
"Kemana mereka pergi?!"
"Sialan dia cepat sekali!"
"Siapa tadi kedua orang yang ditariknya?!"
"Entahlah ... mungkin mereka temannya."
"Tidak peduli siapa temannya ... yang jelas kita harus mencari dia! Kalau kita tidak bisa menangkapnya ... bos akan membunuh kita!"
"Aku tidak mau mati muda!" ucap salah satu Buster dengan gemetaran.
Gerombolan Buster kehilangan jejak dari Azka, Tricia dan Levin. Mereka yang masih berusaha mencarinya pun pergi menyusuri desa.
***
Sementara itu ditempat mereka bertiga.
"Huft ... huft ...."
Azka dan Tricia kelelahan karena berlari dari kejaran Buster. Mereka bertiga berhasil lolos dengan bersembunyi diantara dua bangunan desa. Levin yang memantau keadaan sekitar terlihat sangat lega dengan mengelap keringatnya.
"Hahahahaha, menyenangkan bukan?" Levin tertawa kegirangan.
"Huft ... huft ... Sialan!" Sambil mengatur nafasnya, Azka memasang wajah kesal kearah Levin.
"Apanya yang menyenangkan?" Tanya Tricia dengan kelelahan.
"Tentu saja dikejar oleh orang orang bodoh itu. Hahahaha bagaimana itu menyenangkan bukan?" Tanya Levin dengan polos.
"Apa wajahku ini terlihat menyenangkan ha?!" Azka menatap Levin dengan tatapan tajam.
"Ya ... bagiku sih iya." Levin memalingkan pandangannya sambil menggaruk hidungnya.
Azka lalu menodongkan daggernya kearah Levin. Seketika Levin memasang wajah bersalah mengeluarkan sambil mengangkat kedua tangannya, "Aku mengerti ... maafkan aku."
Azka menghembuskan nafas berat sambil menaruh daggernya.
"Ngomong ngomong apa kalian lapar?" Tanya Levin dengan polos.
"Hm?" Azka dan Tricia saling menatap dengan kebingungan.
***
Levin membawa Azka dan Tricia ke suatu kedai yang sudah terlihat tua untuk makan. Sebagian atap dari kedai itu sudah hancur karena sebuah serangan. Mungkin saja telah dihancurkan oleh sebuah bom.
Suasana dari kedai itu benar benar sepi tanpa siapapun kecuali mereka bertiga. Mereka menempati meja satu satunya yang masih utuh di kedai itu.
Azka dan Tricia menerima ajakan dari Levin. Mereka berdua hanya melihatnya dengan kebingunga, bagaimana bisa dia makan dengan tenang dengan kondisi kedai yang sudah hancur.
"Apu kulian tiduk mukun?" Tanya Levin dengan mulut yang penuh dengan makanan.
"Kunyah dulu makananmu!"
Apa apaan orang ini? Tingkahnya sejauh ini benar benar konyol. Tricia memegang kepalanya karena pusing melihat kelakuan Levin.
"Selamat makan." Azka memakan makanannya dengan santai.
"Kenapa kau bisa ikut tenang seperti itu?"
"Hm? Kenapa Tricia?" Tanya Azka dengan polos.
"Ya ... kau ini kenapa? Dasar gadis aneh." Levin melanjutkan makannya dengan santai.
"Justru kau yang paling aneh disini!"
"Hahahaha, benarkah? Maaf maaf." Levin menggaruk kepalanya.
Azka meminum minuman itu dengan nikmat, "Lalu ... siapa kau sebenarnya?"
"Eh? Bukannya aku sudah memperkenalkan namaku. Seharusnya kalian memperkenalkan diri kalian."
"Mungkin kau benar ... namaku Azka. Dan gadis ini adalah temanku, Tricia." Azka memperkenalkan dirinya dan Tricia.
"Azla, Trisha. Senang berkenalan dengan kalian."
"Kau menyebutnya dengan salah!" Azka dan Tricia membentak Levin secara serentak.
"Baik, baik, maafkan aku ya ... Azla," ucap Levin dengan polos.
"Cih!" Azka yang begitu kesal hanya bisa pasrah dengan kebodohannya.
"Namamu ... Levin, kan?" Tanya Tricia untuk memastikan namanya.
"Ya ... namaku Levin. Kau hebat bisa mengingatnya."
Tricia terdiam dengan heran. Padahal namanya sendiri sangat mudah untuk diingat.
"Oh iya, kenapa kalian tadi dikejar oleh Buster itu?" Tanya Levin dengan bingung.
"Tunggu dulu ... apa maksudnya?"
"Hm? Bukannya kalian dikejar oleh Buster tadi. Mereka tadi menunjuk kearah kalian bukan?"
"Apa aku harus membunuhnya sekarang?!"
