Black Buster

Black Buster
Chapter 10 "Fear of the Past"



Kakek Buris yang melihat mereka dari kejauhan begitu ketakutan ketika Srigala Besar itu telah muncul di hadapan mereka. Dengan tubuh yang begitu hitam dan liur yang terus menetes, Srigala tersebut seakan sudah tidak sabar ingin memangsa Azka dan Tricia.


Tricia yang sedikit panik berusaha mengeluarkan panahnya dan mengarahkannya ke Srigala itu. Tetapi Srigala yang menyadari gerakan darinya, langsung menyergap dengan cepat kearahnya.


"Tricia!"


Azka yang menyadari itu dengan cepat menarik tangan Tricia dan menghindar dari terkaman Srigala itu. Dia membawanya lari dan berniat bersembunyi di suatu tempat.


"Terima kasih."


"Kau harus fokus."


Mereka bersembunyi di balik reruntuhan sambil mengamati Srigala yang terus mencari keberadaan mereka.


"Yang kita hadapi bukanlah Srrigala biasa."


"Apa maksudmu?"


"Itu adalah Grant Wolf. Srigala itu termasuk monster yang cukup kuat. Tapi sepertinya aku sedikit beruntung bisa menemuinya disini."


Sejujurnya Azka sedikit senang karena bertemu dengan Grant Wolf. Ia yang selalu bertahan hidup dari menjual bahan bahan Monster berniat untuk bisa mengalahkannya dan menjual inti yang ada di dalam tubuhnya.


Ia selalu membaca buku jurnal tentang Monster dan mengetahui kalau Grant Wolf memiliki harga yang cukup mahal. Ia merasa beruntung karena kebetulan dia sedang membutuhkan uang untuk perjalanannya nanti.


"Apa maksudnya dengan beruntung, Azka?" bisik Tricia kebingungan.


"Grant Wolf memiliki harga yang cukup mahal. Kalau kita bisa mendapatkan inti dari Monster itu kita bisa mendapatkan cukup uang."


"Jadi itu yang kau pikirkan?!" Tricia merasa kesal karena Azka begitu tertarik dengan Monster itu.


Grant Wolf yang mendengar teriakan Tricia langsung berbalik ke arah reruntuhan tempat mereka bersembunyi.


"Pelankan suaramu, Tricia."


Seketika Grant Wolf itu menemukan mereka dengan menghancurkan reruntuhan itu. Dengan cakarnya yang cukup besar dan tebal ia dengan mudah dapat menghancurkan dinding dinding yang ada disekitarnya.


"Gawat!"


Azka yang begitu kaget langsung menarik Tricia untuk lari dari Grant Wolf itu. Monster yang melihat mereka melarikan diri itu hanya menoleh ke arah mereka. Dengan sekejap mata Monster itu langsung melompat untuk menerkam mereka berdua.


Azka lalu mendorong Tricia untuk bisa menangkis terkaman dari Grant Wolf itu.


"Azka!"


Azka berhasil menangkis cengkraman Monster itu. Tapi ia sedikit kesusahan untuk bisa menahannya karena tenaga dari Grant Wolf itu begitu besar. Nafsu makan monster itu seakan menambah kekuatan cakar miliknya.


Dengan taring yang di penuhi liur itu Srigala itu mendesak Azka agar mengalah. Tricia dengan raut wajah panik langung mengeluarkan panahnya dan mengarahkannnya ke Monster itu tanpa ragu.


"Shining Arrow!"


Kilatan panah yang dikeluarkan Tricia dengan cepat mengenai tubuh besar Monster itu. Grant Wolf yang mulai melemahkan serangannya langsung di sadari oleh Azka. Ia lalu melompat mundur ke belakang untuk menyerangnya.


"Black Slash." Tebasan hitam itu langsung mengenai Monster itu hingga membuatnya terkapar.


