ujung pedangnya.
“Jika kau merasa ragu, aku juga tidak akan ragu untuk membunuhmu, Chyntia. Kalau kau masih meratapi kematian orang itu, balaskan kematiannya ke orang-orang itu! Itulah yang harus kau lakukan sekarang!”
Orang-orang itu yang sudah membunuh Kazel. Itulah yang di pikirkan Chyntia saat ini.
“Sekarang berdirilah, dan ikutlah denganku.”
Selesai mendengar perintah itu, Chyntia berdiri dengan wajah yang penuh perasaan dendam, tatapannya menjadi serius.
Parviz tersenyum puas melihat itu, dan memasukkan pedangnya ke dalam sarung pedangnya.
“Kita akan menjemput Monster kecil itu kemari,” ucapnya.
“Baik Parviz-san, aku akan pastikan monster itu kesini bersama dengan kepala orang-orang itu.
“Hm, itulah sejak tadi ingin kudengar.”
Selesai mengatakan itu, Parviz berbalik dan memasang senyuman mencurigakan ke Alan dan Cornelia. Mereka berdua hanya diam dengan perasaan campur aduk.
“Kau … jangan pergi kesana … aku mohon ….” Alan mendesah dengan tatapan memohon.
“Kalian berdua cukup duduk manis dan diam saja di sana. Akan ku sampaikan salam kalian ke nenek itu.”
Tak menunggu jawaban apapun, Parviz berjalan keluar dari ruangan bersama Chyntia di belakangnya.
“Aku serahkan mereka berdua padamu,” lanjut Parviz. “Jangan membuatku kecewa kali ini, Mirio.”
“Serahkan saja padaku.” Mirio menudukkan wajahnya, dia sekarang melihat punggung Parviz dan Chyntia yang berjalan pergi.
Ada satu pertanyaan yang sekarang menganggu pikirannya. Kenapa Parviz sampai repot-repot turun tangan mendatangi desa itu?
Jelas ada sesuatu yang di rencanakan Parviz.
***
Tepat di depan gerbang Kota Hayate, Tricia dan Filia berdiri memandangi keadaan kota yang tampak kacau. Cahaya bulan yang menerangi seisi kota memperlihatkan banyak bangunan yang telah hancur akibat pertarungan.
Terutama Filia, dia tampak terkejut mengetahui keadaan kota di hadapannya sekarang.
“Apa yang terjadi di sini Tricia-san?” tanya Filia sambil mengamati.
“Tak kusangka kota ini hampir setengah hancur … harusnya pertarungan mereka sudah selesai.”
“Apa kak Levin baik-baik saja? Kak Azka pasti sudah bertemu dengannya kan?”
“Ya, kurasa begitu.”
“Lalu, kemana mereka sekarang?”
Tricia hanya diam memandangi seisi kota, berharap menemukan tanda-tanda Azka dan Levin. Namun, dia sudah tahu kemana mereka akan pergi. Tidak salah lagi …
“Sebelum itu, apa kau yakin untuk ikut Filia? Kau bisa bersembunyi di sini menunggu kita.”
Tanpa pikir panjang, Filia mengangguk dengan ekspresi yakin. “Ya, aku tidak ingin berhutang budi lagi ke kalian. Setidaknya aku harus bertarung menyelamatkan teman-temanku.”
Melihat keteguhan Filia, Tricia memancar senyuman lembut. “Kau tidak perlu merasa berhutang budi. Yah, sebenarnya aku juga berhutang budi—tidak, mungkin lebih tepatnya aku telah di selamatkan oleh orang itu ….”
Di akhir kata-katanya, Tricia teringat kembali saat pertama kali bertemu dengan Azka. Dia sempat berandai-andai jika tak bertemu dengannya, mungkin dia masih menjadi pelarian budak bahkan sudah menjadi budak.
***
20 Menit sejak kepergian Parviz dan Chyntia.
“Apa yang sebenarnya Parviz rencanakan ….” Sambil berguman, Mirio duduk di kursi milik Parviz dengan tatapan kosong.
Pikirannya saat ini sedang campur aduk. Entah keraguan atau apa, dia merasa aneh dengan dirinya. Apalagi sejak kematian Kazel.
Di telan oleh kebimbangan, Mirio memasang tatapan dingin ke Alan dan Cornelia yang hanya terbaring diam. Mereka berdua terlihat pasrah dengan keadaan fisik yang semakin melemah.
Beberapa orang dari Crimson Buster juga sudah berdiri di samping anak-anak itu, dan dua di samping Mirio.
“Apa yang kalian lakukan di sini?”
“Eh? apa maksud Anda wakil Mirio?” tanya salah satu orang di sampingnya.
“Kalian hanya membuang-buang waktu untuk berjaga di sini.”
“Tapi … Ketua Parviz menyuruh kami untuk menjaga anak-anak itu.”
“Jadi, kalian meremehkanku?!”
“Bu-bukan begitu Wakil Ketua ….”
“Kalau begitu, kalian harusnya menjaga bagian kota.”
“Ta-tapi, semuanya sudah berada di sana.”
“Aku tidak akan mengulangi perkataanku.”
Saat Mirio menatap tajam ke orang di sampingnya, semua anggota Crimson Buster yang ada di ruangan itu merasakan hawa yang menakutkan dari tatapan itu. Dari ekspresi itu, mereka mulai mengiyakan perintah Mirio.
“Ba-baik, Wakil Ketua,” jawab salah satu orang yang di samping.
Dengan ekspresi tertekan, mereka akhirnya pergi meninggalkan ruangan itu satu persatu.
Setelah beberapa saat, ruangan itu di telan oleh kesunyian.
Ketika Mirio menatap anak-anak itu, dia merasakan sesuatu yang aneh. Sesuatu yang bergetar dari luar markas mereka.
Saat memikirkan itu, tiba-tiba…
“Wa-wakil! Mere— ugh ….” Belum menyelesaikan kata-katanya, sebuah tebasan langsung membuatnya roboh tak bernyawa sebelum memasuki markas yang pintunya setengah terbuka.
Spontan kedua mata Mirio melebar melihat Buster itu mati tertebas. Mirio mencoba berdiri memastikan sesuatu tapi, terdengar banyak sekali suara tebasan dan teriakan kesakitan dari luar ruangan.
“Apa yang terjadi di luar sana ….”
Berusaha mencerna apa yang terjadi, terdengar sebuah serangan yang menerobos pintu masuk dan menjadi hancur.
Mirio di telan kepanikan, gumpalan asap menutupi pandangannya ke pintu masuk markasnya. Lambat laun, asap itu menghilang dan menunjukkan semua anak buahnya telah tergeletak bersimbah darah.
Dan, di balik asap itu sekaligus yang menerobos pintu masuk, telah berdiri dua orang dengan yang memasang tatapan tajam. Kedua orang itu adalah, Azka dan Levin.
“Jadi ini tempat mereka menahan anak-anak itu ….”
“Sepertinya aku mulai lapar lagi … ayo kita selesaikan ini lebih cepat, Azka.”
To be Continued …