"Tenanglah, Azka! Aku juga tidak tahan bicara dengannya." Tricia yang tidak kuat hanya bisa pasrah sambil menahan Azka yang ingin mengeluarkan daggernya.
Azka sangat kesal dengan kepolosannya. Padahal Buster itu jelas jelas menunjuk kearah Levin dan mengejarnya. Dan dia dengan polosnya malah menarik mereka berdua.
"Ah ... Levin!" Terdengar suara gadis kecil diantara mereka.
Seorang gadis kecil berumur 8 tahun dengan rambut berwarna coklat menghampiri meja mereka. Dia terlihat sangat senang saat bertemu dengan Levin.
"Oh, Vina! Darimana saja kau?"
"Padahal aku sedang mencarimu," ucap gadis kecil yang bernama Vina.
"Siapa dia?" Tanya Azka.
"Oh, dia adalah cucu dari pemilik kedai ini."
"Wah ... lucunya." Tricia menatap Vina dengan mata berbinar.
Tricia sangat senang ketika bertemu dengan anak anak. Apalagi Vina yang masih bocah terlihat sangat manis.
Vina sedikit risih dengan tatapan Tricia padanya, "Ano ... kalian siapa?"
Anak kecil itu menatap mereka dengan tatapan bingun.
"Namaku Tricia, dan dia Azka."
"Ya ... mereka adalah Azla dan Trisha. Aku kebetulan bertemu dengan mereka." Ucap Levin dengan senyuman.
Azka hanya menatap Levin dengan kesal. Bagaimana bisa dia menyebut nama gadis itu dengan benar sedangkan nama mereka tidak.
"Oh ... begitu ya. Salam kenal namaku Vina." Gadis itu memasang senyuman kearah mereka berdua.
"Salam kenal juga. Kamu manis sekali, apa kamu bekerja seorang diri?" tanya Tricia.
Azka hanya diam menatap keanehan Tricia yang menatap bocah itu. Dia seakan merasakan aura aneh dari Tricia.
"Ya! Aku bekerja seorang diri."
"Benarkah? Hebat banget."
"Tapi ... itu tidak lama ...." Tiba tiba Vina menundukkan kepalanya dengan wajah murung.
Azka menatap Vina dengan bingung. Mungkin saja dia sedih karena kedainya telah hancur. Dia lalu teringat dengan nama Clint seperti yang dikatakan saat bertemu dengan Buster yang dihajarnya.
"Apa dia menguasai desa ini?" tanya Tricia.
"Ya ... dia sudah berada ditempat ini sejak dua hari yang lalu." Vina memasang wajah murung.
Levin lalu berdiri dari kursinya. Tiba tiba dia memasang wajah serius.
Vina menatap kearah Levin yang terlihat sangat kesal.
"Apa kau mau pergi, Levin?"
"Aku sudah kenyang. Aku pergi dulu ... Vina." Levin memasang senyuman kearah Vina.
"Kumohon hentikan ...." Vina memasang wajah murung.
Ia lalu pergi entah kemana. Wajahnya yang awalnya terlihat bercanda tiba tiba berubah menjadi serius.
Azka dan Tricia hanya melihat kepergiannya dengan kebingungan.
"Oi, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa si bodoh itu menjadi serius?" Tanya Azka.
"Levin sempat menghajar bos mereka yang bernama Clint karena dia berniat menghancurkan kedai ini. Dan sekarang anak buahnya sedang berusaha menangkap Levin."
Azka hanya terdiam dengan tatapan serius.
"Kenapa ... kenapa Buster itu harus ada?! Aku sangat membenci mereka! Mereka hanya bisa membunuh dan menghancurkan semuanya! Apa bagi mereka sesuatu yang berharga itu tidak ada artinya?!"
Azka dan Tricia terdiam dengan wajah yang serius. Mereka tidak bisa berkata apa apa ketika melihat amarah Vina yang sangat benci dengan Buster.
Jika bocah itu sampai tau kalau mereka juga adalah Buster, mungkin bocah itu akan membenci mereka.
"Tenanglah, gadis kecil. Kenapa berandalan seperti dia repot repot melindungi kedai ini?"
"Dia bukan berandalan!"
Azka dan Tricia kaget secara bersamaan. Mereka tidak menyangka kalau gadis itu membantahnya dengan keras.
"Dia bukanlah seperti itu, meskipun semua orang didesa ini selalu menganggapnya sebagai berandalan. Tapi, bagiku dia adalah orang yang baik. Dia selalu menlindungi desa ini dari serangan orang orang jahat. Memang semua orang disini tidak pernah menganggapnya, tapi jujur aku sangat kagum padanya. Dia memiliki sebuah impian yang sangat keren."
"Impian?" Tanya Azka.
"Ya."