Kekuatan Link dari Azka sendiri adalah Link Slash atau tebasan. Dengan menggunakan Twin Daggernya, ia dapat memaksimalkan kekuatan dari Linknya.


Meskipun begitu Azka hanya mengandalkan kekuatan dari tebasannya itu. Karena ia tidak cukup hebat untuk bertarung dengan menggunakan seni Dagger. Demi memaksimalkan Link miliknya ia sudah terbiasa dengan menggengam Twin Daggernya secara terbalik.


[Note Author: Link memiliki banyak jenis salah satunya adalah Azka yang mempunyai kekuatan tebasan dan Tricia yang mempunyai kekuatan menciptakan anak panah dari tangannya.]


Tricia terdiam ketika mengamati Monster itu sudah tidak bergerak.


"Apa ... itu berhasil?"


"Entahlah ...."


Kakek Buris yang sejak tadi mengintip pertarungan mereka dari rumahnya hanya bisa terdiam akan apa yang ia lihat. Ia tidak menyangka karena Azka berhasil mengalahkan Monster itu dengan cepat.


"Aku ... tidak percaya kalau hari ini akan datang ...."


Ia begitu terharu hingga mengeluarkan air mata. Kakek Buris merasa bersyukur karena akhirnya desa Torbe bisa kembali aman.


Di saat Azka dan Tricia berpikir kalau mereka telah berhasil mengalahkannya tiba tiba tubuh Monster itu kembali bergerak.


Mereka terkejut mengetahui kalau Grant Wolf itu kembali bangkit sembari menatap mereka dengan mata merahnya.


Rrrrrgghhhhh!


Kakek Buris yang awalnya senang lalu berubah menjadi panik karena Monster itu kembali bangkit.


Monster itu terlihat begitu marah dengan raungannya yang begitu keras. Ia lalu melompat kearah mereka dan menyerang ke arah Azka dengan cakarnya secara membabi buta.


Azka terkejut, ia berusaha menahan serangan Monster itu dengan Twin Daggernya. Ia begitu kesulitan karena Monster itu terasa semakin liar dan tak terkendali. Serangan membabi buta miliknya seakan membuatnya mati langkah.


Tricia yang sedikit ketakutan lalu mengambil langkah mundur. Ia berniat untuk menyerang kembali dengan Link Panahnya. Di saat ia mulai mengarahkan panahnya Srigala itu menoleh kearah dan dengan cepat menyergapnya.


Cakar dari monster itu meleset karena Tricia berhasil untuk menghindar meskipun ia sedang tersungkur.


"Tembak Tricia!"


Azka berteriak untuk menyuruhnya memanah Grant Wolf yang berjarak cukup dekat dari arah Tricia. Dia yang sejak tadi bersiap untuk memanah terlihat begitu panik karena Monster itu benar benar tepat di hadapannya.


Ia sangat ketakutan hingga membuat tangannya gemetaran. Monster itu menatapnya dengan liur yang terus menetes dari taringnya. Dia yang tampak ingin memangsanya mendekat secara perlahan ke arah Tricia.


"Oi, Tricia!"


Tricia yang tidak mendengar teriakan dari Azka benar benar merasa ketakutan hingga tak sengaja menjatuhkan panahnya.


Groarghhh!!!


Monster itu dengan kuat menginjak panah dari Tricia hingga terbelah menjadi dua.


"Ti-tidak ...." Tricia mengeluarkan keringat dingin dan terfokus ke arah panahnya yang sudah terbelah oleh hentakan kaki Grant Wolf.


Ia gemetar ketakutan ketika menatap mata merah milik Monster itu. Lalu secara tak sadar Tricia menitihkan air matanya. Ia menangis ketika ia mengingat masa lalunya tentang peperangan 5 tahun yang lalu.


***


(Peperangan 5 tahun yang lalu)


Seluruh teriakan minta tolong benar benar terdengar jelas di telinganya. Para warga yang terbunuh karena di bantai oleh beberapa Buster hanya bisa mati sia sia ketika pasukan Lancer hanya terus bertarung melawan Buster yang tersisa.


"Kenapa ...." Tricia menahan tangis menyaksikan seluruh penduduk desanya mati sia sia.


"Tricia, kamu larilah ...." Ibu Tricia yang bernama Trea hanya bisa memeluknya erat sambil menahan tangis.


"Tapi ...."


"Larilah nak ...." Ayah Tricia yang bernama Shuji berusaha menenangkan Tricia dengan mengeluarkan senyuman kecil. Ia mengelus rambut Tricia dan berharap anaknya masih bisa selamat dari peperangan ini.


"Tidak aku tidak mau!" Tricia memeluk balik kedua orang tuanya. Ia berusaha untuk bisa terus bersama kedua orang tuanya.


Saat itu memang pasukan Lancer mengatakan bahwa anak anak di desa itu bisa berlari ke tempat aman yang telah di siapkan oleh Lancer. Tapi hanya Tricia seorang yang masih berada di desa itu karena ia hanya ingin melarikan diri bersama kedua orang tuanya.


Sedangkan orang dewasa yang ada di desa itu harus menunggu perintah evakuasi selanjutnya karena tempat yang di sediakan hanya bisa muat untuk anak anak.


Di saat mereka masih berpelukan terdapat seorang Buster yang menghampiri mereka dengan tatapan menyeramkan. Dia mengeluarkan senjatanya dan berniat untuk membunuh mereka bertiga.


Tricia dengan keadaan panik lalu berlari ke hadapan orang itu dengan maksud melindungi kedua orang tuanya. Ia mengeluarkan panah pemberian ibunya dengan niat mengancam Buster tersebut.


"Tricia, apa yang kamu lakukan nak?" Trea begitu panik melihat anaknya berusaha untuk melidunginya.


Tricia menatap Buster itu seolah menyuruhnya untuk tidak mendekat. Meskipun ia berusaha untuk tidak takut ia tidak bisa menyembunyikan ketakutannya karena tangannya terus gemetaran.


"Oh, kau mau melawan bocah?!" Ia tersenyum kecil karena menganggap anak itu tidak akan berani melukainya.


Lalu Buster itu dengan santai menendang panah miliknya dan membuatnya Tricia tersungkur.


"Tricia!" Shuji dan Trea serentak panik karena anaknya tersungkur oleh orang itu. Mereka berdua lalu berlari untuk menyelamatkannya.


"Ayah ... ibu ...."


"Kau harusnya tidak melakukan hal itu." lirih Shuji pelan.


"Aku ... ingin melindungi ayah dan ibu."


Di saat bersamaan Buster itu langsung terbunuh oleh serangan dari pasukan Lancer. Dua orang Lancer itu menghampiri mereka tanpa mengatakan apapun.


Dua orang itu merasa kesal ketika melihat Tricia masih berada di tempat peperangan itu. Dia harusnya tau kalau anak anak harusnya sejak tadi menyelamatkan diri di tempat evakuasi dari pasukan Lancer?


"Apa yang anak itu lakukan? Dia harusnya pergi ke tempat perlindungan!"


"Maafkan kami, aku mohon apa kau bisa membawanya pergi dari sini?"


"Sialan aku tidak punya waktu untuk itu!"


"Aku mohon ...."


"Apa yang kalian katakan? Aku tidak akan pergi!" Tricia terus memaksa orang tuanya untuk tidak meninggalkannya.


"Kau tak perlu takut Tricia, setelah ini kita pasti akan bertemu lagi."


"Itu benar nak, lagipula bantuan sebentar lagi akan tiba untuk orang dewasa. Oleh karena itu, jadilah anak yang baik ya. Ingatlah untuk terus tersenyum."


Shuji dan Trea mengeluarkan senyuman kecil kepada Tricia. Mereka sebenarnya tau kalau mustahil untuk bisa bertahan dari peperangan itu. Mereka berusaha untuk tidak membuat Tricia terus merasa takut dan khawatir.