Azka hanya terdiam mendengar cerita darinya. Itu mengingatkannya saat ia masih terpuruk di kerajaan Oleander. Ia sangat mengerti bagamana rasanya ketika semua orang tidak ada yang menganggapnya.
Tricia lalu menoleh kearah Azka. Ia seakan khawatir jika Azka akan kembali teringat dengan masa lalunya setelah mendengar cerita tentang Levin.
***
Ditempat yang tidak jauh dari kedai milik Vina, terdapat sebuah markas kecil yang dikelilingi oleh sekumpulan Buster.
Didalam ruangan gelap, terlihat seorang pria misterius yang sedang minum bir dengan nikmat.
"Ah ... kemana tiga orang bodoh itu?!" Dia membanting gelasnya dengan marah.
Anggota Buster yang sedang berada dihadapannya begitu ketakutan saat melihat amarah dari bosnya.
"Oi kau! Apa kau sudah tau pergi kemana bocah berandalan itu?!" Tanya Pria itu dengan menunjuk salah satu anak buahnya.
"Ka-kami masih terus mencarinya bos," ucap salah satu Buster dengan gemetaran.
"Apa?! Kenapa kalian tidak becus menangkap satu orang saja?!"
Semua orang diruangan itu terdiam ketakutan.
Tiba tiba, tiga orang Buster berlari masuk kedalam Markas dengan wajah yang babak belur. Mereka adalah Buster yang sebelumnya telah bertemu dengan Azka dan Tricia.
"Bos ... Bos!" Teriak ketiga orang itu dengan wajah panik.
"Apa? kenapa wajah kalian babak belur begitu?!" Mata berwarna hitam dari Clint hanya menatap mereka dengan tajam.
"A-ada seseorang yang menghajar kita!"
"I-itu benar bos!"
"Siapa yang kalian maksud sebenarnya ha?!" Teriak Clint.
Mereka gemetar ketakutan.
"Di-dia membawa dagger hitam."
"Ya, dia datang bersama seorang gadis."
"Sepertinya dia sedang berada didesa ini."
Mereka terbata-bata saat menjelaskan.
"Apa yang kalian sedang bicarakan?! Aku menugaskan kalian untuk mencari berandalan tengik itu! kenapa kalian masih menunjukkan wajah kalian disini!"
Mereka tertunduk ketakutan melihat wajah kemarahan dari bos mereka.
"Aku benar benar muak dengan kalian bertiga! Apa kalian tidak tau siapa diriku ha?!"
"Te-tentu saja, anda adalah Bos Clint ketua dari Clint Buster," ucap mereka bertiga dengan gemetaran.
"Benar sekali, lalu apa kau tau hukuman untuk orang yang tidak becus dalam tugasnya ha?!" Clint menatap ketiga orang itu dengan tatapan menyeramkan.
"A-aku mohon jangan bunuh kami, Bos!" Mereka bersujud sambil menangis ketakutan.
"Sepertinya aku akan membuang beberapa anak buah yang tidak berguna!"
Tangan dari Clint tiba tiba menunjuk kearah mereka bertiga dengan jari yang membentuk seperti pistol.
"Gawat jari itu?!"
"Bos berniat mengeluarkan Linknya?!"
Dua orang Buster terlihat sangat panik dari kejauhan. Mereka seakan takut dengan kekuatan yang di miliki Clint.
"Maafkan kami, bos!" Mereka ketakutan ketika melihat jari dari Clint menunjuk kearah mereka.
"Diam saja kau brengsek!"
Dor! Dor! Dor!
Tiba tiba sebuah serangan muncul dari jari telunjuknya.
Ketiga orang itu lalu tumbang dengan luka tembakan.
Terlihat jari telunjuk Clint sampai mengeluarkan asap karena tembakan tadi.
Dia hanya menatap kematian mereka dengan wajah tanpa belas kasihan.
Seluruh anak buah yang menyaksikan kematian temannya, tertunduk dengan keringat dingin. Mereka menelan ludah saking ketakutannya.
Suasana dalam markas itu tiba tiba menjadi hening setelah penembakan itu. Clint dengan tubuhnya yang sedikit kekar menatap seluruh anak buahnya dengan tatapan tajam. Dia adalah pria yang berusia sekitar 38 tahun dengan rambut pendek yang berwarna merah tua.
"Apa kalian semua mengerti apa yang akan terjadi jika kalian tidak becus menangkap bocah tengik itu?!" Clint mengancam kepada seluruh anak buahnya.
"Baik, kami mengerti bos!" Teriak seluruh anak buahnya dalam ketakutkan.
"Bagus." Clint memasang senyuman kecil.
Karena kekuatan Linknya, dia mendapat julukan sebagai Clint si manusia proyektil. Pendiri sekaligus ketua dari Clint Buster.
To be Continued...