"Apa yang kalian katakan ... aku akan tetap disini bersama kalian."


Salah satu pasukan Lancer itu langsung menarik dan membawa Tricia pergi dari tempat itu.


"Lepaskan aku!"


"Menurut saja padaku!"


Tricia berusaha untuk melepaskan tangannya tapi, Lancer itu tidak peduli sambil terus membawanya dengan kasar. Tricia lalu menoleh ke belakang dan terkejut ketika menyadari ayah dan ibunya sudah tewas terbunuh bersama salah satu pasukan Lancer yang tadi mendatanginya.


Ia menangis sejadi jadinya sambil meneriaki ayah dan ibunya. Ia menangis karena merasa bersalah tidak bisa mengalahkan Buster untuk melindungi orang tuanya.


Dengan isak tangis ia terus di bawa oleh pasukan Lancer sambil menyesali perbuatannya. Jika saja ia punya keberanian untuk memanah dari jarak dekat ia mungkin masih bisa bersama dengan orang tuanya. Tetapi ia malah diselamatkan oleh Lancer dan terpaksa dibawa oleh mereka menuju tempat evakuasi.


***


Tricia masih duduk gemetaran menatap Monster yang perlahan mendekatinya. Ia merasa dirinya tidak bisa melakukan apa apa karena mengingat trauma masa lalunya.


Ia sampai sekarang masih ketakutan untuk menyerang musuh yang berada didepannya. Karena selama ini ia hanya terus bertahan hidup dengan memanah dari jarak jauh.


Azka yang sejak tadi meneriakinya untuk memanah hanya bisa terdiam. Ia merasa percuma karena Tricia terlihat begitu ketakutan ketika berhadapan dengan Monster itu.


Ia berpikir kalau Tricia ketakutan jika berhadapan langsung dengan Monster itu. Ia juga mengira kalau itulah yang membuat panahnya menjadi rusak saat pertama kali bertemu dengannya.


Grant Wolf itu terlihat begitu beringas di hadapan Tricia dengan liur yang terus menetes dari mulutnya. Ia lalu mengambil ancang ancang dan melompat untuk menerkamnya.


"Tricia!!!"


Tricia hanya terdiam ketakutan sambil menutup mata dengan tangannya. Ia seakan pasrah kalau ia akan segera mati oleh terkaman Monster itu.


Maaf ayah ... ibu ...., Tricia menahan tangis sambil mengingat ayah dan ibunya yang telah mati.


Tricia yang tadinya ketakutan lalu perlahan membuka matanya karena Grant Wolf itu belum membunuhnya.


"Azka?" lirih Tricia pelan.


Tricia sangat kaget ketika melihat Azka terluka parah terkena terkaman dari Grant Wolf. Azka berniat melindunginya dengan terkena gigitan dari taring Monster itu.


Tricia hanya bisa terdiam karena tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Bahkan ia kembali gemetaran karena melihat bahu Azka di penuhi oleh darah.


Azka tidak sempat mengeluarkan daggernya dan akhirnya ia menahan gigitan Monster itu menggunakan bahu kirinya. Ia yang berusaha melindungi Tricia tidak tau apakah yang dia lakukan ini benar atau tidak. Azka lalu berteriak kesakitan karena gigitan dari Monster itu semakin mendalam.


Tricia secara perlahan menitihkan air matanya ketika menyaksikan Azka sedang berteriak kesakitan. Ia tidak tega melihat kejadian mengerikan itu tapi, ia hanya bisa menangis karena tidak tau apa yang harus ia lakukan.


"Azkaaa!"


Azka yang pasrah dengan gigitan serigala itu lalu menoleh kearah Tricia. Ia mengeluarkan tatapan setengah sadar sambil menahan rasa sakit.


"Apa ... yang kau masih lakukan ... Tricia?"


To be Continued...